Polihidramnion : Penyebab – Gejala – Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Polihidramnion?

Polihidramnion merupakan jenis gangguan kehamilan di mana ibu hamil mengalami kelebihan kadar air ketuban selama mengandung [1,2].

Kondisi ini cukup jarang dijumpai pada kehamilan dan pada dasarnya tidak terlalu berbahaya [1,2].

Hanya saja saat seorang wanita hamil mengalami polihidramnion, pemantauan dokter sangat penting [1,2].

Fakta Tentang Polihidramnion

  1. Prevalensi polihidramnion dari seluruh kehamilan hanya sekitar 1-2% [1].
  2. Umumnya, polihidramnion tidak bergejala atau dengan kata lain kondisi ini bersifat asimptomatik dan biasanya baru akan terdeteksi pada kehamilan trimester ketiga saat sang ibu hamil menempuh USG [2].
  3. Normalnya, kondisi janin pada kehamilan trimester akhir (khususnya mendekati persalinan) akan menelan air ketuban sebanyak 210-720 ml per hari dan menghasilkan 500-1200 ml urine [2].

Penyebab Polihidramnion

Volume air ketuban apabila dibandingkan dari usia kehamilan awal hingga trimester akhir memang mengalami peningkatan dan hal ini normal [7].

Peningkatan volume air ketuban yang normal adalah mencapai 800 ml hingga 1 liter terutama kehamilan antara minggu ke-34 dan minggu ke-36 [2,7].

Pada waktu kehamilan mendekati hari perkiraan lahir, air ketuban pun normalnya akan mengalami penurunan volume [7].

Kestabilan volume air ketuban biasanya terjadi karena sang ibu hamil mengeluarkannya melalui urine saat buang air kecil [7].

Atau, air ketuban tetap pada kadar normal karena janin yang menelannya [2,7].

Namun saat ibu hamil mengalami polihidramnion, volume air ketuban justru berlebihan dan ini yang dinamakan dengan gangguan keseimbangan air ketuban [1,2].

Terdapat sejumlah kondisi yang mampu menjadi peningkat risiko seorang wanita hamil mengalami polihidramnion, yakni antara lain [1,2,3,4,5,6] :

  • Infeksi terjadi selama kehamilan
  • Ketidaksesuaian darah antara sang ibu dan janin dalam kandungan
  • Anemia yang terjadi pada janin
  • Cacat lahir yang terjadi pada janin sehingga kondisi janin tidak memungkinkan untuk menelan air ketuban. Kelainan atau cacat tersebut dapat meliputi gangguan sistem saraf pusat, gangguan saluran pencernaan, dan/atau gangguan pada kendali otot janin
  • Sindrom Beckwith Wiedemann
  • Sindrom Edward
  • Sindrom Down
  • Akondroplasia
  • Twin to twin transfusion syndrome, yakni kondisi pada kehamilan kembar di mana salah satu janin menerima darah dari plasenta secara berlebihan. Hal tersebut menjadi penyebab janin mengeluarkan cairan yang lebih banyak melalui urine dan air ketuban terpengaruh di mana volumenya ikut meningkat.
  • Detak jantung janin mengalami gangguan.
  • Hydrops fetalis atau kondisi cairan yang terakumulasi (menimbun) di salah satu bagian tubuh janin.
  • Diabetes yang dialami wanita selama hamil, baik itu diabetes yang memang sudah diderita sebelum hamil maupun kemungkinan diabetes gestasional.

Gejala Polihidramnion

Polihidramnion pada beberapa kasus tidak menunjukkan gejala di awal, namun kondisi ini tetap berpotensi berkembang dan semakin berbahaya [1,2].

Meski demikian, ada pula sejumlah kasus di mana polihidramnion terjadi begitu cepat, yakni peningkatan volume air ketuban mencapai 2 liter lebih dalam waktu singkat [8].

Berikut ini adalah sejumlah gejala umum polihidramnion yang perlu dikenali dan diwaspadai oleh setiap wanita hamil [1,2] :

  • Timbul stretch mark pada kulit
  • Berat badan naik terlalu berlebihan selama hamil
  • Tidak terlalu merasakan gerakan janin
  • Sesak nafas
  • Nafas pendek
  • Pembengkakan pada area kemaluan dan area kaki
  • Varises
  • Jarang buang air kecil
  • Nyeri pada ulu hati
  • Rahim mengalami kontraksi
  • Sembelit
  • Mendengkur

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Apabila gejala-gejala seperti yang telah disebutkan mulai dirasakan, pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Jika pada usia kehamilan trimester ketiga atau di masa-masa mendekati hari persalinan gejala terjadi, ada kemungkinan bahwa polihidramnion merupakan kondisi yang mendasarinya.

