Makanan, Minuman dan Herbal

Daun Cakar Ayam: Manfaat – Efek Samping dan Cara Penggunaan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Daun cakar ayam merupakan salah satu tanaman liar yang tumbuh di Indonesia. Meski belum digunakan secara luas baik secara tradisional maupun modern, tanaman ini ternyata mempunyai beragam potensi manfaat sebagai obat herbal.

Fakta Tentang Daun Cakar Ayam

Cakar ayam adalah tanaman dari Divisi Pteoridophyta, berasal dari suku Selaginellaceae dan memiliki nama ilmiah Selaginella doederleinii Hieron. Nama lain dari tanaman ini adalah paku rane, rumput solo, cemara kipas gunung (Jawa), menter (Jakarta), tai lantuan (Madura), usia (Ambon), sikili batu dan lingonai (Minangkabau). [14]

Sedangkan di China, tanaman ini dikenal dengan nama shi shang bai. Tanaman ini disebut cakar ayam karena memiliki susunan daun yang mirip dengan cakar ayam. [14]

Tanaman ini banyak digunakan sebagai obat tradisional di China. Menurut beberapa ahli, cakar ayam bukan merupakan tanaman asli Indonesia.

Tanaman ini lebih sering dijumpai di India, Burma, Thailand, Laos, Kambodia, Vietnam, Malaya, China, Hongkong, Taiwan dan Jepang. Informasi tentang tanaman ini masih terbatas dan belum dieksploitasi secara luas. [6]

Karakteristik Daun Cakar Ayam

Berikut ini merupakan karakteristik dari tanaman cakar ayam [1]:

  • Memiliki batang tegak dengan tinggi sekitar 15-35 cm dan akar yang keluar pada percabangan;
  • Batang bulat, liat, bercabang menggarpu dan berwarna putih kecoklatan;
  • Daunnya kecil-kecil dengan panjang ± 4-5 mm, lebar 2 mm, berbentuk jorong dengan ujung meruncing serta pangkal yang rata;
  • Warna daun menjadi salah satu ciri khas dimana daun bagian atasnya berwarna hijau tua dan daun bagian bawah hijau muda;
  • Daun tersusun di kiri-kanan batang induk hingga ke percabangannya yang menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya;
  • Mempunyai habitus terna, merayap dan sedikit tegak;
  • Memiliki akar serabut yang muncul dari batang berdaun dan berwarna coklat kehitaman

Cakar ayam termasuk dalam tumbuhan paku-pakuan yang tumbuh liar di tepian sungai, batuan basah dan di dinding tebing basah dengan ketinggian rendah yaitu 400-750 m dari atas permukaan laut. Tanaman ini mempunyai rasa yang manis dan hangat ketika dikonsumsi. [1]

Kandungan Daun Cakar Ayam

Hampir seluruh bagian dari cakar ayam dapat dimanfaatkan dalam pengobatan. Kandungan utama pada cakar ayam adalah flavonoid, alkaloid, lignans, asam organik dan volatil. [13] Herba cakar ayam secara umum mengandung beberapa senyawa sebagai berikut:

  • Biflavonoid berupa amentoflavone,
  • Robustaflavone,
  • Bilobetin,
  • 4-metoksi robustaflavone,
  • Podocarpusflavone A,
  • Hinokiflavone,
  • Ginkgetin,
  • Putraflavone, dan
  • Heveaflavone.

Biflavonoid merupakan metabolit sekunder utama pada cakar ayam, suatu dimer flavonoid yang terbentuk dari dua unit flavon yaitu flavon dan flavonon.

