Tindakan Medis

Profil Biofisik: Fungsi – Prosedur dan Risiko

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Profil Biofisik?

Profil biofisik janin adalah tes prenatal yang digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan janin pada ibu hamil. Tes ini merangkum pemantauan detak jantung janin atau yang biasa disebut tes nonstress dan USG janin untuk menganalisis detak jantung bayi, pernapasan, gerakan, tonus otot, dan kadar cairan ketuban. Tes nonstress dan pengukuran USG lalu diberi skor atau penilaian berdasarkan terpenuhinya kriteria tertentu untuk masing-masing tes yang dilakukan[1].

Pada umumnya, profil biofisik disarankan untuk wanita hamil yang berisiko tinggi mengalami masalah yang dapat menyebabkan komplikasi atau keguguran pada masa kehamilan. [1]

Profil Biofisik ini biasanya dilakukan pada pasien setelah minggu ke 32 kehamilan, tetapi dapat juga dilakukan ketika jarak antara kehamilan dan melahirkan pada pasien masih cukup jauh untuk dipertimbangkan, biasanya setelah minggu ke 24. [1]

Skor rendah pada hasil tes profil biofisik mungkin menunjukkan bahwa pasien beserta bayi memerlukan pengujian lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, untuk melihat seberapa cepat persalinan pada pasien disarankan[1].

Fungsi Profil Biofisik

Profil biofisik digunakan untuk mengevaluasi dan memantau kesehatan janin. Profil biofisik bertujuan untuk mencegah keguguran sejak dini dan mendeteksi suplai oksigen yang rendah pada bayi (hipoksia janin) sehingga bayi dapat dilahirkan dan tidak mengalami cacat permanen[1].

Tes ini paling sering dilakukan ketika ada peningkatan risiko masalah yang dapat menyebabkan komplikasi atau keguguran. Dokter akan menentukan kebutuhan dan waktu profil biofisik berdasarkan kondisi janin pada pasien apakah dapat bertahan jika dilahirkan lebih awal, tingkat keparahan janin, kondisi pasien, serta risiko keguguran[1].

Kemungkinan penyebab dokter merekomendasikan profil biofisik yang dimodifikasi kepada pasien yaitu versi tes yang disederhanakan mencakup tes non-stres dan USG untuk menaksir cairan ketuban melalui. Hasilnya akan digunakan oleh dokter sebagai bahan pengambilan keputusan apakah pasien memerlukan profil biofisik lengkap, yang juga mengukur pernapasan, gerakan dan tonus otot bayi, atau tes lainnya[1].

Beberapa kondisi yang memungkinkan dokter kemudian merekomendasikan dilakukannya profil biofisik yaitu[1][3]:

  • Pasien mengalami kehamilan ganda yaitu janin kembar hingga kembar tiga dengan komplikasi tertentu.
  • Pasien memiliki kondisi medis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, lupus, atau penyakit jantung.
  • Kehamilan pasien telah diperpanjang dua minggu setelah tanggal jatuh tempo pasien (kehamilan postterm).
  • Pasien memiliki riwayat keguguran atau komplikasi kehamilan sebelumnya.
  • Bayi pasien mengalami penurunan gerakan janin atau kemungkinan masalah pertumbuhan janin.
  • Pasien memiliki terlalu banyak cairan ketuban (polihidramnion) atau volume cairan ketuban yang rendah (oligohidramnion).
  • Pasien mengalami sensitisasi rhesus (Rh) – suatu kondisi yang berpotensi serius yang dapat terjadi ketika golongan darah pasien adalah Rh negatif sementara golongan darah bayi pasien adalah Rh positif.
  • Pasien lebih tua dari usia 35.
  • Pasien gemuk.
  • Dokter mungkin juga merekomendasikan pemeriksaan profil biofisik jika kehamilan telah melewati tanggal Hari Perhitungan Lahir (HPL) pada pasien, yaitu antara 40 dan 42 minggu.

Dokter juga dapat merekomendasikan agar pasien melakukan profil biofisik sekali seminggu atau dua kali seminggu, tergantung pada kondisi kesehatan pasien sampai pasien melahirkan[1].

Hal ini memungkinkan dokter untuk mengawasi kesehatan janin pada pasien, sehingga dapat menjadi acuan tentang pentingnya kelahiran yang akan dilakukan lebih awal atau tidak[2].

Persiapan Tes Profil Biofisik

Penangannya relatif singkat dan pasien tidak perlu melakukan persiapan khusus. Dokter mungkin menjadwalkan tes, dan biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit[1].

