Penyakit & Kelainan

Dispraksia: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Dispraksia?

Dispraksia disebut juga gangguan koordinasi perkembangan, atau disfungsi persepsi-motorik, atau kesulitan pembelajaran motorik[1].

Dispraksia merupakan suatu gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merencanakan dan memproses tugas motorik atau gerakan fisik[1, 2].

Menurut National Center for Learning Disabilities, orang dengan dispraksia mengalami kesulitan dalam merencanakan dan melakukan tugas motorik halus dan kasar[1].

Sebagian besar penderita dispraksia mengalami kombinasi dari dispraksia ideational atau perencanaan dan dispraksia ideomotor atau eksekutif[2].

Dispraksia ideational mempengaruhi kemampuan perencanaan dan koordinasi. Sedangkan dispraksia ideomotor mempengaruhi kelancaran dan kecepatan aktivitas motorik[2].

Penderita dispraksia sering kali memiliki masalah bahasa, dan terkadang sedikit kesulitan dalam pemikiran dan persepsi. Akan tetapi dispraksia tidak mempengaruhi kecerdasan seseorang[1].

Pada anak-anak, dispraksia dapat menyebabkan kesulitan belajar sehingga anak dapat terlambat mencapai tonggak perkembangan. Selain itu anak dengan dispraksia memiliki masalah keseimbangan dan koordinasi[3].

Dispraksia diperkirakan 3 atau 4 kali lebih umum dialami anak laki-laki daripada anak perempuan. Kondisi ini terkadang menurun dalam keluarga[2, 4].

Dispraksia merupakan kondisi seumur hidup. Hingga saat ini tidak ada cara untuk menyembuhkan, tapi terdapat beberapa terapi yang dapat membantu mengatasi gangguan secara efektif[3].

Penyebab Dispraksia

Penyebab dari dispraksia tidak diketahui secara pasti. Para ahli menduga bahwa sel-sel saraf yang mengendalikan otot (saraf motorik) tidak berkembang dengan benar. Sehingga mempengaruhi pengiriman pesan dari otak ke seluruh tubuh[1, 3, 5].

Studi yang dilakukan di Queen Mary University of London, suggest dispraksia kemungkinan disebabkan oleh ketidakmatangan perkembangan saraf di otak, daripada adanya kerusakan otak spesifik[1].

Faktor Risiko Dispraksia

Berikut beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak mengalami dispraksia[2, 3, 4]:

  • terlahir prematur, sebelum minggu ke-37 kehamilan
  • terlahir dengan berat badan rendah
  • memiliki riwayat keluarga dengan dispraksia
  • ibu mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan berbahaya selama kehamilan

Gejala Dispraksia

Gejala dispraksia cenderung berbeda bergantung pada usia penderita.

Gejala Dispraksia pada Anak-anak

Anak dengan dispraksia dapat mengalami keterlambatan perkembangan sejak bayi seperti mengangkat kepala, berguling, dan duduk[3].

Pasien juga dapat mengalami gejala lainnya seperti[3]:

  • posisi tubuh yang tidak biasa
  • mudah marah
  • sensitif pada suara keras
  • masalah tidur dan makan
  • gerakan tingkat tinggi pada lengan dan kaki

Anak pada usia balita dapat mengalami kesulitan atau keterlambatan perkembangan dalam hal berikut[1, 3]:

  • duduk
  • merangkak
  • berjalan
  • bicara
  • berdiri
  • terlatih buang air ke toilet dan berhenti pakai popok

Berikut gejala lain yang dapat dialami selama masa anak-anak[1, 3]:

  • postur yang tidak wajar
  • mengepakkan tangan, gelisah, atau mudah bersemangat
  • makan dan minum dengan berantakan
  • ledakan amarah
  • kesulitan melakukan gerakan halus, seperti mengikat tali sepatu, mengancingkan baju, menggunakan alat makan, dan menulis dengan tangan
  • kesulitan memakai baju sendiri
  • bermasalah melakukan gerakan saat bermain, seperti melompat, bermain jingkat, menangkap bola, menendang bola, melompat, meluncur
  • bermasalah ketika melakukan gerakan di dalam kelas, seperti menggunting, mewarnai, menggambar, memainkan game jigsaw
  • bermasalah dalam memproses pemikiran
  • kesulitan berkonsentrasi pada satu hal dalam waktu lama
  • merasa sulit untuk mengikuti permainan dengan anak-anak lain
  • lebih banyak gerak dari anak lain
  • terkadang pasien mengalami kesulitan untuk naik dan turun tangga
  • kecenderungan lebih tinggi untuk menabrak barang, jatuh, dan menjatuhkan barang
  • kesulitan mempelajari keterampilan baru
  • kesulitan dalam kegiatan tulis menulis

Meski dispraksia tidak mempengaruhi kecerdasan anak, kondisi ini dapat membuat lebih sulit untuk belajar dan bersosialisasi akibat[3]:

  • rentang perhatian pendek untuk tugas yang sulit
  • kesulitan mengikuti atau mengingat instruksi
  • kurangnya keterampilan organisasional
  • kesulitan mempelajari keterampilan baru
  • rendahnya rasa kepercayaan diri
  • perilaku yang tidak dewasa
  • kesulitan berteman

Gejala Dispraksia pada Orang Dewasa

Gejala dispraksia berbeda pada setiap orang. Terdapat variasi gejala potensial dan gejala tersebut dapat berubah seiring waktu[3].

Berikut beberapa gejala dispraksia yang dapat dialami orang dewasa[1, 3, 4]:

  • postur abnormal
  • masalah gerakan dan keseimbangan, abnormalitas gaya berjalan
  • koordinasi tangan dan mata yang buruk
  • keletihan
  • kesulitan mempelajari keterampilan baru
  • masalah dalam pengaturan dan perencanaan
  • kesulitan menulis atau menggunakan keyboard
  • kesulitan menggambar
  • kesulitan dengan perawatan diri dan pekerjaan rumah tangga
  • kurangnya kepercayaan diri
  • tidak jelas saat bicara, sering kali urutan kata bercampur aduk
  • gerakan kikuk dan mudah tersandung
  • kurang sensitif pada sinyal non-verbal
  • mudah frustasi
  • kesulitan tidur
  • kesulitan membedakan suara dari suara di latar belakang
  • tidak dapat mengenali ritme ketika berdansa atau berolahraga

Diagnosis Dispraksia

Diagnosis dispraksia dapat dibuat oleh psikologis klinis, psikologis pendidik, dokter anak, atau terapis[1].

Tingkat keparahan gejala dispraksia dapat berbeda-beda antara satu anak dan anak lain. Kadang keterlambatan perkembangan pada anak tidak terlihat jelas selama beberapa tahun. Diagnosis dispraksia dapat terlambat hingga anak berusia 5 tahun atau lebih[3].

Anak yang sering menabrak, menjatuhkan benda, atau kesulitan dengan koordinasi fisik tidak selalu berarti mengalami dispraksia. Gejala dapat mengindikasikan kondisi lain, sehingga sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh[1, 3].

Selama pemeriksaan dilakukan, dapat diperlukan informasi detail mengenai[1, 3]:

  • riwayat kesehatan
  • riwayat perkembangan anak
  • keterampilan motorik kasar
  • kemampuan mental
  • kemampuan intelektual

Dispraksia lebih sering didiagnosis sebagai gangguan koordinasi perkembangan[3].

Menurut American Psychiatric Association, gangguan koordinasi perkembangan hendaknya didiagnosis hanya jika mengikuti empat komponen diagnostik berikut[2]:

  • koordinasi motorik selama aktivitas harian secara substansial di bawah yang diharapkan pada usia dan tingkat kecerdasan anak
  • kesulitan motorik yang diakibatkan berpengaruh terhadap pencapaian akademik atau aktivitas kegiatan sehari-hari
  • masalah koordinasi bukan disebabkan oleh kondisi medis umum (seperti cerebral palsy atau distrofi muskuler) atau gangguan perkembangan pervasif
  • jika terdapat keterbelakangan mental, kesulitan motorik melebihi daripada yang biasanya berkaitan dengan keterbelakangan mental

Pengobatan Dispraksia

Dispraksia termasuk kondisi yang tidak dapat diobati, tapi terdapat penanganan untuk membantu mengatasi gejala dan meningkatkan kemampuan. Prognosis dapat lebih baik jika anak menerima diagnosis lebih dini[1, 3].

