Wortel merupakan sayuran kaya akan kandungan karotenoid, flavonoid, poliasetilen, vitamin, dan mineral, yang sangat bermafaat bagi Kesehatan. Selama puluhan tahun tanaman berakar orange ini dianggap sebagai sumber vitamin A yang baik untuk mata, serta antioksidan, antikarsinogen, dan imunoenhancer yang dapat mencegah kita terkena kanker[1].
Meminum segelas jus wortel setiap hari dipercaya dapat menghindarikan kita dari penyakit berbahaya. Tapi ternyata wortel merupakan salah satu sayuran yang dapat menyebabkan overdosis. Mengkonsumsi wortel dalam jumlah besar rutin selama lebih dari 4 minggu dapat menyebabkan kulit anda berubah kekuningan[2]. Ini merupakan salah satu gejala paling umum dalam overdosis wortel.
Selain itu beberapa penyakit akan menghampiri anda jika masih bersikeras mengkonsumsi wortel secara berlebihan sebagai makanan tunggal untuk mencukupi nutrisi harian. Berikut konsekuensi jika mengkonsumsi wortel berlebihan pada Kesehatan:
Daftar isi
Jika kulit terutama bagian wajah dan telapak tangan anda berubah kuning-orange setelah makan wortel terus menerus selama beberapa minggu, anda sedang mengalami karatonemia. Kondisi ini dihasilkan dari deposisi karoten terutama di stratum korneum[3].
Karotenemia termasuk kedalam kondisi hypervitamin A yang jinak dan tidak berbahaya[3]. Hal ini terjadi akibat tingginya asupan β-karoten yang berasal dari sayar, buah telur dan beberapa suplemen vitamin. Kondisi ini dapat diatas dengan menghentikan konsumsi wortel, namun perlu diingat karotenamia juga dapat menandai adanya gangguan metabolisme lainnya seperti diabetes mellitus, hipotiroidisme, kehamilan dan nervosa anoreksia[4]
Sebagian besar kasus, wortel sangat jarang menjadi alergen tunggal dengan kata lain wortel merupakan salah satu alergen yang terlibat dalam sindrom makanan-makanan kompleks, seperti yang disebut sindrom seledri-mugwort-wortel[5].
Beberapa kasus melibatkan jenis sayuran berbeda seperti wortel-adas-seledri, bahkan bagi seseorang dengan tingkat intolerasin tinggi, melibatkan wortel dalam dosis kecil yang terdapat pada makanan lain seperti es krim maupun saus setelah memakan sayuran pemicu lainnya dapat mengancam jiwa[6].
Alergen utama wortel adalah Dau c 1 (Protein patogenesis terkait PR-10 dan anggota family Bet v 1), sementara Cyclophilin dan isoflavonoid reduktase dianggap sebagai antigen yang bereaksi silang dengan sayuran pemicu lainnya. Gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi seperti demam, dermatitis, asma dan, dalam kasus yang parah dapat menimbukan syok anafilaksis.
Vitamin A dosis tinggi dalam makanan dan larutan berminyak dapat ditoleransi dengan baik, sedangkan sediaan yang diemulsi memiliki potensi yang merusak (toksisitas) lebih tinggi. Keracunan Vitamin A dapat terjadi akibat pemberian vitamin A topikal atau oral dalam jumlah besar dalam waktu singkat, maupun karena konsumsi oral dalam durasi yang lebih lama.
Kasus keracunan Vitamin A akibat mengkonsumsi sayuran yang kaya beta karoten seperti wortel dan labu kuning tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Suplementasi selama empat tahun dengan dosis 20 hingga 30 mg -karoten setiap hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru dan penyakit kardiovaskular[7].
Seseorang yang keracunan Vitamin A dapat menunjukkan gejala edema tungkai, cheilitis, kulit kering, dan sakit kepala. Dalam jangka panjang gejala tersebut akan memburuk hingga menimbulkan cidera hati sekunder yang tidak dapat kembali normal bahkan ketika asupan Vitamin A dihentikan[8].
Hingga saat ini wortel masih menjadi pilihan pertama untuk perkenalan makanan padat pertama (MPASI) bagi bayi. Sebaiknya pemberian wortel pada bayi dibatasi untuk dosis kecil dengan diselingi makanan lainnya. Bayi selain rentan terkena alergi dan Karotenemia, pemberian wortel terlalu dini pada bayi juga dapat menimbulkan Blue Baby Syndrome (syndrome bayi biru) yang diakibatkan oleh pengendapan nitrat pada tubuh bayi[9].
Kelebihan nitrat pada aliran darah menyebabkan hemoglobin teroksidasi dan berubah menjadi methemoglobin yang bersifat menahan oksigen yang seharusnya diserap oleh jaringan[10]. Kekurangan oksigen pada aliran darah menyebabkan kondisi yang serius pada bayi ditandai dengan kulit biru (sianosis), gangguan pernapasan, kejang, koma, henti jantung, hingga kematian[7].
