Penyakit & Kelainan

Apa Itu Cyberchondria? – Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Kehidupan masa kini terbilang jauh lebih baik dengan banyaknya informasi yang bisa diperoleh secara mudah melalui internet [1].

Keberadaan internet membuat segala sesuatunya lebih praktis, entah itu dalam hal komunikasi maupun aktivitas berbelanja [1].

Belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja dapat dilakukan selama ada internet [2].

Hanya saja, sisi gelap dari internet adalah ketergantungan yang tidak sehat, terutama saat banyak orang mulai sering self-diagnosed atau mendiagnosa kondisi kesehatan mereka sendiri melalui informasi yang didapat dari internet [3,4,5,6].

Mendiagnosis diri sendiri terkait penyakit atau kondisi medis tertentu hanya berdasarkan dari informasi yang dijumpai di internet disebut dengan cyberchondria [3,4,5,6].

Apa Itu Cyberchondria?

Intinya, cyberchondria adalah suatu kondisi di mana seseorang merasakan kecemasan berlebih terhadap kondisi kesehatannya sendiri lalu mencari gejala dan penyebabnya dari situs-situs yang tersedia lewat internet [3,4,5,6].

Karena berpikiran secara berlebihan, pada akhirnya seseorang dapat mendiagnosis kondisinya sendiri usai menyimpulkan dari informasi-informasi yang ia baca dan kumpulkan dari internet [3,4,5,6].

Menurut sebuah hasil survei yang dilakukan oleh University of Vermont Health Network, terdapat sekitar 90% populasi di Amerika Serikat yang menggunakan internet untuk mencari tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, terutama gejala dan penyebab kondisi medis tertentu [3,6].

Tidak hanya di Amerika Serikat, masyarakat Indonesia pun mungkin sudah tidak asing dengan tindakan seperti ini walaupun tidak tahu istilahnya.

Walau dianggap wajar karena seseorang ingin mengetahui apa yang kira-kira terjadi pada kesehatan tubuhnya, hal ini dapat memicu pada penanganan mandiri yang salah dan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius ke depannya [3,4,5,6].

Penyebab Cyberchondria

Penyebab cyberchondria belum diketahui secara pasti hingga saat ini, namun terdapat beberapa faktor sebagai berikut yang berkemungkinan menjadi peningkat risiko cyberchondria :

  • Efisien dan Murahnya Informasi dari Internet

Cyberchondria dapat didasari oleh keinginan seseorang dalam mencari informasi kesehatan lewat internet karena kemudahan dan kepraktisannya [3].

Orang-orang dengan cyberchondria rata-rata mungkin sudah paham betul bahwa ke dokter jauh lebih baik daripada mencari informasi dari internet [3].

Namun alih-alih memilih ke dokter yang memerlukan tenaga, waktu dan biaya lebih besar, informasi dari internet dirasa menjadi pilihan yang lebih baik walau belum tentu benar [3].

  • Riwayat Penyakit Tertentu

Cyberchondria juga dapat diawali dari seseorang yang berasal dari keluarga dengan riwayat penyakit tertentu [3,5].

Karena mengetahui bahwa anggota-anggota keluarganya memiliki penyakit tertentu (khususnya penyakit turunan), maka seseorang dapat merasa takut dan cemas bahwa ia mengalami penyakit yang sama yang belum ia sadari [3,5].

Berawal dari penyakit turunan di dalam keluarganya, seseorang dapat kemudian mencari tahu mengenai kondisi tersebut melalui internet, baik dengan tujuan sebagai pemahaman maupun sebagai langkah pencegahan atau pengurangan risiko [3,5].

Kecemasan berlebih maupun depresi dapat meningkatkan risiko cyberchondria [3,5,6].

Kecemasan tersebut bisa jadi tidak berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh sendiri [3,5,6].

Kecemasan yang timbul dapat berasal dari faktor lain, seperti masalah studi, pekerjaan, rumah tangga, keluarga, pertemanan, dan lainnya [3,5,6].

Namun karena kecemasan yang cenderung berlebihan, hal ini dapat membuat seseorang merasa takut dan cemas pula terhadap kondisi kesehatannya sendiri [3,5,6].

