Makanan, Minuman dan Herbal

7 Efek Samping Kebanyakan Garam

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Garam yang juga dikenal sebagai natrium klorida, terdiri dari sekitar 40% natrium dan 60% klorida.[1] Selain dikenal sebagai penambah rasa pada makanan, garam juga bisa digunakan sebagai pengawet akibat bakteri yang tidak bisa berkembang pada makanan yang terkandung garam tinggi.

Garam sendiri sangat penting untuk tubuh manusia. Setelah tertelan dan tersebar ke dalam aliran darah dan cairan lain dari tubuh, garam mengambil beberapa tanggung jawab. Garam sebagai elektrolit akan memungkinkan otak untuk membawa sinyal listrik melalui saraf dan otot, dan juga mengontrol tingkat cairan, seperti volume darah total, yang kemudian mempengaruhi tekanan darah.[2] Garam juga merangsang kelenjar adrenal, mengurangi sengatan matahari, dan membantu menjaga mineral penting lainnya dalam aliran darah.[2]

Garam akan sangat bermanfaat bagi tubuh jika dikonsumsi dalam batas wajar. Namun, masih banyak orang yang mengkonsumsi garam atau makanan yang mengandung garam dalam jumlah yang tinggi. Hal ini akan menimbulkan beragam efek samping seperti berikut ini.

1. Penyakit Kardiovaskular

Pada suatu penelitian secara observasional dan klinis, telah ditemukan bahwa asupan natrium yang terkandung dalam garam lebih tinggi ada kaitannya dengan Cardiovaskular Diseases (CVD) atau penyakit kardiovaskular dan kematian terkait.[1]

Dengan mengumpulkan data dari 10.706 orang dewasa sehat dan kemudian mengukur dua atau lebih sampel urin setiap peserta, peneliti dari Harvard setelah mengendalikan faktor risiko CVD pun menemukan fakta bahwa asupan natrium yang lebih tinggi memiliki kaitan dengan risiko CVD yang lebih tinggi pula.[3]

Untuk setiap peningkatan 1.000 mg natrium urin per hari, ada peningkatan risiko CVD sebesar 18%. Namun untuk setiap peningkatan 1.000 mg kalium, terdapat 18% risiko lebih rendah dari CVD.[3]

2. Penyakit ginjal kronis

Ternyata, bagi pasien yang mengidap penyakit ginjal kronis tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dengan kandungan garam yang tinggi.

Dilaporkan bahwa sensitivitas garam lebih umum terjadi pada pasien yang memiliki bawaan penyakit ginjal kronis.[4] Hal ini dikarenakan pasien yang mengidap penyakit ginjal kronis ini berkurang kemampuannya untuk mengeluarkan natrium, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah merah.

Pada salah satu tinjauan sistematis menyebutkan bahwa asupan natrium tinggi lebih besar dari 4.600 mg sehari dikaitkan dengan perkembangan penyakit ginjal kronis. Akan tetapi, asupan natrium yang lebih rendah yakni lebih rendah atau kurang dari 2.300 mg per hari tidak akan memberikan efek yang signifikan bila dibandingkan dengan asupan natrium moderat 2.300 – 4.600 mg per hari.

3. Osteoporosis

Mengkonsumsi makanan yang mengandung garam terlalu tinggi dalam jangka waktu yang panjang ternyata berdampak pada pengeroposan tulang atau yang biasa disebut dengan osteoporosis. Hal tersebut bisa terjadi akibat jumlah kalsium yang hilang dari tubuh melalui air kecil yang dibuang meningkat seiring dengan jumlah garam yang dikonsumsi dalam tubuh.

Jika kalsium kekurangan pasokan dalam darah, maka kalsium dari tulang akan ikut keluar. Dengan demikian, tulang akan menjadi mengeropos.

Pada sebuah penelitian menyebutkan bahwa mengurangi asupan garam dapat membuat keseimbangan kalsium yang positif, sehingga hal tersebut juga dapat memperlambat hilangnya kalsium dari tulang yang terjadi seiring dengan penuaan.

4. Kanker

Ada salah satu penelitian yang menunjukkan bahwa asupan garam, natrium atau makanan asin dengan kadar yang tinggi memiliki kaitan dengan peningkatan kanker perut. Selain itu, The World Cancer Research Fund and American Institute for Cancer Research juga menyimpulkan bahwa garam serta makanan asin yang mengandung garam dapat memberikan kemungkinan terjadinya kanker pada perut.

5. Hipernatremia

Bagi seseorang yang terlalu banyak mengkonsumsi garam akan terdapat banyak kandungan natrium dalam darahnya. Hal ini disebut dengan hipernatremia.[1][5] Kondisi ini sering terjadi pada lansia yang mengalami gangguan fisik dan mental yang tidak cukup makan atau minum, atau sedang sakit demam tinggi, muntah atau infeksi yang menyebabkan dehidrasi berat.

