Penyakit & Kelainan

Post-Traumatic Stress Disorder : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Post-Traumatic Stress Disorder?

Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD merupakan suatu kondisi stres pasca trauma di mana hal ini berdampak pada kesehatan mental seseorang [1,2,5,6,7,10] .

Kondisi mental seseorang tidak lagi sama usai mengalami atau bahkan menjadi saksi dari suatu peristiwa yang buruk.

Meski sang penderita akan teringat pada peristiwa-peristiwa traumatis pada gangguan mental dan kecemasan ini, tak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti memiliki kondisi PTSD.

Tinjauan
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah kondisi mental seseorang yang terganggu karena mengalami kejadian traumatis.

Fakta Tentang Post-Traumatic Stress Disorder

  1. Prevalensi populasi orang dewasa yang mengalami PTSD pada satu waktu kurang lebih adalah 3%, sedangkan prevalensi PTSD seumur hidup adalah antara 1,9-8,8% [1].
  2. Pada kasus pelecehan seksual, prevalensi PTSD dapat mencapai 50% lebih [1].
  3. Prevalensi PTSD ditemukan jauh lebih tinggi pada wanita (10-12%) dibandingkan pria (5-6%) [2].
  4. PTSD dapat terjadi pada anak-anak hingga lansia sekalipun, namun risiko lebih besar PTSD dialami oleh orang-orang usia dewasa muda, terutama yang tingkat sosial dan ekonominya rendah, dikucilkan oleh lingkungan,  mengalami perceraian, menjadi janda, serta belum memiliki pasangan [2].
  5. Peristiwa traumatis yang umumnya mampu menjadikan seorang wanita menderita PTSD adalah pelecehan seksual, sedangkan pada pria adalah kekerasan fisik atau mental [2].
  6. Menurut hasil penelitian di RSUP Sanglah terhadap 10 orang pasien kecelakaan lalu lintas pada Desember 2013 hingga Januari 2014, terdapat 4 orang (1 orang pria dan 4 orang wanita) yang menderita PTSD [2].
  7. Menurut sebuah hasil penelitian berdasarkan instrumen Downs Posttraumatic Stress Scale terhadap para korban bencana alam di Indonesia yang melibatkan 374 partisipan dari Sumatra Barat dan 859 partisipan dari Jawa Barat (terdiri dari anak-anak dan remaja) menunjukkan bahwa prevalensi PTSD adalah 19,9% atau sekitar 171 partisipan [3].
  8. Menurut sebuah hasil penelitian terhadap 300 pelajar dari enam SMUN di Denpasar, terdapat 20% atau sekitar 60 orang yang diduga kuat mengalami PTSD dengan faktor risiko berkepribadian tertutup, trauma tunggal, serta dukungan sosial dan keluarga [4].

Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder

Seperti telah disebutkan sepintas, seseorang yang melalui masa-masa kurang mengenakkan atau bahkan menyaksikan suatu peristiwa yang buruk berisiko memiliki PTSD.

Beberapa faktor yang mampu menjadi penyebab tunggal atau kombinasi dari sebuah kondisi PTSD [1,4,6,7,8,9] :

  • Gangguan kesehatan mental yang diturunkan dari orang tua atau sanak keluarga; seseorang dengan anggota keluarga yang pernah memiliki gangguan kecemasan atau depresi akan memiliki risiko lebih besar dalam memiliki kondisi PTSD.
  • Watak atau kepribadian temperamental atau kepribadian tertutup.
  • Pengalaman yang sangat menekan dan memicu stres berkepanjangan; hal ini dapat terjadi karena peristiwa traumatis berat yang mungkin pernah dialami.
  • Peran otak dalam mengatur pelepasan hormon maupun zat kimia lain oleh tubuh dalam mengatasi stres.

