Penyakit & Kelainan

Abetalipoproteinemia : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Abetalipoproteinemia?

Abetalipoproteinemia adalah suatu kondisi di mana kemampuan tubuh dalam menyerap lemak tertentu hilang [1,2,3,6].

Pada penderita abetalipoproteinemia, proses metabolisme lemak akan terhambat dan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Tak hanya proses metabolisme lemak, proses penyerapan vitamin dan kolesterol juga turut terganggu.

Hal ini membuat abetalipoproteinemia sebagai kondisi yang mampu mengakibatkan tubuh penderitanya kekurangan gizi.

Abetalipoproteinemia juga dikenal sebagai kelainan bawaan yang langka di mana seseorang dapat mewarisi kondisi ini dari orangtuanya yang juga berkondisi sama.

Sifat kondisi ini adalah resesif autosom dan umumnya mutasi gen MTTP (microsomal triglyceride transfer protein) adalah faktor yang melandasi.

Tinjauan
Abetalipoproteinemia adalah kelainan bawaan langka yang terjadi ketika proses metabolisme lemak terganggu karena kemampuan tubuh menyerap lemak tidak dimiliki.

Fakta Tentang Abetalipoproteinemia

Abetalipoproteinemia adalah kondisi langka yang bahkan kurang dari 1 dari 1 juta orang [1].

Mutasi gen penyebab abetalipoproteinemia ditemukan lebih umum dialami oleh orang keturunan Eropa Tengah dan Eropa Timur yang disebut dengan istilah keturunan Yahudi Ashkenazi [1].

Abetalipoproteinemia diwarisi oleh seseorang dari kedua orangtua secara resesif autosomal.

Pada saat pembuahan, risiko untuk tidak terkena dan bukan menjadi pembawa sifat gen cacat 25%, yang terpengaruh 25%, dan 50% kemungkinan menjadi pembawa sifat gen tapi tidak menimbulkan gejala [2].

Karena tergolong kondisi langka, di Indonesia pun prevalensi atau data epidemiologi abetalipoproteinemia belum diketahui jelas.

Penyebab Abetalipoproteinemia

Abetalipoproteinemia adalah kelainan bawaan langka yang terjadi karena mutasi/perubahan gen [1,2,3,6].

Mutasi atau perubahan gen ini diwarisi oleh seseorang dari kedua orangtua yang memiliki gen abnormal.

Di dalam tubuh manusia terdapat gen yang berfungsi memberi tahu tubuh mengenai cara lemak dan protein bergabung untuk pembentukan lipoprotein.

Jika gen tersebut mengalami gangguan atau perubahan, fungsi gen yang utama menjadi gagal.

Sebagai dampaknya, tubuh kehilangan kemampuan dalam mencerna dan menyerap lemak serta berbagai vitamin.

Lipoprotein yang seharusnya terhasilkan secara nomal menjadi kurang maksimal karena mengalami penurunan kadar.

Lama-kelamaan, produksi lipoprotein oleh tubuh semakin menurun dan hilang sama sekali.

Jika lipoprotein tidak ada lagi, metabolisme lemak prosesnya tak lagi lancar dan mengalami gangguan karena tak dapat dibawa melalui peredaran darah.

Apa itu lipoprotein?

Lipoprotein adalah suatu zat yang berfungsi membawa kolesterol dan mengirimkannya ke seluruh sistem jaringan tubuh [4].

Lipoprotein terdiri dari lemak dan protein yang memiliki keterikatan dengan protein.

Karena adanya lipoprotein ini lemak dapat bergerak di bagian dalam dan luar sel tubuh melalui air secara maksimal.

Ada dua jenis lipoprotein yang selama ini pun telah kita ketahui, yaitu LDL (low-density lipoprotein) atau yang disebut juga dengan kolesterol jahat dan HDL (high-density lipoprotein) yang juga disebut dengan kolesterol baik .

Tinjauan
Mutasi gen MTTP (microsomal triglyceride transfer protein) adalah penyebab abetalipoproteinemia di mana gen ini diwarisi oleh seseorang dari kedua orangtua yang memiliki atau membawa kesalahan gen.

Gejala Abetalipoproteinemia

Kondisi abetalipoproteinemia umumnya menyebabkan timbulnya gejala yang sangat beragam.

Ini karena gejala dapat timbul di berbagai organ tubuh, seperti halnya darah, mata, sistem saraf, atau bahkan saluran pencernaan.

