Tukak Saluran Pencernaan: Gejala – Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Ulkus peptikum atau tukak lambung adalah adanya luka pada dinding lambung atau duodenum. Kondisi ini dapat tidak menimbulkan gejala sama sekali, atau dapat menyebabkan ketidaknyamanan sampai nyeri yang... hebat. Ulkus peptikum juga dapat menyebabkan perdarahan sehingga menimbulkan muntah darah. Ulkus peptikum seringkali disebabkan oleh adanya infeksi bakteri Helicobacter pylori dan konsumsi OAINS dalam waktu panjang. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit ini. Pengobatan untuk ulkus peptikum meliputi antibiotik untuk membunuh bakteri, menghentikan konsumsi OAINS (jika ada), dan obat untuk mengurangi produksi asam lambung dan yang bersifat proteksi terhadap saluran pencernaan. Read more

Apa Itu Tukak Saluran Pencernaan ?

Tukak Saluran Pencernaan merupakan suatu kondisi di mana terjadi penghentian atau penyumbatan pada lapisan dalam saluran gastrointestinal akibat sekresi asam lambung atau pepsin [1].

Kondisi ini diketahui dapat meluas hingga ke lapisan muskularis proppia dari epitel lambung, dan biasa terjadi di perut dan duodenum proksimal [1].

Tukak Saluran Pencernaan yang juga memiliki nama lain peptic ulcer ini merupakan lesi yang diinduksi oleh asam yang ditemukan di perut atau duodenum [1, 2].

Dalam waktu 2 hingga 3 jam setelah makan, penderita Tukak Saluran Pencernaan ini akan mengalami nyeri epigastrik [1].

Gejala Tukak Saluran Pencernaan

Gejala Tukak Saluran Pencernaan secara umum antara lain [3]:

  • Sakit perut yang terasa seperti terbakar
  • Merasa kenyang
  • Kembung
  • Bersendawa
  • Intoleransi terhadap makanan berlemak
  • Maag
  • Mual

Adapun pada beberapa kasus yang jarang terjadi, Tukak Saluran Pencernaan dapat menyebabkan gejala yang parah seperti [3]:

  • Muntah atau muntah darah (tampak merah atau hitam)
  • Terdapat darah berwarna gelap di tinja atau tinja berwarna hitam
  • Mengalami kesulitan bernapas
  • Merasa lemah
  • Mual
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Perubahan nafsu makan

Namun, perlu diketahui juga bahwa, pada beberapa kasus Tukak Saluran Pencernaan tidak menunjukkan gejala sama sekali, sampai usia menjadi lebih tua [3, 4].

Penyebab Tukak Saluran Pencernaan

Tukak Saluran Pencernaan diketahui dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini [4]:

  • Bakteri Helicobacter pylori (H. pylori)

Bakteri H. pylori ini merupakan penyebab Tukak Saluran Pencernaan paling umum, dengan memengaruhi lendir yang melindungi lambung dan usus kecil.

Pengaruh dari H. pylori ini kemudian akan memungkinkan asam lambung dapat merusak lapisan lambung.

Penyebaran H. pylori ini hingga kini masih belum jelas, namun sering dikaitkan dengan makanan, air, dan peralatan makan yang tidak bersih.

Selain itu, H. pylori juga dapat ditularkan ke orang lain melalui kontak langsung dengan air liur orang yang terinfeksi.

  • Konsumsi Obat Tertentu

Konsumsi obat obatan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) merupakan penyebab terbanyak kedua Tukak Saluran Pencernaan setelah H. pylori.

Adapun obat obatan NSAID yang dapat menyebabkan Tukak Saluran Pencernaan tersebut antara lain [4]:

  1. Aspirin
  2. Ibuprofen
  3. Naproxen

Penggunaan NSAID ini diketahui dapat mengiritasi dan merusak lapisan lambung dan usus.

  • Kondisi Lain

Kondisi lain yang langka seperti sindrom Zollinger-Ellison diketahui dapat menyebabkan perkembangan tumor kanker dan non-kanker.

Tumor yang terbentuk tersebut kemudian dapat melepaskan hormon yang menyebabkan asam lambung sangat tinggi hingga menyebabkan Tukak Saluran Pencernaan.