Deteksi polihidramnion secara dini akan membantu para ibu hamil untuk memperoleh penanganan yang tepat secepat mungkin.

Bahkan ketika seorang wanita hamil telah didiagnosa menderita polihidramnion, perkembangan gejala perlu berada di bawah pemantauan dokter.

Pemantauan dokter akan meminimalisir risiko gejala memburuk begitu pula risiko komplikasi.

Pertolongan medis perlu segera didapat oleh wanita hamil yang mengalami penglihatan buram, ketuban pecah lebih awal, dan/atau perdarahan dari vagina selama 24 jam lebih.

Pemeriksaan Polihidramnion

Untuk mendiagnosa polihidramnion, dokter akan melakukan pemeriksaan melalui beberapa metode ini.

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter akan memeriksa gejala fisik apa saja yang dialami oleh ibu hamil [1].

Selain itu, dokter juga akan bertanya kepada pasien mengenai riwayat penyakit apa yang pernah diderita [1].

Dokter juga perlu tahu gejala apa saja yang selama ini dialami selama hamil selain dari gejala fisik yang tampak [1].

Dokter pun seringkali perlu mengetahui obat apa saja yang sedang pasien konsumsi [1].

  • Pengukuran Tinggi Rahim

Pemeriksaan kandungan secara rutin sejak dini pada dasarnya merupakan hal baik karena dokter akan mampu mendeteksi kondisi polihidramnion secara dini [1].

Pemeriksaan kandungan berkaitan dengan polihidramnion salah satunya adalah pengukuran tinggi rahim [1].

Rahim yang ukurannya lebih besar dari ukuran normal usia kehamilan akan dicurigai sebagai kondisi polihidramnion [1].

Dokter juga akan mengecek detak jantung janin serta posisi janin, bila sulit mendeteksinya, ini biasanya menandakan kondisi polihidramnion [1].

  • Pemeriksaan USG

Ultrasonografi atau USG adalah metode pemeriksaan kehamilan yang paling umum dilakukan oleh para ibu hamil [1,2].

Untuk mendiagnosa polihidramnion, USG juga dapat ditempuh oleh ibu hamil supaya dokter bisa mengecek jumlah atau volume air ketuban [1,2].

Selain itu, fungsi dari USG adalah untuk mengecek ukuran tubuh janin dalam kandungan, begitu pula kondisi saluran kemih, ginjal, dan peredaran darah ginjal janin dan plasenta sehingga penyebab gejala polihidramnion dapat diketahui oleh dokter [1,2].

  • Tes Darah

Sebagai tes penunjang dalam memastikan kondisi polihidramnion, dokter kemungkinan menyarankan pasien menempuh tes darah [1,2].

Tes darah diperlukan agar dokter bisa mengetahui apakah terjadi infeksi pada kondisi ibu hamil yang menyebabkan polihidramnion [1,2].

Melalui tes darah juga akan diketahui apakah pasien memiliki kondisi diabetes sebagai penyebab polihidramnion [1,2].

  • Amniocentesis

Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil cairan ketuban untuk dianalisa [1,2].

Cairan ketuban yang diambil sebagai sampel harus mengandung sel janin supaya dokter dapat mengecek adanya kelainan kromosom [1,2].

Sebab bila terdapat kelainan kromosom, polihidramnion dapat terjadi sebagai efeknya [1,2].

Tes ini bertujuan memeriksa gerakan janin dalam kandungan yang juga sebenarnya memanfaatkan USG [9].

Selain gerakan janin, tes ini bertujuan memeriksa kondisi otot dan pernafasan janin [9].

Volume air ketuban dalam rahim juga akan terukur melalui pemeriksaan ini; biasanya, tes ini dikombinasi bersama dengan nonstress test [9].

  • Nonstress Test

Tes ini untuk mendeteksi detak jantung bayi, terutama bagaimana detak jantung bayi bereaksi saat bayi bergerak [1].

Jika janin dalam kondisi tenang, dokter akan memberikan makanan atau minuman bagi sang ibu supaya bayi dapat bergerak lebih aktif di dalam perut [1].

Pengobatan Polihidramnion

Pada polihidramnion ringan, penderita jarang memerlukan penanganan medis tertentu sebab kondisi akan membaik dengan sendirinya [1].

