Penyakit & Kelainan

Sindrom Happy Hypoxia Pada Pasien COVID-19

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Happy hipoxia atau silent hypoxia adalah suatu kondisi dimana terjadi hipoksia atau tubuh kekurangan oksigen, namun penderita tidak mengalami gejala seperti sesak napas. Sebagian besar orang akan mengalami

Sebuah gejala baru muncul di antara pasien COVID-19. Mereka mengalami kadar oksigen tubuh yang sangat rendah, bahkan mengancam keselamatan jiwa, namun tidak menunjukkan gejala dyspnea (kesulitan bernafas).

Penemuan baru ini dikenal sebagai silent hypoxemia (kadar oksigen dalam tubuh rendah) atau “happy hypoxia”.

Hypoxia adalah kondisi dimana sel-sel dan jaringan tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu memasukkan cukup oksigen ke dalam paru-paru. Hypoxia bisa tetap terjadi meskipun aliran darah berjalan normal. [5]

Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa penyakit pernafasan kronis seperti bronkitis kronis dan emphysema yang membatasi aliran udara ke paru-paru.

Hypoxia bisa mengakibatkan berbagai komplikasi serius, bahkan terkadang mengancam keselamatan jiwa. Gejala-gejalanya termasuk: [5]

  • Kesulitan bernafas bahkan saat sedang beristirahat
  • Sesak nafas yang sangat setelah melakukan aktivitas fisik
  • Tidak bisa beraktivitas dalam waktu lama
  • Terbangun karena tidak bisa bernafas
  • Merasa tercekik
  • Nafas berbunyi
  • Sering batuk
  • Kulit dan kuku menjadi kebiruan

Hypoxia adalah kondisi darurat yang harus segera dibawa ke UGD untuk ditangani sebelum terlambat.

Dari penjelasan di atas, tentu kondisi happy hypoxia ini jadi membingungkan bagi kebanyakan orang. Bagaimana bisa seseorang terlihat baik-baik saja padahal kadar oksigen dalam darahnya sangat rendah?

Meskipun telah banyak informasi yang diketahui tentang epidemiologi dan karakteristik klinis dari COVID-19, namun bagaimana penyakit ini berdampak pada kondisi paru-paru masih terus dipelajari. COVID-19 memiliki spektrum keparahan klinis yang luas. Data membagi kasus-kasus COVID-19 ke dalam kasus ringan (81%), parah (14%), atau kritis (5%). [1]

Banyak pasien menunjukkan hypoxemia arteri namun tanpa tanda-tanda gangguan pernafasan yang proporsional. Mereka bahkan tidak mengeluhkan adanya sesak nafas. [1, 2, 3, 4]

Inilah fenomena yang kemudian disebut sebagai happy hypoxia.

Sebenarnya, sindrom ini sudah muncul jauh sebelum COVID-19 menjadi pandemi global. Namun, kondisi saat ini membuat happy hypoxia mendapatkan fokus yang lebih besar dari kalangan medis karena berhubungan dengan bagaimana pasien harus ditangani.

Tidak sinkronnya hubungan antara rendahnya kadar oksigen dalam darah dengan keluhan gangguan pernafasan yang dilaporkan oleh pasien COVID-19 bertolak belakang dengan pengalaman tenaga kesehatan dalam menangani pasien kritis yang mengalami gagal nafas. [1, 2, 3, 4]

Pada pasien COVID-19, happy hypoxia bisa disebabkan oleh faktor-faktor berikut: [1, 2, 3, 4]

  1. Intrapulmonary shunting: ini adalah kondisi ketika darah yang tidak mengandung oksigen bergerak dari jantung bagian kanan ke kiri tanpa pertukaran gas di kapiler paru-paru. Ini adalah kondisi patologis yang terjadi ketika alveoli (kantung-kantung udara) di paru-paru diisi oleh darah sebagaimana mestinya, tetapi ventilasi (suplai udara) gagal mengisi darah tersebut dengan oksigen.
  2. Virus SARS-CoV-2 menyebabkan tubuh tidak mendeteksi adanya kekurangan oksigen hingga sampai pada tahap yang sudah fatal. Namun, kemungkinan bahwa virus COVID-19 ini menyebabkan gangguan pada syaraf masih bersifat kontrversial. Di satu sisi, pada kasus-kasus yang berat, pasien memang mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan gangguan syaraf, seperti anosmia (tidak bisa mencium aroma atau merasa dengan lidah), sakit kepala, perubahan kondisi mental, dan kejang. Tetapi di sisi lain, pemeriksaan MRI dan laporan patologi dari pasien-pasien COVID-19 yang meninggal tidak menunjukkan korelasi yang bisa menjelaskan mengapa pasien tidak mengalami sesak nafas.

Dokter dan para tenaga ahli masih terus melakukan penelitian dan studi mengenai sindrom ini lebih jauh agar penanganan yang tepat bisa terus ditingkatkan.

Meskipun penyebab happy hypoxia masih belum pasti, harus selalu diingat bahwa kondisi ini bisa menutupi keparahan kondisi pasien dan akhirnya bisa menyebabkannya terlambat mendapat penanganan.

Mengenali happy hypoxia sebagai salah satu gejala radang paru-paru akibat COVID-19 bisa membantu pasien mendapatkan perawatan yang lebih baik, dan dokter serta perawat bisa menggunakan gejala-gejala lain seperti demam, detak jantung sangat cepat, atau peradangan akut untuk menjadi panduan perawatan pasien. [2]

Pasien juga harus segera memeriksakan diri untuk di-tes bila menyadari pernah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi atau melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang berisiko tinggi tanpa harus menunggu timbul gejala-gejala.

1. Sebastiaan Dhont, Eric Derom, Eva Van Braeckel, Pieter Depuydt, Bart N. Lambrecht. The pathophysiology of ‘happy’ hypoxemia in COVID-19. Respiratory Research; 2020.
2. Alejandra González-Duarte, Lucy Norcliffe-Kaufmann. Is 'happy hypoxia' in COVID-19 a disorder of autonomic interoception? A hypothesis. Nature Public Health Emergency Collection; 2020.
3. Loyola University Health System. Study explains potential causes for 'happy hypoxia' condition in COVID-19 patients. Science Daily; 2020.
4. Josh Farkas. Understanding happy hypoxemia physiology: how COVID taught me to treat pneumococcus. Pulmonary and Critical Care Medicine, the University of Vermont; 2020.
5. Kristeen Cherney, Alana Biggers, M.D., MPH. Understanding COPD Hypoxia. Healthline; 2019.

Share