Penyakit & Kelainan

Virus Korona (COVID-19): Penyebab, Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Jessica S. Raditia, MDCH, RPSGT
Dengan semakin banyaknya kasus COVID-19 di Indonesia, perlu diketahui etika batuk yang benar. Menutup mulut saat seseorang batuk atau bersin adalah cara untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Namun

Apa itu Virus Korona dan COVID-19?

Virus korona adalah jenis virus yang umumnya menyerang saluran pernafasan mamalia, tak terkecuali manusia yang dapat jadi korbannya.

COVID-19 adalah istilah resmi yang digunakan untuk menyebut penyakit virus korona yang teridentifikasi pertama kali di China pada akhir Desember 2019 lalu menurut laporan World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia.

SARS-CoV-2 adalah jenis virus korona yang menyebabkan COVID-19 terjadi, yaitu jenis virus korona yang awalnya sempat menyebabkan sekitar 1.000 kasus di China.

Sebelum disebut dengan istilah COVID-19, penyakit virus yang mewabah di Wuhan, Provinsi Hubei, China ini dikenal dengan sebutan 2019-nCoV atau 2019 novel corona virus.

Virus ini dapat menginfeksi dan menyebabkan gejala yang sangat mirip dengan flu.

Itulah mengapa virus korona dikaitkan erat dengan penyakit flu, SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) dan pneumonia.

MERS dan SARS adalah penyakit yang juga diakibatkan oleh keluarga virus korona dan sempat mewabah beberapa waktu lalu.

Kasus COVID-19 telah bertambah dan berkembang di sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, Italia, Iran, Jepang, Korea dan bahkan di Indonesia.

Fakta Tentang Virus Korona

  1. Pertama kalinya virus korona diisolasi adalah di tahun 1937, yakni berasal dari virus bronkitis yang menular pada unggas.
  2. Pada kondisi kasus flu biasa, 15-30% diantaranya dapat disebabkan oleh virus korona.
  3. Dalam kurun waktu 70 tahun terakhir, ditemukan bahwa virus korona dapat menginfeksi hewan ternak, kucing, anjing, tikus, dan kalkun.
  4. Virus korona adalah penyebab dari kondisi MERS dan SARS.
  5. Sebelum COVID-19, wabah virus lainnya yang sejenis pernah menyerang diantaranya:
    • 229E (alpha coronavirus)
    • NL63 (alpha coronavirus)
    • OC43 (beta coronavirus)
    • HKU1 (beta coronavirus)
    • MERS-CoV (penyebab penyakit MERS / Middle East Respiratory Syndrome)
    • SARS-CoV (penyebab penyakit SARS / Severe Acute Respiratory Syndrome)
  6. Virus korona dapat menyerang dan menginfeksi banyak spesies yang berbeda.
  7. Di China awalnya terdapat 1.300 kasus COVID-19 yang telah dikonfirmasi, dengan 41 kasus kematian dan kasus ini terus berkembang.
  8. COVID-19 awalnya mewabah di Wuhan, China pada akhir Desember 2019, namun kemudian menyebar ke negara-negara lain seperti Korea, Jepang, Thailand, Australia, Perancis, Amerika Serikat dan negara lainnya.
  9. Penularan virus korona dapat terjadi dari manusia ke manusia, namun sangat terbatas sebab penularan utama tetaplah dari hewan ke manusia.
  10. Menurut WHO, COVID-19 adalah sebutan untuk penyakitnya, sedangkan nama virus yang menyebabkannya adalah SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2).

Cara Penularan Virus Korona

Penularan dan penyebaran virus korona penyebab COVID-19 utamanya adalah dari hewan ke manusia, namun tak menutup kemungkinan manusia dapat menularkan ke sesamanya.

Diketahui bahwa cairan yang keluar dari sistem pernafasan adalah bentuk penyebaran virus tersebut yang kemudian dapat ditularkan kepada manusia.

Berikut ini adalah sejumlah cara penularan yang paling umum terjadi :

  • Bersin ataupun batuk tanpa menutupi mulut dan hidung sehingga cairan berisikan virus dari mulut atau hidung dapat tersebar ke udara dan menempel pada orang lain atau ke barang.
  • Kontak dengan kotoran hewan yang telah terinfeksi virus.
  • Tangan kontak dengan permukaan atau benda yang telah terkontaminasi virus, lalu menyentuh bagian mulut, mata atau hidung.

Hampir semua orang dapat terkena infeksi virus korona, termasuk jenis SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 selama hidup.