Faktor Risiko Tukak Saluran Pencernaan

Berikut ini merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami Tukak Saluran Pencernaan [5]:

  • Genetika atau faktor keturunan, Tukak Saluran Pencernaan lebih berisiko dikembangkan oleh orang yang memiliki riwayat keluarga menderita Tukak Saluran Pencernaan
  • Gaya hidup, merokok dapat meningkatkan risiko terkena Tukak Saluran Pencernaan
  • Berusia di atas 70 tahun
  • Memiliki riwayat mengidap Tukak Saluran Pencernaan sebelumnya
  • Baru-baru ini mengalami trauma fisik yang serius
  • Konsumsi NSAID, obat antikoagulan, steroid dan penghambat reuptake serotonin selektif
  • Kondisi mental seperti stres

Komplikasi Tukak Saluran Pencernaan

Komplikasi yang mungkin dapat disebabkan oleh Tukak Saluran Pencernaan jika tidak ditangani secara tepat antara lain [3]:

  • Pendarahan Di Dalam

Tukak Saluran Pencernaan dapat menimbulkan komplikasi berupa pendarahan [3]:

  1. Kehilangan darah ringan yang menyebabkan anemia
  2. Kehilangan darah yang parah hingga muntah darah atau tinja berdarah
  • Sebuah Lubang (Perforasi) Di Dinding Perut

Komplikasi Tukak Saluran Pencernaan juga dapat mengakibatkan terbentuknya sebuah lubang (perforasi) di dinding perut atau usus halus.

Kondisi ini diketahui dapat meningkatkan risiko terkena infeksi yang lebih serius khususnya pada rongga perut (peritonitis).

  • Gangguan Pencernaan

Penyakit Tukak Saluran Pencernaan diketahui dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pencernaan, salah satunya dengan menghalangi atau menghambat perjalanan makanan di saluran pencernaan.

Oleh karena itu, penderita Tukak Saluran Pencernaan umumnya akan merasakan kenyang, muntah dan bahkan dapat mengalami penurunan berat badan akibat terjadinya pembengkakan atau melalui jaringan parut.

Komplikasi Tukak Saluran Pencernaan yang juga serius yaitu dapat meningkatkan risiko seseorang menderita kanker lambung.

Kapan Harus Kedokter ?

Segera periksakan diri kedokter jika [3]:

  • Memiliki tanda atau gejala parah Tukak Saluran Pencernaan
  • Konsumsi antasida yang dijual bebas dan penghambat asam dapat meredakan rasa sakit tetapi rasa sakitnya kembali

Diagnosis Tukak Saluran Pencernaan

Diagnosis Tukak Saluran Pencernaan umumnya akan dilakukan dengan beberapa tahapan meliputi [4]:

  • Identifikasi riwayat kesehatan
  • Identifikasi gejala termasuk waktu mulai gejala hingga tingkat keparahan gejala
  • Melakukan tes tertentu untuk menghilangkan kemungkinan penyakit lainnya

Adapun tes yang dimaksud dalam diagnosis Tukak Saluran Pencernaan tersebut dapat mencakup [4]:

  • Tes darah, untuk mengetahui keberadaan sel tertentu yang melawan infeksi H. pylori
  • Tes antigen feses untuk mencari protein tertentu dalam tinja yang terkait dengan H. pylori
  • Tes nafas urea dengan menelan pil yang mengandung formulasi urea khusus untuk mengukur kadar karbon dioksida (jika terinfeksi H. pylori, urea dalam pil akan dipecah menjadi jenis karbon dioksida tertentu )
  • Esophagogastroduodenoscopy (EGD)
  • Tes EGD

Selain tes tes tersebut, Dokter mungkin juga akan melakukan tes yang disebut menelan barium atau seri gastrointestinal bagian atas [4].

Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada saluran pencernaan termasuk hal hal yang kemungkinan mempengaruhi kerongkongan, lambung dan usus halus [4].

Tes seri gastrointestinal bagian atas ini dilakukan dengan cara meminum cairan yang mudah terdeteksi atau terlihat pada sinar X. Sehingga ketika cairan ini bergerak di saluran pencernaan akan dapat terlihat kondisi di saluran pencernaan tersebut [4].

