Tindakan Medis

Multiple Sleep Latency Test: Fungsi, Prosedur dan Hasil

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Fungsi Multiple Sleep Latency Test

Multiple sleep latency test (MSLT), adalah pemeriksaan yang digunakan untuk menguji kantuk ekstrem di siang hari. Biasanya MSLT dilaksanakan setelah pasien melakukan pemeriksaan polisomnografi.[1]

Dokter akan merekomendasikan tindakan medis ini pada pasien yang mengantuk di siang hari tanpa alasan yang jelas atau pasien merasa mengantuk dalam situasi yang tidak semestinya, seperti di tempat kerja atau saat mengemudi.[1]

Dokter mungkin juga akan merekomendasikan MSLT jika pasien dicurigai menderita narkolepsi (kondisi neurologis yang menyebabkan kantuk di siang hari yang berlebihan) atau hipersomnia idiopatik (kantuk berlebihan tanpa sebab).[1]

Persiapan Multiple Sleep Latency Test

Terdapat beberapa persiapan yang perlu dilakukan sebelum menjalani prosedur MSLT, seperti:[2]

  • Pasien dilarang mengonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi otak selama 1-3 minggu sebelum prosedur. Seperti pengobatan yang digunakan untuk mengobati depresi, obat yang meningkatkan kewaspadaan, dan obat yang berpotensi untuk disalahgunakan atau menimbulkan kecanduan, seperti amfetamin atau kokain.
  • Dokter mungkin meminta pasien membuat catatan harian tidur selama satu hingga dua minggu sebelum tes untuk memastikan bahwa kurang tidur bukanlah faktor penyebabnya.
  • Jika pasien memiliki kecenderungan untuk rutin tidur lebih lama dari jam 8 pagi, dokter mungkin akan merekomendasikan perubahan jadwal tidur atau waktu tes tidur.

Prosedur Multiple Sleep Latency Test

Agar MSLT akurat, pasien harus memiliki total waktu tidur setidaknya enam jam selama studi tidur semalam.[3]

Pada pemeriksaan MSLT, seseorang diberi 4-5 kesempatan untuk tidur setiap dua jam selama waktu bangun normal.

Uji coba tidur siang pertama dimulai antara satu setengah dan tiga jam setelah pasien bangun dari tidur semalam. Pasien akan diberi sarapan ringan setidaknya satu jam sebelum uji coba tidur siang pertama.[3]

Untuk setiap percobaan tidur siang, pasien diminta untuk berbaring dengan tenang dan mencoba untuk tidur. Kemudian lampu dimatikan. Setelah lampu mati, tes akan mengukur berapa lama pasien akan tertidur.[3]

Setiap percobaan akan berakhir jika pasien tidak tertidur dalam waktu 20 menit. Jika pasien jatuh tertidur, maka akan dibiarkan selama 15 menit. Kemudian setelah 15 menit akan dibangunkan.[3]

Biasanya, video dan audio tidur siang akan direkam dan dokter akan memantau:[1]

Setelah pemeriksaan berakhir, pasien diperbolehkan pulang dan menjalani aktivitas seperti biasa.[3]

Tidak ada risiko yang dilaporkan pada pemeriksaan MSLT.[4]

Seperti polisomnografi, pada tes ini dokter memasang sensor untuk merekam aktivitas jantung, otak, gerakan mata dan gerakan ekstremitas, sehingga mungkin efek samping yang paling umum adalah iritasi kulit akibat perekat yang digunakan untuk memasang sensor uji pada kulit pasien. [5]

Hasil Multiple Sleep Latency Test

Pada masing-masing dari lima kesempatan pasien untuk tidur, dokter akan mengukur seberapa cepat pasien tertidur (latensi) dan seberapa cepat pasien mencapai tidur REM.[1]

Rata-rata latensi di bawah delapan menit dan tidur REM yang dicapai hanya dalam satu kali tidur siang berpotensi menunjukkan hipersomnia idiopatik.[1]

Rata-rata latensi di bawah delapan menit dan tidur REM yang dicapai hanya dalam dua kali tidur siang berpotensi disebabkan oleh narkolepsi.[1]

1. Alana Biggers, M.D., MPH, Scott Frothingha. All About the Multiple Sleep Latency Test (MSLT). Healthline; 2019
2. Anonim. Multiple Sleep Latency Test (MLST). Healthysleep.med.harvard.edu; 2018.
3. Anonim. Multiple Sleep Latency Test. Uhhospitals; 2020.
4. Anonim. Multiple Sleep Latency Test (MLST). Thewaltoncentre.nhs.uk; 2020.
5. Anonim. Polysomnography (Sleep Study). Mayoclinic; 2020.

Share