Makanan, Minuman dan Herbal

Ketahui 7 Dampak Negatif Makanan Kaleng bagi Kesehatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Makanan kaleng merupakan suatu terobosan yang memungkinkan makanan akan awet dan terjaga dalam waktu yang lama dalam wadah kedap udara. Metode pengkalengan ini pertama kali ditemukan pada abad 18 sebagai sumber pasokan makanan bagi para tentara pada saat itu. Pengalengan biasanya memerlukan tiga tahapan, yaitu: pengolahan, penyegelan, dan pemanasan. [1]

Terlebih lagi, makanan kaleng biasanya mengandung lebih banyak nutrisi dibanding makanan jenis lain. Diketahui kebanyakan makanan kaleng mengandung vitamin C dan B, yang mana sangat sensitif terhadap panas dan udara terbuka. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan makanan kaleng. [1]

Meskipun terdapat banyak sekali keunggulan dan kemudahan pada makanan kaleng, namun banyak orang yang menganggapnya kurang sehat dibanding makanan segar. Anggapan itu juga tak sepenuhnya salah. [1]

 Pasalnya kaleng pembungkus makanannya biasanya mengandung BPA (bisphenol-A), yaitu zat kimia yang terkandung pada kaleng. Zat tersebut tentunya bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Berikut ini adalah 7 dampak negatif makanan kaleng.

1. Mengandung Zat Kimia BPA

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, zat BPA merupakan salah satu penyebab utama yang bisa membuat makanan kaleng berdampak negatif. Zat ini biasanya ditemukan pada plastik polikarbonat dan epoksi resin. Plastik polikarbonat inilah yang biasanya digunakan dalam pembuatan kemasan makanan kaleng. [2]

Zat BPA diketahui memiliki dampak kesehatan yang buruk pada otak dan kelenjar prostat janin. Selain itu, zat ini juga dapat memengaruhi perubahan perilaku anak. Bahkan, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa zat kimia BPA dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes tipe-2. [2]

 Jika kalian sangat berhati-hati pada zat ini, kalian bisa melakukan hal berikut: [2]

  • Membeli Produk Bebas BPA: Saat ini, sudah banyak perusahaan makanan yang membuat kemasan kaleng bebas BPA. Biasanya pada kemasannya terdapat label yang menandakan bahwa produknya bebas BPA.
  • Hindari Tempat Panas: Jangan taruh makanan kaleng di tempat yang panas. Karena panas akan melelehkan zat BPA ke dalam makanan.
  • Makan-makanan segar: Jika bisa, maka lebih baik makan-makanan segar saja.

2. Menyebabkan Berbagai Penyakit Jantung

Para peneliti berpendapat makanan kaleng dapat menyebabkan berbagai penyakit jantung seperti penyakit kardiovaskular, jantung koroner, dan cerebrovaskular. Para peneliti mengambil kesimpulan tersebut berdasarkan zat-zat yang terkandung pada makanan kaleng seperti lemak jenuh, sodium, gula, dan asupan serat. [3]

Pada suatu penelitian yang melibatkan 100.000 orang dewasa, diketahui bahwa konsumsi makanan kaleng dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 10%. Hal itu dapat terjadi jika seseorang makan makanan kaleng 10% lebih banyak dari porsi makanan kaleng yang seharusnya. [3]

3. Meningkatkan Risiko Kematian

Pengonsumsian makanan kaleng secara berlebihan ternyata dapat meningkatkan risiko kematian. Hal ini disebabkan karena makanan kaleng umumnya mengandung gula tambahan. Selain itu, makanan kaleng juga mengandung zat aditif. [4]

Maka, tak heran jika makanan kaleng terasa sangat nikmat, nyaman dan praktis dimakan, dan harganya sangat terjangkau. [4]

Pada suatu penelitian yang melibatkan 20.000 orang dewasa, diketahui pengonsumsian makanan kaleng dalam jumlah yang tinggi (lebih dari 4 kali sehari) dapat meningkatkan risiko kematian hingga 18 % setiap pengonsumsian yang berlebih. [4]

