Makanan, Minuman dan Herbal

Malapari : Manfaat – Efek Samping dan Cara Penggunaan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tentang Malapari

Pohon malapari (Pongamia pinnata) atau dikenal juga oleh warga India sebagai pohon yang “sangat terang” merupakan tanaman yang berasal dari keluarga Papilionaceae.

Tanaman tersebut tersebar dari India hingga Fiji, dengan ketinggian wilayah dari batas lautan hingga 200 meter. Masa sekarang, tanaman tersebut dapat ditemukan di negara Australia, Florida, Hawaii, Malaysia, Oseania, dan Filipina.[1]

Di negara India, pohon malapari ditanam di sekitar kota sebagai tanaman hias karena warnanya yang menawan. Khususnya pada bulan Maret dan April, Pohon malapari menunjukkan warna merah lembayung selama seminggu.

Tunas pohon malapari juga memunculkan daun-daun muda yang kemudian akan tumbuh dan memperlihatkan warna hijau limau yang berkilau.[1,4]

Daun malapari

Karakteristik Tanaman Malapari

Pohon malapari tumbuh liar di hutan pinggiran atau dekat dengan tepi sungai. Tanaman tersebut berbentuk pohon sedang dan dapat tumbuh dengan cepat. Batang malapari memiliki tekstur yang kasar dan berwarna coklat-keabuan.

Bunga malapari mekar secara bersamaan dalam jumlah yang besar secara berkala. Bunga-bunga tersebut tampak setengah tersembunyi diantara dedaunan.[1]

Kelopak bunga malapari memiliki panjang 1.3 cm dan berbentuk mangkuk. Dalam satu bunga malapari terdapat lima kelopak berwarna putih dengan bercak merah muda atau ungu.[1]

Buah malapari berbentuk polong oval, berwarna abu-abu gelap, dan matang sebelum daun-daun muda baru tumbuh. Terdapat juga biji yang dilindungi oleh cangkang keras seperti perahu.[1]

Dalam satu tangkai pohon malapari terdapat lima, tujuh, atau sembilan daun yang memiliki bentukan lancip pada ujung tubuh. Daun malapari memiliki panjang antara 15 hingga 30 sentimeter.[1]

Kandungan Gizi Malapari

Berikut kandungan gizi dalam 100 gram biji malapari segar.[5]

KandunganJumlahSatuan
Gula total9.7%
Protein larut7.07%
Asam amino10.7%
Abu3.8%
air19%
asam lemak bebas24%

Malapari mengandung senyawa flavonoid yang tersimpan dalam daun, biji, dan batang tanaman. Flavonoid memiliki multifungsi terhadap kesehatan manusia, diantaranya adalah meningatkan aktivitas antioksidan, mencegah infeksi bakteri dan parasit, serta mencegah penuaan pada kulit dan organ tubuh. [1]

Manfaat Malapari untuk Kesehatan

1. Mengobati tukak lambung

Tukak lambung adalah luka yang terbentuk pada dinding lambung bagian dalam dan menyebabkan rasa nyeri pada bagian ulu hati. Penyebab tukak lambung adalah tingginya produksi asam lambung dan atau infeksi bakteri.

Ekstrak akar malapari memiliki kemampuan mengurangi tukak lambung yang disebabkan oleh asam asetik. Efek protektif terhadap tukak lambung terjadi karena ekstrak akar malapari bekerja membantu dalam proses perbaikan dan pembentukan sel-sel pada lapisan dinding lambung.

Efek lain ekstrak akar malapari adalah mencegah kerusakan pada dinding lambung akibat paparan radikal bebas dari zat asing yang masuk ke dalam lambung.[1]

2. Mengobati diare

Diare terjadi akibat infeksi bakteri atau zat racun lainnya yang menyerang bagian saluran pencernaan. Efek diare adalah letih dan lemas akibat banyaknya cairan tubuh yang keluar, dan pada kasus tertentu dapat berujung kematian.

Ekstrak daun malapari mempunyai flavonoid dan alkaloid. Kedua senyawa tersebut memberikan efek antitoksin, yaitu efek menghambat racun yang dihasilkan oleh bakteri jahat pada saluran pencernaan manusia.

Kemampuan lain dari ekstrak daun malapari adalah menghambat penyerangan bakteri terhadap sel epitel usus, khususnya bakteri penyebab kolera dan jenis bakteri penyerang epitel saluran pencernaan lain.[1]

3. Sumber antioksidan

Ekstrak malapari mengandung senyawa flavonoid yang bekerja meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh. Flavonoid berikatan dengan radikal bebas dalam tubuh dan mencegahnya melakukan kerusakan pada sel-sel yang sehat.

Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Pharmaceutical Sciences and Research mengungkapkan bahwa percobaan yang melibatkan hewan tikus yang dipapar amonium menyebabkan penurunan vitamin A, vitamin C, vitamn E dan senyawa penghasil aktivitas antioksidan lain dalam tubuh.

