Penyakit & Kelainan

Anodontia: Penyebab, Diagnosis dan Cara Mengatasi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Ketiadaan gigi merupakan kelainan perkembangan yang umum terjadi pada manusia. Kelainan ini dapat berupa ketiadaan gigi dalam beragam jumlah baik pada gigi susu atau gigi permanen. [1]

Anodontia merupakan kondisi tidak munculnya seluruh gigi baik gigi susu maupun gigi permanen. Kondisi ini merupakan kondisi langka yang terjadi sejak lahir. Akan tetapi terdapat pula kondisi anodontia parsial/ sebagian. Kondisi ini merujuk pada tidak adanya satu atau beberapa buah gigi. [2]

Anodontia terbagi atas anodontia total dan anodontia parsial. Anodontia parsial terbagi menjadi hipodontia dan oligodontia. Pada anodontia total, ketiadaan gigi terjadi secara keseluruhan. Sedangkan, pada hipodontia, ketiadaan gigi terjadi pada 1-6 buah gigi. [1]

Pada kondisi oligodontia, ketiadaan gigi terjadi sebanyak lebih dari 6 gigi. Hal ini tidak termasuk gigi geraham ketiga. Ketiadaan gigi biasanya bersifat sebagai bagian dari sindrom lain atau kelainan tunggal itu sendiri. [1]

Penyebab Anodontia

Anodontia disebabkan oleh kelainan genetik. Kadang-kadang, anodontia merupakan bagian dari sindrom lain misalnya displasia ektodermal. Kelainan ini merupakan sindrom dari kelompok penyakit saraf dan penyakit kulit yang tidak berkembang. [3]

Jika anodontia merupakan bagian dari displasia ektodermal, maka akan menunjukkan tanda lain pada bagian tubuh seperti rambut, kuku, dan kelenjar keringat. Anodontia merupakan kelainan genetik yang bersifat resesif autosom. Artinya, kelainan ini terjadi pada gen di dalam sel tubuh. [4]

Selain itu, kelainan ini terjadi akibat kedua orang tua masing-masing menyumbang gen yang mengalami mutasi. Hal ini membuat keturunannya menunjukkan sifat dari gen yang mengalami mutasi ini. Dalam hal ini adalah anodontia. [4]

Berdasarkan ulasan dari Dental Research Journal, kondisi anodontia ini lebih banyak dialami oleh wanita dibandingkan dengan pria. Hal ini diperoleh dari data penelitian yang dikumpulkan dari pasien penderita anodontia. [5]

Anodontia yang terjadi akibat displasia ektodermal lebih umum dijumpai dibandingkan dengan anodontia tanpa terkait dengan sindrom lain. Adapun ciri-ciri lain bila anodontia terjadi akibat adanya displasia ektodermal ialah: [6]

  • Alopesia
  • Kurangnya kelenjar keringat
  • Bibir atau langit-langit sumbing
  • Ketiadaan kuku jari

Meskipun anodontia disebabkan oleh kecacatan gen yang diwariskan, belumlah diketahui gen yang secara pasti terlibat dalam munculnya penyakit anodontia ini. Anodontia biasanya berkaitan dengan displasia ektodermal. Kondisi displasia ektodermal biasanya bersifat diwariskan dari orang tua. [6]

Diagnosis Anodontia

Anodontia biasanya didignosis jika bayi tidak mulai mengalami perkembangan gigi sampai sekitar usianya 13 bulan. Dalam hal ini merupakan gigi susu. Sedangkan untuk gigi permanen, anodontia biasanya didiagnosis jika anak tidak mulai mengalami perkembangan gigi sampai usianya sekitar 10 tahun. [6]

Jika salah satu kondisi ini terjadi, maka dokter gigi akan menggunakan sinar X untuk memeriksa struktur gigi yang mungkin masih terdapat di dalam gusi. Pada beberapa kasus, gigi anak muncul lebih lambat dari yang seharusnya. Jika sinar X tidak menunjukkan adanya gigi maka kemungkinan anak menderita anodontia. [6]

Anodontia dapat didiagnosis pada usia 4 tahun menggunakan sinar X. Sebab, mulai usia inilah gigi terlihat pada gambar hasil sinar X. Anodontia total (baik gigi susu dan gigi permanen) lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan anodontia pada gigi permanen saja. [2]