Umumnya, biflavonoid digunakan sebagai respon pada kondisi lingkungan untuk melakukan pertahanan terhadap hama, herbivora dan lainnya. [6]

Biflavonoid menjadi kandungan utama dari cakar ayam, memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan banyak dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai penyakit. [6]
  • Fitosterol,
  • Fenil propanon,
  • Glikosida alkaloid

Glikosida alkaloid yang terdapat di dalam cakar ayam antara lain adalah hordenine-O-α-L-rhamnopyranoside, N-metiltiraine-O-α-L-rhamnopiranosida dan hordenine-O-[6’’-O-trans-cinnamoyl)-4’-O-β-D-glucopyranosyl-α-L-rhamnopyranoside), [9]

  • Lignan,
  • Saponin,
  • Tannin,
  • Terpene,

Kandungan terpen dalam cakar ayam belum dilaporkan memiliki aktivitas farmakologi. [13] Beberapa senyawa terpen yang ada di dalam cakar ayam:

SenyawaJumlah
Linalool2.37-3.36 %
Aromadendrene3.70-4.80 %
Zingerone1.51-5.48 %
Cedrol4.66-6.97 %
Anethol0.56-12.78%
α-cadinol1.15-2.21%
Kandungan senyawa terpen dalam cakar ayam.

Sementara untuk ekstrak simplisia daun cakar ayam mengandung beberapa komponen senyawa sebagai berikut:

SenyawaJumlah
Kadar Abu7,11%
Total Fenol20,61 mg/g
Total Flavonoid43,11 mg/g
Komponen senyawa pada esktrak simplisia daun cakar ayam.

Faktor lingkungan tempat tumbuh, metode dan pelarut ekstraksi berpengaruh pada variasi kandungan metabolit sekunder cakar ayam. Pelarut yang umum digunakan dalam ekstraksi cakar ayam adalah etanol dan etil asetat. [18]

Komponen yang ada pada ekstrak etanol cakar ayam:

  • (-) – lirioresinol A,
  • (-) – lirioresinol B,
  • (+) – wikstromol,
  • (-) – nortracheloside,
  • (+) – matairesinol
  • Dua fenilpropanon: 3-hidroksi 1-3-metoksi-4-hidroksifenil)-propana dan 3-hidroksi-1 (3,5-dimetoksi-4-hidroksifenil)-propana,
  • Empat biflavonoid: amentoflavon, 7,7”-di-methylamentoflavon, 7,4′,7′ ‘,4’ ”-tetra-O-methylamentoflavon dan heveaflavon. [2]

Komponen yang ada pada ekstrak etil asetat cakar ayam[2]:

  • Asam miristat,
  • β-citronellol,
  • Asam palmitat,
  • Asam stearat,
  • β-sitosterol,
  • Physcion,
  • 3β asetoksitos-5-en-7-on,
  • Emodin,
  • Krisofanol,
  • Apigenin,
  • Amentoflavone,
  • Robustaflavone 7,4’,7’’-o-trimetil eter,
  • Heveaflavone,
  • Podocarpusflavone A,
  • Robustaflavon 4’,4’’-o-dimetil eter,
  • Robustaflavon 4’-o-metil eter,
  • Adenosin,
  • Asam ferulat,
  • Syringate,
  • Asam vanillat.

Manfaat Daun Cakar Ayam

Berikut merupakan beberapa manfaat kesehatan dari cakar ayam yang telah diteliti:

  • Kaya akan antioksidan

Zat bioaktif utama dari cakar ayam sebagian besar bersifat fenolik. Biflavonoid ialah metabolit sekunder yang menjadi salah satu zat utama dari tanaman ini.

Zat ini berfungsi sebagai antioksidan. Sembilan senyawa biflavonoid yang terdapat di dalam cakar ayam telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang baik. [2]

Minyak atsiri dari cakar ayam juga telah teruji dapat menghambat terjadinya oksidasi pada sel. [2]

Antioksidan dibutuhkan oleh tubuh untuk mencegah terjadinya kerusakan sel akibat radikal bebas. Kerusakan sel akibat radikal bebas dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit

Penting sekali mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan dalam jumlah yang cukup untuk menangkal radikal bebas. Cakar ayam dapat menjadi sumber antioksidan yang mudah didapat dari alam. [3]