Pengobatan Tukak Saluran Pencernaan

Pengobatan Tukak Saluran Pencernaan ini umumnya akan berfokus pada tiga hal utama yaitu membunuh bakteri H. pylori, menghilangkan atau mengurangi penggunaan NSAID dan membantu menyembuhkan maag [3].

Adapun macam macam pengobatan Tukak Saluran Pencernaan untuk masing masing penyebabnya antara lain [3]:

  • Konsumsi Antibiotik Untuk Membunuh H. pylori

Jika Tukak Saluran Pencernaan disebabkan oleh adanya H. pylori maka antibiotik dapat digunakan untuk membunuh bakteri yang ada di saluran pencernaan.

Adapun kombinasi antibiotik yang mungkin diresepkan oleh dokter untuk membunuh H. pylori ini antara lain [3]:

  1. Amoksisilin (Amoksil)
  2. Klaritromisin (Biaxin)
  3. Metronidazol (Flagyl)
  4. Tinidazole (Tindamax)
  5. Tetrasiklin
  6. Levofloxacin

Untuk pemilihan antibiotiknya sendiri diketahui akan bergantung pada tempat tinggal dan resistensi antibiotiknya.

  • Obat Untuk Mengurangi Asam

Dalam pengobatan menggunakan antibiotik, obat tambahan untuk mengurangi asam lambung, termasuk penghambat pompa proton dan mungkin bismuth subsalicylate (Pepto-Bismol) mungkin akan diperlukan.

Adanya penggunaan obat ini diketahui dapat [3]:

  1. Menghalangi produksi asam
  2. Mempercepat proses penyembuhan Tukak Saluran Pencernaan
  3. Asam lambung berkurang

Adapun jenis obat obatan ini yang mungkin diresepkan dokter termasuk [3]:

Namun, karena adanya risiko patah tulang pinggul, pergelangan tangan dan tulang belakang akibat penggunaan jangka panjang (terutama pada dosis tinggi) maka penggunaan obat penghambat pompa proton ini harus diawasi oleh dokter.

Adapun penghambat asam atau dikenal juga dengan penghambat histamin (H-2) diketahui juga dapat mengurangi jumlah asam lambung yang dilepaskan ke saluran pencernaan. Dengan demikian, akan dapat mengurangi nyeri maag dan mendorong penyembuhan Tukak Saluran Pencernaan.

Obat obatan penghambat asam ini tersedia dalam resep maupun tanpa resep, termasuk [3]:

  1. Famotidine (Pepcid AC)
  2. Simetidin (Tagamet HB)
  3. Nizatidine (Axid AR)
  • Antasida Yang Menetralkan Asam Lambung

Pengunaan antasida diketahui dapat menetralkan asam lambung dan meredakan nyeri dengan cepat.

Namun, obat jenis ini diketahui dapat menimbulkan efek samping tertentu berupa sembelit atau diare, tergantung bahan utamanya.

Antasida ini diketahui dapat menjadi solusi untuk meredakan gejala maag, namun tidak disarankan untuk mengobati atau menyembuhkan maag.

  • Obat Yang Melindungi Lapisan Lambung Dan Usus Halus

Obat yang disebut sebagai agen sitoprotektif ini merupakan obat yang dapat melindungi lapisan lambung dan usus halus.

Obat ini mungkin diresepkan dalam pengobatan Tukak Saluran Pencernaan, di mana termasuk obat resep sukralfat (Carafate) dan misoprostol (Cytotec).

Pencegahan Tukak Saluran Pencernaan

Pencegahan terhadap Tukak Saluran Pencernaan akan berfokus pada penurunan risikonya. Adapun cara pencegahan yang dapat dilakukan antara lain [4]:

  • Mengganti atau mengurangi asupan NSAID
  • Konsumsi NSAID bersamaan dengan makanan atau obat yang melindungi lapisan perut (jika harus mengonsumsi NSAID)
  • sMinum semua antibiotik yang diresepkan sesuai dengan petunjuk dokter
  • Melakukan olahraga teratur agar tubuh tetap aktif dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment