Osteoporosis – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Osteoporosis?

Osteoporosis (img : MS Focus Magazine)

Osteoporosis adalah suatu gangguan kesehatan tulang di mana tulang mengalami penurunan pada kepadatannya sehingga tulang keropos, rapuh, hingga gampang retak [2,3,4,5].

Osteoporosis tidak serta-merta terjadi begitu saja karena kondisi ini berkembang selama bertahun-tahun yang bila tak disadari dapat berbahaya.

Bahkan risiko fraktur atau patah tulang menjadi lebih tinggi pada penderita osteoporosis yang tidak ditangani dengan benar.

Pada kasus yang sangat parah, bersin dan batuk pun mampu membuat tulang rusuk patah karena kepadatan tulang tersebut sangat rendah.

Tinjauan
Osteoporosis adalah kondisi kepadatan tulang yang menurun sehingga memungkinkan terjadinya kerapuhan, pengeroposan, hingga patah tulang.

Fakta Tentang Osteoporosis

  1. Tulang pinggul, tulang pergelangan, tangan dan tulang belakang adalah yang paling rentan mengalami cedera pada penderita osteoporosis [3,5].
  2. Obesitas menjadi salah satu peningkat risiko seseorang mengalami osteoporosis selain dari kanker, diabetes mellitus, dan penyakit kardiovaskuler [7].
  3. Menurut Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO), di seluruh dunia terhitung ada kurang lebih 200 juta orang yang mengalami osteoporosis [1,6].
  4. Menurut data Perosi (Perhimpunan Osteoporosis Indonesia) di tahun 2006, prevalensi osteoporosis meningkat dari angka 23% pada wanita di Indonesia berusia 50-80 tahun menjadi 53% yang usianya 70-80 tahun ke atas [6].
  5. Menurut data SIRS (Sistem Informasi Rumah Sakit) di tahun 2010, insiden patah tulang paha dilaporkan mencapai 200/100.000 kasus akibat osteporosis di mana hal ini terjadi baik pada wanita maupun pria usia 40 tahun ke atas [6].
  6. Menurut laporan dari WHO, kasus patah tulang paha atas sebanyak 50% ini dapat berakibat pada kecacatan permanen pada penderitanya, hingga risiko kematian sebesar 30% [6].
  7. Pada laporan statistik International Osteoporosis Foundation, 1 dari 5 orang pria dan 1 dari 3 orang wanita seluruh dunia yang usianya di atas 50 tahun dapat mengalami fraktur osteoporosis selama hidupnya [1].
  8. Di Amerika Serikat dan Eropa, osteoporosis terjadi pada 30% wanita [1].
  9. Menurut perkiraan, kurang lebih 40% wanita usai masa menopause jauh lebih berisiko mengalami osteoporosis dan patah tulang [1].
  10. Di Amerika Serikat, ada lebih dari 53 juta orang yang berisiko tinggi mengalami osteoporosis serta telah menderita osteoporosis [4].

Penyebab Osteoporosis

Secara alami, selalu terjadi proses penyerapan jaringan tulang lama oleh tubuh untuk kemudian tulang baru dapat dihasilkan.

Proses alami tubuh inilah yang dapat membuat kepadatan dan kekuatan tulang bisa bertahan.

Memasuki usia 20 tahun, kepadatan tulang telah menjadi paling maksimal, sementara usia sekitar 35 tahun adalah masa-masa di mana tulang mulai melemah [5].

Seiring bertambah tuanya usia, kepadatan tulang akan menurun dan tingkat kelemahan tulang meningkat sehingga risiko patah tulang dan pengeroposan lebih tinggi.

Walau osteoporosis dapat dialami oleh laki-laki dan perempuan, muda maupun tua, nyatanya perempuan jauh lebih berpotensi besar terkena osteoporosis apalagi usai masa menopause.

Selain itu, masih ada sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko osteoporosis seperti :

1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Jika anggota keluarga khususnya orangtua ada yang mengalami osteoporosis, maka kemungkinan seseorang menderita kondisi yang sama sangat besar, termasuk juga risiko fraktur [3,4].

2. Ukuran Tubuh

Pada wanita yang tulangnya kurus dan kecil, maka risiko osteoporosis lebih tinggi [4].

3. Hormon Tubuh

Kadar estrogen rendah saat menopause, amenorrhea atau tidak terjadinya siklus menstruasi secara abnormal, hingga kadar testosteron rendah pada pria memperbesar potensi osteoporosis [4,5].

4. Asupan Alkohol

Konsumsi alkohol berlebihan bukan hanya menjadikan sistem otak dan saraf mengalami kerusakan, hal ini bila dibiasakan dapat memperburuk kondisi tulang dan memicu fraktur [2,3,4].