  • Memiliki efek anti tumor

Ekstrak cakar ayam telah terbukti memiliki efek anti tumor, khusunya pada tumor trophoblastic. [12]

Terdapat kandungan biflavonoid yang memiliki efek anti tumor tanpa merusak sel hidup normal. Biflavonoid jenis amentoflavon dalam cakar ayam tidak hanya dapat menghambat berbagai macam proliferasi sel tumor tetapi juga dapat menginduksi sel tumor untuk apoptosis (kematian sel yang terpogram). [21]

  • Mampu melawan sel kanker

Cakar ayam telah digunakan sejak lama di Negara China sebagai terapi pengobatan tradisional pada berbagai macam kanker, khususnya kanker nasofaring, kanker paru-paru dan tumor trophoblastic. [12]

Ekstrak etil asetat dari tanaman ini terbukti menunjukkan efek anti kanker yang baik. Biflavonoid menjadi komponen utama sebagai anti kanker, senyawa ini dapat menyebabkan sel kanker apoptosis sehingga pertumbuhan kanker dapat terhambat. [12]

Jenis biflavonoid yang paling kuat menghambat kanker adalah ginkgetin. Selain biflavonoid, esktrak etanol cakar ayam juga mengandung lignin yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. [2,18]

  • Memiliki efek anti bakteri

Ekstrak etanol herba cakar ayam terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphyloccocus aureus dan bakteri penyebab infeksi saluran kemih seperti Eschericia Coli. Cakar ayam mengandung flavonoid, alkaloid dan saponin yang dapat berfungsi sebagai anti bakteri. [8,17]

Selain itu, esktrak cakar ayam juga secara efektif mampu menghambat Bacillus subtilis dan Pseudomonas. [2]

  • Mampu menghilangkan bengkak

Saat tubuh mengalami cedera, akan muncul suatu respon inflamasi. Salah satu bentuk respon inflamasi adalah bengkak (edema). Senyawa flavonoid dalam cakar ayam dapat digunakan sebagai anti-inflamasi.

Ekstrak simplisia daun cakar ayam telah terbukti dapat menurunkan aktivitas inflamasi dan memiliki kemampuan untuk menghilangkan bengkak.  [19]

  • Memiliki aktivitas anti virus

Kandungan flavonoid total dan amentoflavon dari cakar ayam memiliki aktivitas anti virus. Cakar ayam secara efektif dapat mengobati infeksi virus seperti virus coxsackie B3. [2]

  • Mencegah penyakit degeneratif

Penyakit degeneratif seperti aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah) dan infark miokardial (serangan jantung) dapat disebabkan oleh adanya radikal bebas.

Senyawa fenolik yang ada di dalam cakar ayam dapat berfungsi sebagai antioksidan yang dapat melawan radikal bebas dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif. [16]

  • Melindungi kerusakan hati (hepatoprotektor)

Beberapa obat seperti obat tuberkulosis pirazinamid dan paracetamol jika dikonsumsi dalam dosis tinggi dan jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan hepatotoksik yang menyebabkan kerusakan sel-sel hati.

Rebusan air dari herba cakar ayam telah teruji dapat memperbaiki kerusakan sel-sel hati akibat efek hepatotoksik dari obat-obatan tersebut. [10,11]

  • Manfaat lain

Di China, herba cakar ayam digunakan untuk terapi pengobatan sakit tenggorokan yang bengkak, batuk dan pendarahan akibat luka eskternal. Selain itu, tanaman obat ini dikenal memiliki khasiat untuk menurunkan panas, menghilangkan lembab, melancarkan peredaran darah, mengobati diare, patah tulang, keputihan serta pendarahan sehabis melahirkan. [6]

Efek Samping Daun Cakar Ayam

Meskipun mempunyai beragam manfaat, cakar ayam memiliki beberapa efek samping yang tidak diinginkan sebagai berikut:

  • Meningkatkan tekanan darah

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kandungan glikosida hordenine dalam cakar ayam dapat meningkatkan tekanan darah pada penderita hipertensi. [7]

Tanaman ini sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi oleh penderita hipertensi.

