Penyakit & Kelainan

Malabsorbsi Makanan Pada Balita

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Malabsorbsi makanan merupakan gangguan penyerapan salah satu atau beberapa nutrisi yang terjadi pada usus halus. Malabsorbsi makanan pada balita ini harus segera diatasi karena jika tidak, dapat menyebabkan terjadinya malnutrisi pada balita, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan balita dan menjadi sebab munculnya penyakit-penyakit tertentu[1,2].

Gejala Malabsorbsi Makanan Pada Balita

Malabsorbsi makanan yang terjadi pada balita biasanya disertai dengan beberapa gejala tertentu. Gejala yang ditimbulkan biasanya juga bermacam-macam, di antaranya seperti:

  1. Nyeri perut
  2. Perut kembung dan bergas
  3. Diare terus-menerus
  4. Gangguan perkembangan
  5. Berat badan menurun
  6. Sakit perut tak kunjung usai dan muntah[1,2].

Penyebab Malabsorbsi Makanan Pada Balita

Selain gejala yang muncul, malabsorbsi makanan juga dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor. Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya malabsorbsi makanan pada balita antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Intoleransi protein susu
  2. Intoleransi laktosa
  3. Berat badan menurun
  4. Operasi perut atau usus
  5. Penyakit celiac adalah penyakit yang muncul karena mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan dapat menyebabkan komplikasi serius apabila tidak segera diobati. Oleh karena itu, orang tua harus mengetahui kondisi sang buah hati agar terhindar dari penyebab yang memicu penyakit ini untuk kambuh.
  6. Penyakit crohn adalah penyakit radang usus kronis yang mengakibatkan peradangan mulai dari mulut hingga anus, tetapi lebih sering terjadi pada usus halus dan usus besar.
  7. Sindrom usus pendek adalah ukuran usus yang lebih pendek dari ukuran normal yang menyebabkan penyerapan zat gizi terganggu sehingga kondisi ini dapat menyebabkan malabsorbsi makanan pada si penderita.
  8. Penyakit hati adalah gangguan hati atau liver yang menyebabkan fungsi organ ini terganggu. Hati memiliki fungsi untuk memproses metabolisme protein, menghasilkan cairan empedu, dan energi sehingga apabila hati mengalami gangguan maka sistem pencernaan juga akan terganggu.
  9. Pankreatitis adalah peradangan yang terjadi di bagian pankreas. Pankreas merupakan organ penting dalam tubuh yang bertugas menghasilkan enzim pencernaan dan hormon insulin[1].

Kapan Harus Ke Dokter?

Apabila balita atau anak Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas dan berlangsung lama, maka segera bawa anak ke dokter. Selain itu, apabila terdapat masalah pada tumbuh kembang balita Anda juga harus segera membawanya ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan.

Terlebih lagi apabila balita memiliki penyakit-penyakit tertentu yang dapat memicu terjadinya malabsorbsi makanan, seperti penyakit celiac, penyakit crohn, pankreatitis, dan penyakit lain seperti yang telah disebutkan di atas. Orang tua harus lebih memperhatikan asupan gizi dan kesehatan balita apabila memiliki penyakit tersebut dan harus segera membawa ke dokter apabila balita mengalami gejala dari penyakit-penyakit tersebut[2,3].

Cara Mengatasi Dan Mencegah Malabsorbsi Makanan Pada Balita

Malabsorbsi makanan pada balita dapat diatasi dan dicegah dengan beberapa cara. Berikut ini beberapa cara mengatasi dan mencegah malabsorbsi makanan pada balita di antaranya adalah:

  • Perubahan Pola Makan

Merubah pola makan balita menjadi hal yang penting untuk mengatasi dan mencegah masalah malabsorbsi makanan. Dengan perubahan pola makan ini dokter akan mengetahui penyebab dari malabsorbsi makanan yang terjadi pada balita sehingga dokter akan memberikan penanganan yang tepat.

Selain itu, perubahan pola makan ini juga penting dilakukan apabila penyebab dari malabsorbsi makanan sudah diketahui seperti balita yang mengalami intoleransi protein susu maka harus menghindari susu sapi agar tidak terjadi malabsorbsi makanan. Contoh lain misalnya ketika balita memiliki penyakit celiac maka harus menghindari makanan yang mengandung gluten seperti roti, gandum, biskuit, dan sereal serta menggantinya dengan makanan lain seperti nasi, daging, buah, dan sayur.

Hal ini bertujuan agar malabsorbsi makanan yang terjadi pada balita tidak semakin parah dan kebutuhan nutrisinya dapat terpenuhi[3].

  • Mengobati Diare

Diare merupakan kondisi di mana seseorang sering buang air besar dengan kondisi tinja encer dan berbau busuk. Diare dapat menjadi indikator adanya penyakit lain dalam tubuh yang berkaitan dengan pencernaan.

Untuk itu, diare harus segera diobati agar kondisi yang diderita tidak semakin parah dan tubuh tidak kehilangan cairan berlebih. Diare dapat diobati dengan menggunakan obat diare yang dianjurkan oleh resep dokter karena beda sebab diare dapat berbeda pula obat yang digunakan untuk menyembuhkan diare tersebut[1].

  • Mengobati Penyakit Yang Menjadi Sebab Malabsorbsi Makanan

Telah dibahas di atas bahwa malabsorbsi makanan dapat terjadi karena beberapa penyakit tertentu. Oleh karenanya apabila ingin mengatasi malabsorbsi makanan yang dialami pada balita harus mengatasi masalah yang menjadi sebab dari malabsorbsi makanan tersebut.

Misalnya ketika balita mengalami sindrom usus pendek maka penyakit tersebut harus diatasi terlebih dahulu. Setelah penyakit tersebut dapat disembuhkan maka malabsorbsi makanan pada balita juga akan terobati[3].

  • Meningkatkan Gizi

Cara mengatasi dan mencegah malabsorbsi makanan pada balita selanjutnya adalah meningkatkan asupan gizi dalam makanan balita. Dengan meningkatkan asupan gizi pada balita maka risiko terserang malabsorbsi makanan akan berkurang.

Selain dari makanan, asupan gizi juga dapat diperoleh dari suplemen dan vitamin yang diberikan dengan resep dokter. Pemberian suplemen dan vitamin tetap harus memperhatikan resep dokter agar asupan gizi yang dikonsumsi balita sesuai dengan kebutuhannya dan tidak melebihi anjuran yang disarankan[1,3].

1. Anonim. Pediatric Malabsorption. Children's Health; 2021.
2. Anonim. Malabsorption. Healthychildren.org; 2015.
3. Tyesha Zuvarox and Chris Belletieri. Malabsorption Syndromes. StatPearls; 2021.

Share