Pada sejumlah kecil kasus, gejala dapat membaik dengan sendirinya seiring bertambah usia. Namun pada kebanyakan penderita hal ini tidak terjadi[3].

Beberapa anak dapat mengatasi kesulitan motoriknya dengan sedikit bantuan terapi. Sedangkan beberapa anak yang lain dapat memerlukan terapi yang intens untuk dapat mengatasi gejala[3].

Karena gejala dispraksia berbeda bagi setiap orang, penanganan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Biasanya penanganan melibatkan kerjasama dari beberapa dokter yang berbeda[3, 4].

Rencana penanganan akan bergantung pada beberapa faktor. Tingkat keparahan gejala anak dan ada tidaknya kondisi lain yang dialami merupakan kunci utama untuk menemukan program penanganan yang tepat[3].

Terapi dapat membantu anak memperoleh kepercayaan diri, yang mana dapat membantu secara sosial. Sekolah juga dapat memberikan pelayanan dan akomodasi khusus untuk anak dispraksia agar lebih mudah belajar[3].

Berikut beberapa terapi yang umum digunakan untuk menangani dispraksia[3, 5]:

  • Terapi okupasi

Terapis akan memeriksa bagaimana anak melakukan fungsi sehari-hari baik di rumah dan di sekolah. Kemudian terapis akan membantu anak mengembangkan keterampilan spesifik untuk kegiatan harian yang dirasa sulit dilakukan.

  • Terapi bicara dan bahasa

Pertama-tama akan dilakukan pemeriksaan terhadap kemampuan bicara anak kemudian menerapkan rencana penanganan untuk membantu anak untuk berkomunikasi secara lebih efektif.

  • Pelatihan motorik perseptual

Latihan ini meliputi meningkatkan keterampilan bahasa, visual, gerakan, dan auditoris anak. Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan anak, tapi tidak sampai membuatnya menjadi kesulitan.

  • Terapi Equine untuk Dispraksia

Pada suatu studi yang dipublikasikan dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine, dilakukan penelitian mengenai efek terapi equine (terapi dengan menunggang kuda) pada suatu kelompok yang terdiri dari 40 anak dengan dispraksia berusia 6-25 tahun.

Studi tersebut menemukan bahwa terapi menunggang kuda menstimulasi dan meningkatkan kognisi, moot, dan parameter gaya berjalan partisipan.

  • Terapi active play

Terapi active play dapat berupa segala jenis permainan yang melibatkan aktivitas fisik yang membantu meningkatkan aktivitas motorik, dapat dilakukan di luar atau di dalam ruangan.

Bermain merupakan cara anak belajar mengenai lingkungan dan diri mereka. Permainan aktif menjadi tempat di mana anak kecil belajar secara fisik dan emosional, pengembangan kemampuan bahasa, pengetahuan khusus, dan perkembangan indera anak.

Makin banyak anak yang ikut dalam permainan aktif, semakin baik mereka dapat berinteraksi dengan anak lain.

Pencegahan Dispraksia

Dispraksia bukan suatu kondisi yang dapat dicegah. Penyebab terjadinya dispraksia juga belum diketahui dengan jelas. Mendapat diagnosis dengan cepat, penanganan dan dukungan pendidikan berperan penting dalam mengatasi gejala dispraksia[1, 2].

Kegagalan dalam diagnosis dan mengatasi gejala motorik dan gejala lain pada anak dispraksia dapat berdampak besar pada kehidupannya saat dewasa, meliputi pengangguran, gangguan psikologis, penyalahgunaan obat, keterampilan interpersonal yang buruk dan kriminalitas[2].

1. Tim Newman, reviewed by Sara Minnis, M.S., CCC-SLP. What is dyspraxia? Medical News Today; 2017.
2. John Gibbs, Jeanette Appleton, and Richard Appleton. Dyspraxia or Developmental Coordination Disorder? Unravelling the Enigma. Archives of Disease in Childhood; 2007.
3. Ann Pietrangelo, reviewed by Karen Gill, M.D. How Dyspraxia Differs from Other Development Delays in Children. Healthline; 2019.
4. Anonim. Overview Developmental Co-ordination Disorder (Dyspraxia) in Children. National NHS; 2019.
5. Anonim. Dyspraxia. Health Direct; 2021.

Share