Faktor Risiko Post-Traumatic Stress Disorder

PTSD adalah kondisi mental yang dapat dialami oleh siapapun tanpa memandang usia dan berikut ini adalah sejumlah faktor yang mampu meningkatkan potensi PTSD pada seseorang [1,2,3,4,5,6,7] :

  • Kekerasan fisik.
  • Perundungan atau pernah/sering dibully.
  • Kecelakaan
  • Penculikan hingga pelecehan seksual.
  • Bencana alam.
  • Kebakaran
  • Penggunaan alkohol atau narkoba secara berlebihan.
  • Depresi atau gangguan kecemasan.
  • Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman-teman.
  • Menempuh prosedur medis tertentu, seperti halnya menjalani operasi.
  • Mengidap penyakit serius yang mengancam jiwa.
  • Perang
  • Perampokan atau serangan teroris.
Tinjauan
Penyebab PTSD pada umumnya meliputi kepribadian bawaan (tertutup atau temperamental), riwayat gangguan kesehatan mental pada anggota keluarga, gangguan fungsi otak, serta pengalaman buruk/traumatis.

Gejala Post-Traumatic Stress Disorder

Pada umumnya, gejala-gejala PTSD akan timbul sekitar sebulan setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis.

Beberapa gejala dapat menjadi masalah yang cukup berpengaruh pada kehidupan sosial dan pekerjaan sehari-hari.

Gejala PTSD terbagi menjadi beberapa jenis kondisi, yaitu sebagai berikut :

1. Penghindaran

Orang-orang dengan kondisi PTSD umumnya akan menghindari topik atau hal-hal yang mengingatkan mereka terhadap peristiwa traumatis yang pernah dialami atau disaksikan [1,5,6,7].

Penderita akan menghindari aktivitas, tempat-tempat, hingga orang-orang yang mengingatkannya pada peristiwa tak mengenakkan yang ia alami atau saksikan.

Penderita juga akan menghindari berpikir serta erbicara tentang peristiwa tersebut agar mereka tidak lagi teringat akan hal itu.

2. Memori atau Ingatan yang Mengganggu

Penderita biasanya juga mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan ingatan/memori mengganggu, seperti [1,5,6,7] :

  • Flashback (ingatan kembali pada masa atau peristiwa traumatis di mana hal ini seperti tengah terjadi lagi di dalam hidupnya).
  • Mimpi buruk yang terus-menerus dialami terkait dengan kejadian traumatis yang ia ingin hindari.
  • Reaksi stres fisik dan emosional yang cukup serius terhadap suatu hal sehingga memicu ingatan penderita kembali pada peristiwa yang tidak mengenakkan.
  • Ingatan mengenai peristiwa traumatis terjadi berulang bahkan tanpa sengaja atau disadari penderita.

3. Perubahan Reaksi Emosi dan Fisik

Reaksi fisik dan emosional penderita PTSD akan sangat nampak perubahannya, seperti misalnya [1,5,6,7] :

  • Mengalami gangguan tidur.
  • Melakukan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri, seperti misalnya minum minuman keras berlebihan.
  • Mudah merasa takut dan panik.
  • Selalu dalam keadaan waspada.
  • Kesulitan dalam konsentrasi.
  • Memiliki rasa malu dan rasa bersalah yang cenderung berlebihan.
  • Mudah marah yang terkadang disertai dengan perilaku agresif.

4. Perubahan Suasana Hati dan Cara Berpikir ke Arah Negatif

Selain reaksi fisik dan emosional yang berubah, penderita PTSD akan menunjukkan cara pikir serta suasana hati yang berubah menjadi terlalu negatif seperti [1,5,6,7] :

  • Tidak memiliki harapan untuk masa depannya.
  • Memiliki persepsi negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Sulit dalam menjaga hubungan baik dengan orang lain.
  • Kehilangan sebagian ingatan, terutama yang berkaitan dengan peristiwa traumatis yang pernah dialami atau disaksikan.
  • Secara emosional telah mati rasa.
  • Sulit dalam mengalami atau merasakan emosi positif.
  • Tidak tertarik lagi dengan berbagai aktivitas yang sebelumnya sangat dinikmati.
  • Menarik diri dan menjaga jarak dari keluarga maupun teman-teman dekat.

Gejala PTSD pada Anak

Untuk anak-anak yang bahkan berusia 6 tahun ke bawah, PTSD sangat mungkin dialami oleh mereka dengan gejala yang tak jauh berbeda dari apa yang dialami orang dewasa [6].

Anak-anak akan mudah bermimpi buruk terkait peristiwa traumatis yang pernah ia alami atau saksikan.

Jika orang dewasa di sekitarnya cukup jeli dan peka, anak-anak dengan PTSD pada usia tersebut juga akan lebih sering memeragakan ulang peristiwa traumatis yang ia alami atau lihat melalui aktivitas permainan yang mereka lakukan.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri?

Intensitas gejala pada masing-masing individu penderita PTSD tentu tidaklah sama.

Hanya saja, seseorang dengan pengalaman buruk yang lebih banyak berkemungkinan lebih besar memiliki gejala dengan intensitas lebih tinggi.

Jika gejala-gejala berupa perasaan, suasana hati hingga pikiran yang mengganggu sampai menghambat rutinitas selama berminggu-minggu (setidaknya sebulan), segera periksakan diri ke dokter.

Buatlah janji dan temui dokter ahli kesehatan mental, seperti psikiater atau psikolog untuk dapat membantu secara lebih tepat.

Deteksi dan penanganan dini pada kondisi PTSD mampu meminimalisir risiko memburuknya gejala.

Bagi anggota keluarga maupun teman yang mengetahui bahwa ada orang terdekat dengan gejala PTSD dan memiliki keinginan untuk bunuh diri, segera cari pertolongan.

Tinjauan
Gejala PTSD dibagi menjadi empat jenis kondisi, yaitu penghindaran dari segala yang berkaitan dengan peristiwa traumatis, perubahan suasana hati dan perilaku, perubahan reaksi fisik dan emosi, serta memori/ingatan yang terganggu.

Pemeriksaan Post-Traumatic Stress Disorder

Dalam mendiagnosa kondisi gejala pasien dan memastikan kondisi PTSD pada pasien, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan sebagai berikut :

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter perlu mengetahui apakah pasien memiliki masalah kesehatan sehingga timbul gejala yang mengarah pada PTSD.

Pemeriksaan fisik dilakukan lebih dulu oleh dokter umum dan bila tidak ditemukan adanya penyakit fisik, biasanya dokter kemudian merujukkan pasien ke dokter ahli kejiwaan secara langsung [1,5,6].

2. Evaluasi Psikologis

Dokter akan melakukan pemeriksaan ini dengan melakukan diskusi langsung bersama pasien dan memberikan sejumlah pertanyaan seputar gejala yang dialami serta peristiwa yang berpotensi membuat pasien mengalami gejala tersebut [1,5,6,7,8].

Beberapa kriteria yang digunakan dokter atau seorang psikiater dalam mendiagnosa PTSD pada pasien adalah sebagai berikut [1,2] :

  • Pernah menyaksikan suatu peristiwa traumatis yang dialami oleh orang lain.
  • Pernah mengalami peristiwa traumatis.
  • Secara tak sengaja dan tak disadari bayangan kejadian traumatis selalu muncul berulang kali.
  • Pernah mendengar anggota keluarga atau sahabat mengalami peristiwa traumatis.

Gejala yang dialami oleh pasien untuk dapat didiagnosa sebagai kondisi PTSD harus berlangsung 1 bulan atau lebih [7].

Gejala juga positif mengarah pada PTSD jika sampai aktivitas harian pasien terganggu, khususnya saat sekolah, bekerja, hingga berinteraksi sosial.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan evaluasi psikologis adalah metode diagnosa yang umumnya dokter dan/atau psikiater gunakan dalam memastikan bahwa gejala yang dikeluhkan pasien adalah PTSD.

Pengobatan Post-Traumatic Stress Disorder

Terdapat beberapa metode penanganan PTSD yang umum diberikan oleh dokter agar pasien dapat mengendalikan gejala dengan lebih baik dan mencegah gejala menghambat aktivitas sehari-hari.

Di bawah ini adalah beberapa metode pengobatan yang dimaksud dan penting untuk ditempuh oleh pasien setelah didiagnosa PTSD.

1. Psikoterapi

Psikoterapi merupakan terapi wajib yang dijalani oleh pasien PTSD.

Beberapa terapi yang tergolong psikoterapi dan mampu membantu pasien dalam mengatasi gejala-gejala yang dikeluhkan antara lain :

  • Terapi Eksposur : Terapi ini akan membantu pasien dalam menghadapi serta melawan ingatan-ingatan buruk yang berhubungan dengan peristiwa traumatis sehingga lebih kuat dan positif ketika berhadapan dengan kondisi tersebut [1,5,6,7,8,9].
  • Terapi Perilaku Kognitif : Terapi ini akan membantu pasien dalam mengenali pola pikirnya sendiri dan kemudian mengubah segala pola pikir negatif menjadi lebih positif secara berangsur [1,2,5,6].
  • EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing) :  Terapi ini adalah bentuk kombinasi antara teknik gerakan mata dan terapi eksposur yang bertujuan agar respon pasien terhadap ingatan atau bayangan peristiwa traumatis dapat berubah menjadi lebih positif [1,2,5,6].

Psikoterapi tak hanya dapat diterapkan pada pasien PTSD usia dewasa, anak-anak pun dapat diterapi menggunakan metode ini yang tentunya orang tua anak tersebut harus berkonsultasi lebih dulu dengan psikiater atau psikolog.

2. Obat-obatan

Selain psikoterapi, dokter kemungkinan akan meresepkan obat-obatan yang disesuaikan dengan gejala pasien :

  • Prazosin : Bagi pasien PTSD yang kerap bermimpi buruk, maka obat ini akan diberikan dokter sebagai pencegah gejala tersebut [1,5].
  • Anticemas : Pada pasien PTSD dengan gangguan cemas yang terjadi cukup sering, maka obat ini mampu meredakan kecemasan berlebih tersebut [10].
  • Antidepresan : Paroxetine dan sertraline adalah golongan antidepresan yang umumnya diresepkan dokter bagi pasien PTSD untuk mengatasi segala bentuk gejala depresi [1,5,6,9,10].

Pasien dapat berkonsultasi langsung dengan dokter mengenai penggunaan obat yang tepat sekaligus mendiskusikan efek samping dari obat-obat yang diresepkan.

Jika dalam beberapa minggu penggunaan obat resep tidak membantu gejala menjadi lebih baik, maka segera datang kembali dan konsultasikan dengan dokter.

3. Terapi Kombinasi

Terapi kombinasi antara obat dan psikoterapi seringkali diperlukan agar pasien dapat lebih baik secara mental maupun fisik [1,6,7,9,10].

Psikoterapi akan membantu agar pola pikir, perasaan, dan perilaku pasien menjadi lebih positif dengan menghadapi gejala dan segala ingatan mengenai peristiwa traumatis yang pernah dialami.

Psikoterapi juga akan membantu pasien dalam mengendalikan maupun mengatasi gejala ketika timbul kembali di waktu mendatang.

Sementara pemberian obat-obatan akan meredakan rasa cemas, depresi, serta mimpi buruk dan menjadikan pasien lebih tenang.

Tinjauan
Psikoterapi, obat-obatan (anticemas dan antidepresan) serta kombinasi keduanya adalah metode pengobatan yang umum diberikan pada pasien PTSD.

Komplikasi Post-Traumatic Stress Disorder

Pada beberapa pasien PTSD, beberapa bentuk komplikasi yang dapat terjadi ketika kondisi gejala memburuk atau tidak segera ditangani adalah [7] :

  • Gangguan Kecemasan : Hal ini meliputi gangguan panik sehingga di manapun penderita berada akan selalu waspada dan mudah panik. Penderita menjadi lebih sulit atau tidak mampu berada di tempat umum.
  • Depresi : Depresi berat dapat terjadi sebagai komplikasi PTSD yang dapat berujung pada bunuh diri.
  • Kecanduan Zat Tertentu : Komplikasi lain yang berpotensi terjadi adalah penderita PTSD dapat mengalami kecanduan nikotin, kafein, obat terlarang, hingga alkohol.
  • Kesehatan Fisik Menurun : Kesehatan fisik yang semakin buruk berpotensi terjadi ketika kondisi PTSD tidak kunjung diatasi atau gejala tidak menunjukkan tanda mereda.
Tinjauan
Gangguan kecemasan, kesehatan fisik yang menurun, kecanduan zat tertentu, dan depresi berat hingga timbul keinginan bunuh diri adalah beberapa komplikasi PTSD yang perlu diwaspadai.

