Penyakit & Kelainan

Hipotermia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Hipotermia?

Hipotermia merupakan sebuah kondisi penurunan suhu tubuh secara drastis sampai pada 35 derajat Celsius [1,2,3,5,10,12].

Jika suhu tubuh normal manusia adalah 37 derajat Celsius, maka ketika suhu tubuh dapat turun secara ekstrem hingga 35 derajat Celsius ke bawah, hal ini sudah tergolong sebagai hipotermia.

Ketika hipotermia dialami seseorang, sistem saraf, jantung dan organ vital lainnya tak dapat bekerja seperti seharusnya.

Bila dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan, akibatnya organ penting tubuh kehilangan fungsinya dan memicu kematian.

Tinjauan
Hipotermia adalah sebuah kondisi ketika suhu tubuh menurun hingga berada pada 35 derajat Celsius atau kurang dari itu.

Fakta Tentang Hipotermia

  1. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya terdapat 700-1.500 orang pasien hipotermia yang tertera pada sertifikat kematian mereka [1].
  2. Risiko hipotermia pada orang dewasa lebih tinggi pada rentang usia 30-49 tahun [1].
  3. Pria memiliki risiko 10 kali lebih tinggi mengalami hipotermia daripada wanita walaupun prevalensi spesifik kasus ini secara global tidak diketahui [1].
  4. Di Indonesia, kasus hipotermia kerap dijumpai pada pendaki gunung dan dari tahun 2013-2015 diketahui terdapat kurang lebih 18 orang pendaki gunung meninggal akibat hipotermia; jumlah ini terus meningkat di tahun-tahun berikutnya [2].
  5. Hipotermia menjadi salah satu faktor paling utama mortalitas dan morbiditas dalam 28 hari pertama kehidupan bayi; kasus ini pun terdapat di Indonesia [3].
  6. Prevalensi global kasus hipotermia pada bayi baru lahir adalah 32-85% di mana risiko jauh lebih tinggi pada bayi yang tinggal di negara berkembang [3].

Penyebab Hipotermia

Terjadinya hipotermia adalah saat panas yang tubuh hasilkan tak sebanyak panas yang sudah menguap atau hilang.

Hal ini kemudian menyebabkan panas tubuh menghilang sangat banyak dan hipotermia pun terjadi.

Berikut ini adalah sejumlah faktor yang mampu menjadi penyebab awal hipotermia dialami [1,4,5].

  • Mengenakan pakaian basah terlalu lama.
  • Berada di dalam air terlalu lama (biasanya akibat kecelakaan kapal atau tenggelam).
  • Mengenakan pakaian tipis di tengah cuaca dingin.
  • Tinggal di sebuah rumah yang sangat dingin, baik itu karena penggunaan AC yang terlalu dingin atau tidak adanya penghangat yang berfungsi dengan benar, khususnya di kala musim dingin.
  • Berada di tempat dingin terlalu lama.

Tubuh kehilangan panasnya ketika beberapa hal ini terjadi [1] :

  • Angin dingin mengenai tubuh dalam waktu yang lama sehingga mengikis udara hangat yang ada pada permukaan kulit.
  • Kontak langsung dengan lantai yang dingin atau air yang sangat dingin. Oleh sebab itu, mengenakan pakaian basah dalam waktu lama maupun tenggelam (berada di dalam air sangat lama) dapat memicu hipotermia.
  • Pancaran panas dari permukaan tubuh sendiri yang tak memperoleh perlindungan sehingga akan lebih mudah untuk hilang.

Faktor Risiko Hipotermia

Di bawah ini adalah sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko seseorang lebih mudah mengalami hipotermia :

  • Usia Tua

Semakin usia bertambah, kemampuan tubuh dalam mengatur suhu tubuh berkurang [1,6].

Hal ini paling berpengaruh pada lansia di mana tubuh lebih mudah merasa kedinginan ketika sekalipun berada di tempat yang tergolong hangat.

  • Usia Terlalu Muda

Usia anak-anak, khususnya balita, dapat kehilangan panas tubuh lebih mudah daripada orang dewasa [1,2,3].

Bahkan ketika terpapar udara dingin, anak-anak biasanya tidak terlalu peduli dan menyadarinya.

  • Kelelahan

Faktor tubuh yang sangat lelah akan sulit menoleransi cuaca atau suhu dingin [7].

Gangguan mental tertentu juga dapat menjadi faktor yang menyebabkan seseorang lebih mudah terkena hipotermia [1,8].

Hal ini dapat terjadi misalnya karena penderita tidak mengenakan pakaian sesuai musim dan cuaca saat bepergian.

  • Penderita Demensia

Penderita demensia kemungkinan keluar rumah tanpa sadar dan tanpa mengenakan pakaian yang tepat, terutama di musim dingin [9].

Jika hal ini terjadi mampu memicu hipotermia apabila tak segera pulang dan mendapatkan udara hangat.

  • Obat Tertentu

Beberapa jenis obat seperti sedatif, antipsikotik, dan antidepresan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengatur suhu tubuh [10].

  • Kondisi Medis Tertentu

Hipotiroidisme, cedera pada tulang belakang, penyakit Parkinson, penyakit stroke, diabetes, anoreksia nervosa, dan nutrisi buruk adalah sejumlah kondisi medis yang dapat berakibat pada timbulnya kondisi hipotermia [1,11].

  • Penggunaan Alkohol dan Narkoba

Pembuluh darah dapat menyempit ketika mengonsumsi alkohol sehingga hilangnya panas tubuh terjadi dengan cepat dari permukaan kulit [1,5].

Hal ini juga dapat terjadi saat menggunakan obat-obatan terlarang.

Tinjauan
Terpapar dingin dalam waktu lama tanpa mengenakan pakaian tebal, mengenakan pakaian basah dalam waktu lama, berada di dalam air terlalu lama, dan penggunaan AC di dalam ruangan yang terlalu dingin mampu menjadi sebab hipotermia terjadi.

Gejala Hipotermia

Ketika suhu tubuh menurun drastis, maka tanda utama yang terjadi adalah menggigil.

Selain menggigil, berikut ini adalah gejala hipotermia yang perlu segera mendapatkan pertolongan [1,5] :

  • Denyut nadi melemah
  • Nafas lambat dan tersendat
  • Kehilangan ingatan
  • Kebingungan atau linglung
  • Sulit bicara atau bicara menjadi tidak jelas
  • Tubuh kaku dan sulit digerakkan
  • Kulit memucat dan saat disentuh akan terasa sangat dingin
  • Tubuh mati rasa
  • Pada bayi, kulit akan berubah menjadi merah dan sangat dingin saat disentuh (hal ini juga disertai dengan tubuh lemas, lebih banyak diam dan enggan menyusu)
  • Kehilangan kesadaran

Penderita hipotermia sendiri seringkali tidak menyadari bahwa mereka tengah mengalami hipotermia.

Gejala timbul satu demi satu secara perlahan sehingga sulit untuk mendeteksi hipotermia dari awal.

Namun ketika penderita sudah mulai bicara tak jelas dan linglung, sebaiknya segera bawa ke dokter atau panggil bantuan medis.

Tinjauan
Denyut nadi melemah, nafas lambat, hilang ingatan, linglung, sulit bicara, tubuh kaku, tubuh mati rasa, kulit pucat, hingga kehilangan kesadaran adalah gejala-gejala utama hipotermia yang perlu segera mendapatkan pertolongan darurat.

Pemeriksaan Hipotermia

Ketika gejala yang terjadi diperiksakan ke dokter, beberapa metode pemeriksaan ini diterapkan oleh dokter untuk memastikan kondisi hipotermia :

  • Pemeriksaan Fisik : Diagnosa hipotermia biasanya didasarkan pada gejala fisik yang terlihat dan telah dicek pada tubuh pasien [1,5].
  • Tes Darah : Tes ini adalah tes penunjang yang membantu dokter dalam mengonfirmasi bahwa pasien benar mengalami hipotermia. Melalui tes darah, dokter juga akan tahu tingkat keparahan kondisi pasien [1,12].

Bila gejala tergolong ringan, diagnosa akan sulit dilakukan, terutama pada lansia yang mengalami gangguan bicara, gangguan koordinasi tubuh dan linglung meski berada di dalam rumah terus-menerus.

Penanganan Hipotermia

Penanganan hipotermia terbagi menjadi dua metode, pemberian pertolongan pertama dan juga pemberian pertolongan medis.

