Penyakit & Kelainan

10 Penyebab Bayi Sering Ngulet

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Para orang tua yang melihat bayi mereka sering ngulet di atas kasur, bahkan berguling-guling, sebaiknya tidak perlu khawatir.

Para bayi sering ngulet sebagai bagian dari peregangan dan oleh karena itu, kebiasaan ini dianggap normal.

Namun jika orang dewasa mengulet agar peredaran darah lebih lancar, tidak stres lagi, atau otot dan sendi lebih lemas, mengapa bayi sering mengulet?

Beberapa orang tua mungkin ingin tahu apa saja penyebab bayi sering ngulet karena hal ini terkadang mengganggu tidur si kecil.

Bayi sebelum memasuki usia 1 tahun akan lebih banyak mengulet, namun masalahnya apakah manfaat yang diperoleh si kecil sama dengan manfaat yang diperoleh orang dewasa?

Berikut ini adalah beberapa alasan dibalik bayi sering mengulet mulai dari yang ringan hingga lebih serius yang para orang tua bisa ketahui.

1. Meregangkan Otot

Peregangan otot tidak hanya untuk para orang dewasa, tapi juga dapat dilakukan oleh bayi usia di bawah 12 bulan [1].

Bayi sering mengulet karena meregangkan otot sendinya, terutama karena bayi masih dalam tahap tumbuh kembang [1].

Karena masih dalam perkembangan fisik, mengulet bagian dari cara si kecil untuk meregangkan tubuh [1].

Seringkali bayi yang sering mengulet membuat orang tua merasa khawatir, namun sebenarnya bisa jadi hal ini hanya karena si kecil ingin melemaskan otot dan sendinya [1].

Oleh karena itu, bayi lebih sering meregangkan tubuh setiap bangun tidur dan menjadi kebiasaan alami di usia 3 bulan pertamanya [1].

Meski demikian, mengulet tidak menjadi patokan perkembangan bayi; antara bayi satu dan lainnya memiliki perkembangan fisik yang tidak sama [1].

2. Keterlambatan Perkembangan

Bayi sering mengulet juga dapat menjadi pertanda kondisi yang lebih serius meski peluangnya sangat kecil dan jarang terjadi [2].

Bayi mengulet hingga tubuh melengkung ke belakang berkali-kali namun terlihat kaku bisa jadi merupakan tanda bahwa ada gangguan saraf yang terjadi [2].

Gangguan saraf ini biasanya berkaitan dengan perkembangan fisik dan mental si kecil yang terlambat [2].

Meski tak selalu demikian, orang tua dapat membawa anak ke dokter dan memeriksakan kondisinya bila terlihat tidak normal [2].

3. Mengekspresikan Emosi

Bayi sekalipun masih teramat kecil dan belum mampu bicara, mereka tetap dapat mengomunikasikan apa yang mereka rasakan [3].

Sering mengulet bisa menjadi tanda bahwa bayi sedang sakit, marah, frustrasi, atau upayanya mengekspresikan emosi lain [3].

Saat bayi mengulet, orang tua bisa mencoba mengecek kondisinya karena ada berbagai alasan yang mampu mendasari [3].

Karena bayi belum bisa bicara, satu-satunya yang dilakukan adalah menggunakan bahasa tubuh dalam mengekspresikan hal-hal yang tak dapat diutarakan [3].

Orang tua hanya perlu sedikit lebih perhatian dengan setiap gerakan dan gestur si kecil. Bila terjadi kondisi tak mengenakkan atau mencurigakan, segera bawa anak ke dokter [3].

4. Mendorong Gas dalam Perut

Jika bayi terbiasa sering mengulet dan kemudian buang angin, maka itu artinya mengulet bertujuan mengeluarkan angin atau gas dari dalam perutnya [4].

Jika kentut terjadi setiap sehabis bayi mengulet, tandanya kondisi bayi sangat normal [4].

Jika diperhatikan, bayi akan terlihat lebih tenang dan lega karena penumpukan gas atau angin di dalam perutnya berhasil dikeluarkan [4].

Namun jika bayi pun terlalu sering buang angin dan orang tua menjadi khawatir, segera bawa anak ke dokter untuk diperiksakan dan orang tua bisa berkonsultasi langsung dengan dokter untuk mengetahui kondisi anak [4].