Ekstrak malapari memiliki kemampuan menyeimbangkan aktivitas antioksidan sekaligus bekerja menurunkan efek keracunan amonium, dengan demikian bermanfaat sebagai obat keracunn amonium skala ringan.[1]

Amonium adalah senyawa yang dapat dihasilkan oleh tubuh dalam jumlah yang normal. namun, jika jumlahnya berlebihan, dapat bersifat racun dan merusak sel-sel yang sehat.[1]

4. Mengobati Malaria

Tanaman malapari memiliki sifat anti plasmodial terhadap parasit Plasmodium falcifarum, yang merupakan salah satu parasit penyebab penyakit malaria.[1]

Batang dan daun malapari mengandung senyawa fitokimia yang kuat yang bersifat anti plasmodian seperti fenol, flavonoid, kumarin dan alkaloid. Alkaloid merupakan golongan yang memiliki komponen anti malaria terbanyak.[2]

5. Mengontrol gula darah penderita diabetes tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan ketidakmampuan tubuh dalam menggunakan gula dalam darah menjadi energi bagi sel-sel tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh terasa lemah dan pada kasus kronis terjadi penurunan berat badan.

Salah satu hormon yang bekerja membantu mengubah gula dalam darah menjadi energi dalam sel adalah hormon insulin. Hormon tersebut diproduksi oleh sel-sel beta dalam organ pankreas.

Ekstrak malapari mengandung senyawa fitokimia yang berperan dalam menjaga kesehatan organ pankreas dari serangan zat berbahaya. Hal tersebut menyebabkan produksi sel beta pankreas teregulasi dengan baik dan mengoptimalisasi penggunaan gula darah bagi sel-sel tubuh.[1,3]

6. Bersifat anti peradangan

Peradangan merupakan proses yang terjadi pada tubuh akibat adanya kerusakan jaringan oleh beberapa faktor penyebab (infeksi, kecelakaan, dan lainnya). Tanda peradangan meliputi kemerahan, bengkak, panas, nyeri, hingga kehilangan fungsi sel.

Ekstrak biji malapari mengandung senyawa flavonoid yang bekerja menghambat produksi histamin, yaitu senyawa yang memperantarai proses peradangan.[1,4]

7. Bersifat anti virus

Studi penghambatan perkembangan virus menggunakan ekstrak biji malapari dalam International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research menunjukkan bahwa ekstrak tersebut dapat menghambat perkembangan virus Herpes simplex tipe 1 dan 2.[1]

8. Menghilangkan kutu rambut

Kutu rambut merupakan parasit yang menginfeksi bagian kepala manusia, menyebabkan rasa gatal berlebih dan luka pada kulit kepala akibat bekas air liurnya.

Masa sekarang banyak kasus resistensi kutu rambut terhadap obat kutu, sehingga dibutuhkan pengobatan alternatif dan tidak menimbulkan efek samping berlebih.

Ekstrak daun malapari telah diuji aktifitas senyawa kimianya terhadap kutu rambut Pediculus humanus. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak daun malapari dengan dosis 50.3% hingga 100% menunjukkan aktifitas anti kutu rambut (pediculocidal).[1]

9. Agen anti konvulsan

Obat anti konvulsan bekerja mengobati penyakit akibat gangguan pada sistem syaraf seperti kejang-kejang dan gangguan bipolar. namun,tidak sedikit obat-obatan tersebut memberikan efek samping terhadap tubuh.

Studi yang dipublikasikan oleh Journal of ethnopharmacology menunjukkan bahwa ekstrak daun malapari dosis 250 mg/ kg berat badan memiliki sifat anti konvulsan yang efektif terhadap gejala kejang-kejang akibat kejut listrik.[6]

10. Agen anti helmintik

Ekstrak biji malapari memiliki senyawa yang bersifat anti helmintik, dan senyawa tersebut sudah terbukti dapat melumpuhkan dan membunuh cacing-cacing tertentu seperti Indian earth worm dan Pherentima posthuma.[6]

11. Sebagai obat pembunuh serangga

Hama pada tumbuhan bersifat sangat merugikan dan umumnya terdiri atas golongan serangga. Manusia menggunakan insektisida untuk menangkal hama tersebut, namun tidak jarang insektisida yang digunakan memiliki efek samping jika digunakan berlebihan atau masuk kedalam tubuh manusia.

Daun, biji dan minyak biji tanaman malapari memiliki senyawa yang bekerja sebagai insektisida. Ekstrak yang didapatkan dari malapari terbukti dapat membunuh Spodoptera litura Fab. (ulat hijau), Tribolium castaneum (kumbang), Earias vitella (cacing kapas) dan Pediculus humanus capitis (kutu).

Ekstrak Daun, biji dan minyak biji tanaman malapari tidak menunjukkan toksisitas atau bahaya pada manusia dan hewan mamalia lain jika secara tidak sengaja tertelan (dalam jumlah yang sama dengan obat insektisida), sehingga lebih aman dibandingkan insektisida sintetis.[6]

12. Sebagai imunomodulator

Aktivitas imunomodulator atau dikenal sebagai rangsangan pembentukan sistem imun tubuh. Aktivitas tersebut tampak pada uji coba ekstrak daun malapari yang menunjukkan stimulasi terhadap senyawa nitrit oksida (NO) dan juga meningkatkan produksi Interleukin-10.[6]

Interleukin-10 merupakan agen yang berfungsi mengatur respon kekebalan tubuh terhadap zat asing atau patogen.[6]

Efek Samping Malapari

Studi toksisitas tanaman malapari yang dilakukan oleh Srinivasan et al. (2001) telah dipublikasikan Journal of ethnopharmacology untuk mengetahui dosis bahaya tanaman tersebut.

Studi menunjukkan bahwa ekstrak daun dan batang malapari dosis tinggi (masing-masing 10.125 mg/ kg berat badan) dalam jangka pendek maupun jangka panjang tidak memberikan efek toksik pada hewan coba.

Studi juga mengungkapkan bahwa penggunaan tanaman malapari dosis 300 μg/ hari selama 14 hari tidak menyebabkan perubahan berat badan, status darah, jaringan tubuh, dan biokimia tubuh hewan coba. Namun, efek samping ringan dapat terjadi bagi orang tertentu yang alergi terhadap malapari.[6]

Cara Penggunaan Malapari

1. Membuat serbuk daun malapari

Daun-daun malapari segar dipetik dan dibersihkan dari kotoran. Daun kemudian dikeringkan di tempat yang teduh. Daun-daun yang sudah kering kemudian diperiksa kembali dari kotoran.

Langkah selanjutnya adalah menghancurkan daun-daun kering tersebut hingga membentuk bubuk. Bubuk dapat dicampur air untuk diminum, atau diaplikasikan ke luka.[7]

Selain dibentuk serbuk, daun-daun kering malapari dapat digunakan langsung sebagai insektisida alami dengan cara dimasukkan ke dalam wadah berisi beras.[7]

2. Membuat pasta daun malapari

Daun-daun malapari yang sudah dibersihkan dengan air mengalir lalu ditumbuk menggunakan mortar hingga membentuk pasta. Pasta kemudian dapat diaplikasikan pada bagian tubuh yang terluka, gatal, atau membengkak. [7,8]

3. Membuat biji malapari sangrai

Biji malapari matang dikoleksi lalu dibersihkan dengan air mengalir. Biji kemudian dikeringkan dengan tisu dan ditumbuk hingga membentuk kerikil kecil.

Kerikil-kerikil kecil biji malapari lalu disangrai hingga tercium aroma khas. Hasil sangrai dapat langsung dikonsumsi atau dapat digunakan sebagai racun ikan.[7]

Tips Penyimpanan Malapari

Daun- daun malapari segar yang sudah dipetik dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan serangga. Daun kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah tempat tidur tanpa terkena sinar matahari langsung.

Daun-daun kering kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap udara, atau dimasukkan ke dalam kulkas dengan suhu 4 derajat celcius. Fungsi pengeringan adalah untuk memperpanjang masa penyimpanan dan mengaktifkan beberapa senyawa fitokimia dalam daun malapari.[7,8]

Tanaman malapari memiliki banyak manfaat, namun sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan ahli medis sebelum menggunakan malapari sebagai obat alternatif.

1. Rahul Deo Yada, S. K. Jain, Shashi Alok, S. K. Prajapati and Amita Verma. Pongamia pinnata: an overview. 2(3): 494-500. Journal of Pharmaceutical Sciences and Research; 2011.
2. P.V.V. Satish and K. Sunita. Antimalarial efficacy of Pongamia pinnata (L) Pierre against Plasmodium falciparum (3D7 strain) and Plasmodium berghei (ANKA). 17: 458. Complementary and Alternative Medicine; 2017.
3. R. Punitha, S. Manoharan. Antihyperglycemic and antilipidperoxidative effects of Pongamia pinnata (Linn.) Pierre flowers in alloxan induced diabetic rats. 105: 39–46. Journal of Ethnopharmocology; 2005.
4. Raj K. Singh, Bajarang Lal Pandey. Anti-inflammatory activity of seed extracts of Pongamia pinnata in rat. 40(4): 355-358. Indian journal of physiology and pharmacology; 1996.
5. Manju Bala, T. N. Nag, Sandeep Kumar, Manmohan Vyas, Arun Kumar, N. S. Bhogal. Proximate Composition and Fatty Acid Profile of Pongamia pinnata, a Potential Biodiesel Crop. 88: 559–562. Journal of the American Oil Chemists' Society; 2011.
6. L.M.R. Al Muqarrabun, N. Ahmat, S.A.S. Ruzaina, N.H. Ismail, I. Sahidin. Medicinal uses, phytochemistry and pharmacology of Pongamia pinnata (L.) Pierre: A review. 150: 395–420. Journal of Ethnopharmacology; 2013.
7. Orwa, C. Mutua, A. Kindt, R. Jamnadass, R. Anthony, S. Pongamia pinnata. 1: 1-6. Agroforestry Database; 2009.
8. Morton JF. Indian almond (Terminalia catappa), salt-tolerant, useful, tropical tree with 'nut' worthy of improvement. 39(2):101-112. Economic Botany; 1985.

Share