Pertolongan Pertama Hipotermia

Bila mendapati seseorang mengalami gejala hipotermia, sebelum bantuan medis datang, pertolongan pertama berikut ini bisa coba dilakukan [1,5,13] :

  • Hindari memberikan pijatan atau menggosok-gosok tubuh orang tersebut karena mampu berakibat pada serangan atau henti jantung.
  • Pindahkan orang tersebut ke tempat yang kering dan hangat, lalu berikan pakaian atau selimut untuk menghangatkannya.
  • Baringkan orang tersebut di permukaan yang tidak dingin (baringkan telentang dan jangan pada posisi lainnya).
  • Bantu lepas pakaian yang basah atau setidaknya potong beberapa bagian pakaian agar menghindari hilangnya panas tubuh lebih cepat.
  • Berikan minuman hangat jika ada, pastikan minuman tersebut mudah ditelan dan manis, namun tidak mengandung kafein ataupun alkohol.
  • Pantau pernapasannya karena penderita hipotermia yang sudah pada tahap parah, pernapasan dan denyut nadinya akan melambat. Sesak napas kemungkinan bisa terjadi dan bila memiliki pengalaman memberikan CPR, segera terapkan.
  • Hindari memberikan bantalan pemanas, lampu pemanas, apalagi air panas secara langsung ke tubuh penderita karena dapat berakibat pada luka bakar hingga henti jantung.

Pengobatan Medis Hipotermia

Ketika bantuan medis telah datang dan penderita gejala hipotermia dibawa ke rumah sakit, maka perawatan medis yang umumnya diberikan antara lain [1,5,12,14] :

  • Selimut dan cairan hangat untuk pasien minum (khusus untuk pasien dengan gejala hipotermia ringan).
  • Cairan infus yang telah dihangatkan.
  • Oksigen yang sudah melalui proses pelembaban dan akan diberikan melalui selang hidung atau masker. Tujuan pemberian oksigen ini adalah untuk membantu saluran napas agar lebih hangat dan suhu tubuh meningkat.
  • Cairan steril yang juga telah dihangatkan untuk kemudian dokter masukkan melalui selang khusus ke rongga perut pasien.
  • Prosedur pengambilan darah dan menghangatkannya sebelum dialirkan lagi ke dalam tubuh melalui mesin cuci darah.
Tinjauan
Hipotermia dapat ditangani dengan pemberian selimut, pakaian kering dan tebal, cairan infus, tambahan oksigen, cairan steril hangat, dan cuci darah.

Komplikasi Hipotermia

Ketika seseorang mengalami hipotermia, terutama yang disebabkan oleh cuaca dingin atau air dingin, pembekuan jaringan tubuh dapat terjadi.

Selain itu, gangren (kerusakan jaringan tubuh) dan kematian adalah komplikasi fatal yang berpotensi besar terjadi ketika hipotermia tak segera mendapatkan pertolongan yang tepat [1,2,3,5,15].

Pencegahan Hipotermia

Hipotermia dapat dicegah melalui sejumlah upaya berikut ini [1,13] :

  • Kenakan pakaian tebal dan berlapis terutama saat cuaca dingin dan harus bepergian.
  • Kenakan syal, topi ataupun aksesoris lainnya yang mampu melindungi area leher, wajah dan kepala dari paparan cuaca dingin.
  • Kenakan sarung tangan tebal untuk bagian tangan dan juga kaos kaki untuk melindungi bagian-bagian tubuh tersebut dari paparan udara dingin.
  • Hindari aktivitas yang menyebabkan keringat keluar berlebihan karena kombinasi udara dingin dan pakaian yang basah dapat menyebabkan tubuh kehilangan panasnya sangat cepat.
  • Pastikan untuk tubuh berada dalam kondisi kering; jika pakaian basah oleh keringat atau kena air, segera ganti dengan pakaian bersih dan kering.
  • Hindari konsumsi alkohol ketika hendak bepergian atau beraktivitas di luar ruangan di cuaca dingin, hendak tidur di malam yang dingin, atau ketika hendak berperahu.
  • Selalu sedia pakaian hangat, selimut, lilin, korek api, dan makanan ketika harus menempuh perjalanan jauh di cuaca dingin.
  • Saat hendak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air, pastikan mengenakan jaket pelampung.
  • Saat berada di dalam air karena ketidaksengajaan atau kecelakaan, pastikan untuk tidak mencoba berenang kecuali peluang selamat besar karena berenang membutuhkan banyak tenaga yang tentunya akan memicu hilangnya panas tubuh lebih cepat.
  • Saat tenggelam, coba untuk tetap tenang dan cari obyek terdekat yang dapat dijadikan pegangan.
  • Hindari melepas pakaian saat berada di dalam air.
  • Jika tenggelam bersama dengan orang lain, berpelukan akan menjadi cara agar tetap hangat sampai bantuan datang.

