Penyakit & Kelainan

Retensi Plasenta : Penyebab – Gejala – Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Retensi Plasenta?

Retensi plasenta merupakan sebuah kondisi saat plasenta terjebak di dalam rahim setelah persalinan [1,2,3,4].

Plasenta atau ari-ari normal dan alaminya akan terdorong keluar dari dalam tubuh ibu setelah bayi berhasil dilahirkan [1,2,3,4].

Usai bayi lahir, biasanya sang ibu akan mengalami kontraksi sehingga membran plasenta yang semula masih menempel dapat terlepas dan dikeluarkan [1,2,3,4].

Namun pada kasus retensi plasenta, plasenta tidak bisa keluar di mana kondisi ini justru mengancam kesehatan sang ibu [2,3,4].

Penyebab Retensi Plasenta

Pada kondisi pesalinan normal, setelah bayi lahir selisih 18-60 menit kemudian biasanya plasenta akan ikut keluar [1,2,3,4].

Namun pada kasus retensi plasenta, plasenta tak bisa keluar yang disebabkan oleh berbagai faktor sebagai berikut [1,2,3,4] :

  • Persalinan dini / kelahiran bayi secara prematur
  • Kontraksi tidak cukup untuk mengeluarkan plasenta
  • Riwayat penggunaan pengobatan oksitosin terlalu lama
  • Riwayat retensi plasenta pada kehamilan sebelumnya
  • Leher rahim atau serviks menutup setelah bayi lahir
  • Pertumbuhan plasenta ke arah dalam dinding rahim
  • Kelainan rahim
  • Program bayi tabung
  • Riwayat operasi rahim
  • Riwayat melahirkan berulang kali
  • Hamil pada usia 30 tahun ke atas
  • Melahirkan bayi yang sudah mati dalam kandungan

Sementara itu, kontraksi yang tak cukup kuat kerap kali menjadi alasan utama mengapa retensi plasenta dapat terjadi.

Beberapa faktor yang mampu menyebabkan kontraksi tidak cukup untuk mengeluarkan plasenta antara lain [1,2,3,4] :

  • Melahirkan bayi kembar
  • Waktu persalinan yang cepat atau terlalu lama
  • Memiliki riwayat melahirkan beberapa kali sebelumnya
  • Bayi berukuran besar
  • Pengobatan oksitosin yang berlebihan
  • Terdapat fibroid

Perlu juga diketahui bahwa ada 3 jenis retensi plasenta menurut penyebabnya, yakni :

Plasenta Akreta

Plasenta akreta adalah jenis retensi plasenta di ana pertumbuhan plasenta terjadi terlalu dalam pada dinding rahim [4].

Karena kondisi ini, plasenta tak bisa keluar setelah bayi lahir bahkan dengan kontraksi rahim sekalipun.

Bukan disebabkan oleh kontraksi yang tak cukup, plasenta tak bisa keluar karena kelainan di bagian lapisan rahim.

Plasenta akreta sendiri berisiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang sudah pernah menjalani persalinan secara caesar atau memiliki riwayat operasi rahim.

Placenta Adherens

Placenta adherens adalah jenis retensi plasenta di mana plasenta tidak bisa keluar karena tidak cukupnya kontraksi [4].

Persalinan yang memakan waktu lama atau bahkan tenaga sang ibu sendiri yang tak cukup besar mampu menyebabkan kelelahan sehingga kontraksi tak cukup mengeluarkan plasenta.

Atonia uteri pun bisa menjadi alasan lain mengapa placenta adherens bisa terjadi, yakni kondisi ketika bayi telah lahir namun rahim tak bisa berkontraksi lagi.

Pada kasus atonia uteri ini, risiko perdarahan pasca persalinan sangat tinggi sehingga nyawa sang ibu bisa berada dalam bahaya.

Trapped Placenta

Trapped placenta merupakan kondisi saat serviks atau leher rahim menutup sebelum plasenta berhasil keluar dari rahim [4].