Gejala Cyberchondria

Seseorang yang mengalami cyberchondria memiliki pikiran-pikiran yang cenderung negatif dan kecemasan terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi [3,5,6].

Berikut ini merupakan tanda atau gejala bahwa seseorang memiliki kondisi cyberchondria [3,4,5,6,7] :

  • Terobsesi dengan informasi kesehatan yang bisa ditemukan secara online melalui internet.
  • Mencari tahu informasi-informasi kesehatan sampai berjam-jam hampir setiap hari atau bahkan bisa sampai setiap hari.
  • Aktivitas mencari informasi kesehatan ini sudah pada tahap berlebihan yang bisa menghambat rutinitas.
  • Merasa cemas berlebihan ketika sudah berhasil mendapatkan informasi yang diharapkan.
  • Merasa takut ketika menemukan informasi diagnosis penyakit tertentu dari gejala-gejala yang ia cocokkan dengan yang ia baca lewat internet.
  • Menyocokkan kondisi gejala-gejala yang dirasakan pada diri sendiri dengan informasi gejala-gejala yang ada di situs-situs kesehatan.
  • Menyimpulkan bahwa dirinya mengalami suatu kondisi kesehatan (baik fisik maupun mental tertentu) yang belum tentu ia alami.
  • Menganggap serius dan akurat segala informasi kesehatan yang dibaca melalui internet.
  • Membaca informasi-informasi kesehatan mulai dari gejala, penyebab, dan pengobatan; lalu ketika merasa cocok dengan suatu kondisi tertentu, pengidap cyberchondria akan mendiagnosis diri sendiri dan mencoba mengobatinya sendiri sesuai informasi yang tertera.

Hal ini menjadi tidak baik ketika kondisi kesehatan yang sudah parah justru salah terdiagnosis karena mencoba diagnosis mandiri.

Bahkan kondisi yang sudah serius dapat menjadi jauh lebih buruk ketika penderita justru mengobati sendiri tanpa ke dokter dan pengobatan tersebut menimbulkan efek samping.

Cara Mengatasi Cyberchondria

Kecemasan dalam diri sendiri seringkali dapat memperburuk cyberchondria, maka dari itu, berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya mengatasi cyberchondria [3,5,6,8] :

  • Tidak berasumsi terlalu jauh, supaya tidak berpikiran negatif saat menemukan gejala-gejala melalui internet.
  • Batasi penggunaan internet, supaya tidak terus-menerus ingin mendeteksi kondisi kesehatan secara berlebihan.
  • Lakukan pemeriksaan fisik ke dokter dan berdiskusi dengan ahlinya, supaya rasa cemas terhadap kondisi kesehatan tertentu dapat terpecahkan dan terlegakan daripada mendiagnosis sendiri.

Cyberchondria dapat teratasi ketika seseorang mencoba untuk lebih mengandalkan dokter agar penyakit terdeteksi dan tertangani secara tepat, daripada sepenuhnya percaya pada informasi yang didapat melalui internet.

1. Kathleen Stansberry, Janna Anderson, & Lee Rainie. The internet will continue to make life better. Pew Research Center; 2019.
2. Keystone Education Group. 5 Reasons Why Online Learning is the Future of Education in 2023. Educations.com; 2023.
3. Lori Lawrenz, PsyD & Steven Rowe. What Is Cyberchondria?. Psych Central; 2021.
4. Brittany M Mathes, Aaron M Norr, Nicholas P Allan, Brian J Albanese, & Norman B Schmidt. Cyberchondria: Overlap with health anxiety and unique relations with impairment, quality of life, and service utilization. Psychiatry Research; 2018.
5. Good Therapy. Cyberchondria. Good Therapy; 2017.
6. University of Vermont Health Network. Cyberchondria: Could you have it?. University of Vermont Health Network; 2019.
7. Dianne Grande, Ph.D & Kristen Fuller, MD. Cyberchondria: Signs, Symptoms, & Treatments. Choosing Therapy; 2020.
8. Timothy J. Legg, PhD, PsyD & Jessica Semaan. Confessions of a Cyberchondriac. Healthline; 2019.

Share