5. Kurang Olahraga

Gaya hidup yang kurang aktif, terlalu banyak duduk dan jarang berolahraga akan membuat tulang gampang lemah dan rapuh [3,4].

6. Merokok

Kebiasaan ini bukan hanya memicu kanker paru-paru, lebih parahnya, merokok berlebihan dalam jangka panjang dapat membuat tingkat kesehatan tulang menurun [2,3,4,5].

7. Penggunaan Obat Tertentu

Ada beberapa jenis obat-obatan yang bila digunakan dapat meningkatkan potensi seseorang mengalami kelemahan dan kerapuhan tulang, seperti :

Antikonvulsan dan glukokortikoid adalah jenis obat-obatan yang tidak sebaiknya digunakan jangka panjang (lebih dari 3 bulan) karena dapat mengurangi kepadatan tulang [5].

  • Antidepresan
  • Hormon tiroid
  • Kortikosteroid
  • Retinoid
  • Antikoagulan (obat pengencer darah)
  • Antasid dan protein-pump inhibitors
  • Thiazolidinedione yang umumnya mengobati diabetes tipe 2
  • Diuretik thiazide
  • Imunosupresan
  • Kemoterapeutik yang umumnya digunakan mengobati kanker prostat dan kanker payudara
  • Aromatase inhibitors

8. Defisiensi Kalsium dan Vitamin D

Bagi yang jarang mengasup makanan tinggi vitamin D dan kalsium, maka risiko tulang keropos, rapuh atau lemah pun menjadi lebih tinggi [4,5].

9. Kondisi Medis Tertentu

Osteoporosis dapat terjadi pada seseorang yang mengalami beberapa jenis gangguan medis, seperti [2,4,5] :

Tinjauan
Penyebab osteoporosis dapat meliputi riwayat kesehatan keluarga, kondisi medis tertentu, kekurangan kalsium dan vitamin D, penggunaan obat tertentu, ukuran tubuh, hingga kebiasaan atau pola hidup yang kurang sehat. 

Gejala Osteoporosis

Karena osteoporosis perkembangannya tergolong lambat dan bisa terjadi selama bertahun-tahun akibat gaya hidup yang kurang sehat, maka sulit untuk mendeteksi osteoporosis sejak dini [2,4,5].

Seseorang dengan osteoporosis kemungkinan besar tak akan menyadari bahwa dirinya menderita gangguan kesehatan tulang ini sampai fraktur terjadi.

Fraktur yang terjadi hanya karena insiden kecil atau kecelakaan yang tidak seberapa merupakan tanda tingkat kerapuhan tulang sudah tinggi.

Seseorang yang bersin dan batuk saja pun bisa menyebabkan keretakan tulang karena kepadatan tulang yang sudah sangat berkurang.

Ada pula gejala ditandai dengan patah tulang belakang sehingga postur tubuh seseorang mengalami perubahan, seperti lordosis misalnya (kelengkungan tulang belakang abnormal).

Tinggi badan yang menurun pun menjadi gejala yang patut diwaspadai.

Kapan seharusnya ke dokter?

Saat seseorang mulai merasakan ketidaknyamanan karena kerusakan tulang sudah terjadi, segeralah ke dokter [5].

Ketidaknyamanan tersebut dapat menjadi indikator fraktur yang tidak teridentifikasi, maka harus segera diperiksakan agar segera memperoleh penanganan medis yang tepat.

Tinjauan
Gejala osteoporosis tak dapat langsung diketahui karena perkembangannya yang bisa sampai bertahun-tahun tanpa disadari, namun jika fraktur sudah terjadi hal ini dapat dicurigai sebagai tanda osteoporosis.

Pemeriksaan Osteoporosis

Osteoporosis dapat terdeteksi melalui beberapa metode pemeriksaan sebagai berikut :

  • Sinar-X

Dengan pemeriksaan sinar-X secara rutin osteoporosis dapat dideteksi, hanya saja pada kebanyakan kasus sinar-X mendeteksi osteoporosis cukup terlambat [2,4,5].

Saat diperiksa dengan sinar-X rata-rata pasien telah kehilangan 30% kepadatan tulangnya.

  • Tes Kepadatan Mineral Tulang (BMD / Bone Mineral Density)

Untuk mengukur kesehatan tulang, tes ini perlu ditempuh pasien yang mengalami gejala osteoporosis [4].

Tes ini pun dapat dijadikan tes rutin supaya mampu meminimalisir risiko osteoporosis dan menentukan apakah seseorang memiliki potensi mengalami fraktur.

Tes DXA / DEXA (dual-energy x-ray absorptiometry) sentral adalah bentuk tes kepadatan mineral tulang di mana pemeriksaan ini tidaklah menimbulkan rasa sakit.

Tes ini mirip dengan tes sinar-X dengan durasi kurang lebih 5-15 menit untuk prosedurnya, namun tingkat paparan radiasi lebih rendah dari sinar-X.

Hasil Pemeriksaan BMD

Pada pemeriksaan BMD ini terdapat standar penilaian yang ditentukan oleh WHO yang disebut dengan T-score.

T-score berada di antara angka 1 dan -1 di mana inilah yang menentukan apakah seseorang mengalami osteoporosis atau osteopenia [2,5].

  • T-score yang menunjukkan angka antara -1 dan -2,5 adalah tanda seseorang mengalami osteopenia, yaitu kondisi tulang yang berada di antara normal dan osteoporosis).
  • T-score yang menunjukkan angkat -2,5 ke bawah menunjukkan kepadatan tulang sudah pada tahap osteoporosis.

Osteopenia berada di bawah osteoporosis untuk tingkat keparahan kondisi, namun perlu diwaspadai ketika osteopenia berkaitan dengan artritis reumatoid, penggunaan steroid kortison, dan kebiasaan merokok.

Bila osteopenia berkaitan dengan beberapa faktor tersebut, maka hal ini dapat meningkatkan potensi patah tulang pinggul dan tulang belakang.

Siapa saja yang perlu menempuh tes kepadatan tulang?

Walau gejala osteoporosis tidak terasa ataupun nampak, beberapa kelompok orang seperti berikut perlu melakukan tes DXA [2] :

  • Wanita yang khususnya sudah berusia 65 tahun ke atas.
  • Wanita usia di bawah 65 tahun yang sudah mengalami menopause.
  • Wanita yang mengalami kondisi medis tertentu yang berkaitan dengan kepadatan tulang serta osteoporosis
  • Wanita yang sudah memasuki masa menopause dan mengalami patah tulang.
  • Wanita yang memutuskan untuk hendak menempuh perawatan osteoporosis sehingga dapat diketahui secara tepat tingkat kepadatan tulang sebelum perawatan dimulai.
Tinjauan
Sinar-X dan BMD (Bone Mineral Density) atau tes kepadatan mineral tulang adalah langkah pemeriksaan utama yang umumnya dapat mendeteksi risiko atau kondisi osteoporosis.

Pengobatan Osteoporosis

Osteoporosis umumnya ditangani melalui perubahan gaya hidup dan juga penggunaan obat-obatan.

Melalui Perubahan Gaya Hidup

Perawatan komprehensif melalui perubahan gaya hidup bertujuan untuk mencegah fraktur jika gejala osteoporosis berhasil terdeteksi sejak awal [2,3,4,5].

  • Tidak merokok (berhenti dari kebiasaan merokok).
  • Menghindari konsumsi alkohol berlebihan.
  • Mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D tinggi.
  • Olahraga teratur, namun hindari olahraga berat dan berlebihan yang meningkatkan risiko bahaya pada tulang.

Melalui Obat-obatan

Tak hanya melalui perubahan gaya hidup, beberapa obat pun dapat membantu menghentikan penurunan kepadatan tulang.

Beberapa jenis obat pun dapat membantu agar kekuatan tulang bertambah, dan obat-obat yang dimaksud adalah [2,3,5]:

Bentuk penanganan lain osteoporosis, suplemen kalsium dapat digunakan oleh penderita sesuai dengan anjuran dan pengawasan dokter.

Berikut ini merupakan rekomendasi penggunaan suplemen kalsium oleh National Institutes of Health Consensus Conference on Osteoporosis yang diperuntukkan bagi penderita maupun non-penderita osteoporosis [2] :

  • Anak usia 1-10 tahun : 800 mg per hari
  • Remaja dan dewasa muda usia 11-24 tahun : 1.200 mg per hari
  • Wanita hamil dan menyusui : 1.200-1.500 mg per hari
  • Wanita setelah menopause yang tidak menggunakan obat/suplemen estrogen : 1.500 mg per hari
  • Pria, wanita yang sudah menopause, dan wanita yang menggunakan obat/suplemen penambah estrogen : 1.000 mg per hari
Tinjauan
Osteoporosis dapat diatasi melalui dua metode perawatan, dalam bentuk perubahan gaya hidup (menghindari alkohol dan merokok, berolahraga teratur, dan mengasup makanan serta suplemen kalsium maupun vitamin D) dan penggunaan obat-obatan penambah kekuatan dan kepadatan tulang.