Namun hal ini kembali lagi pada penyebabnya, jika disebabkan oleh diabetes, maka pasien perlu memperoleh penanganan [1,2].

Berikut ini adalah bentuk-bentuk penanganan untuk polihidramnion apabila ibu hamil merasakan juga nyeri perut, sesak nafas, atau persalinan prematur.

  • Drainase Kelebihan Cairan Ketuban

Amniocentesis tidak hanya sebagai metode pemeriksaan, sebab metode ini bisa digunakan untuk menangani kelebihan cairan ketuban [1,2].

Pengangkatan dan pembuangan air ketuban juga akan dokter lakukan melalui amniocentesis [1,2].

Risiko prosedur ini tergolong kecil, namun lebih baik berkonsultasi secara detail dengan dokter sebelum memutuskan menempuh tindakan ini [1,2].

  • Obat-obatan

Selain prosedur pembuangan atau drainase air ketuban berlebih, dokter juga akan memberikan obat minum atau oral indomethacin [1,2].

Tujuan meresepkan obat ini ke pasien adalah supaya volume air ketuban dan produksi urine janin bisa berkurang [1,2].

Namun, obat ini hanya boleh dikonsumsi oleh ibu hamil dengan usia kehamilan di bawah 31 minggu [1,2].

Sekalipun sudah menjalani drainase dan mengonsumsi obat resep, dokter setiap 1-3 minggu perlu tetap memantau kondisi kadar air ketuban pasien [1,2].

Bagaimana prognosis polihidramnion?

Prognosis untuk polihidramnion tergolong sangat bagus, terutama pada kondisi yang bersifat idiopatik ringan [1].

Polihidramnion idiopatik umumnya dapat pulih dengan sendirinya dan komplikasi hanya akan terjadi ketika rahim mengalami distensi berlebihan [1].

Namun pada kasus polihidramnion yang gejala berkembang dengan sangat cepat, maka tingkat keparahannya lebih tinggi [1].

Ketika kondisi ini terjadi, kematian perinatal lebih berisiko tinggi sebagai akibatnya dan itu artinya prognosis cukup buruk [1].

Oleh sebab itu, dapat juga dikatakan bahwa prognosis polihidramnion tergantung dari kondisi yang mendasarinya [1].

Komplikasi Polihidramnion

Polihidramnion dapat menimbulkan sejumlah risiko komplikasi yang cukup berbahaya bagi janin maupun sang ibu sendiri, yakni meliputi [1,2] :

  • Solusio plasenta, yakni kondisi saat plasenta yang terlepas dari dinding dalam rahim bahkan sebelum waktunya melahirkan.
  • Kelahiran bayi secara prematur.
  • Perdarahan hebat yang disebabkan oleh kelemahan tonus otot rahim pasca persalinan.
  • Stillbirth atau kondisi di mana bayi meninggal saat masih di dalam kandungan (umumnya terjadi pada usia kehamilan 20 minggu lebih) atau sebelum waktunya bersalin.
  • Prolaps tali pusat atau sebuah kondisi ketika tali pusat jatuh ke vagina di depan bayi.
  • Ketuban pecah terlalu dini.
  • Persalinan perlu dilakukan dengan metode bedah caesar.

Pada beberapa kasus kehamilan polihidramnion bisa terjadi sangat awal atau di masa-masa hamil muda [1].

Jika demikian, maka peluang cairan plasenta berlebih bisa jauh lebih tinggi di mana hal ini semakin meningkatkan juga risiko komplikasi untuk dialami sang ibu dan janin [1].

Pencegahan Polihidramnion

Karena polihidramnion seringkali tak menunjukkan adanya gejala di awal, maka sulit untuk mencegahnya.

Bahkan kondisi ini sama sekali tak bisa diprediksi; hanya saja, selalu ada cara untuk meminimalisir risiko polihidramnion terjadi selama kehamilan yakni dengan beberapa upaya ini [1] :

  • Mengatasi atau setidaknya mengendalikan penyakit yang sudah ada, seperti halnya diabetes (baik diabetes sebelum hamil maupun diabetes gestasional).
  • Mengecek kondisi kesehatan kehamilan secara rutin.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti kacang-kacangan, sayuran, buah, produk olahan susu rendah/bebas lemak, dan daging tanpa lemak.
  • Menghindari konsumsi alkohol.
  • Tidak merokok.
  • Mengonsumsi vitamin atau suplemen khusus untuk mendukung kesehatan kehamilan, seperti asam folat yang tentunya sudah seizin dan sepemantauan dokter.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment