Kehamilan & Parenting

9 Cara Mengatasi Anak Makan Terlalu Lama

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Masalah makan termasuk salah satu masalah yang paling umum dialami oleh anak. Banyak anak kecil dan balita yang makan dengan perlahan atau menunjukkan ketidaktertarikan pada makanan[1, 2].

Meski masalah ini umumnya akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak, anak yang makan terlalu lama menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Ditambah lagi, jika ketidaktertarikan pada makan berlangsung terlalu lama, maka terdapat kemungkinan indikasi gangguan makan[1].

Berikut beberapa cara untuk mengatasi anak makan terlalu lama:

1. Mencari tahu penyebab anak makan terlalu lama

Saat mengatasi anak makan terlalu lama, pertama-tama orang tua dapat perlu mencari tahu penyebabnya. Orang tua dapat memperhatikan anak selama makan dan mengamati hal yang dilakukan anak selama makan[2].

Biasanya anak makan terlalu lama karena tidak tertarik pada makanan atau tidak berniat untuk makan. Salah satu kemungkinan penyebabnya ialah anak tidak merasa lapar[2].

Cobalah perhatikan cemilan yang dikonsumsi anak sebelum makan. Jika anak makan cemilan terlalu banyak, maka ia bisa merasa kenyang pada waktu makan. Ada baiknya untuk mulai membatasi cemilan agar anak makan seperti seharusnya[2].

2. Memberi teladan mengenai kebiasaan makan yang sehat

Anak banyak belajar dari mengamati dan menirukan orang-orang di sekitarnya. Sehingga salah satu cara agar anak tidak makan dengan terlalu lama ialah dengan memberikan teladan bagaimana kebiasaan makan yang sehat[1].

Terkadang anak suka pilih-pilih makanan sehingga hanya makan yang disukai saja. Orang tua perlu memberi contoh untuk makan beragam makanan agar tubuh mendapat asupan berbagai nutrisi yang diperlukan[1, 2].

3. Membiarkan anak memutuskan porsi makan

Jika setelah diperhatikan kita mengetahui bahwa masalah anak makan terlalu lama bukan terletak pada keengganan untuk mulai makan tapi kesulitan untuk menghabiskan makanan, maka kita bisa mencoba membiarkan anak memutuskan porsi makannya sendiri[3].

Anak terkadang bisa sama seperti orang dewasa yang porsi makannya dapat berkurang atau bertambah bergantung selera. Kita bisa menawarkan porsi yang lebih kecil dan membiarkan anak untuk menambah makanan jika masih lapar[3].

Cara ini dapat lebih efektif dibandingkan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya terus menerus, yang mana dapat menyebabkan anak mengalami perasaan membuat kecewa orang tuanya[3].

4. Memperhatikan makanan yang dimakan anak dengan sendirinya

Cobalah untuk memperhatikan makanan yang anak makan sendiri tanpa diminta. Anak cenderung suka perasaan mandiri, sehingga mereka lebih menyukai makanan yang bisa dimakan sendiri[2, 3].

Kita bisa memberikan anak kesempatan untuk makan sendiri. Gunakan resep yang memungkinkan untuk membuat makanan bergizi dalam ukuran kecil dan mudah dimakan anak.

Jika memungkinkan, makanan anak dapat dibuat seukuran jari sehingga mudah diambil oleh anak dan memiliki tekstur lembut sehingga tidak perlu waktu lama untuk dikunyah[3].

5. Jangan langsung mengganti makanan anak

Anak-anak tidak tahu apa yang sebenarnya mereka sukai. Seorang anak yang memerlukan waktu terlalu lama untuk makan bisa juga makan dengan pilih-pilih. Namun hal ini bukan berarti orang tua perlu segera mengganti jenis makanan yang diberikan[2].

Menurut Parenting Science, suatu studi melaporkan bahwa anak-anak meningkatkan rasa suka dan konsumsi sayuran setelah mereka diminta untuk mencobanya sekali sehari selama dua minggu[2].

Sebelum mengganti jenis makanan yang diberikan, kita bisa tetap menawarkan makanan tertentu pada anak selama beberapa saat. Untuk menghindari rasa bosan, bisa dibuat perencanaan menu terlebih dahulu sehingga jenis makanan tertentu dapat diolah dalam berbagai variasi[2].

6. Jangan memperlama waktu makan

Untuk seorang anak, makan termasuk kegiatan membosankan yang memotong waktunya untuk bermain. Sehingga anak akan berharap untuk menyelesaikannya dengan waktu sesingkat mungkin[3].

Orang tua dapat menyesuaikan menu yang disajikan agar waktu makan tidak terlalu lama. Lebih dianjurkan untuk memberikan anak bahan makanan alami yang kaya akan nutrisi, sehingga anak dapat memperoleh semua nutrisi yang diperlukan meski makan dalam jumlah kecil. Sebisa mungkin hindari memberikan produk makanan olahan[3].

Kita bisa menawarkan makan dalam porsi kecil beberapa kali sehari daripada memaksa anak makan dalam porsi besar yang sulit dihabiskan. Selain itu, sebaiknya hindari memberikan minuman seperti susu dan jus sebelum makan karena dapat membuat anak tidak lapar[3].

7. Melarang televisi, ponsel, dan perangkat elektronik lain

Makanan hendaknya diterima dan dinikmati dengan seluruh indra perasa sebelum dicerna dalam perut. Dengan demikian, otak akan mengenali sensasi makan sehingga kita akan merasa lebih puas dan kenyang[3].

Televisi, ponsel, dan berbagai perangkat elektronik lain dapat mengganggu dan mengalihkan perhatian anak dari makan. Akibatnya anak tidak tahu dan tidak menikmati apa yang tengah dimakannya. Bahkan terkadang anak bisa lupa sama sekali bahwa ia sedang makan[3].

Masalahnya, anak cenderung menginginkan hiburan, sehingga sulit untuk memisahkan anak dari televisi atau ponsel. Namun pada waktu makan, sebaiknya televisi dan perangkat elektronik lain dimatikan atau dijauhkan dari anak[3].

Sebagai ganti, kita bisa mengajak anak bicara mengenai hal-hal yang menarik untuknya dan membuat waktu makan menjadi menyenangkan[3].

8. Mengajak anak bicara selama makan

Sebisa mungkin usahakan untuk makan bersama sebab waktu makan yang dinikmati bersama keluarga dapat menjadi pengalaman bersosialisasi yang baik bagi anak. Waktu makan dapat dijadikan sebagai waktu untuk berkumpul dan berbincang bersama keluarga[2, 3].

Saat mengajak anak untuk duduk dan makan bersama, orang tua juga bisa berbagi dengan anak mengenai kegiatan yang dilakukan serta menanyakan kegiatan anak, misalnya tentang sekolah dan teman[2, 3].

Bisa juga membicarakan mengenai makanan yang tersaji, cara memasak dan bagaimana rasanya menurut anak. Cara ini mungkin dapat membantu dalam mencari tahu penyebab anak makan terlalu lama[3].

9. Melibatkan anak dalam membuat dan menyajikan makanan

Setiap orang ingin menjadi sosok yang diperlukan, begitu pula dengan anak. Mengajak anak untuk ikut serta dalam menyiapkan dan menyajikan makanan dapat meningkatkan penghargaan diri[3].

Saat anak dipaksa duduk dan menghabiskan makanan, alih-alih menurut anak justru bisa merasa makin enggan untuk makan. Namun saat anak terlibat dalam proses menyiapkan makanan, waktu makan dapat terasa sebagai kegiatan yang dinantikan. Anak senang saat ia dilibatkan dalam apa yang dilakukan orang tua. Keterlibatan juga membuat anak merasa lebih dewasa dan diperlukan[3].

Kita bisa meminta anak melakukan tugas-tugas sederhana saat menyiapkan makanan, seperti mengeluarkan sayuran atau buah dari kulkas, mencuci sayuran yang hendak dipotong, atau meminta anak menata meja makan[3].

1. Julie Christensen. My Child Eats Very Slow and Has No Attention to Eating. Hello Motherhood; 2018.
2. Anonim. 4 Simple Steps to Speed Up a Slow Eater. No Guilt Mom; 2018.
3. Anonim. What To Do If Your Child Is A Slow Eater? What Parents Ask; 2018.

Share