Penyakit & Kelainan

Penyebab Luka Bekas Operasi Berbau Menyengat

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Pasca operasi, luka atau sayatan akibat pembedahan memerlukan waktu untuk pulih. Lama waktu penyembuhan pada luka operasi biasanya memakan waktu paling lama 12 minggu [1,2].

Namun, waktu penyembuhan tersebut berbeda pada setiap orang tergantung kondisi kesehatannya. Dalam kurun waktu tersebut, luka harus dirawat dengan benar agar cepat mengering [1,2].

Dengan perawatan yang tepat, resiko infeksi dan masalah lainnya pada luka juga akan berkurang. Tidak semua kasus luka operasi dapat sembuh tanpa kendala, beberapa diantaranya ada yang mengalami sejumlah masalah [1,2].

Untuk itu, sebaiknya ketahui tanda normal atau tidaknya pada luka tersebut. Salah satu tanda yang harus diwaspadai ialah bau yang menyengat di area sayatan [1,2].

Bau khas tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu [1,2]:

  • Bakteri atau Kuman

Penyebab paling umum dari bau menyengat pada luka operasi ialah adanya bakteri atau kuman. Bau luka tersebut tidak lain merupakan hasil metabolisme dari bakteri yang seringkali diindikasikan sebagai infeksi [1,2].

Meskipun, bau tersebut juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti bau badan, perban yang lama tidak diganti, dan inkontinensia. Infeksi luka operasi biasanya terjadi dalam kurun waktu 30 hari pertama setelah pembedahan [1,2].

Infeksi ini disebabkan oleh beberapa bakteri, seperti Streptococcus, Pseudomonas, dan Staphyyolococcus. Bau menyengat yang muncul akan berbeda-beda, tergantung dari jenis bakteri yang menginfeksi luka [1,2].

Terkadang, bau tersebut beraroma seperti amonia. Infeksi pada luka operasi dapat terjadi dikarenakan adanya pembedahan atau sayatan pada kulit [1,2].

Padahal, kulit memiliki peran yang penting dalam mencegah masuknya bakteri dalam tubuh. Kemungkinan besar, sayatan inilah yang menyebabkan bakteri lebih mudah masuk dan menyebar ke tubuh sehingga mengakibatkan infeksi [1,2].

Penyebaran bakteri tersebut juga dapat masuk ke tubuh dengan berbagai cara, diantaranya [1,2]:

  1. Alat bedah yang terkontaminasi atau tidak steril.
  2. Bakteri yang sudah ada di dalam tubuh dan menyebar ke luka operasi.
  3. Bakteri yang menyebar melalui udara.
  4. Kontak petugas dengan kulit pasien yang tidak higienis [1,2].

Jika tidak segera ditangani, bakteri yang awalnya hanya berada di area kulit akan masuk lebih dalam ke otot dan jaringan. Dalam keadaan yang lebih parah, bakteri akan masuk ke organ [1,2].

Pada tingkat inilah, dokter kemungkinan akan menyarankan operasi untuk menghentikan infeksi [1,2]].

  • Perawatan Luka yang Kurang Tepat

Setelah operasi, merawat luka harus benar-benar diperhatikan. Terlebih lagi, ketika bau menyengat timbul pada luka operasi [1.2].

Hal ini dikarenakan perawatan luka yang kurang tepat dapat menjadi penyebab luka berbau menyengat. Untuk itu, perawatan luka termasuk hal yang harus diperhatikan [1,2].

Ikuti arahan dokter dengan baik dalam merawat luka operasi. Beberapa cara tersebut, seperti [1,2]:

  1. Menjaga luka tetap kering.
  2. Hindari aktivitas yang berat, seperti olahraga.
  3. Rutin membersihkan luka atau mengganti perban.
  4. Hindari kontak langsung dengan luka.
  5. Sering mencuci tangan.
  6. Penuhi kebutuhan asupan tubuh dan istirahat yang cukup.
  7. Hindari paparan sinar matahari langsung ke luka operasi.
  8. Konsultasi ke dokter secara berkala [1,2].

Dengan melakukan sejumlah cara merawat luka yang tepat, luka tidak akan berbau menyengat dan akan cepat pulih [1,2].

  • Kondisi Tertentu

Luka operasi berbau menyengat dapat disebabkan oleh kondisi tertentu pada pasien. Sejumlah penyakit tersebut dapat meningkatkan resiko luka menjadi bermasalah dan menimbulkan bau yang menyengat [1,2].

Beberapa kondisi tersebut, seperti imun tubuh melemah, obesitas, diabetes, hingga faktor usia. Oleh karena itu, pasien yang memiliki sejumlah kondisi diatas harus lebih memperhatikan perawatan luka operasi.

Konsultasikan juga setiap tanda tidak wajar yang terjadi ketika masa pemulihan [1,2].

Kapan Harus Mengunjungi Dokter?

Luka operasi memiliki bau yang menyengat merupakan tanda adanya infeksi pada area tersebut. Tentunya, hal tersebut tidak dapat disepelakan dan harus segera mendapat penanganan [1,3].

Beberapa perawatan secara mandiri dapat dilakukan untuk mencegah infeksi yang lebih parah. Apabila kondisi tersebut tidak kunjung membaik, segera konsultasikan ke dokter [1,3].

Lakukan konsultasi ke dokter apabila bau menyengat tersebut tidak kunjung hilang. Adapun sejumlah gejala lainnya yang harus diwaspadai [1,3].

Gejala-gejala tersebut biasanya muncul bersamaan dengan bau menyengat, sebagai berikut [1,3]:

  • Terjadi pembengkakan dan nyeri di sekitar luka operasi.
  • Rasa sakit yang semakin parah dan terjadi terus-menerus.
  • Luka tampak kemerahan dan mengeluarkan nanah (drainase).
  • Demam tinggi, lebih dari 38 derajat celcius [1,3].

Jika sejumlah gejala diatas sudah muncul, luka operasi harus mendapat penanganan yang lebih serius. Hal tersebut dikarenakan infeksi pada luka operasi dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi, seperti tetanus, abses, selulitis, dan infeksi kulit lainnya [1,3].

Umumnya, dokter akan memeriksa terlebih dahulu kondisi luka tersebut. Dokter juga akan melakukan sejumlah pemeriksaan lainnya, seperti pengambilan sampel luka [1,3].

Setelah diagnosis, dokter akan menentukan pengobatan yang tepat. Pengobatan ini biasanya diatasi dengan pemberian obat antibiotik, seperti Metronidazole, Clarithromycin, dan sejenisnya [1,3].

Jika diperlukan, operasi bedah akan disarankan dokter apabila tingkat infeksi pada luka sangat parah. Operasi tersebut dilakukan untuk membersihkan luka yang terinfeksi dengan aman [1,3].

1. Peter Mekhail, Shuchi Chaturvedi, Shailesh Chaturvedi. Surgical Management of Wounds. 344-359. Wound Healing - New insights into Ancient Challenges; 2016.
2. Zabaglo M, Sharman T. Postoperative Wound Infection. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.
3. A Division of Omnia-Med Ltd. Wound Infection in Clinical Practice. 1-30. International Consensus Update; 2016.

Share