Pada kondisi ini sebenarnya plasenta sudah berhasil lepas dari dinding rahim, namun tidak dapat keluar karena masalah leher rahim. [4]

Gejala Retensi Plasenta

Gejala utama retensi plasenta adalah ketika plasenta tidak berhasil keluar setelah bayi lahir [1,2,3,4].

Selain itu, perdarahan dan kehilangan banyak darah pada tingkat mengancam nyawa adalah tanda lain dari retensi plasenta [1,2,3,4].

Karena plasenta tertahan di dalam rahim, beberapa kondisi ini bisa terjadi dan mengancam jiwa sang ibu [1,2,3,4].

  • Pengumpalan darah
  • Perdarahan hebat
  • Perdarahan yang terlambat
  • Rasa nyeri yang terasa sangat lama
  • Keluarnya cairan dari vagina / keputihan yang berbau tak sedap
  • Gejala seperti flu
  • Demam dan menggigil

Penting bagi para ibu hamil untuk segera ke dokter kandungan atau rumah sakit bila tanda-tanda hendak melahirkan sudah mulai terasa.

Risiko gejala retensi plasenta setidaknya dapat diminimalisir dengan melahirkan di rumah sakit atau setidaknya berada di bawah pengawasan dokter.

Ketika plasenta tak juga keluar hingga 30 menit setelah bayi lahir, maka dokter dapat segera menanganinya.

Pemeriksaan Retensi Plasenta

Pemeriksaan akan dilakukan oleh dokter sesegera mungkin setelah mengetahui bahwa plasenta tak kunjung keluar bahkan sampai setengah jam dari sejak bayi lahir [1,2].

Pasien tetap didiagnosa dengan retensi plasenta walaupun jaringan plasenta keluar namun hanya sebagian [1,2].

Pengobatan Retensi Plasenta

Dokter mengatasi retensi plasenta dengan cara mengeluarkannya, baik itu ketika plasenta masih utuh di dalam rahim atau hanya sebagian saja [1,2,3,4].

Dokter dapat mengeluarkan plasenta dari rahim pasien dengan menggunakan tangan atau secara manual [1,2,3,4].

Dokter juga akan memberi pasien obat-obatan yang membantu meningkatkan kontraksi rahim sehingga plasenta terdorong keluar [1,2,3,4].

Pada kondisi pasien yang terbilang baik dan stabil, dokter akan meminta pasien meningkatkan frekuensi buang air kecil [4].

Plasenta dapat sulit keluar salah satunya karena kandung kemih yang penuh, maka sering buang air kecil diharapkan bisa mengeluarkan seluruh atau sisa-sisa jaringan plasenta [4].

Selain dari pengambilan manual, peningkatan frekuensi buang air kecil, dan obat-obatan, beberapa cara lain mengeluarkan plasenta adalah :

  • Menyusui

Pasien yang segera menyusui bayinya akan memicu kontraksi terjadi lebih mudah [1,2,3,4].

Hal ini diharapkan mampu mendorong plasenta (seluruhnya atau sisa-sisa jaringan) keluar dari rahim [3].

Dengan begitu, plasenta bisa dikeluarkan secara alami tanpa harus menjalani prosedur bedah [3].

  • Pijat

Dokter dapat memberi pijatan pada bagian perut pasien setelah melahirkan supaya kontraksi terjadi [3,4].

Walau pasien akan merasakan ketidaknyamanan, biasanya cara ini tergolong efektif untuk memicu kontraksi dan mengeluarkan plasenta [3].

Pijatan umumnya menjadi penanganan pada persalinan kedua atau ketiga dan seterusnya karena memiliki riwayat melahirkan beberapa kali cenderung membuat rahim tak mudah berkontraksi [3].

  • Posisi Tubuh

Selain pijatan dan menyusui, dokter dapat pula meminta pasien mengubah posisi tubuh dan melakukan gerakan tertentu yang memicu kontraksi [3].

Agar plasenta dapat terdorong keluar, biasanya posisi atau gerakan yang terbaik adalah squat atau setengah berjongkok [3].