Gerakan partikel dari virus SARS-CoV-2 sangatlah cepat menuju membran mukosa yang terletak di belakang tenggorokan dan menuju bagian belakang saluran hidung lalu terjebak di sana.

Virus korona, seperti SARS-CoV-2 permukaannya berupa protein yang runcing di bagian ujungnya sehingga bagian ujung inilah yang dengan gampang bertahan menempel di sel membran.

Dari mengaitnya ujung runcing permukaan SARS-CoV-2 pada sel membran, inilah awal dari masuknya material genetik virus ke dalam sel tubuh manusia.

Menurut dr. William Schaffner di Nashville, seorang dokter Spesialis Penyakit Menular dari University Medical Center, saat material genetik ini sudah masuk, terjadilah pembajakan metabolisme sel sehingga kerusakan terjadi dan fungsi normal sel terganggu dan akibatnya virus terproduksi semakin banyak.

Maka dalam upaya mencegah penularan, menghindari kontak dengan orang lain dan beristirahat di rumah saat gejala sudah timbul adalah hal terbaik untuk dilakukan.

Bila pun harus bepergian ke luar rumah, selalu sedia sapu tangan ataupun tisu untuk mencegah tersebarnya virus ini.

Bahkan usai penggunaan tisu bekas menutup mulut dan hidung saat bersin maupun batuk, harus dibuang agar kebersihan lingkungan tetap terjaga.

Gejala COVID-19

COVID-19 awalnya dilaporkan memiliki gejala yang sangat mirip dengan flu biasa yang disebabkan oleh virus influenza.

Ini karena penderitanya dapat mengalami sejumlah keluhan seperti badan nyeri, demam, batuk, hingga sesak nafas.

Masa inkubasi (masa dari awal terkena paparan virus hingga timbulnya gejala) pada COVID-19 adalah sampai 14 hari. Gejala ringan yang dimaksud menyerupai penyakit flu pada penderita COVID-19 antara lain seperti:

  • Hidung berair
  • Bersin-bersin
  • Batuk
  • Badan capek dan lemah
  • Demam dengan suhu badan yang tidak terlalu tinggi
  • Faringitis atau sakit tenggorokan
  • Sesak nafas
  • Kondisi asma yang lebih buruk bagi yang memiliki riwayat penyakit asma

Namun pada banyak kasus COVID-19 termasuk di Indonesia, terdapat penderita terdiagnosa positif mengidap COVID-19 bahkan tanpa timbulnya gejala seperti yang telah disebutkan.

Tanpa demam, pilek, ataupun sesak nafas sehingga hal ini menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan mengenai gejala yang kurang dapat diwaspadai.

Apakah gangguan pencernaan termasuk gejala COVID-19?

Sejauh ini, gejala yang berhubungan dengan pencernaan seperti mual hingga diare belum dianggap sebagai gejala utama COVID-19, menurut pengamatan para peneliti pada kasus penyakit COVID-19 pertama di Amerika Serikat.

Menurut Michelle Holshue, MPH dari Center of Disease Control and Prevention di Atlanta, gejala utama pasien tersebut justru meliputi mual dan muntah yang dirasakan selama 2 hari sebelum dirawat.

Sementara itu, menurut juru bicara untuk Infectious Diseases Society of America, Susan Kline, MD, jenis virus korona yang berkaitan dengan gangguan pencernaan adalah virus korona penyebab SARS.

Virus Ebola dan influenza pun dapat menjadi penyebab timbulnya gejala yang berhubungan dengan pencernaan.

Menurut Kline, sebaiknya tidak menyimpulkan bahwa setiap pasien COVID-19 memiliki gejala yang sama, sebab penyakit ini tidak memiliki gejala yang seragam. Antar individu penderita COVID-19 dapat mengalami gejala yang berbeda-beda.

Penyebab Wabah COVID-19

Virus korona dapat dijumpai pada banyak spesies hewan, termasuk kelelawar dan juga unta.

Penularan utama dapat terjadi justru dari hewan ke manusia dan tergolong jarang adanya kasus virus korona yang berkembang lalu menginfeksi manusia.

SARS dan MERS yang beberapa waktu lalu sempat merebak dan mewabah adalah contoh paling baru dari kasus penularan dari manusia ke manusia yang sebelumnya sangat langka.

Virus korona sebagian besar menginfeksi hewan, namun karena sudah beberapa kasus manusia terinfeksi virus ini, ada kemungkinan bahwa virus ini dapat berevolusi dan menyebar lebih luas pada manusia.