Untuk perlindungan anak-anak agar tidak mudah kedinginan yang berakibat pada hipotermia, para orang tua sebaiknya melakukan beberapa hal berikut :

  • Pakaikan anak pakaian yang tebal dan nyaman selama cuaca dingin.
  • Jangan biarkan bayi tidur di ruangan yang dingin, apalagi tanpa perlindungan.
  • Pastikan untuk menyuruh anak-anak masuk ke dalam rumah menghangatkan diri usai beberapa waktu bermain di luar saat cuaca dingin.
  • Segera bawa anak masuk ke dalam rumah ketika ia menggigil ketika beraktivitas di luar.
Tinjauan
Menghindari cuaca dingin atau aktivitas di luar ruangan selama cuaca dingin adalah salah satu upaya pencegahan hipotermia. Namun, mengenakan pakaian tebal dan perlindungan diri lengkap untuk aktivitas tertentu di wilayah dingin juga sangat dianjurkan.

1. Hieu Duong & Gaurav Patel. Hypothermia. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Fajar Pandhu Bawono. Pengetahuan Pendaki Gunung Tentang Pertolongan Pertama pada Hipotermi di Wana Wisata Cemoro Sewu, Gunung Lawu, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Repository Muhammadiyah University of Ponorogo; 2017.
3. Parti, Sumiati Malik & Nurhayati. Pengaruh Perawatan Metode Kanguru (PMK) terhadap Pencegahan Hipotermi pada Bayi Baru Lahir. Jurnal Bidan Cerdas; 2020.
4. Andrew A Udy, Marc D Ziegenfuss, & John F Fraser. Deep accidental hypothermia during the Queensland summer. Critical Care Resuscitation; 2007.
5. Ionut Isaia Jeican. The pathophysiological mechanisms of the onset of death through accidental hypothermia and the presentation of “The little match girl” case. Clujul Medical; 2014.
6. S M Horvath & R D Rochelle. Hypothermia in the aged. Environmental Health Perspectives; 1977.
7. A J Young, J W Castellani, C O'Brien, R L Shippee, P Tikuisis, L G Meyer, L A Blanchard, J E Kain, B S Cadarette, & M N Sawka. Exertional fatigue, sleep loss, and negative energy balance increase susceptibility to hypothermia. Journal of Applied Physiology; 1985.
8. D M Young. Risk factors for hypothermia in psychiatric patients. Annals of Clinical Psychiatry; 1996.
9. Mak Adam Daulatzai. Conversion of elderly to Alzheimer's dementia: role of confluence of hypothermia and senescent stigmata--the plausible pathway. Journal of Alzheimer Disease; 2010.
10. Cherryl Zonnenberg, Jolien M. Bueno-de-Mesquita, Dharmindredew Ramlal, & Jan Dirk Blom. Hypothermia due to Antipsychotic Medication: A Systematic Review. Frontiers in Psychiatry; 2017.
11. Hiroshi Kataoka, Nobuyuki Eura, Takao Kiriyama, Yuto Uchihara, & Kazuma Sugie. Accidental hypothermia in Parkinson’s disease. Oxford Medical Case Reports; 2018.
12. Kees H Polderman. Hypothermia and coagulation. Critical Care; 2012.
13. Anonim. First Aid for Overexposure to the Cold - Frostbite and Hypothermia Treatment. St John Ambulance Australia; 2020.
14. Yahya Ayhan Acar, Banu Karakuş Yılmaz, Duygu Sultan Çelik, Erdem Çevik, Hatice Topçu, Şule Özsoy, Aylin Haklıgör, & Orhan Çınar. Transpulmonary Hypothermia with Cooled Oxygen Inhalation Shows Promising Results as a Novel Hypothermia Technique. Balkan Medical Journal; 2017.
15. Jay Biem, Niels Koehncke, Dale Classen, & James Dosman. Out of the cold: management of hypothermia and frostbite. Canadian Medical Association Journal; 2003.

Share