Penyakit & Kelainan

Toxic Shock Syndrome: Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Toxic shock syndrome (TSS) adalah penyakit akut yang dimediasi oleh racun yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus aerus atau golongan A strep (Streptococcus pyogenes) [1].

TSS kerapkali dikaitkan dengan penggunaan tampon atau pembalut dengan daya serap tinggi pada beberapa kasus, terutama sebelum diketahui bahwa penyakit ini juga dapat ditimbulkan oleh penyebab non-menstrual [1].

TSS merupakan penyakit yang dapat membahayakan nyawa dan menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik [2]. Kenali lebih jauh tentang penyakit satu ini :

Fakta Toxic Shock Syndrome

Beberapa fakta menarik di bawah ini mungkin akan meningkatkan tingkat kewaspadaan anda terkait TSS. Berikut fakta menarik dan penting tentang TSS :

  • TSS memang dikaitkan dengan penggunaan tampon atau pembalut daya serap tinggi, namun pada dasarnya penyakit ini dapat menyerang siapa saja dengan berbagai rentang usia termasuk pria dan anak-anak [3].
  • Penyakit ini pertama kali muncul dan diidentifikasi kurang lebih pada tahun 1978 [4].
  • Jika ditemukan sejak dini dan dilakukan perawatan dengan baik, penyakit ini dapat disembuhkan, namun jika tidak gejalanya dapat menyebar dengan sangat cepat dan berakibat fatal [1, 3].
  • Kasus TSS baik yang diakibatkan oleh menstrual maupun non-menstrual diperkirakan mencapai 0.8 sampai dengan 3.4 kejadian per 100.000 orang di US [1].
  • Kasus TSS paling sering terjadi pada musim dingin dan kerap terjadi pada negara berkembang [1].
  • Bayi dan juga manula merupakan pasien dengan risiko tertinggi jika terjadi infeksi yang disebabkan oleh golongan A Strep dan bagian kulit merupakan faktor risiko terbesar yang dapat terkena infeksi fatal [1].
  • Terdapat kondisi yang memiliki kemiripan dengan TSS diantaranya adalah Streptococcal toxic shock syndrome, scarlet fever, penyakit kawasaki, infeksi ehrlichioses, hemorrhagic shock, erupsi obat dan infeksi leptospirosis [1, 5].
  • Bakteri penyebab TSS, Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan bakteri yang lazim hidup di permukaan kulit dan biasanya tidak berbahaya. Namun bakteri ini akan berakibat fatal jika timbul infeksi dan mereka masuk ke aliran darah manusia [6].
  • Kasus menstrual TSS tercatat sebesar 55% dari total kasus yang terjadi, sedangkan sisanya adanya non menstrual TSS [2].
  • Non menstrual TSS seringkali dikaitkan dengan penggunaan alat kontrasepsi diafragma, infeksi jaringan lunak, infeksi pasca operasi, luka bakar, sisa benda asing pada pembalu, spons kontrasepsi vagina, infeksi setelah melahirkan atau setelah melakukan aborsi dan juga dialisis kateter [1, 2].

Gejala Toxic Shock Syndrome

Untuk membedakan penyakit tersebut dengan penyakit lain, berikut gejala dari TSS yang mungkin dapat anda jadikan panduan :

  • Munculnya demam tinggi dengan suhu lebih atau sama dengan 102°F atau setara dengan 38.9°C [1, 2].
  • Ruam-ruam atau difus eritroderma makula [2].
  • Munculnya lidah stroberi atau lidah berwarna merah menyala [1].
  • Selain area lidah, bagian bibir dan juga warna putih pada mata biasanya akan berubah menjadi merah [3].
  • Munculnya deskuamasi atau pengelupasan pada kulit kurang lebih setelah 1-2 minggu setelah ruam muncul [2].
  • Gejala mirip seperti flu yakni rasa sakit atau pusing pada kepala, rasa dingin, mudah lelah, tubuh terasa pegal-pegal dan tenggorokan sakit serta batuk-batuk [3].
  • Pada kasus yang parah, tekanan darah akan turun secara drastis (hipotension). Dimana tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg untuk orang dewasa dan kurang dari 1/5 persentile menurut usia untuk anak-anak dengan rentang usia di bawah 16 tahun [2].
  • Mengalami hematologic dimana jumlah trombosit di bawah 100.000/mm3 [2].
  • Mengalami masalah pencernaan seperti muntah-muntah dan diare [3].

Penyebab Toxic Shock Syndrome

TSS seperti yang telah disebutkan sebelumnya disebabkan oleh bakter staphylococcus atau streptococcus yang biasanya hidup di kulit sekitar mulut dan hidung tanpa mengakibatkan hal berbahaya [3].

