Tindakan Medis

Suntikan Alergi: Fungsi, Prosedur dan Risikonya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Fungsi Suntikan Alergi

Suntikan alergi merupakan serangkaian perawatan yang berfungsi untuk meredakan alergi berat dalam jangka panjang.

Seseorang dapat mempertimbangkan untuk melakukan suntikan alergi, jika alergi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari dan tindakan preventif telah dilakukan belum berhasil.[1]

Suntikan alergi dapat mengobati alergi yang disebabkan oleh:[1]

  • Tungau debu
  • Bulu
  • Jamur
  • Bulu hewan peliharaan
  • Serbuk sari bunga
  • Serangga menyengat

Suntikan alergi dilakukan selama sekali atau dua kali seminggu dalam beberapa bulan. Dosis akan naik secara bertahap, sampai pasien mencapai dosis pemeliharaan (Dosis yang diberikan untuk mempertahankan efektivitas obat dalam darah). [2]

Setelah itu, biasanya pasien akan melakukan suntikan alergi setiap 2-4 minggu selama 4-5 bulan.[2]

Dokter secara bertahap akan meningkatkan waktu suntikan, sampai pasien hanya perlu melakukannya sebulan sekali selama 3-5 tahun. Selama waktu tersebut, gejala alergi akan membaik dan bahkan dapat hilang.[2]

Dokter akan merekomendasikan suntikan alergi, pada pasien yang memiliki kondisi medis sebagai berikut:[1]

  • Alergi asma
  • Alergi rinitis
  • Alergi mata
  • Alergi serangga, khususnya lebah atau serangga penyengat lainnya

Suntikan alergi juga merupakan pilihan yang tepat bagi pasien yang mengalami alergi berat sepanjang tahun atau tidak ingin mengonsumsi obat alergi dalam jangka waktu yang lama.[1]

Namun, suntikan alergi hanya bisa dilakukan oleh pasien dengan usia 5 tahun ke atas dan tidak diperbolehkan bagi pasien hamil, penderita penyakit jantung, atau mengidap penyakit asma yang parah.[1]

Persiapan Suntikan Alergi

Sebelum melakukan prosedur suntikan alergi, dokter akan meminta pasien menjalani beberapa tes untuk mengetahui senyawa apa yang menjadi penyebab alergi pasien.[3]

Umumnya, pasien akan menjalani tes kulit dan tes darah atau yang biasa disebut radioallergosorbent test (RAST). Saat tes kulit, dokter akan menggoreskan senyawa yang dicurigai sebagai penyebab alergi.

Kemudian, dokter akan menunggu selama 15 menit untuk melihat reaksi tubuh pasien. Adanya pembengkakan dan kemerahan menandakan pasien alergi terhadap senyawa tersebut.[3,4]

Prosedur Suntikan Alergi

Tindakan medis suntikan alergi dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam (alergi-imunologi).

Dokter akan menyuntikkan sejumlah alergen di bagian lengan atas pasien.[4]

Agar suntikan alergi dapat bekerja secara maksimal, pasien dijadwalkan untuk melakukan suntikan alergi dapat dua fase:[4]

  • Fase Awal (Level Penumpukan)

Pada fase ini suntikan diberikan satu hingga tiga kali seminggu. Selama fase awal, dosis alergen ditingkatkan secara bertahap dengan setiap suntikan.

  • Fase Pemeliharaan

Pada fase ini suntikan diberikan satu kali sebulan selama 3-5 tahun atau lebih.

Setelah suntik alergi diberikan, pasien harus tetap berada di ruangan selama 30 menit untuk melihat jika terjadi reaksi yang tidak diinginkan.

Risiko Suntikan Alergi

Mayoritas pasien tidak memiliki reaksi buruk terhadap suntikan alergi. Namun, seperti tindakan medis lainnya, suntikan alergi juga memiliki risiko yang mungkin akan terjadi pada pasien, seperti:[3]

  • Pembengkakan, kemerahan, atau gatal di area bekas suntikkan
  • Batuk
  • Pusing
  • Mual
  • Pembengkakan di tenggorokan

Segera hubungi dokter jika pasien mengalami salah satu dari hal berikut:[3]

  • Kemerahan atau bengkak di area bekas suntikkan selama berhari-hari
  • Batuk terus menerus
  • Kesulitan bernafas dan berbicara

Hasil Suntikan Alergi

Gejala alergi tidak akan sembuh dalam waktu yang cepat. Biasanya, efek suntikan alergi mulai terasa pada tahun pertama dan semakin membaik pada tahun-tahun berikutnya.[4]

Setelah beberapa tahun pengobatan, beberapa pasien tidak memiliki masalah alergi yang signifikan bahkan setelah suntikan alergi dihentikan.

Namun, beberapa pasien yang lain masih membutuhkan melanjutkan suntikan untuk mengendalikan gejala alergi.[4]

1. Stacy Sampson, D.O, Kristeen Cherney. Everything You Should Know About Allergy Shots. Healthline; 2017.
2. Jennifer Robinson, MD. Allergy Shots: What to Know. WebMD; 2020.
3. Anonim. Allergy Shots (Allergen Immunotherapy). Health-harvard; 2018.
4. Anonim. Allergy shots. Mayoclinic; 2020.

Share