Pada kasus virus SARS-CoV-2 yang mewabah di Wuhan, China dengan jenis awalnya justru merebak dan diketahui sebagai penyakit menyerupai pneumonia.

Gejala awal virus timbul pertama kali pada area Pasar Makanan Laut Huanan, Wuhan sudah sejak awal Desember 2019 di mana tak hanya hewan yang tertular, tapi juga manusia.

Beberapa orang kemudian dilaporkan meninggal usai beberapa hari terinfeksi virus SARS-CoV-2. Kasus pun bertambah seiring semakin menyebarnya virus ini.

Perbedaan Virus Korona dan Virus Flu Biasa

Virus korona dan virus flu biasa menimbulkan gejala yang hampir sama, yakni seperti:

Hal inilah yang membuat banyak orang khawatir terhadap virus korona karena takut tak dapat membedakannya dari penyakit flu biasa.

Memang sulit untuk membedakan kedua kondisi, namun jika beberapa gejala tersebut mulai dirasakan, tak ada salahnya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Pemeriksaan COVID-19

Untuk dokter dapat memastikan bahwa gejala mengarah pada infeksi virus SARS-CoV-2, virus influenza atau virus lainnya, beberapa metode pemeriksaan inilah yang bisa pasien tempuh :

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter akan mengecek kondisi gejala fisik yang dialami pasien lebih dulu serta menanyakan riwayat medis pasien dengan lengkap.

  • RT PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction)

Tujuan pemeriksaan ini menurut Dr. Sidney Yee mengutip dari Wall Street Journal adalah untuk mendeteksi patogen, seperti halnya HIV melalui pengambilan sampel cairan dari hidung atau tenggorokan (nose/throat swab).

Sampel swab test ini kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

Sampel cairan yang sudah diambil dari tubuh pasien kemudian dicampurkan dulu dengan reagen di dalam sebuah tabung khusus.

Tabung ini lalu masih harus diletakkan di sebuah mesin penyalin material genetik.

Bila memang terdapat virus, salinan inilah yang akan mengindikasi keberadaan virus dan sekaligus mengonfirmasi bahwa pasien yang telah menjalani tes ini positif terdiagnosa virus korona.

Komplikasi COVID-19

Walau awalnya tampak begitu sepele karena mirip dengan gejala flu biasa, bila dibiarkan tanpa penanganan yang benar akan dapat mengancam jiwa penderitanya.

Beberapa bentuk komplikasi yang harus diwaspadai sebab berisiko tinggi terjadi saat infeksi virus sudah menyebar ke bagian tubuh lain adalah :

  • Pneumonia : Pada orang-orang dengan usia lanjut, imun yang lemah, dan memiliki penyakit jantung, pneumonia/radang paru-paru dapat menjadi komplikasi berbahaya yang bahkan bisa mematikan.
  • Bronkitis : Radang bronkus (saluran utama pernafasan) dapat terjadi sebagai efek penyebaran infeksi virus korona yang makin meluas di dalam tubuh penderita.
  • Hipoksemia : Pada penderita SARS, cedera paru dapat terjadi dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun. Hal ini memicu kesulitan bernafas pada penderita dan perlu secepatnya ditangani dengan terapi oksigen.
  • Syok Septik : Kerusakan pada paru-paru penderita virus korona bila berkelanjutan dapat menyebabkan peradangan pada seluruh tubuh yang diakibatkan oleh infeksi, namun dalam bentuk yang lebih serius.
  • Kematian : Komplikasi paling mengerikan ini dapat terjadi ketika virus korona terlambat ditangani atau justru sudah berkembang menjadi kondisi komplikasi serius.

Pengobatan COVID-19

Belum terdapat vaksin khusus untuk menangani virus SARS-CoV-2 ini.

Untuk infeksi virus SARS-CoV-2 yang cukup ringan, kondisi penderitanya bisa sembuh dengan sendirinya bahkan tanpa diketahui bagaimana pemulihannya.

Namun secara umum, berikut adalah langkah-langkah mandiri untuk menangani gejala COVID-19:

  • Banyak beristirahat.
  • Lebih banyak minum air putih agar tubuh tidak dehidrasi dan lebih cepat pulih.

Bila gejala lebih berat dan penderita memiliki tubuh yang sangat lemah, penting untuk memperoleh penanganan medis secepatnya.