Beberpa penelitian benar menyebut bahwa kandungan beta karoten dalam wprtel dapat melindungi kita dari penyakit kanker. Namun hal itu berbanding terbalik bagi para perokok aktif. Beta karoten yang terpapar tembakau ternyata dapat bertindak sebagai kokarsinogen[11]. Kokarsinogen merupakan senyawa yang tidak menyebabkan kanker tetapi dapat merangsang kerja karsinogenetik dari suatu karsinogen.
Interaksi kedua zat tersebut meningkatkan risiko beberapa neoplasma pada perokok seperti kanker atau lesi prakanke. Selain pada perokok, kondisi serupa juga ditemukan pada orang-orang yang mengkonsumsi alkohol. Alcohol dapat meningkatkan efek merusak dari beta karoten dan melipatgnadakan resiko adonema[12], yaitu tumor yang terbentuk di jaringan epitel dan melapisi kelenjar di tubuh. Jenis tumor ini paling sering terjadi polip di usus besar.
Konsumsi wortel dan obat-obatan tertentu dalam waktu bersamaan dapat menyebabkan efek obat-obatatan tersebut terganggu, mengurangi efektifitas obat, meningkatkan potensinya, bahkan dpat mengubah fungsi dari obat itu sendiri. Beberapa obat-obatan seperti statin, obat penurun kolesterol, Orlistat (Xenical, Alli) dan minyak mineral sebaik dihindari setelah atau sebelum anda memakan wortel maupun sayuran yang mengandung beta karoten tinggi lainnya[13].
Jumlah Takaran Aman Konsumsi Wortel
Untuk menghindari efek samping wortel, perlu dipahami berapa takara aman yang dapat kita konsumsi setipa harinya. Konsusmi 200gr wortel rebus setiap hari selama dua minggu terbukti aman bagi orang dengan kondisi Kesehatan normal. Merebus wortel sebelum dikonsumsi terbukti mengaktifkan kandungan all-trans-β-karoten, yang merupakan provitamin paling aktif[14]. Berikut beberapa tips agar mendapatkan manfaat wortel secara maksimal[9]:
[1] da Silva Dias, J. researchgate.net. Nutritional and Health Benefits of Carrots and Their Seed Extracts. 2014.
[2] Anonim. webmd.com. Carrot. 2020.
[3] Edigin E, Asemota IR, Olisa E, Nwaichi C. cureus. Carotenemia: A Case Report. 2019.
[4] Maharshak N, Shapiro J, Trau H. Carotenoderma--a review of the current literature. Int J Dermatol. 2003.
[5] Helbling A, Lopez M, Schwartz HJ, Lehrer SB. Reactivity of carrot-specific IgE antibodies with celery, apiaceous spices, and birch pollen. Ann Allergy 1993
[6] M. Schiappoli, G. Senna, A. Dama, P. Bonadonna, M. Crivellaro and G. Passalacquaa. Anaphylaxis due to carrot as hidden food allergen. Allergol et Immunopathol. 2002.
[7] Rune Blomhoff. Vitamin A and carotenoid toxicity. Food and Nutrition Bulletin. The United Nations University. 2001.
[8] Kazuki Nagai, Hiroo Hosaka, Shuichi Kubo, Takeshi Nakabayashi, Yasuhiro Amagasaki, Noriko Nakamura. Vitamin A toxicity secondary to excessive intake of yellow-green vegetables, liver and laver. Journal of Hepatology. 1999.
[9] Mike Patrick, MD.nationwidechildrens.Homemade Baby Food: The Danger of Nitrates. 2014.
[10] Mielech A, Puścion-Jakubik A, Socha K. Assessment of the Risk of Contamination of Food for Infants and Toddlers. Nutrients. 2021
[11] Paolini M, Abdel-Rahman SZ, Sapone A, Pedulli GF, Perocco P, Cantelli-Forti G, et al. Beta-carotene: a cancer chemopreventive agent or a co-carcinogen?. Mutation Research Journal. 2003
[12] Baron JA, Cole BF, Mott L, Haile R, Grau M, Church TR, et al. Neoplastic and antineoplastic effects of beta-carotene on colorectal adenoma recurrence: results of a randomized trial. Journal of the National Cancer Institute. 2003.
[13] Tim Newman. medicalnewstoday. All you need to know about beta carotene. 2017
[14] Stracke BA, Rüfer CE, Bub A, Briviba K, Seifert S, Kunz C, Watzl B. Bioavailability and nutritional effects of carotenoids from organically and conventionally produced carrots in healthy men. British Journal of Nutrition. 2009.