Sindrom piriformis merupakan kelainan neuromuskular yang kurang umum terjadi. Sindrom ini terjadi ketika otot piriformis menekan saraf sciatica. Gejalanya dapat berupa rasa nyeri, sensasi seperti ditusuk-tusuk, atau kebas yang menjalar sampai ke tungkai. [1]
Sindrom piriformis bertanggung jawab terhadap 0,3% – 0,6% kasus nyeri punggung bagian bawah dan/ atau sciatica. Diperkirakan setiap tahunnya kasus baru nyeri punggung bagian bawah adalah 40 juta maka sindrom piriformis diderita 2,4 juta orang setiap tahunnya. [2]
Sindrom ini melibatkan otot piriformis dan saraf sciatica. Otot ini membantu paha agar dapat bergerak ke samping. Spasme pada otot ini menimbulkan tekanan pada saraf sciatica yang terdapat di dalamnya. Hal ini berujung pada sindrom piriformis. [3]
Daftar isi
Gejala paling umum yang dialami penderita sindrom piriformis adalah sciatica. Istilah sciatica ini menggambarkan: [4]
Sciatica yang Anda rasakan bermula pada bagian bokong dan menjalar ke bawah di bagian tungkai belakang. Sciatica bisa saja dimulai dengan sensasi terbakar dan nyeri hebat di bagian dalam bokong. Rasa sakit ini semakin bertambah buruk ketika Anda melakukan aktivitas yang menekan saraf sciatica misalnya: [4]
Otot piriformis mengalami tekanan setiap hari. Anda menggunakan otot ini ketika berjalan atau mengubah posisi tubuh bagian bawah. Anda bahkan menggunakan otot untuk mengubah tumpuan beban dari satu sisi ke sisi lainnya. Otot dapat menjadi cedera atau iritasi akibat terlalu lama tak bergerak atau terlalu banyak berolahraga. [3]
Beberapa sebab umum yang menimbulkan sindrom piriformis termasuk: [3]
Sindrom piriformis juga dapat diakibatkan oleh cedera yang merusak otot sehingga menekan saraf sciatica. Berikut ini jenis cedera yang terjadi di otot piriformis yang berujung pada sindrom piriformis: [3]
Faktor resiko sindrom piriformis termasuk hal-hal di bawah ini. Fakto resiko ini sering kali akibat cedera olahraga. [5]
Tidak ada tes tertentu untuk mendiagnosis sindrom piriformis. Pada kebanyakan kasus, terdapat riwayat trauma pada area otot piriformis, aktivitas berulang dan berat misalnya lari jarak jauh, atau duduk dalam waktu yang lama. [1]
Diagnosis sindrom piriformis ditegakkan berdasarkan laporan gejala yang dirasakan pasien dan juga pemeriksaan fisik menggunakan berbagai jenis pergerakan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui titik sakit pada otot piriformis. Pada beberapa kasus, otot piriformis yang kontraksi dan iritasi dapat ditemukan selama pemeriksaan fisik berlangsung. [1]
Karena gejala sindrom piriformis dapat mirip dengan kondisi lain, tes radiologis seperti MRI mungkin dibutuhkan untuk memastikan penyebab lain dari tekanan pada saraf sciatica. Salah satu kondisi ini misalnya hernia diskus. [1]
Sindrom piriformis sering kali tidak membutuhkan penanganan. Beristirahat dan menghindari aktivitas yang memicu gejala Anda merupakan hal yang biasanya menjadi pendekatan awal dalam menangani sindrom ini. [3]
Penanganan dapat berupa istirahat dalam waktu singkat (tidak lebih dari 48 jam), pemberian relaksan otot, obat antiinflamasi non steroidal (OAINS), dan terapi fisik (peregangan otot piriformis, latihan jangkauan pergerakan, dan pijat jaringan dalam). [2]
Anda akan merasa lebih baik bila memberikan kompres es atau hangat secara bergantian pada bagian bokong atau tungkai. Bungkus kompres es dengan handuk kecil dan tipis sehinnga kompres es tidak menyentuh kulit secara langsung. Tempelkan kompres selama 15-20 menit. [3]
Setelah itu, gantilah kompres es dengan kompres hangat. Atur suhunya dengan suhu yang paling rendah. Kompres dengan jangka waktu yang sama dengan kompres dingin. Cobalah hal ini beberapa jam sekali untuk membantu menringankan nyeri. [3]
Untuk menghilangkan nyeri, selain dengan kompres Anda bisa mencoba mengonsumsi obat pereda nyeri. Obat-obat ini biasanya ibuprofen atau naproxen. [3]
Nyeri dan mati rasa yang dikaitkan dengan sindrom piriformis biasanya akan hilang tanpa butuh penanganan. Jikapun dibutuhkan, Anda bisa mencoba terapi fisik. Terapi ini mencakup latihan atau peregangan yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan keluwesan piriformis. [3]
Pemberian injeksi kortikosteroid dilakukan bila sindrom piriformis yang Anda rasakan begitu parah. Injeksi ini bertujuan membantu meringankan peradangan pada otot. [3]
Selain dengan pemberian injeksi kortikosteroid, penggunaan TENS juga dapat meringankan nyeri yang Anda rasakan akibat sindrom piriformis. Alat TENS ini mengirimkan muatan listrik kecil ke saraf yang terdapat di bawah kulit. Energi listrik merangsang saraf dan mengganggu sinyal nyeri menuju otak. [3]
Bila seluruh cara telah ditempuh dan Anda belum merasakan dampak apapun mungkin Anda membutuhkan pembedahan. Tujuannya adalah memotong otot piriformis untuk meringankan tekanan pada saraf sciatica. Akan tetapi, hal ini jarang terjadi. [3]
Ketika gejala yang Anda rasakan telah membaik, Anda harus mengubah aktivitas untuk menghindari mengalami gejala sindrom ini lagi. Berikut ini adalah beberapa tips yang membantu mencegah sindrom piriformis yakni: [1,4]
1. Roma Lightsey & Tyler Wheeler. Piriformis Syndrome. Webmd; 2019.
2. Brandon L. Hicks, Jason C. Lam, & Matthew Varacallo. Piriformis Syndrome. Stat Pearls; 2021.
3. James Roland & William Morrison. What Is Piriformis Syndrome? Healthline; 2018.
4. Sarah Coles. Piriformis Syndrome. Family Doctors; 2020.
5. Charles Patrick Davis & Melissa Conrad Stoppler. Piriformis SyndromeMedicine Net; 2020.