Penyakit & Kelainan

Cutaneous Larva Migrans: Gejala – Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Cutaneous larva migrans merupakan sekumpulan gejala infeksi cacing tambang. Infeksi ini paling umum ditularkan melalui kotoran hewan yang terdapat telur cacing di dalamnya. Telur cacing ini terlindung di dalam tanah dan saat menetas menjadi larva dapat menembus kulit manusia bila berkontak langsung dengan tanah tersebut. [1]

Infeksi cutaneous larva migrans ini paling umum ditemukan di daerah tropis, subtropis dan bagian selatan Amerika Serikat. Di beberapa bagian dunia infeksi ini menjadi endemik misalnya di Karibia, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. [2]

Kondisi kulit akibat cutaneous larva migrans merupakan masalah yang paling sering dialami oleh orang-orang yang baru saja berjalan-jalan ke negara tropis atau yang beriklim hangat. [3]

Gejala Cutaneous Larva Migrans

Gejala cutaneous larva migrans akan muncul setelah 1-5 hari sejak terinfeksi. Akan tetapi, kadang-kadang gejala muncul lebih lama. Adapun tanda dan gejala umum yang dirasakan yakni: [3]

  • Garis merah yang terus memanjang. Jika mengalami infeksi ini, akan muncul garis merah yang timbul di permukaan kulit. Garis ini kian hari kian memanjang. Pola garis seperti pergerakan ular dan berkelok-kelok. Hal ini disebabkan pergerakan larva di bawah kulit. Pola garis ini bertambah 2 cm setiap harinya.
  • Gatal dan tidak nyaman. Infeksi ini dapat menimbulkan rasa gatal, seperti tersengat, atau nyeri.
  • Pembengkakan. Cutaneous larva migrans dapat menimbulkan bengkak pada kulit.
  • Lesi pada kaki dan telapak kaki. Meskipun garis timbul ini dapat muncul di bagian tubuh mana saja, lesi paling sering muncul pada bagain tubuh yang kemungkinan tinggi terpapar tanah atau pasir yang tercemar. Bagian tubuh ini yakni kaki, bokong, paha, dan tangan.

Lesi akibat cutaneous larva migrans dapat terasa sangat gatal sehingga kebanyakan orang akan menggaruknya. Hal ini dapat berujung kulit menjadi luka dan meningkatkan resiko infeksi bakteri sekunder. [3]

Penyebab Cutaneous Larva Migrans

Cutaneous larva migrans disebabkan oleh cacing tambang. Telur cacing tambang dapat ditemukan di dalam tinja kucing dan anjing. Setelah telur menetas akan berkembang menjadi cacing kecil (larva). Infeksi dapat disebarkan melalui kontak langsung kulit dengan tinja yang mengandung larva. [4]

Cacing tambang dapat ditemukan pada area yang lembab dan berpasir. Berjalan dengan kaki telanjang di atas tanah yang terkontaminasi larva pada daerah beriklim hangat merupakan hal yang paling sering membuat orang menderita infeksi cutaneous larva migrans. [4]

Berikut ini merupakan organisme yang dapat menimbulkan cutaneous larva migrans yakni: [5]

  • Ancylostoma braziliense merupakan organisme yang paling umum ditemukan pada kasus cutaneous larva migrans. Inang perantaranya adalah anjing dan kucing baik yang liar maupun dipelihara. Utamanya ditemukan di kawasan tengah dan selatan Amerika Serikat, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.
  • Ancylostoma caninum merupakan organisme dengan inang anjing dan ditemukan di Australia.
  • Uncinaria stenocephala merupakan organisme dengan inang anjing dan ditemukan di Eropa.
  • Bunostomum phlebotomum merupakan organisme dengan inang sapi.

Komplikasi Cutaneous Larva Migrans

Komplikasi cutaneous larva migrans termasuk infeksi sekunder. Kebanyakan infeksi sekunder disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan spesies streptococcus. Infeksi bakteri sekunder terjadi pada 8% kasus cutaneous larva migrans. [1] Infeksi sekunder ini membutuhkan penanganan dengan antibiotik. [5]

Jika infeksi sekunder ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, ada kemungkinan terjadi glomerulonefritis (peradangan saringan kecil pada ginjal) akibat infeksi streptococcus. Meskipun disepakati bahwa larva tidak dapat menembus membran dasar pada kulit, terdapat kasus langka dimana larva dapat berpindah ke dalam organ. [1]

Pada kasus seperti ini, larva ditemukan dalam kultur dahak, organ dalam pada inang manusia, bahkan berada di dalam rangka dan otot. Selain itu, tanggapan tubuh terhadap infeksi di organ dalam dapat berupa eritema mutiformis (reaksi hipersensitivitas pada kulit akibat infeksi). Meskipun hal ini jarang terjadi. [1]

Diagnosis Cutaneous Larva Migrans

Kerap kali dokter akan mendiagnosis cutaneous larva migrans berdasarkan riwayat perjalanan dan melakukan pemeriksaan pada ciri lesi yang timbul pada tubuh. Bila Anda tinggal di daerah iklim yang lembab dan hangat atau tropis, rincian tentang lingkungan harian dapat membantu dokter menegakkan diagnosis. [3]

Pengobatan Cutaneous Larva Migrans

Walaupun cutaneous larva migrans dapat sembuh dengan sendirinya tanpa membutuhkan perawatan, rasa gatal luar biasa dan resiko infeksi sekunder membuat infeksi ini harus ditangani. Pilihan pengobatan yang diberikan berupa: [2]

Perkembangan penyakit cutaneous larva migrans ini merupakan kondisi penyakit yang dibatasi oleh kemampuan larva itu sendiri. Maksudnya, larva tidak mampu membentuk kolagenase untuk menembus membran dasar dan mencapai saluran pencernaan untuk berkembang biak. [1]

Sehingga larva yang berada di bawah kulit tersebut akan mati dalam kurun waktu 5-6 minggu. Akan tetapi, pada beberapa kasus infeksi membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya untuk menghilang. Penggunaan obat topikal atau oral mampu membantu infeksi menghilang lebih cepat. [3]

Jika infeksi yang terjadi bersifat lokal, maka pemberian cairan thiabendazole 10% atau salep thiabendazole 15% secara topikal dapat dicoba terlebih dahulu. Obat dioleskan sebanyak 2-3 kali sehari selama 5-10 hari. Suatu studi kecil menunjukkan bahwa rasa gatal membaik setelah 48 jam sejak penanganan dilakukan. [1]

Studi ini juga menunjukkan tingkah kesembuhan sebesar 98% dalam waktu 10 hari. Untuk lesi dalam jumlah banyak atau infeksi parah, pemberian albendazole dan ivermectin merupakan pengobatan utama. Albendazole diberikan secara oral sebanyak 400 mg per hari selama 3-5 hari. [1]

Obat ini sangan efektif dan tingkat kesembuhan hampir mencapai 100%. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemberian albendazole selama 7 hari mampu mengurangi resiko kambuhnya infeksi cutaneous larva migrans ini. [1]

Sedangkan obat ivermectin juga efektif dalam menangani infeksi cutaneous larva migrans ini. Salah satu keuntungan menggunakan obat ini adalah Anda hanya perlu mengonsumsinya sekali saja sebanyak 12 mg secara oral. Tingkat kesembuhan menggunaka obat ini pun hampir 100%. [1]

1. Luke Maxfield & Jonathan S. Crane. Cutaneous Larva Migrans. Statpearls; 2021.
2. David T. Robles. Cutaneous Larva Migrans. Medscape; 2020.
3. Jill Seladi-Schulman & Owen Kramer. About Cutaneous Larva Migrans. Healthline; 2019.
4. Anonim. Creeping Eruption. John Hopkins Medicine; 2021.
5. Roger Henderson & Adrian Bonsall. Cutaneous Larva Migrans. Patient; 2014.

Share