Selain squat, dokter kemungkinan meminta pasien berguling ke samping untuk membuat kontraksi lebih mudah terjadi [3].

  • Operasi

Ketika cara-cara di atas tidak juga mampu mengeluarkan plasenta, opsi terakhir yang perlu pasien tempuh adalah operasi [2,3,4].

Operasi mengeluarkan plasenta akan dokter lakukan secara aman sebab ketika tak bisa dikeluarkan dan justru dibiarkan, hal ini justru meningkatkan risiko yang lebih berbahaya [2,3,4].

Plasenta berpotensi tumbuh di dalam dinding rahim yang kemudian mengganggu jaringan lain di sekitarnya; pada akhirnya, seluruh rahim perlu diangkat ketika jaringannya terganggu oleh pertumbuhan plasenta ini [2,3,4].

Meski tingkat keamanan prosedur bedah mengeluarkan plasenta tergolong tinggi, risiko komplikasi seperti infeksi dan perdarahan hebat tetap ada [2,3,4].

Selain itu, endometritis juga bisa ikut terjadi, yakni radang lapisan dinding rahim; jika kondisi ini pasien alami, dokter biasanya segera meresepkan antibiotik [2,3].

Komplikasi Retensi Plasenta

Risiko terjadinya komplikasi berbahaya pada kasus retensi plasenta sangat tinggi, yakni diantaranya [2,3,4] :

  • Perdarahan pasca melahirkan yang mengancam nyawa pasien, sebab pembuluh darah yang menempel pada plasenta dalam kondisi terbuka terus-menerus dan mengeluarkan darah.
  • Infeksi rahim yang juga disebut dengan istilah endometritis; kondisi ini umumnya ditandai dengan demam, pembengkakan pada perut, tidak nyaman dan nyeri setiap buang air besar, keputihan yang berbau tak sedap, serta rasa nyeri di bagian panggul serta perut sisi bawah.
  • Polip plasenta, yakni sebuah kondisi ketika terdapat pertumbuhan jaringan abnormal di plasenta.
  • Subinvolusi uteri, yakni ukuran rahim yang tak bisa kembali seperti semula usai persalinan.

Pencegahan Retensi Plasenta

Beberapa cara untuk mencegah supaya retensi plasenta tidak terjadi selama persalinan adalah pemberian obat perangsang kontraksi rahim oleh dokter [4].

Selain itu, prosedur CCT (controlled cord traction) juga dapat dokter lakukan jika perlu, yakni proses memijat perut sang ibu sambil menjepit dan menarik tali pusar bayi agar rahim mengalami kontraksi [4,5,6].

Tak hanya itu, pada masa kehamilan para ibu hamil dianjurkan untuk memeriksakan kehamilan secara rutin dengan menjalani USG [4].

Pemeriksaan kehamilan ini dapat membantu dokter mendeteksi adanya kondisi yang berpotensi menyebabkan retensi plasenta pada persalinan nanti [4].

Jika dokter mampu mendeteksi adanya beberapa kelainan atau gangguan kehamilan, persiapan dan antisipasi solusi bisa dokter siapkan untuk menyelamatkan pasien saat melahirkan.

1. Andrew D Weeks. The Retained Placenta. African Health Sciences; 2001.
2. Nicola C Perlman & Daniela A Carusi. Retained placenta after vaginal delivery: risk factors and management. International Journal of Women's Health; 2019.
3. Dan Brennan, MD. What Is a Retained Placenta?. Grow by WebMD; 2021.
4. Janine Kelbach, RNC-OB & Rachel Nall, MSN, CRNA. Labor and Delivery: Retained Placenta. Healthline; 2016.
5. World Health Organization. WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage. World Health Organization; 2012.
6. G Justus Hofmeyr, Nolundi T Mshweshwe, Ahmet Metin Gülmezoglu, & Cochrane Pregnancy and Childbirth Group. Controlled cord traction for the third stage of labour. Cochrane Library; 2015.

Share