Namun bakteri ini akan sangat berbahaya jika mampu masuk ke dalam tubuh terutama melalui aliran darah dan mengeluarkan toksin atau racun yang dapat merusak jaringan dan menyebabkan organ tubuh berhenti bekerja [3].

Faktor Resiko Toxic Shock Syndrome

Selain gejala dan juga penyebab dari TSS, faktor resiko dari penyakit ini meliputi :

  • Baru saja melahirkan atau dalam kondisi sehabis keguguran atau melakukan aborsi [6].
  • Penggunaan alat kontrasepsi seperti diafragma dan contraceptive sponge [6].
  • Adanya luka pada tubuh misalnya luka setelah operasi dan sebagainya [6].
  • Anak-anak dan juga remaja memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan golongan usia lainnya terlebih karena mereka sangat rentan terkena penyakit dan belum memiliki kekebalan tubuh yang baik [4].

Kapan Anda Harus ke Dokter?

TSS merupakan kondisi darurat yang membutuhkan perawatan dengan segera. Karena semakin cepat penyakit ini ditangani maka kemungkinan sembuh total akan semakin besar [1, 3].

Jika gejala yang telah disampaikan sebelumnya muncul maka sebaiknya anda segera menghubungi dokter. Apalagi jika terdapat beberapa gejala yang muncul sekaligus dan semakin memburuk seiring waktu [3].

Anda juga sebaiknya segera menghubungi dokter jika gejala tersebut muncul setelah penggunaan pembalut, muncul ruam yang terasa panas, luka pada kulit dan juga infeksi pada kulit seperti bisul atau borok [3].

Pengobatan Toxic Shock Syndrome

Ada beberapa langkah pengobatan yang dapat digunakan untuk mengatasi TSS, diantaranya adalah :

  • Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi yang timbul [3, 6].
  • Pemicu atau sumber bakteri seperti tampon atau pembalut harus segera dijauhkan [1].
  • Pemberian oksigen untuk membantu pasien bernafas [3].
  • Pemberian cairan yang diberikan melalui infus untuk meningkatkan tekanan darah serta mencegah terjadinya dehidrasi dan kerusakan organ vital tubuh [3, 6].
  • Obat-obatan untuk menjaga tekanan darah [3].
  • Dialisis jika kondisi sudah cukup parah dimana ginjal berhenti berfungsi [3].
  • Jika dibutuhkan terutama pada kasus yang cukup parah maka perlu diambil tindakan operasi [1].

Pencegahan Toxic Shock Syndrome

TSS merupakan salah satu penyakit yang tentu saja dapat anda cegah. Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat anda lakukan agar tidak mengidap TSS :

  • Segera obati luka baik luka bakar maupun luka tergores dan jika perlu segera minta pertimbangan tenaga medis jika luka anda mengalami infeksi seperti membengkak, memerah dan juga luka yang tak kunjung sembuh [3].
  • Jangan gunakan pembalut daya serap tinggi, gunakan saja yang sesuai dengan kebutuhan [3, 4].
  • Jika menggunakan pembalut saat menstruasi sebaiknya anda segera mengganti pembalut tersebut jika dirasa sudah penuh atau sesuai dengan jam tertentu misalnya 8 jam sekali [5].
  • Cucilah tangan anda dengan bersih dan menyeluruh sebelum dan sesudah mengganti pembalut [6].
  • Gunakan pembalut segera setelah anda membukanya, karena kontaminasi dengan benda lain terlalu lama dapat berakibat buruk pada pembalut tersebut [6].
  • Jangan gunakan lebih dari satu pembalut dalam vagina anda di saat yang bersamaan [3].
  • Saat menggunakan kontrasepsi khusus wanita, anda harus mengikuti instruksi yang tertulis dengan benar-benar khususnya tentang berapa lama anda diperbolehkan memakainya [3].

1. Adam Ross; Hugh W. Shoff. Toxic Shock Syndrome. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Division of Community and Public Health. Toxic shock syndrome (Other than Streptococcal). Missouri Department of Health and Senior Services Communicable Disease Investigation Reference Manual; 2020.
3. Anonim. Toxic shock syndrome. NHS UK; 2020.
4. James K. Todd. Toxic Shock Syndrome. Volume 1 (4). Clinical Microbiology Reviews; 1988.
5. Anonim. Toxic Shock Syndrome. National Organization for Rare Disorders; 2020.
6. Anonim. Toxic shock syndrome. Ministry of Health Manatu Hauora; 2020.

Share