Beberapa persiapan sebelum melakukan tes profil biofisik secara rinci dijelaskan dibawah ini[3];

  • Pada tes ini, dibutuhkan kandung kemih yang berisi penuh. Maka pasien akan diminta untuk minum air atau cairan lain sebelum tes dan menghindari buang air kecil sebelum atau selama tes. Biasanya usia kehamamilan di trimester ketiga tidak mengharuskan pasien dengan keadaan kandung kemih penuh ketika melakukan tes ini.
  • Untuk pasien perokok, akan diminta untuk berhenti merokok selama 2 jam sebelum tes pemantauan eksternal karena merokok menurunkan aktivitas janin pada pasien.
  • Konsultasikan dengan dokter tentang segala kekhawatiran yang dimiliki akan perlunya tes, risikonya, bagaimana cara melakukannya, atau pertanyaan mengenai arti dari hasil skor tes profil biofisik ini.

Prosedur Tes Profil Biofisik

Biasanya profil biofisik dilakukan oleh dokter kandungan. Selain itu, Profil Biofisik juga bisa dilakukan oleh ahli teknologi ultrasound atau ahli radiologi. [3]

Tes non-stres dengan pemantauan jantung janin elektronik dan USG janin dilakukan sebagai bagian dari profil biofisik. Tes non-stres membantu memeriksa kesehatan bayi dengan melihat detak jantung bayi dengan gerakan[3].

Beberapa dokter biasanya juga menggunakan profil biofisik yang dimodifikasi, yang menggabungkan tes non-stres dengan pengukuran cairan ketuban. Profil biofisik yang dimodifikasi membutuhkan waktu lebih sedikit[3][4].

Profil biofisik yang dimodifikasi dianggap normal jika tes non-stres reaktif dan kantong vertikal terdalam dari cairan ketuban lebih besar dari 2 cm. profil biofisik yang dimodifikasi dianggap abnormal jika tes non-stres tidak reaktif atau kantong vertikal terdalam dari cairan ketuban lebh kecil atau sebesar 2 cm[5].

Adapun penjelasan prosedur dari tes profil biofisik menyangkut tes non-stress dan USG janin adalah sebagai berikut[3];

  • Tes nonstress

Pemantauan jantung janin eksternal mencatat detak jantung janin saat bergerak maupun tidak bergerak. Pemantauan ini biasanya dilakukan sebelum USG janin.

Pemantauan eksternal dilakukan dengan menggunakan dua perangkat datar (sensor) yang dipegang dengan sabuk elastis di perut pasien. Satu sensor menggunakan gelombang suara pantulan (ultrasound) untuk melacak detak jantung janin.

Sementara sensor lain mengukur durasi kontraksi pasien. Sensor tersebut terhubung pada mesin yang mencatat informasi. Detak jantung janin kemungkinan terdengar sebagai suara bip atau biasanya juga dapat dicetak pada grafik.

Jika janin bergerak atau pasien mengalami kontraksi, pasien tersebut mungkin diminta untuk menekan tombol pada mesin. Denyut jantung janin akan dicatat dan dibandingkan dengan catatan gerakan atau kontraksi. Tes ini biasanya berlangsung sekitar 30 menit.

  • USG janin

Biasanya pasien tidak perlu melepas pakaian ketika melakukan tes ultrasound, Pasien dapat mengangkat kemeja dan menekan pinggang rok atau celana. Untuk pasien yang mengenakan gaun, maka akan diberi kain atau penutup untuk digunakan selama tes USG ini berlangsung.

Saat tes ini berlangsung, kemungkinan besar dibutuhkan kondisi dimana kandung kemih pasien terisi penuh. Jadi, pasien biasanya diminta untuk minum 4 hingga 6 gelas cairan, seperti jus atau air, sekitar satu jam sebelum tes. Kandung kemih penuh membantu mengirimkan gelombang suara dan mendorong usus keluar dari rahim. Ini membuat gambar USG lebih jelas.

Pasien tidak diharapkan untuk membuang air kecil sampai tes selesai. Tetapi beri tahu dokter jika kandung kemih sangat penuh sehingga kesakitan ketika menahan kencing.

Jika USG dilakukan pada akhir kehamilan, penuh atau tidaknya kandung kemih tidak berpengaruh terhadap tes ini. karena kondisi janin yang membesar akan mendorong usus keluar.

Pasien akan berbaring telentang di tempat tidur pemeriksaan pasien. Jika pasien merasa sesak napas atau pusing saat berbaring telentang, maka tubuh bagian atas pasien lebih diangkat atau berganti posisi memiringkan badan.

Kemudian gel akan dioleskan di perut pasien. Alat genggam kecil yang disebut transduser akan ditempelkan pada gel di kulit pasien dan digerakkan melintasi perut beberapa kali.