4. Dapat Meningkatkan Berat Badan

Prevalensi antara pengonsumsian makanan kaleng dengan meningkatnya berat badan sudah menjadi bahan diskusi para peneliti sejak lama. Makanan kaleng diketahui dapat meningkatkan berat badan karena makanan kaleng mengandung kalori, garam, gula, dan lemak dalam jumlah yang tinggi. [5]

Selain itu, dalam jumlah kalori yang sama, makanan kaleng memiliki harga yang lebih murah dari pada makanan non kaleng. Hal tersebut juga mendorong seseorang agar ingin makan terus. Tak heran jika makanan kaleng dapat meningkatkan bera badan, dan bahkan dalam sedikit kasus, dapat menyebabkan obesitas. [5]

5. Mengandung Bahan yang Tidak Alami (Artifisial)

Sudah umum diketahui bahwa makanan kaleng mengandung bahan yang tidak alami (artifisial). Bahan yang terkandung pada tabel nutrisi seringkali sulit dikenali. Beberapa bahan tersebut adalah bahan kimia yang sengaja ditambahkan agar makanan menjadi lebih nikmat. Biasanya makanan kaleng mengandung bahan kimia sebagai berikut: [6]

  • Pengawet, yang membuat makanan tahan lama.
  • Pewarna buatan.
  • Penyedap kimia.
  • Penghalus tekstur.

Selain itu, makanan kaleng juga mengandung bahan kimia yang tidak tertulis pada tabel nutrisi. Sebagai contoh, penyedap buatan pada tabel nutrisi makanan kaleng biasanya ditulis sebagai bahan campuran, yang biasanya berisi campuran bahan kimia. Sebenarnya banyak organisasi kesehatan yang menganggap makanan kaleng aman, selagi dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. [6]

6. Mengandung Karbohidrat Sederhana

Karbohidrat adalah salah satu kandungan esensial dalam setiap makanan. Namun, karbohidrat kompleks akan berdampak lebih baik pada kesehatan dibanding karbohidrat sederhana. [6]

Tubuh akan mencerna karbohidrat sederhana lebih cepat, sehingga akan meningkatkan kadar gula darah dan insulin. Saat keduanya menurun, maka energi akan berkurang. [6]

Karena karbohidrat sederhana dapat memengaruhi gula darah, hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes tipe-2. Jenis karbohidrat sederhana biasanya terkandung pada kebanyakan makanan kaleng. Berikut ini adalah contoh karbohidrat yang baik untuk kesehatan (kompleks): [6]

  • Gandum
  • Buah-buahan
  • Sayur-mayur
  • Kacang-kacangan

7. Rendah Serat

Serat termasuk salah satu komponen nutrisi yang penting karena memiliki banyak manfaat baik pada kesehatan. Serat dapat memperlambat proses absorpsi karbohidrat sehingga akan menahan nafsu makan seseorang. [6]

Serat juga dapat bertindak sebagai prebiotik, yang memberi makan bakteri baik pada usus, dan dapat meningkatkan kesehatan jantung. [6]

Kebanyakan makanan kaleng mengandung serat yang rendah, karena kandungan seratnya banyak disingkirkan saat tahap pengolahan. Berikut ini adalah beberapa contoh makanan yang kaya serat: [6]

  • Kacang-kacangan dan biji-bijian
  • Buah-buahan
  • Sayur mayur
  • Gandum

1. Kayla McDonell, RD. Canned Food: Good or Bad?. Healthline; 2019
2. Brent A. Bauer, M.D. What is BPA, and what are the concerns about BPA?. Mayoclinic; 2022
3. Srour, Bernard, et al. "Ultra-processed food intake and risk of cardiovascular disease: prospective cohort study (NutriNet-Santé)." bmj 365 (2019).
4. Rico-Campà, Anaïs, et al. "Association between consumption of ultra-processed foods and all cause mortality: SUN prospective cohort study." bmj 365 (2019).
5. Hall, Kevin D., et al. "Ultra-processed diets cause excess calorie intake and weight gain: an inpatient randomized controlled trial of ad libitum food intake." Cell metabolism 30.1 (2019): 67-77.
6. Amy Richter, RD. Jamie Smith. How do processed foods affect your health?. Medicalnewstoday; 2020

Share