Pencegahan Post-Traumatic Stress Disorder

Pencegahan PTSD dapat dilakukan dalam tiga cara di mana yang pertama mencegah peristiwa traumatis itu sendiri agar tidak terjadi [6].

Upaya kedua adalah mencegah perkembangan PTSD setelah terjadinya peristiwa traumatis.

Upaya ketiga adalah mencegah gejala awal PTSD yang telah timbul untuk tidak menjadi lebih buruk.

  • Pencegahan melalui Psikoedukasi

Pencegahan PTSD perlu dilakukan dengan psikoedukasi mengenai teknik relaksasi, cara mengurangi kecemasan, serta respon terhadap stres yang benar dan positif.

Psikoedukasi juga meliputi strategi bagaimana mengendalikan serta mengatasi ketegangan fisik, emosi dan pola pikir.

Dengan adanya psikoedukasi, seseorang dapat lebih baik dalam berperilaku dan mengendalikan emosi terutama di kala stres.

  • Pencegahan Secara Farmakologis

Pencegahan PTSD juga dapat dilakukan secara farmakologis yang telah terbukti ampuh efektif dalam mengatasi gejala awal setelah peristiwa traumatis dialami.

Obat alpha dan beta-blockers yang tergolong obat simpatolitik diketahui memiliki efektivitas tinggi dalam membantu pencegahan PTSD (tentunya dengan konsultasi lebih dulu dengan dokter).

Tinjauan
Pencegahan PTSD dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu psikoedukasi dan juga secara farmakologis sebelum peristiwa traumatis terjadi, setelah peristiwa traumatis, dan/atau setelah gejala awal PTSD terjadi.

1. Jonathan I Bisson, Sarah Cosgrove, Catrin Lewis & Catrin Lewis. Post-traumatic stress disorder. British Medical Journal; 2015.
2. Nurul Fatin & dr. Ni Ketut Sri Diniari, SpKJ. Post Traumatic Stress Disorder pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas. SIM DOSEN Universitas Udayana; 2016.
3. Ahmad Ali Rahmadian, Furqon ., Syamsu Yusuf L.N, Nandang Rusmana, & Louis L. Downs. Prevalensi PTSD dan Karakteristik Gejala Stres PascaTrauma pada Anak dan Remaja Korban Bencana Alam, Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pengajaran; 2016.
4. Putu Dian Savitri Irawan, Soetjiningsih Soetjiningsih, IGA Trisna Windiani, I Gst Ag Sugitha Adnyana, & IGA Endah Ardjana. Skrining Stres Pascatrauma pada Remaja dengan Menggunakan Post Traumatic Stress Disorder Reaction Index. Sari Pediatri; 2016.
5. Cynthia L. Lancaster, Jenni B. Teeters, Daniel F. Gros, Sudie E. Back, Frances Kay Lambkin, & Emma Barrett. Posttraumatic Stress Disorder: Overview of Evidence-Based Assessment and Treatment. Journal of Clinical Medicine; 2016.
6. Xue-Rong Miao, Qian-Bo Chen, Kai Wei, Kun-Ming Tao, & Zhi-Jie Lu. Posttraumatic stress disorder: from diagnosis to prevention. Military Medical Research; 2018.
7. National Collaborating Centre for Mental Health (Great Britain). Post-Traumatic Stress Disorder: The Management of PTSD in Adults and Children in Primary and Secondary Care. Leicester (UK): Gaskell; 2005.
8. Li Ning, PhD, Suzhen Guan, PhD, & Jiwen Liu, PhD. Impact of personality and social support on posttraumatic stress disorder after traffic accidents. Medicine (Baltimore); 2017.
9. Vitor Crestani Calegaro, Pedro Henrique Canova Mosele, Bianca Lorenzi Negretto, Angelo Batista Miralha da Cunha, Lucia Helena Machado Freitas, & Alexandra Kavushansky. The role of personality in posttraumatic stress disorder, trait resilience, and quality of life in people exposed to the Kiss nightclub fire. PLoS One; 2019.
10. Javier Iribarren, Paolo Prolo, Negoita Neagos, & Francesco Chiappelli. Post-Traumatic Stress Disorder: Evidence-Based Research for the Third Millennium. Hindawi; 2005.

Share