Di saat bersamaan pasien juga dapat melihat monitor untuk melihat gambar janin. Setelah tes selesai, gel dibersihkan dari kulit pasien. kemudian pasien bisa buang air kecil segera setelah tes selesai. USG transabdominal membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 60 menit.

Risiko Tes Profil Biofisik

Profil biofisik adalah tes non-invasif yang tidak menimbulkan risiko fisik bagi pasien atau janin pasien[1].

Meskipun profil biofisik dapat memberikan kepastian tentang kesehatan janin pada pasien, profil tersebut juga dapat menimbulkan rasa cemas pada pasien. [1]

Selain itu, profil biofisik juga memungkin tidak mendeteksi masalah lain yang ada atau dapat juga menginformasikan bahwa adanya permasalahan yang sebenarnya tidak ada pada janin pasien. [1]

Hasil tes yang salah tersebut akan timbul masalah baru yang dapat menyebabkan dokter merekomendasikan tes yang tidak perlu dilakukan atau juga persalinan dini pada pasien[1].

Hasil Profil Biofisik

Salah satu keuntungan melakukan tes profil biofisik adalah pasien tidak perlu menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mengetahui hasilnya[2].

Biasanya, dokter mendiskusikan jumlah skor setelah tes. Setiap area yang dievaluasi menerima skor mulai dari nol hingga dua poin jika hasilnya normal, dan nol poin jika hasilnya tidak normal[2].

Secara ideal, pasien menginginkan skor akhir antara 8 dan 10 poin, karena hasil tersebut menunjukkan bahwa janin dengan kondisi sehat. Jika skor pasien antara enam dan delapan poin, maka kemungkinan dokter akan mengulang tes profil biofisik tersebut dalam kurun waktu 24 jam ke depan[2].

Hasil skor kurang atau sama dengan empat poin dapat mengindikasikan masalah pada kehamilan pasien, dan dokter juga mungkin perlu melakukan pengujian lebih lanjut untuk mendiagnosa lebih dalam mengenai kesehatan bayi pada pasien[2].

Dibawah ini adalah beberapa kriteria penilaiannya[2];

  • Denyut jantung
    • Pada tes non-stres, jika detak jantung janin meningkat dengan gerakan (setidaknya 15 detak per menit) dalam setidaknya dua kesempatan – pasien akan menerima dua poin. Jika gerakan tidak meningkatkan detak jantung janin sebanyak ini, pasien tidak akan menerima poin.
  • Pernafasan
    • Berkenaan dengan pernapasan janin, maka janin pada pasien tersebut harus mengalami setidaknya satu episode pernapasan janin yang berlangsung setidaknya 30 detik dalam 30 menit untuk menerima dua poin.
  • Gerakan
    • Janin harus bergerak setidaknya tiga kali dalam 30 menit untuk menerima dua poin.
  • Bentuk otot
    • Tes ini juga mengamati tonus otot janin, dan memberikan dua poin jika janin mampu menggerakkan lengan atau kaki dari posisi membungkuk ke posisi diperpanjang dalam waktu 30 menit. Pasien akan menerima poin nol jika janin tidak mengubah posisi dalam jangka waktu ini.
  • Cairan ketuban
    • Pasien juga akan menerima dua poin jika kantong cairan ketuban yang paling dalam berukuran lebih dari 2 sentimeter. Jika pasien tidak memenuhi kriteria ini, pasien akan menerima poin nol.

Pasien diharapkan untuk tidak langsung panik jika hasil profil biofisik tidak normal. Karena bukan berarti ada masalah dengan janin jika hasil tes profil biofisik tersebut tidak mendapat skor normal. Berbagai faktor dapat memengaruhi hasilnya, seperti[1][2]:

Selain itu, posisi janin bisa jadi penyebab sulitnya proses tes USG yang berlangsung. Jadi, jika skor pasien rendah, dokter akan melakukan tes ulang dalam waktu sekitar 12 hingga 24 jam[2].

Begitu pula jika dari tes ini dokter melihat bahwa pasien memiliki jumlah cairan ketuban yang rendah, pasien memerlukan pengujian lebih lanjut dimana memungkinkan perlunya melahirkan lebih awal atau tidak, terlepas dari skor keseluruhan pasien[1].

1. Anonim. Biophysical Profile. MayoClinic;2020
2. Valencia Higuera. What Is a Biophysical Profile?. Healthline;2020
3. Anonim. Biophysical Profile (BPP). .uofmhealth.org;2020
4. Nageotte MP, et. al. Perinatal outcome with the modified biophysical profile. Am J. Obstet Gynecol;1994
5. Anonim. Antepartum fetal surveillance. Practice Bulletin No. 145. American College of Obstetricians and Gynecologists. Obstet Gynecol;2014

Share