Penyakit & Kelainan

Loiasis: Penyebab – Gejala dan Cara Mengatasi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Loiasis adalah penyakit cacing mata yang disebabkan oleh cacing parasit yang disebut Loa loa. Penyakit ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan lalat Chyrsops. Tidak ada vaksin yang tersedia untuk

Apa itu Loiasis?

Loiasis adalah penyakit mata yang disebabkan oleh parasit cacing mata yang dikenal dengan nama cacing loa loa dan sering ditemukan di Afrika. [2,3,4,8,9]

Biasanya infeksi yang disebabkan cacing mata loa loa terjadi pada jaringan di bawah kulit atau di bawah selaput bening yang menutupi bagian putih mata (konjungtiva). [1,3,5,7]

Cacing dewasa sering terlihat bergerak di mata, di bagian bawah konjungtiva, maka dari itu penyakit ini disebut dengan penyakit cacing mata. [6]

Fakta Mengenai Loiasis

Kasus penyakit loiasis banyak tertular di Afrika tengah dan barat. Hingga kini, diketahui sudah lebih dari 10 juta orang terinfeksi penyakit loiasis. Bahkan di beberapa kawasan Afrika, kasus loiasis menjadi penyebab paling utama pasien datang berobat ke rumah sakit. [3,4,6]

Loiasis menjadi kasus endemik di 11 negara, termasuk Afrika sebagai negara yang menjadi sumber penularan. Penyakit ini juga dikenal dengan nama lain, seperti filariasis subkutan, pembengkakan calabar, infeksi cacing mata Afrika, dan filariasis loa loa. [1]

Loiasis bukanlah penyakit menular. Jadi penderita yang terinfeksi penyakit ini tidak akan menularkannya kepada orang lain. [2]

Gejala Loiasis

Kasus loiasis merupakan salah satu penyakit yang asimtomatik bagi penderitanya. Yang berarti seseorang yang dinyatakan positif menderita loiasis, tapi ia tidak mengalami gejala klinis apapun yang berkaitan dengan loiasis. Bahkan gejala masih belum muncul berbulan-bulan setelah terinfeksi. [1,3,5,9]

Parasit cacing dewasa yang masih hidup atau sudah mati, biasanya dapat menyebabkan gatal-gatal pada beberapa area badan dan reaksi alergi lainnya. Kondisi infeksi ini dapat menyebabkan kulit memerah dan membengkak di lapisan kulit terdalam, yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu. [1,2]

Gejala yang sering dialami penderita loiasis adalah timbulnya pembengkakan calabar, yaitu pembengkakan yang dapat dirasakan di area tubuh mana saja yang disertai dengan rasa gatal. Pembengkakan calabar ini lebih sering dirasakan di dekat persendian atau subkutan sehingga menghambat pergerakan sendi. [2,3,5,6,7,9]

Pembengkakan calabar ini terjadi akibat cacing dewasa yang berpindah-pindah di bawah permukaan kulit. [4,7]

Pada umumnya, penderita loiasis identik dengan terlihatnya cacing mata yang bergerak melewati konjungtiva menuju kornea mata dan terkadang cacing juga bergerak di bawah permukaan kulit. [2,3,5,9]

Pergerakan cacing dewasa di konjungtiva mata dapat menyebabkan penderitanya merasa terganggu dan menimbulkan rasa gatal, tetapi biasanya tidak akan menyebabkan kerusakan permanen pada mata. [7]

Terlihatnya cacing dewasa yang bergerak melewati konjungtiva sudah ditemukan pada sekitar 50 persen kasus loiasis. [4]

Selain pembengkakan calabar dan terlihatnya cacing dewasa yang bergerak berpindah-pindah tempat, berikut gejala lain yang umumnya dirasakan penderita loiasis, yaitu: [1,2,5]

  • Nyeri sendi (Arthritis)
  • Nyeri otot
  • Sering merasa kelelahan
  • Permasalahan pada usus besar
  • Peradangan, pembengkakan dan penumpukan cairan di testis
  • Infeksi kelenjar getah bening (Limfadenitis)
  • Sakit ginjal (Glomerulonefritis membranosa)
  • Kerusakan pada sistem saraf perifer (Neuropati perifer)
  • Kerusakan pada retina (Retinopati)

Pada beberapa kasus, loiasis berdampak pada jantung, ginjal atau otak, tetapi dengan gejala ringan. Pada kondisi tersebut, ada sedikit darah pada urin penderita loiasis. [7]

Penyebab Loiasis

Penyebab seseorang bisa terjangkit loiasis adalah masuknya cacing loa loa yang berparasit dalam darah. [1,2,5,6,7,9]

Infeksi loiasis ditularkan melalui lalat yang sudah terinfeksi. Jenis lalat yang menularkan loiasis adalah lalat rusa atau Chrysops silacea. Lalat jenis ini hidup di hutan hujan, perkebunan karet, dan rawa-rawa yang banyak terdapat di Afrika tengah dan barat. [1,2,4,8,9]

Lalat rusa menggigit di siang hari, biasanya di jam 10 pagi hingga 2 siang dan sangat banyak ditemukan selama musim hujan. Biasanya lalat rusa ini akan terpancing mendekat dengan adanya pergerakan manusia dan kepulan asap pembakaran kayu. [2,3]

Parasit cacing ini menghasilkan larva atau telur cacing, yang disebut mikrofilaria. [8]

Begitu larva cacing sudah masuk ke dalam tubuh manusia, parasit akan terus berkembang menjadi cacing dewasa dan dapat berpindah ke berbagai jaringan tubuh. [8,9]