Gejala abetalipoproteinemia selalu akan nampak pada bayi karena kondisi ini adalah kelainan bawaan di mana diantaranya adalah :

  • Pembengkakan pada area perut (perut akan terlihat lebih menonjol).
  • Muntah-muntah
  • Diare
  • Steatorrhea atau kondisi ketika feses diare mengeluarkan bau yang menyengat dan berkandungan lemak yang sangat tinggi.
  • Proses pertumbuhan dan perkembangan fisik yang lambat.
  • Sulit menambah berat badan.
  • Kadar kolesterol, fosfolipid, dan trigliserida di dalam tubuh sangat rendah.
  • Gangguan pada tulang, seperti kiposkoliosis atau tulang belakang yang melengkung.
  • Gangguan pembekuan darah.

Gejala akan lebih serius di berbagai organ tubuh saat bayi menginjak usia 2 tahun.

Gejala pada sistem saraf, tulang, darah, otot dan mata akan semakin nampak di rentang usia 2 sampai 20 tahun.

  • Atrofi otot atau massa otot yang turun dan berakibat pada tak dapat digerakkannya anggota tubuh tertentu dalam waktu yang lama.
  • Penglihatan yang memburuk karena degenerasi retina, termasuk juga mengalami rabun senja dan buta warna.
  • Nistagmus atau pergerakan mata yang tak terkendali.
  • Ptosis atau kelopak mata bagian atas yang mengalami penurunan (melorot).
  • Strabismus atau mata juling.
  • Oftalmoplegia atau kelemahan pada otot gerakan mata.
  • Anisocoria atau ukuran pupil pada kedua mata berebda dan tidak seimbang.
  • Tremor atau bagian tubuh (terutama tangan) bergetar dengan sendirinya tanpa dapat dikendalikan).
  • Kelemahan otot (ada kaitannya dengan atrofi otot).
  • Keterbelakangan mental.
  • Mati rasa, kesemutan atau sensasi panas terjadi pada otot lengan ataupun kaki.
  • Kesulitan berjalan karena mengalami keabnormalan pada tulang dan sistem saraf.
  • Anemia (karena kelainan darah yang disebut dengan akantositosis) yang menyebabkan kelemahan tubuh, sering mengantuk, pusing, kepala seperti melayang karena terasa ringan, kulit pucat, palpitasi, dan mudah marah.

Steatorrhea adalah gejala yang sangat mungkin terjadi pada bayi dengan abetalipoproteinemia karena penyerapan lemak tidak berjalan dengan lancar.

Hal ini menunjukkan bahwa lemak tidak dalam kondisi hancur dan kondisinya tidak dapat dicerna ketika dilepas ke usus besar.

Tinjauan
- Gejala dapat dibagi menjadi dua, yaitu gejala umum pada bayi dan gejala pada balita usia 2 tahun hingga orang dewasa berusia 20 tahun.
- Diare, bengkak pada perut, muntah-muntah, feses berbau menyengat dan berkandungan lemak, tumbuh kembang anak melambat, gangguan bekuan darah, dan sulit menaikkan berat badan adalah gejala yang perlu dikenali.
- Pada penderita usia 2 hingga 20 tahun, ada kemungkinan gejala bertambah buruk dan berkaitan dengan saraf, mata, tulang, hingga darah.

Pemeriksaan Abetalipoproteinemia

Bila gejala-gejala yang telah disebutkan mulai timbul, maka penting untuk segera memeriksakan anak atau diri sendiri ke dokter.

Metode-metode pemeriksaan yang umumnya diterapkan oleh dokter dalam mengonfirmasi abetalipoproteinemia antara lain adalah [1,2,3,6] :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter akan lebih dulu memeriksa kondisi fisik pasien secara menyeluruh yang diikuti dengan pemeriksaan riwayat kesehatan.

Tak hanya riwayat kesehatan pasien, dokter perlu mengetahui riwayat kesehatan keluarga pasien (terutama orangtua pasien) untuk proses identifikasi yang lebih mudah.

  • Tes Kadar Apolipoprotein B

Pemeriksaan lanjutan diperlukan oleh dokter dalam menghasilkan diagnosa yang tepat, dan tes kadar apolipoprotein B adalah salah satu tes lanjutan tersebut.

Pemeriksaan ini diterapkan untuk memastikan kondisi metabolisme apolipoprotein B.

Tes ini juga bermanfaat dalam membedakan antara abetalipoproteinemia dengan jenis kondisi kelainan lipid lain.

  • Tes Defisiensi Vitamin

Pemeriksaan ini diperlukan dokter dalam mengetahui kondisi tubuh pasien dan vitamin apa saja yang berkadar rendah.

Melalui tes ini, dokter dapat mendeteksi apakah pasien mengalami kekurangan vitamin D, A, E dan K.

  • Tes Darah

Melalui pemeriksaan darah, dokter dapat mengidentifikasi kadar trigliserida dan kolesterol di dalam darah pasien.

Tes darah pun membantu dokter dalam mendeteksi adanya akantositosis atau kecacatan pada sel darah merah.

  • Tes Genetik Molekuler

 Tes ini digunakan dokter untuk mengetahui adanya mutasi gen di dalam tubuh pasien.

Dokter dapat memastikan adanya perubahan gen MTTP (microsomal triglyceride transfer protein) melalui tes ini.

Konfirmasi diagnosa menjadi lebih mudah bila tes ini tersedia bagi pasien.

  • Pemeriksaan Lainnya

Metode pemeriksaan lanjutan lainnya yang dokter akan rekomendasikan bila perlu adalah pemeriksaan mata, USG hati, dan endoskopi.

Proses evaluasi keberadaan gejala yang selama ini dialami oleh pasien secara detil dapat dilakukan dengan ketiga tes tersebut.

Hanya saja, biasanya pasien perlu beberapa kali mendatangi dokter dan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui hasil diagnosa.

Ini karena kondisi abetalipoproteinemia cukup sulit terdeteksi meski terdapat gejala dan keluhan yang telah diberitahukan kepada dokter.

Tinjauan
Umumnya usai gejala abetalipoproteinemia timbul, metode pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, tes genetik molekuler, tes darah, tes kadar apolipoprotein B, tes defisiensi vitamin, endoskopi, pemeriksaan mata dan USG hati perlu ditempuh pasien.

Pengobatan Abetalipoproteinemia

Dalam menangani abetalipoproteinemia, diet atau perubahan pola hidup menjadi salah satu yang utama perlu dijalani oleh pasien.

Selain itu, pemeriksaan dan pemantauan kondisi pasien secara rutin ditambah obat dan suplemen resep dokter turut membantu dalam proses pemulihan tubuh.

Umumnya, dokter akan memberikan pengobatan yang disesuaikan dengan gejala pada tubuh pasien.

Jadi, masing-masing individu penderita abetalipoproteinemia berkemungkinan besar ditangani secara berbeda tergantung dari kondisi gejalanya.

  • Pemeriksaan Neurologis dan Mata

Penanganan abetalipoproteinemia biasanya dilakukan oleh kolaborasi antara dokter ahli saraf, dokter ahli nutrisi, dokter ahli mata, dan dokter ahli sistem pencernaan [1,2,6].

Pengawasan terus harus dilakukan pada bayi yang lahir dengan kondisi abetalipoproteinemia selama kurang lebih 6-12 bulan.

Pemeriksaan rutin pada saraf dan mata pasien sangat diperlukan untuk memantau apakah terjadi perburukan gejala neurologis dan oftalmologis.

  • Pemeriksaan Albumin dan Transaminase Amino

Untuk meminimalisir risiko kerusakan liver/hati pada pasien, dokter kemungkinan akan meminta supaya pasien melakukan pemeriksaan albumin dan transaminase amino tiap tahun [2,3,6].

Hal ini biasanya juga diikuti dengan ekokardiografi 3 tahun sekali untuk mendeteksi apakah kondisi jantung masih normal.

  • Vitamin Larut dalam Lemak dengan Dosis Tinggi

Pemberian vitamin larut dalam lemak seperti vitamin A, E, K dan D sangat penting tak hanya meredakan gejala terkait abetalipoproteinemia, tapi juga mencegah agar gejala memburuk dan mudah kembali [1,2,3,4,6].

Dalam bentuk suplemen, dokter memberikan vitamin E dan A yang akan membantu masalah mata dan saraf.

Sementara itu, pemberian vitamin D bertujuan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan tulang.

Walau biasanya dokter memberikan dosis tinggi, tentu hal ini disesuaikan dengan hasil tes darah, tes saraf, dan tes mata.

  • Diet Rendah Lemak

Pada penderita abetalipoproteinemia yang masih usia anak-anak, dokter akan merekomendasikan diet yang tak terlalu ekstrem dan berbahaya.

Diet yang dianjurkan dokter adalah diet yang akan membantu menyeimbangkan kembali nutrisi dalam tubuh pasien.

Proses metabolisme lemak yang mengalami gangguan membuat penderita tak diperbolehkan mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak tinggi.

Gejala pada sistem pencernaan dapat diredakan dengan menjalani diet rendah lemak [1,2,3,4,6].

Untuk menjalani diet ini, pasien perlu berkonsultasi dengan ahli nutrisi agar tidak membahayakan kesehatan tubuh.

Sementara untuk kasus bayi dan balita, suplemen aman akan diberikan supaya tumbuh kembang anak berjalan dengan normal.

  • Fisioterapi

Pasien dengan kelemahan otot sebagai salah satu gejala abetalipoproteinemia dapat dibantu memulihkan diri melalui fisioterapi [1,2,6].

Tujuan fisioterapi biasanya adalah untuk memperkuat kembali tulang dan otot pasien agar dapat kembali beraktivitas normal.

Terapi vitamin K ikut diberikan selama fisioterapi karena perawatan fisioterapi ini berjalan lebih optimal dengan dukungan vitamin K.

Tinjauan
Penanganan abetalipoproteinemia biasanya dilakukan dengan pemeriksaan neurologis dan oftalmologis secara rutin, pemeriksaan albumin dan transaminase amino rutin, pemberian suplemen vitamin larut lemak, diet rendah lemak serta fisioterapi untuk memperkuat otot kembali.

Komplikasi Abetalipoproteinemia

Hiperbilirubinemia dapat menjadi komplikasi abetalipoproteinemia yang berasal dari kondisi akantositosis.

Akansitosis yang menyebabkan anemia, hemolisis, dan retikulositosis dapat berakibat pada kondisi hiperbilirubinemia.

Hiperbilirubinemia sendiri adalah kondisi di mana kadar plasma bilirubin yang mengalami peningkatan [5].

Kadar bilirubin yang berada di atas normal pada bayi baru lahir yang kemudian ditandai dengan tanda kuning pada bayi.

Kulit dan mukosa bayi akan berwarna kuning pada kondisi hiperbilirubinemia ini dan berpotensi mengancam kesehatan bayi.

Tinjauan
Pada bayi yang mengalami abetalipoproteinemia, kemungkinan untuk mengalami hiperbilirubinemia cukup besar. Hiperbilirubinemia dapat terjadi ketika bayi mengalami akantositosis dan anemia, yaitu kondisi menguningnya mukosa dan kulit.

Pencegahan Abetalipoproteinemia

Tes genetik adalah langkah pencegahan yang paling dianjurkan karena abetalipoproteinemia adalah kelainan bawaan yang diwarisi seorang anak dari kedua orangtuanya.

Sebelum merencanakan kehamilan, sepasang suami istri dapat mengonsultasikan hal ini dengan dokter dan mempelajari DNA di dalam tubuh mereka [1,2].

Memenuhi kebutuhan tubuh akan nutrisi yang lengkap dan seimbang juga diperlukan dalam masa pemulihan.

Mengurangi makanan berkolesterol dan berlemak tinggi sekaligus mengonsumsi vitamin dari dokter adalah cara mencegah perburukan gejala sekaligus komplikasi [6].

Tinjauan
Tes genetik sebelum memutuskan untuk hamil agar mengenali DNA dalam tubuh suami dan istri adalah langkah pencegahan abetalipoproteinemia yang dapat dilakukan. Sementara untuk mencegah komplikasi atau perburukan gejala, membatasi asupan lemak dan kolesterol serta meminum vitamin larut lemak adalah hal terbaik.

1) Zeenat Junaid & Krunal Patel. 2019. National Center for Biotechnology Information. Abetalipoproteinemia.
2) John R Burnett, MB ChB, MD, PhD, FRCPA, Amanda J Hooper, PhD, & Robert A Hegele, MD, FRCPC, FACP. 2018. National Center for Biotechnology Information. Abetalipoproteinemia.
3) Rola Zamel, Razi Khan, Rebecca L Pollex, & Robert A Hegele. 2008. Orphanet Journal of Rare Diseases. Abetalipoproteinemia: two case reports and literature review.
4) Kenneth R Feingold, MD and Carl Grunfeld, MD, PhD. 2018. National Center for Biotechnology Information. Introduction to Lipids and Lipoproteins.
5) M. Mahmood Hussain, PhD, Lic. Med., FAHA. 2005, 2012, 2015, & 2018. National Organization for Rare Disorders. Abetalipoproteinemia.
6) Rulina Suradi dan Debby Letupeirissa. 2013. Buku Bedah ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia. Air Susu Ibu dan Ikterus.

Share