Seseorang dengan gejala mirip flu dapat menjadi suspek penderita COVID-19 bila terdapat indikasi medis seperti :

  • Pasien mengalami gejala yang sangat berat sehingga harus dirawat inap di rumah sakit.
  • Pasien adalah salah satu dari petugas medis yang banyak menangani pasien infeksi saluran pernapasan.
  • Pasien pernah mengunjungi pasar hewan hidup.
  • Pasien adalah salah satu pengunjung rumah sakit tempat kasus virus korona ditangani,
  • Pasien pernah melakukan kontak atau berinteraksi terlalu dekat dengan penderita virus SARS-CoV-2 .

Jika mengarah pada kondisi virus SARS-CoV-2, maka tindakan medis paling utama yang dilakukan oleh dokter adalah merawat pasien di ruang isolasi.

Pasien juga perlu menempuh pemeriksaan berupa foto toraks secara berkala untuk mengawasi perkembangan gejala infeksi pernapasan akut.

Selain itu, penanganan berupa ventilator mekanik akan diberikan bila penderita mengalami gagal nafas. Ada pula terapi simptomatik dan terapi cairan yang akan diberikan sesuai dengan kondisi pasien.

Pencegahan COVID-19

Belum adanya vaksin dalam upaya pencegahan infeksi virus SARS-CoV-2 bukan berarti kondisi ini tak bisa diminimalisir sama sekali.

  • Selalu cuci tangan menggunakan air serta sabun antiseptik.
  • Setiap cuci tangan, jangan terburu-buru dan ambil waktu sekitar 20 detik supaya benar-benar bersih.
  • Hindari kontak atau interaksi terlalu dekat dengan orang yang sedang sakit, bahkan walau hanya flu.
  • Hindari menggunakan tangan yang belum dicuci untuk menyentuh mulut, hidung, mata atau wajah.
  • Bersihkan dengan rutin benda-benda yang paling kerap disentuh ataupun digunakan sehari-hari.
  • Gunakan tisu atau sapu tangan setiap kali bersin atau batuk untuk menutupi.
  • Buang tisu bekas bersin atau batuk dengan benar di tempatnya.
  • Jika sudah telanjur sakit, beristirahatlah di rumah.
  • Minum banyak-banyak air putih apalagi jika sedang musim flu.
  • Hindari area berasap, khususnya yang penuh dengan orang-orang merokok.

Bila mengalami gejala flu yang tidak biasa, apalagi ditambah dengan ketidaknyamanan pada saluran pernafasan yang cukup serius, segera ke dokter untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Anonim. 2020. Centers for Disease Control and Prevention. Human Coronavirus Types.
Adam Felman & Daniel Murrell, MD. 2020. Medical News Today. What's to know about coronaviruses?
Anonim. 2019. Centers for Disease Control and Prevention. 2019 Novel Coronavirus Symptoms.
Susan R. Weiss, et all. 2011. Sciencedirect com. Human Coronavirus 229E.
G. Tekes, H.- J. Thiel, et all. 2016. Sciencedirect com. Human Coronavirus NL63.
Susanna K. P. Lau, et all. 2011. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Molecular Epidemiology of Human Coronavirus OC43 Reveals Evolution of Different Genotypes over Time and Recent Emergence of a Novel Genotype due to Natural Recombination.
Sahar Abdul-Rasool & Burtram C. Fielding. 2010. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Understanding Human Coronavirus HCoV-NL63.
Anonim. 2006. Centers for Disease Control and Prevention. Coronavirus HKU1 Infection in the United States.
Austin Kellerman. 2020. Wric com. Coronavirus or common cold? How to tell the difference.
Brunilda Nazario, MD. 2020. WebMD. Coronavirus.
Anonim. 2020. MedlinePlus gov. Coronavirus Infections.
Annie Sparrow. 2020. foreignpolicy com. How China’s Coronavirus Is Spreading—and How to Stop It.
Ahl. Techno Okezone com. 2020. 4 Fakta Virus Korona, Gejala hingga Penularan Antar-Manusia.
Pandasurya Wijaya. 2020. Liputan6 com. Kronologi Wabah Virus Corona Terbaru Menyebar dari Wuhan.
Tim CNN Indonesia. 2020. CNN Indonesia. Mengenal Gejala Virus Corona dan Penanganan Pertamanya.
Molly Walker. 2020. MedPage Today. GI Symptoms May Be Overlooked in Coronavirus Cases.
Wall Street Journal. 2020. Wall Street Journal. How Coronavirus Test Kits Work | WSJ.
Luthfia Ayu Azanella & Rizal Setyo Nugroho. 2020. Kompas. Begitu Mudah Menyebar, Ini yang Dilakukan Virus Corona pada Tubuh Pasien.

Share