Cara Mengatasi Anodontia

Beberapa orang menganggap bahwa anodontia hanya akan mempengaruhi estetika gigi. Akan tetapi, hal ini bukanlah masalah utama. Setiap gigi yang terdapat di dalam rongga mulut memainkan peranan penting dalam membantu Anda untuk berbicara, makan, dan mengunyah. [5]

Mengalami ketiadaan gigi dapat menyebabkan masalah pada fungsi gigi yang telah disebutkan dan mempengaruhi makan dan berbicara. Banyak orang dengan anodontia memutuskan menggunakan implan gigi, jembatan gigi (dental bridge), atau gigi palsu. [5]

Penggunaan gigi prostetis ini akan membuat kegiatan makan dan berbicara menjadi lebih mudah. Berikut ini penjelasan tentang gigi palsu, jembatan gigi, dan implan gigi: [6]

  • Gigi palsu. Gigi palsu merupakan gigi pengganti buatan yang dapat dilepas. Gigi palsu biasanya penanganan paling efektif untuk kasus anodontia total.
  • Jembatan gigi. Jembatan gigi merupakan gigi pengganti yang tak bisa dilepas. Jembatan gigi dilekatkan di gigi yang berada di sekitar gigi yang tidak ada. Jembatan gigi akan mengisi celah yang kosong. Cara ini paling efektif bila Anda hanya mengalami anodontia parsial.
  • Implan gigi. Pada implan gigi, ditambahkan akar gigi buatan ke rahang untuk menahan kedudukan gigi pengganti. Implan gigi terlihat dan terasa seperti gigi asli dibandingkan gigi palsu, dan jembatan gigi.

Selain pemasangan gigi, penderita anodontia juga harus menjalani rehabilitasi pada bagian mulut. Rehabilitasi oral pada penderita anodontia yang masih muda bergantung pada usia, kondisi gigi yang ada, jumlah gigi, dan kondisi pertumbuhan pasien. [1]

Rehabilitasi oral termasuk pembuatan gigi prostetis, merawat gigi yang ada, mengakomodasi gigi yang akan tumbuh, dan mengelola perkembangan dan perilaku pasien untuk jangka waktu yang panjang. Kebutuhan gigi prostetis ini penting selama masa pra sekolah anak. [1]

Tidak ada cara yang dapat digunakan untuk merangsang pertumbuhan gigi pada kasus ketiadaan gigi bawaan. Jika hanya beberapa gigi yang tiada, maka penanganan mungkin tidak dibutuhkan. [1]

Selain itu, bila pasien memiliki gigi susu namun terjadi kasus anodontia pada gigi permanen maka yang harus dilakukan adalah menjaga gigi susu untuk bertahan selama mungkin. Setelah itu, menggantikan gigi tersebut menggunakan gigi prostetis sambil melakukan rehabilitasi oral. [2]

Hidup dengan Anodontia

Selain menimbulkan kesulitan dalam hal makan dan berbicara, anodontia tidak menimbulkan banyak masalah jika bukan bagian dari sindrom lain. Akan tetapi, apabila anodontia yang terjadi merupakan bagian dari displasia ektodermal Anda akan mengalami masalah tambahan terkait dengan rambut, kuku, kulit, atau kelenjar keringat. [6]

Bahkan bila Anda tidak memiliki beberapa gigi, menjaga kesehatan mulut merupakan hal yang penting. Anda bisa menggunakan pembilas mulut untuk membunuh bakteri dan menjaga gusi Anda tetap sehat. Anda juga bisa menyikat gusi untuk menjaga mulut tetap segar. [5]

1. Manu Rathee, Poonam Malik, Madhuri Dua, & Vikas Yadav. Early functional, esthetic, and psychological rehabilitation of preschool child with nonsyndromic oligodontia and anodontia in mixed dentition stage through conservative systematic approach: A case report with 5-year follow-up. Contemporary Clinical Dentistry; 2016.
2. Chaitra T. R., Ravishankar T. L., Anand Pratap Singh, & Surender Pratap Singh. Anodontia of Permanent Teeth - A Case Report. Pakistan Oral and Dental Journal; 2010.
3. Anonim. Anodontia. Kaiser Permanente; 2021.
4. Anonim. Anodontia. Genetic and Rare Diseases Information Centre; 2021.
5. Anonim. Anodontia. Cool Gate; 2021.
6. Valencia Higuera & Christine Frank. Anodontia. Healthline; 2017.

Share