Penyakit & Kelainan

Bayi Kuning Saat Baru Lahir

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Bayi berwarna kuning ketika baru lahir umumnya merupakan keadaan yang normal atau fisiologis. Namun, pada beberapa kasus bayi berwarna kuning ini merupakan keadaan patologis yang dapat membahayakan nyawa bayi sehingga harus segera mendapat penanganan agar keadaan tidak semakin parah.

Kondisi bayi berwarna kuning ini disebut juga dengan neonatal jaundice atau hiperbilirubinemia. Kondisi ini biasanya berlangsung ketika bayi baru lahir hingga sekitar 2-3 minggu atau lebih setelah kelahiran[1,2,3].

Penyebab Bayi Kuning Saat Baru Lahir

Adapun penyebab dari neonatal jaundice sangat bervariasi. Berikut ini penyebab dari kondisi tersebut antara lain:

  • Adanya Peningkatan Bilirubin

Bilirubin merupakan senyawa kimia berwarna kuning yang dihasilkan oleh hati. Senyawa ini dihasilkan dari pemecahan sel darah merah yang kelebihannya dibuang melalui tinja, tetapi dikarenakan kondisi hati bayi yang baru lahir belum dapat bekerja secara maksimal akhirnya kelebihan bilirubin ini tetap berada di dalam tubuh dan menyebabkan bayi mengalami kondisi neonatal jaundice.

Adanya peningkatan bilirubin ini menyebabkan bayi mengalami perubahan warna kulit dan sklera menjadi berwarna kekuningan yang disebut dengan ikterus neonatorum. Peningkatan bilirubin dalam darah ini juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti ras, genetik, dan cacat bawaan sejak lahir[1,2,3].

  • Bayi Lahir Prematur

Neonatal jaundice umumnya dialami oleh bayi yang lahir secara prematur karena bayi tersebut tidak dapat memproses kadar bilirubin dalam darah secepat bayi yang lahir tepat waktu. Selain itu, bayi yang lahir prematur akan mengonsumsi ASI dalam jumlah sedikit sehingga keinginan untuk buang air besar menjadi berkurang.

Apabila masa buang air besar berkurang, maka jumlah bilirubin dalam darah tidak berkurang sehingga mengakibatkan bayi berwarna kuning[1].

  • Tidak Cocoknya Golongan Darah Antara Ibu Dan Anak

Pada beberapa kasus tertentu penyakit kuning terjadi pada bayi yang memiliki golongan darah tidak sama dengan ibunya atau disebut ketidakcocokan golongan darah. Perbedaan golongan darah antara ibu dan anak ini menyebabkan sel-sel darah merah hancur yang pada akhirnya meningkatkan bilirubin dalam darah dan bayi mengalami neonatal jaundice.

Apabila terjadi kasus seperti ini, maka harus segera diperiksakan ke dokter agar mendapat perawatan yang tepat[1].

  • Pemberian ASI

ASI merupakan asupan yang penting bagi bayi, tetapi pada beberapa bayi yang diberi ASI juga bisa mengalami peningkatan bilirubin. Bahkan peningkatan bilirubin lebih banyak pada bayi yang diberi ASI daripada bayi yang diberi susu formula.

Hal ini dapat terjadi karena ASI dapat mengganggu penguraian bilirubin dalam darah atau karena bayi tidak menyusu dengan baik. Penyakit kuning yang diakibatkan karena ASI ini biasanya muncul setelah 24-72 jam setelah kelahiran dan memuncak pada 5-15 hari setelah kelahiran[2].

Cara Mengatasi Dan Mencegah Bayi Kuning Saat Baru Lahir

Neonatal jaundice pada bayi baru lahir dapat diatasi dan dicegah dengan beberapa cara, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Tetap Memberikan ASI Pada Bayi

Apabila bayi mengalami neonatal jaundice yang disebabkan karena pemberian ASI, maka cara mengatasinya adalah dengan cara tetap terus memberikan ASI kepada sang bayi dengan interval lebih sering. Seorang ibu bisa menyusui bayinya sebanyak 10-12 kali dalam sehari selama beberapa hari pertama setelah kelahiran tanpa diberi makanan tambahan yang lain.

Dengan sering memberikan ASI kepada bayi, maka kadar bilirubin pada bayi akan berkurang secara bertahap sehingga warna kulit bayi akan perlahan menjadi normal. Dalam hal ini menghentikan pemberian ASI kepada bayi sangat tidak dianjurkan[2].

Pemberian ASI yang sering dan eksklusif juga dapat mencegah terjadinya bayi kuning. Hal ini dikarenakan kandungan gizi yang terdapat di dalam ASI mampu meningkatkan sistem imun sang bayi dan mencegah bayi mengalami dehidrasi.

Oleh karena itu, pemberian ASI pada bayi dapat mengatasi sekaligus mencegah terjadinya bayi kuning[2].

  • Mengukur Kadar Bilirubin

Pengukuran kadar bilirubin dapat dilakukan dengan metode biokimia, bilimeter, atau bilirubinometer transkutan. Biokimia adalah metode baku emas untuk menilai bilirubin total dan terkonjugasi menurut reaksi Van Den Bergh.

Bilimeter adalah menilai total bilirubin dalam serum. Bilirubinometer transkutan adalah metode noninvasif yang didasarkan pada prinsip reflektansi spektral multi panjang gelombang dari pewarnaan bilirubin di kulit.

Keakuratan bilirubinometer transkutan dipengaruhi oleh ketebalan dan variasi pigmentasi kulit[2].

Untuk mencegah terjadinya penyakit kuning pada bayi, dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar bilirubin dalam tubuh bayi. Hal ini dikarenakan apabila dokter sudah mengetahui kadar bilirubin dalam tubuh bayi maka dokter dapat memutuskan tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan sehingga bayi mendapat penanganan yang tepat.

Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengetahui penyebab penyakit kuning yang terjadi pada bayi[2].

  • Fototerapi

Fototerapi adalah pemecahan bilirubin di bawah kulit dengan menggunakan cahaya khusus yang menyinari tubuh sang bayi. Cahaya tersebut berwarna biru atau hijau yang diletakkan sekitar 4 inci di atas bayi.

Semakin banyak kulit yang terkena cahaya maka akan semakin baik dalam pemecahan bilirubin dalam tubuh. Cahaya tersebut juga tidak menghalangi bayi untuk minum susu formula maupun ASI dan tidak ada risiko yang ditimbulkan dengan pengobatan ini sehingga aman untuk bayi[4].

1. Mark Chung Wai Ng, MMed, FCFP and Choon How How, MMed, FCFP. When babies turn yellow. 56(11): 599–603. Singapore Medical Journal; 2015.
2. Sana Ullah, Khaista Rahman, and Mehdi Hedayati. Hyperbilirubinemia in Neonates: Types, Causes, Clinical Examinations, Preventive Measures and Treatments: A Narrative Review Article. 45(5): 558–568. Iranian Journal of Public Health; 2016.
3. Megan A. Moreno, MD, MSEd, MPH. Common Questions About Neonatal Jaundice. 169(3):296. Jama Pediatrics; 2015.
4. Daniel L. Preud’Homme, MD. Neonatal Jaundice. American College of Gastroenterology; 2012.

Share