Selain itu, hal ini disebabkan juga akibat mengkonsumsi obat diuretik yang kemudian menyebabkan keringat berlebihan yang ikut menguras air dalam tubuh. Ketika natrium terakumulasi dalam darah, air dipindahkan keluar dari sel dan masuk ke dalam darah untuk mengencerkannya. [5]

Pergeseran dan penumpukan cairan ini di otak dapat menyebabkan kejang, koma, hingga kematian. Sedangkan pengumpulan cairan ini di paru-paru akan menyebabkan kesulitan bernapas bagi pengidapnya. Gejala lain dari hipernatremia adalah meliputi mual, muntah, kelemahan, kehilangan nafsu makan, rasa haus yang intens, kebingungan hingga kerusakan ginjal.[5]

6. Edema atau pembengkakan pada tubuh

Sering mengkonsumsi garam atau makanan asin dengan kadar tinggi bisa juga memberikan efek samping dalam jangka waktu pendek, salah satunya ialah edema atau pembengkakan kaki. Bagi mereka yang terlalu banyak makan garam, maka kakinya akan menjadi bengkak.[6][7]

Kondisi pembengkakan kaki atau edema ini dapat terjadi ketika cairan tubuh terperangkap dalam ruang di sekitar sel (ruang ekstraseluler).[6] Asupan garam yang tinggi membuat konsentrasi kadar natrium dalam darah menjadi meningkat. Peningkatan ini menyebabkan tubuh menjadi menahan air lebih banyak untuk membantu mengencerkan natrium.[7]

Hal tersebut pun kemudian membuat volume darah meningkat dan memberikan tekanan ekstra pada pembuluh darah kecil atau kapiler yang bisa menyebabkan kebocoran. Cairan yang bocor dari kapiler akan masuk ke ruang ekstraselule sehingga membuat tubuh menjadi bengkak.[7]

7. Otot kejang

Mengkonsumsi garam berlebihan juga memberikan efek samping dalam jangka pendek lainnya. Salah satunya ialah jika terlalu banyak makan garam atau makan makanan asin yang tinggi maka secara tiba-tiba otot akan menjadi kejang-kejang.[8]

Kebiasaan dalam mengkonsumsi garam secara berlebihan akan ‘mencerdaskan’ neuron simpatik yang ada di dalam otak. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan respon terhadap rangsangan, sehingga dapat menyebabkan kontraksi otot yang kemudian juga dapat berbahaya bagi organ tubuh bagian dalam.[8]

Batas aman dalam mengkonsumsi garam dalam satu hari

Tubuh manusia memang membutuhkan garam atau natrium agar seluruh organ dalamnya dapat berfungsi dengan baik. Tentunya jika kekurangan kadar garam akan membuat kinerja dalam tubuh menjadi tidak seimbang pula. Begitu pun sebaliknya, jika terlalu banyak garam yang dikonsumsi dalam tubuh juga akan memperburuk kondisi dan memberikan efek samping bagi tubuh.[9]

Hanya sedikit garam yang dibutuhkan setiap hari untuk dapat membantu tubuh dalam melakukan fungsi-fungsi penting. Kementrian Kesehatan Indonesia menganjurkan untuk tidak melebihi 2.000 mg natrium atau setara satu sendok teh garam per harinya.[9]

[1] Anonim. www.hsph.harvard.edu. Salt and Sodium; 2021
[2] Anonim. bumrungrad.com. The Dangers of Consuming Too Much Salt; 2015
[3] Yuan Ma, Feng J He, Qi Sun, Changzheng Yuan, Lyanne M Kieneker, Gary C Curhan, Graham A MacGregor, Stephan J L Bakker, Norm R C Campbell, Molin Wang, Eric B Rimm, JoAnn E Manson, Walter C Willett, Albert Hofman, Ron T Gansevoort, Nancy R Cook, Frank B Hu. 24-Hour Urinary Sodium and Potassium Excretion and Cardiovascular Risk. New England Journal of Medicine; 2021
[4] Andrew Smyth, Martin J O’donnell, Salim Yusuf, Catherine M Clase, Koon K Teo, Michelle Canavan, Donal N Reddan, Johannes F E Mann. Sodium intake and renal outcomes: a systematic review. American journal of hypertension; 2014
[5] Ivo Lukitsch, MD. emedicine.medscape.com. Hypernatremia; 2021
[6] Anonim. clevelandclinic.org. Edema; 2021
[7] Anonim. Mayoclinic.org. Edema; 2021
[8] Michelle Konstantinovsky. onemedical.com. The Health Effects of Too Much Salt; 2015
[9] Anonim. p2ptm.kemkes.go.id. Terlalu Banyak Garam - Tanda dan Dampaknya bagi Tubuh; 2019

Share