Cacing dewasa ataupun larvanya inilah yang dapat menyebabkan sakit mata, gangguan pergerakan mata, dan gangguan penglihatan, termasuk kepekaan mata terhadap cahaya. [8]

Diagnosis Loiasis

Dokter akan menduga seseorang menderita penyakit loiasis, jika pasien tersebut mengeluhkan gejala khas yang dialami setelah bepergian ke Afrika, khususnya ke lokasi yang sangat rentan terinfeksi loiasis. [7]

Berikut beberapa hal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit loiasis:

  1. Identifikasi cacing dewasa yang diambil dari bawah kulit atau mata. Proses identifikasi ini biasanya dilakukan oleh ahli mikrobiologi atau ahli patologi. [2,7]
  2. Identifikasi cacing dewasa yang berada di bawah konjungtiva mata, yang dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan. [2,7]
  3. Identifikasi mikrofilaria pada darah pasien. Proses pengambilan sampel darah dilakukan antara jam 10 pagi hingga 2 siang. [2,3,5,7]

Sampel darah diambil di siang hari saat mikrofilaria bergerak dalam aliran darah. [1,7]

Selain dalam darah, miklofilaria juga dapat ditemukan pada urin, dahak dan cairan tulang belakang. [1,9]

  1. Identifikasi antibodi terhadap cacing loa loa melalui tes darah khusus. [1,2]
  2. Melakukan biopsi jaringan subkutan untuk mendeteksi adanya cacing dewasa. [1]

Ditemukannya pembengkakan calabar juga bisa membantu dokter untuk memastikan diagnosis seseorang menderita penyakit loiasis. [3]

Proses diagnosis loiasis bisa menjadi cukup sulit, terutama pada kasus infeksi ringan, dimana hanya sedikit mikrofilaria yang ditemukan dalam darah. [2]

Cara Mencegah Loiasis

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang bisa melindungi manusia dari terkena penyakit loiasis. [2]

Jika Anda diharuskan untuk berada di lokasi yang rawan akan terkena loiasis dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya Anda melakukan beberapa tindakan pencegahan seperti berikut agar terhindari dari loiasis, yaitu: [2,9]

  • Mengonsumsi obat diethylcarbamazine (DEC) 300mg seminggu sekali
  • Menghindari area lalat rusa sering ditemukan
  • Menggunakan repellent, losion anti nyamuk atau pengusir serangga
  • Memakai baju lengan panjang dan celana panjang
  • Memasang kelambu saat tidur

Cara Mengatasi Loiasis

Pengobatan yang umumnya diberikan untuk penderita loiasis yaitu: [1,9]

  • Diethylcarbamazine (DEC)

Obat jenis ini efektif melawan mikrofilaria, tetapi kurang efektif untuk cacing dewasa.

Penggunaan DEC tidak dianjurkan untuk pasien dengan mikrofilaria dalam jumlah besar, karena dapat memicu penyakit otak atau ensefalopati. [1,2,9]

  • Ivermetin (Stromectol)

Ivermetin diberikan karena terbatasnya ketersediaan diethylcarbamazine (DEC) dan juga tergantung pada jumlah mikrofilaria yang ada pada darah. [1,6,9]

Penggunaan kedua obat ini harus diwaspadai, karena memiliki efek samping yang sangat fatal, termasuk kematian. Untuk meminimalkan efek samping, bisa diganti dengan mengonsumsi albendazole. [1,2,3,7]

Jadi sebelum meresepkan obat diethylcarbamazine (DEC), dokter harus memastikan seberapa banyak jumlah mikrofilaria dalam darah pasien. [7]

Jika ditemukan banyak mikrofilaria dalam darah, maka dokter akan memberikan albendazole untuk mengurangi jumlah mikrofilaria atau bisa juga menggunakan alat yang dapat menyaring darah (apheresis) untuk menghilangkan mikrofilaria. Kedua pengobatan ini dapat mengurangi resiko efek samping yang serius. [7]

Ada beberapa kasus walau sangat jarang, dokter terpaksa melakukan pembedahan untuk mengambil cacing mata dan proses pengangkatan tersebut harus dilakukan secepat mungkin. Setelah operasi, pengobatan dengan DEC tetap harus dilakukan untuk mengatasi cacing dewasa dan mikrofilaria. [1,2,3]

1. Anonim. Loa Loa – Subcutaneous Filariasis. Parasites in Human; 2021.
2. Anonim. Parasites – Loiasis. Centers for Disease Control and Prevention; 2020.
3. Christian Curran and Michael A. Puente, Jr., MD. Loa Loa Filariasis (African Eye Worm). Eyewiki, American Academy of Ophthalmology; 2021.
4. Courtney Thompson, BSc MD., and Andrea K. Boggild, Msc MD. Chronis Symptomatic and Microfilaremic Loiasis in a Returned Traveller. National Center for Biotechnology Information; 2015.
5. Dan Washmuth. Loa Loa Filariasis: Symptoms, Diagnosis & Treatment. Study; 2021.
6. Makoto Saito, Margaret Armstrong, Samuel Boadi, Patricia Lowe, Peter L. Chiodini, and Tom Doherty. Clinical Features of Imported Loiasis: A Case Series from the Hospital for Tropical Diseases, London. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene; 2015.
7. Richard D, Pearson, MD. Loiasis (Loa Loa Filariasis; African Eye Worm; Calabar Swellings). Merck Manual; 2020.
8. Vincent J. Tavella DVM, MPH and Jill Seladi-Schulman, Ph.D. Everything You Need to Know About Eye Parasites. Healthline; 2018.
9. William C. Shiel Jr., MD, FACP, FACR. Medical Definition of Loiasis. Medicine Net; 2021.

Share