Penyakit & Kelainan

Ketahui 5 Gejala HIV pada Kulit

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Gejala HIV tidak seperti gejala infeksi virus lainnya karena muncul secara bertahap. Dalam sebagian besar kasus, begitu seseorang tertular HIV, virus tersebut tetap berada dalam tubuh seumur hidup. [1]

Namun, pengobatan menggunakan obat antiretroviral (ARV) secara teratur dapat mengurangi HIV ke tingkat yang tidak terdeteksi dalam darah dan mungkin mengurangi risiko dapat ditularkan. [1]

Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV akan memiliki ruam pada beberapa titik di tubuhnya. Ketika sistem kekebalan tubuh melemah oleh HIV, maka akan menyebabkan kondisi kulit timbul ruam dan luka. Ruam adalah gejala umum yang dapat terjadi pada tahap awal atau tahap selanjutnya dari infeksi HIV. Biasanya terasa gatal, berwarna kemerahan dan kadang terasa menyakitkan. [2, 4]

Ruam terjadi ketika tubuh mencoba melawan virus atau juga menjadi efek samping dari mengkonsumsi obat HIV. Biasanya terjadi di badan, wajah, tangan ataupun kaki. Beberapa gelaja HIV lainnya selain timbulnya ruam adalah demam, kelelahan, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kepala, nyeri otot dan diare. [2, 3]

Ruam adalah gejala awal yang biasanya terjadi dalam dua bulan pertama setelah terinfeksi virus. Seperti gejala awal HIV lainnya, ruam ini seringkali disalahartikan sebagai gejala infeksi virus lain. Oleh karena itu, penting untuk mempelajari cara mengidentifikasi ruam dan cara mengobatinya. [3]

Berikut adalah beberapa jenis atau gejala terinfeksi HIV pada kulit.

  • Gatal

Gejala utama ruam adalah rasa gatal. Kondisi ini dapat muncul di bagian tubuh manapun, namun biasanya paling sering terjadi di wajah dan dada, dan terkadang juga terjadi di kaki dan tangan [3].

Xerosis adalah kekeringan kulit yang sering muncul sebagai bercak gatal dan bersisik di lengan dan kaki. Kondisi ini sangat umum, bahkan terkadang terjadi pada orang tanpa HIV. Xerosis dapat disebabkan oleh cuaca kering, paparan sinar matahari yang berlebihan atau bahkan mandi air panas [4].

  • Seborrheic Dermatitis

Seborrheic Dermatitis sebagian besar terjadi di area wajah dan kulit kepala, mengakibatkan kemerahan, kulit bersisik dan ketombe. Meskipun terjadi pada sekitar 5 persen populasi umum, namun kondisi ini juga terlihat pada 85 hingga 90 persen orang dengan HIV [4].

Eosinophillic Folliculitis ditandai dengan gatal, benjolan merah yang berpusat pada folikel rambut di kulit kepala dan tubuh bagian atas. Bentuk dermatitis ini paling sering ditemukan pada orang dengan HIV stadium lanjut [4].

  • Fotodermatitis

Fotodermatitis adalah kondisi kulit di mana kulit bereaksi terhadap paparan sinar matahari dengan mengubah warna kulit menjadi lebih gelap. Kondisi ini paling umum pada orang dengan kulit berwarna. Namun, siapa pun yang terinfeksi HIV sangat rentan dengan fotodermatitis ini [6].

Tidak ada tanda atau gejala yang bisa mendiagnosis HIV, hanya melakukan tes pemeriksaan yang dapat dengan akurat menyatakan seseorang menderita HIV atau tidak. Tanda-tanda yang mungkin terlihat dapat bervariasi berdasarkan apakah seseorang berada dalam tahap infeksi akut (baru) atau kronis [5].

Gejala akut (baru) terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memasang pertahanan terhadap virus saat pertama kali memasuki tubuh. Sedangkan gejala kronis terjadi ketika virus merusak pertahanan kekebalan tubh dan membiarkannya terbuka terhadap infeksi [5].

Sementara itu gejala ruam dapat terasa seperti kondisi umum lainnya (seperti flu atau reaksi alergi) dan hilang dengan cepat. Sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa itu menjada gejala dari terinfeksi HIV. Jika anda mengalami ruam dan merasa telah terpapar HIV maka jangan ragu dan menunggu [2].

Segera lakukan tes darah untuk mengetahui apakah Anda telah terpapar atau tidak. Semakin cepat Anda didiagnosis, semakin cepat pula Anda dapat memula melakukan perawatan. Obat-obatan akan membantu mengendalikan virus, membantu Anda tetap sehat dan yang terpenting menurunkan menularnya HIV ke orang lain [2].

Jika Anda menngalami ruam atau gejala seperti flu maka segera menghubungi dokter atau tenaga medis lainnya, terlebih jika merasa telah melakukan kontak dengan orang yang juga menderita HIV [7].

Jika setelah menjalani tes HIV hasilnya positif, maka Anda akan segera mendapatkan rencana pengobatan. Dengan pengobatan ini diharapkan dapat menurunkan risiko HIV dapat menurlar ke orang lain [7].

Penting untuk diingat bahwa jangan berasumsi Anda mengidap HIV hanya karena memiliki salah satu dari gejalanya, karena bisa jadi mirip dengan yang disebabkan oleh penyakit lain. Namun, jika Anda merasa telah melakukan kontak dengan orang yang memiliki HIV, atau merasa ragu dan berpikir mungkin telah terpapar HIV, maka segera lakukan tes HIV [7].

1. Lauren Sharkey and Reviewed by Michaela Murphy. A Timeline of HIV Symptoms. Healthline; 2022.
2. Jonathan E. Kaplan. HIV Rash. WebMD; 2021.
3. Healthline Editorial Team and Reviewed by Daniel Murrel, M.D. HIV Rash: What Does It Look Like and How Is It Treated. Healthline; 2019.
4. Tricia Kinman et.al. Rashes and Skin Conditions Associated with HIV and AIDS: Symptoms and More; healthline; 2018.
5. Mark Civchocki, RN. 7 Signs that You May have HIV. Verrywellhealth; 2021.
6. Zawn Villines and Reviewed by Cameron White M.D., MPH. What Does an HIV Rash Look Like. Medical News Today; 2020
7. Anonim. Symptoms of HIV. HIV.gov; 2022 [diakses].

Share