5. Ingin Buang Air Besar

Bayi sering mengulet disertai melotot biasanya menandakan bahwa ia ingin buang air besar dan tengah bersiap untuk itu [5,6].

Untuk bayi yang baru lahir, tekstur tinja yang keluar biasanya normalnya lebih encer dan ritme buang air besar juga jauh lebih sering [6].

Frekuensi buang air besar bayi baru lahir dalam sehari adalah sekitar 8-12 kali sehingga jika si kecil mengulet dan melotot, orang tua perlu mengecek apakah ia sudah buang air besar [6].

Meski tinja seringkali bertekstur encer, tak menutup kemungkinan tinja berubah tekstur menjadi lebih pada [6].

Perhatikan kedua tanda tersebut dan orang tua bisa segera menangani keinginan buang air besar si kecil [6].

6. Kernikterus

Kernikterus dapat menjadi salah satu kemungkinan sebab bayi sering mengulet, yakni kondisi saat otak mengalami kerusakan karena bilirubin dalam darah berkadar terlalu tinggi [7].

Jika si kecil mengalami penyakit kuning namun tak segera mendapat penanganan, kadar bilirubin akan terus naik dan hal ini memengaruhi otak secara negatif [7].

Oleh karena itu, jika si kecil mengalami penyakit kuning terutama 3 hari pasca kelahiran dan sering mengulet, segera konsultasikan dengan dokter [7].

Terdapat risiko berkembangnya penyakit kuning menjadi kernikterus di mana tanda-tanda yang perlu diwaspadai oleh para orang tua adalah [7] :

  • Kejang
  • Demam
  • Muntah-muntah
  • Gangguan pendengaran
  • Ketidaknormalan gerakan mata
  • Mudah mengantuk disertai tubuh lemas
  • Bayi rewel dan sering menangis (suara saat menangis terdengar melengking)
  • Tidak mau menyusu
  • Tubuh kaku dan lemah

Bila lebih dari 5 hari gejala penyakit kuning tak mereda ditambah dengan gejala-gejala yang telah disebutkan, segera bawa anak ke dokter agar secepatnya mendapat penanganan.

7. Kolik

Bayi yang sering mengulet disertai menangis terus-menerus kemungkinan menjadi tanda kondisi kolik [8].

Kolik sendiri merupakan tangisan yang berlangsung lama dan terjadi berulang pada bayi, seperti sehari bayi bisa menangis 3 jam atau lebih dan terjadi seminggu 3 hari berturut-turut [8].

Kolik sebenarnya tergolong normal dan orang tua perlu mengetahui tanda-tanda yang menyertai bayi menangis tanpa henti berjam-jam, yakni [8] :

  • Kedua tangan mengepal
  • Wajah tampak memerah
  • Bayi melengkungkan punggung
  • Setiap diangkat atau digendong, tubuh bayi akan terkulai
  • Suara tangisan melengking
  • Sulit bernafas
  • Tidak nafsu makan
  • Berat badan bayi sulit naik
  • Usia di atas 4 bulan

Karena seringkali bayi menangis dan rewel berjam-jam karena reaksi alergi terhadap makanan, maka sebaiknya orang tua segera mengecek kondisi si kecil [8].

Bawa ke dokter agar dapat mengetahui apa penyebab pasti dari gejala mengulet, rewel, dan menangis sangat lama.

8. Refluks Asam Lambung

Bayi mengulet terlalu sering juga bisa menandakan adanya gangguan pencernaan pada lambung [9].

Asam lambung pada bayi adalah salah satu kondisi yang dimaksud dan biasanya bayi akan mengalami muntah-muntah [9].

Asam lambung yang naik tak hanya dapat dialami orang dewasa, kondisi ini berisiko juga terjadi pada bayi ketika cincin otot tak berfungsi normal memisahkan lambung dengan kerongkongan bawah [9].

Ketidaknormalan cincin otot ini tentu disebabkan oleh perkembangannya yang belum sempurna sehingga kenaikan asam lambung mudah terjadi pada bayi usia 4 bulan sampai 1 tahun [9].

Beberapa gejala refluks asam lambung pada bayi yang sebaiknya diwaspadai oleh orang tua adalah [9] :

  • Bayi tak mau makan atau menyusu
  • Punggung bayi melengkung (sering mengulet dan mengejan)
  • Mengalami kolik
  • Batuk, tersedak, hingga sesak nafas dan mengi
  • Menangis setiap diberi susu atau diberi makanan

Bila bayi sering mengulet disertai beberapa gejala tersebut, ada kemungkinan bayi mengalami refluks asam lambung [9].

Namun pastikan bahwa orang tua tidak langsung menangani sendiri, konsultasikan dengan dokter, periksakan anak, supaya pengobatan yang sesuai bisa diberikan.

9. Cerebral Palsy

Cerebral palsy yang terjadi pada bayi adalah saraf otak yang mengalami kelainan sehingga bayi akan sulit bergerak, terutama pada sebagian sisi tubuh [10].

Sejak bayi berusia beberapa bulan, gejala biasanya mulai tampak sedikit sehingga seringkali orang tua tidak menyadarinya [10].

Bayi mengulet pada kondisi cerebral palsy biasanya tanpa disengaja atau di luar kendali si kecil [10].

Sebagai tanda awal cerebral palsy, orang tua perlu mengawasi dan memerhatikan apakah si kecil sering ngulet sambil melengkungkan punggungnya [10].

Jika bayi pada usia beberapa bulan pertama sering melengkungkan tubuh ke belakang disertai kekakuan pada kaki, maka ini merupakan kondisi refleks labirin tonik [10].

Sementara jika bayi sering melengkungkan tubuh ke belakang disertai memutar kepala, kondisi ini disebut refleks tonik asimetris [10].

Sayangnya hingga kini belum ada metode pengobatan yang mampu membantu kesembuhan total penderita cerebral palsy [10].

Namun, beberapa terapi seperti terapi fisik, terapi obat, dan terapi wicara akan sangat dibutuhkan oleh si kecil seiring pertumbuhannya agar rentang geraknya lebih luas dan baik [10].

10. Apnea Tidur Obstruktif

Bayi sering mengulet juga dapat dicurigai sebagai tanda apnea tidur obstruktif, terutama saat sedang tidur [11].

Gerakan ngulet ini akan membuat si kecil sering berpindah posisi walaupun sudah posisi sudah dibenarkan dan disesuaikan oleh orang tua [11].

Bayi ngulet karena apnea tidur obstruktif seringkali juga bisa disertai dengan melengkungkan punggung serta rewel menangis terus-menerus [11].

Sistem pernafasan atas yang kurang berfungsi membuat anak sulit untuk tidur dengan nyaman dan nyenyak [11].

Mengulet dan melengkungkan tubuh merupakan upaya si kecil agar tekanan di saluran nafas bagian atas bisa berkurang [11].

Tanpa menyadarinya, si kecil akan menahan posisi tersebut supaya pernafasannya lebih lega; jika hal ini terjadi berulang, sudah saatnya orang tua segera ke dokter untuk memeriksakannya [11].

Demikian deretan kemungkinan penyebab bayi sering ngulet yang para orang tua perlu ketahui.

Bila bayi sering ngulet diikuti dengan tangisan berjam-jam atau berulang kali, gerakan menendang-nendang, mendorong tubuhnya ke atas hingga melengkungkan tubuh, bawa ke dokter spesialis anak segera.

1. Mary L. Gavin, MD. Movement, Coordination, and Your 1- to 3-Month-Old. KidsHealth; 2019.
2. Dan Brennan, MD. What to Know About Back Arching in Babies. WebMD; 2021.
3. Raising Children Network. Baby cues and baby body language: a guide. Raising Children Network; 2022.
4. Karen Gill, M.D. & Anna Schaefer. Baby Gas: Relief and Prevention. Healthline; 2018.
5. Colic SOS. Infant Dyschezia: Grunting Baby Syndrome. Colic SOS; 2022.
6. Karen Gill, M.D. & Jane Chertoff. How Often Do Breastfed and Formula-Fed Newborn Babies Poop?. Healthline; 2018.
7. Dinesh K. Reddy & Shivlal Pandey. Kernicterus. National Center for Biotechnology Information; 2021.
8. J B. Banks; Audra S. Rouster; & J Chee. Colic. National Center for Biotechnology Information; 2021.
9. Colic SOS. The Reality of Baby Reflux. Colic SOS; 2022.
10. Tara Haelle & Samuel Mackenzie, MD, PhD. Cerebral Palsy Symptoms and Diagnosis. Everyday Health; 2018.
11. Dr. Zarmina Ehsan. Sleep Apnea in Babies: Symptoms, Diagnosis and Treatment. Children's Mercy; 2018.

Share