Komplikasi Osteoporosis

Osteoporosis yang tidak segera ditangani dengan benar mampu berkembang dan mengakibatkan sejumlah risiko komplikasi pada tubuh penderitanya, salah satunya patah tulang.

Patah tulang dan patah tulang berulang dapat terjadi pada penderita osteoporosis ditandai dengan nyeri hebat tidak tertahankan [2].

Patah tulang pinggul adalah yang paling umum menjadi komplikasi osteoporosis [5].

Kondisi lain yang berpotensi besar terjadi adalah kifosis, yaitu kelainan tulang belakang di mana lengkungannya mengarah ke depan sehingga penderitanya memiliki postur bungkuk [2].

Jika sampai kifosis terjadi, maka sebagai akibat lebih jauhnya penderita dapat mengalami gangguan pernafasan hingga penurunan tinggi badan.

Tinjauan
Patah tulang berulang (umumnya bagian pinggul) serta kifosis yang berdampak pada gangguan pernafasan adalah bentuk komplikasi osteoporosis yang penting untuk diwaspadai.

Pencegahan Osteoporosis

Pencegahan paling baik untuk tidak sampai mengalami osteoporosis serta komplikasinya adalah mengonsumsi mineral kalsium secara cukup setiap hari.

Beberapa sumber makanan utama kaya akan kalsium yang dapat dikonsumsi antara lain seperti [4,5] :

Dalam penambahan asupan kalsium selain dari sumber makanan alami, suplemen kalsium pun dapat dikonsumsi.

Pastikan bahwa penggunaan suplemen adalah rekomendasi dari dokter, maka konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen apapun.

Selain kalsium, vitamin D pun diperlukan oleh tubuh secara cukup untuk mencegah osteoporosis, yaitu dengan mendapatkan sinar matahari pagi yang memadai.

Vitamin D adalah vitamin penting yang bertugas membantu proses penyerapan kalsium ke dalam tulang, maka konsumsilah juga makanan-makanan sumber vitamin D tinggi seperti :

  • Kuning telur
  • Hati
  • Ikan laut

Menghindari aktivitas merokok, tidak mengonsumsi alkohol, serta berolahraga rutin (Yoga dan berjalan kaki) adalah cara lainnya untuk mengurangi risiko osteoporosis.

Yoga adalah pilihan olahraga tepat untuk meningkatkan keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, sementara berjalan kaki dapat memperkuat tulang dan juga otot [5].

Rekomendasi Asupan Kalsium dan Vitamin D Harian Berdasarkan Usia

Mineral kalsium adalah yang utamanya dibutuhkan oleh setiap tubuh manusia untuk mendukung pertumbuhan tulang.

Tak hanya menjadikan pertumbuhan tulang pada anak dan remaja jauh lebih sempurna, seluruh golongan usia membutuhkan asupan kalsium untuk menguatkan dan menyehatkan tulang.

Berikut ini adalah rekomendasi jumlah atau kadar asupan kalsium berdasarkan usia [4] :

  • 200 mg per hari untuk bayi usia 0-6 bulan.
  • 260 mg per hari untuk bayi usia 6-12 bulan.
  • 700 mg per hari untuk anak usia 1-3 tahun.
  • 1.000 mg per hari untuk anak usia 4-8 tahun.
  • 1.300 mg per hari untuk anak usia 9-18 tahun.
  • 1.000 mg per hari untuk usia 19-50 tahun dan untuk pria usia 51-70 tahun.
  • 1.200 mg per hari untuk wanita usia 51-70 tahun dan lansia usia 70 tahun.
  • 1.300 mg per hari untuk wanita usia 14-18 tahun yang sedang hamil maupun menyusui.
  • 1.000 mg per hari untuk usia 19-50 tahun termasuk wanita yang sedang hamil atau menyusui.

Sementara itu, untuk asupan vitamin D yang paling direkomendasikan adalah [2,5] :

  • 1.000 mg per hari untuk orang dewasa dengan usia 19 tahun ke atas.
  • 1.200 mg per hari untuk wanita usia 51 tahun ke atas atau setelah menopause maupun untuk seluruh orang dewasa yang usianya sudah menginjak 70 tahun.
  • 400 mg per hari untuk bayi yang usianya kurang dari 1 tahun.
  • 600 mg per hari untuk seluruh wanita, pria dan anak-anak.
Tinjauan
Menjaga asupan makan dan berolahraga adalah cara pencegahan osteoporosis terbaik, terutama memenuhi asupan kalsium dan vitamin D dengan baik sesuai usia.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment