Penyakit & Kelainan

Penyebab Bintik Putih Bernanah Pada Bayi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Saat lahir, kondisi kulit bayi sangat tipis dan sensitif. Hal inilah yang membuat kulitnya rentan terkena iritasi atau gangguan kulit lainnya. Peran orang tua dalam memperhatikan kondisi bayi saat lahir juga penting. Kenali sejumlah tanda normal dan tidaknya kondisi kulit bayi.

Hal tersebut dilakukan untuk mendeteksi sejak dini gangguan yang dialami bayi. Seringkali, sejumlah gangguan kesehatan muncul ketika bayi baru lahir. Salah satunya yaitu, munculnya bintik putih yang mengeluarkan nanah. Tentunya, masalah kulit tersebut disebabkan oleh berbagai faktor [1,2].

Adapun berikut di bawah ini sejumlah faktor yang dapat menjadi penyebab munculnya bintik putih bernanah pada bayi :

Biang Keringat atau Milia

Biang keringat merupakan penyebab paling umum munculnya bintik putih pada bayi. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut juga sebagai milia.

Kondisi ini berupa bintik kecil berwarna yang muncul saat lahir. Bintik tersebut dapat terjadi ketika terdapat serpihan kulit atau keratin terjebak di lapisan bawah permukaan kulit [1,2].

Milia biasanya muncul di sekitar wajah dan bagian tubuh atas bayi, seperti pipi, dagu, belakang telinga, kulit kepala, hingga dada. Kondisi ini normal terjadi pada bayi dan akan menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu beberapa minggu.

Meskipun milia tidak membahayakan, namun bintik ini harus tetap diwaspadai. Hal tersebut dikarenakan milia dapat berpotensi menjadi iritasi dan bernanah.

Untuk itu, gunakan pakaian dan sprei berbahan lembut pada bayi agar tidak terjadi gesekan [2,3].

Reaksi Alergi

Bintik putih bernanah bayi dapat disebabkan oleh reaksi alergi. Reaksi tersebut disebabkan oleh pemicu alergi atau yang disebut dengan alergen, seperti debu, serbuk sari, makanan, susu formula, jamur, dan lain sebagainya.

Untuk itu, kenali pemicu alerginya dan segera atasi kondisi tersebut. Alergi pada bayi ditandai dengan gejala yang berbeda-beda tergantung jenis alergi yang dialami.

Salah satu gejala yang dapat muncul yaitu bintik putih bernanah pada bayi [2,3].

Infeksi

Selain biang keringat, infeksi juga dapat menjadi penyebab bintik putih bernanah pada bayi. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau mikroorganisme lainnya [2,3].

Berbagai infeksi tersebut rawan menyerang bayi dikarenakan kondisi kulitnya yang lembab. Berikut ini beberapa jenis infeksi yang dapat memicu bintik-bintik tersebut :

  1. Infeksi Bakteri

Infeksi bakteri seringkali dialami oleh bayi yang baru lahir. Munculnya bintik-bintik putih bernanah tersebut dikarenakan terinfeksi berbagai bakteri.

Salah satunya ialah Staphylococcus, bakteri gram positif yang bersifat patogenik. Bakteri ini tersebar di kulit, saluran pencernaan dan pernapasan sekitar 40 hingga 50 persen.

Staphylococcus aures merupakan spesies dari genus ini yang paling sering menyebabkan berbagai infeksi kulit, seperti, impetigo, bisul, dan Staphylococcal scaided skin syndrome. Sejumlah infeksi kulit diatas dapat menyerang bayi dan mengakibatkan beberapa gejala.

Salah satunya adalah benjolan atau bintik yang mengeluarkan nanah. Jenis bakteri lainnya, seperti Listeria monocytogenes dan Treponema pallidum juga dapat mengakibatkan bintik putih bernanah pada bayi [2,3].

  1. Infeksi Virus

Infeksi virus pada bayi dapat terjadi dikarenakan kekebalan tubuhnya yang belum kuat. Salah satu infeksi virus yang dapat menyerang bayi ialah herpes.

Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh ibu yang mengandung ataupun 4 minggu pertama ketika bayi lahir. Selain herpes, infeksi virus lainnya, seperti flu singapura dan cacar juga dapat menginfeksi bayi [2,3].

  1. Infeksi Parasit

Infeksi parasit disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Infeksi yang sering dikenal sebagai kudis ini dapat muncul di beberapa bagian tubuh bayi, seperti area lipatan tangan, pinggang, telapak tangan dan kaki.

Penularan tungau tersebut dapat melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Kudis juga dapat terjadi dikarenakan sprei yang jarang diganti [1,3].

Setelah masa inkubasi selama kurang lebih 3 minggu, gejala kudis akan mulai muncul. Gejala tersebut seperti ruam dan gatal. Tak hanya itu, bintik-bintik putih juga akan muncul di kulit bayi.

Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan bertambah parah. Untuk itu, segera atasi kondisi tersebut dengan melakukan konsultasi ke dokter. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat [2,3].

Kapan Harus Mengunjungi Dokter?

Munculnya bintik putih bernanah pada bayi merupakan kondisi yang tidak wajar dan patut diwaspadai. Segera lakukan penanganan agar kondisi tersebut tidak bertambah parah.

Penanganan tersebut dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Penanganan yang dilakukan ini berbeda-beda tergantung penyakit yang dialami dan kondisi kulit bayi.

Untuk itu, ketahui dahulu penyebab munculnya bintik-bintik tersebut pada kulit bayi. Segera konsultasikan dengan dokter apabila kondisi bayi tidak kunjung membaik [2,4].

Adapun beberapa tanda yang umumnya terjadi pada bayi yang harus diwaspadai, yaitu:

  • Demam tinggi, lebih dari 38 derajat.
  • Lebih sering rewel.
  • Bintik-bintik nanah semakin banyak dan menyebar.

Apabila muncul gejala-gejala diatas, segera kunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dokter akan mendiagnosis tingkat keparahan gangguan yang dialami dan penyebabnya.

Dengan begitu, dokter akan lebih mudah dalam menentukan pengobatan yang tepat. Dokter juga akan meresepkan salep untuk meredakan bintik-bintik tersebut sehingga kondisi bayi dapat berangsur membaik [3,4].

1. Annalisa Patrizi. Frequent newborn skin diseases. 3(3-4):82. Clinical Dermatology; 2016.
2. Flávia Pereira Reginatto, Damie De Villa, Tania Ferreira Cestari. Benign skin disease with pustules in the newborn. 91(2): 124–134. An Bras Dermatol; 2016.
3. Jessica Chen, Dr Anes Yang. Blisters and pustules in neonates. DermNet NZ; 2019.
4. Juliana Dumêt Fernandes, Maria Cecília Rivitti Machado, Zilda Najjar Prado de Oliveira. Children and newborn skin care and prevention. 86(1):102-10. An Bras Dermatol.; 2011.

Share