  • Supresi sumsum tulang belakang

Dilaporkan adanya supresi sumsum tulang belakang pada seorang pasien wanita berumur 52 tahun yang mengkonsumsi cakar ayam sebagai obat alternatif untuk kanker saluran empedu (cholangiocarcinoma).

Pasien ini mengalami pancytopenia (kekurangan abnormal dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet), gatal, gusi berdarah dan pendarahan di bawah kulit setelah dua minggu mengkonsumsi cakar ayam secara rutin. Seminggu setelah berhenti mengkonsumsi cakar ayam, gejala yang dialami oleh pasien ini menghilang. [5]

Masih belum diketahui secara pasti senyawa di dalam cakar ayam yang dapat menyebabkan supresi sumsum tulang belakang. Sehingga diharapkan untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu jika akan menggunakan cakar ayam untuk terapi pengobatan kanker.

Penggunaan cakar ayam bersamaan dengan obat konvensional juga sebaiknya harus mendapat persetujuan terlebih dahulu oleh dokter untuk mencegah kejadian efek samping yang tidak diinginkan. [20]

Tips Penggunaan Daun Cakar Ayam

  • Sebagai obat oles

Cakar ayam setelah dicuci bersih, ditumbuk dan dioleskan pada bagian tubuh yang bengkak. Selain untuk mengobati bengkak, olesan cakar ayam ini juga bisa digunakan sebagai pengobatan luar untuk patah tulang tertutup. [14]

  • Membuat rebusan Cakar Ayam

Untuk terapi pengobatan kanker, 60 g cakar ayam kering direbus selama 3-4 jam dengan api kecil. Air rebusan diminum setelah dingin.

Sementara untuk mengobati batuk, radang paru, radang tenggorokan, radang amandel dan patah tulang dalam dapat digunakan 15-30 g cakar ayam segar. Tanaman ini dicuci hingga bersih terlebih dahulu, direbus dan air rebusannya diminum. [14]

Dalam merebus tanaman herbal, alat untuk merebus tidak boleh terbuat dari logam, kecuali stainless stell. Alat merebus yang digunakan sebaiknya terbuat dari kaca, keramik atau porselen. [20]

  • Membuat minuman herbal instan

Menggunakan 80 ml filtrat cakar ayam, 30 ml filtrat stevia, 17.5 ml filtrat kayu manis, 2 ml sari jahe dan 3 ml cengkeh. Ramuan dari minuman herbal ini telah diuji dapat menghambat peradangan dan bengkak. [15]

Cara Penyimpanan Daun Cakar Ayam

Simplisia kering dan herbal cakar ayam disimpan wadah tertutup baik; disimpan pada suhu kamar, ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari. [20]

Cakar ayam merupakan tanaman herbal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Padahal tanaman ini kaya akan sumber antioksidan seperti biflavonoid, tannin dan saponin yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.   

1. Sutomo & Dini Fardila. Autekologi Tumbuhan Obat Selaginella doederleinii Hieron di Sebagian Kawasan Hutan Bukit Pohen Cagar Alam Batukahu, Bedugul Bali. Bali. LIPI; 2012.
2. Khoirul Ngibad. Kandungan Senyawa Kimia dan Bioaktivitas dari Selaginella doederleinii Hieron. Sidoarjo. INA-Rxiv; 2018.
3. Anuj Yadav, Rewa Kumari, Ashwani Yadav, J.P. Mishra, Seweta Srivatva & Shasi Prabha. Antioxidants and Its Functions in Human Body- A Review. India. RELS; 2016.
4. Xinjian Yan, Guirong Xie, Jiaju Zhou & G.W.A.Milne. Traditional Chinese Medicines: Molecular Structures, Natural Sources and Applications. 2nd edition. Ashgate Publishing; 1999.
5. K Y Pan, J L Lin & J S Chen. Severe Reversible Bone Marrow Suppression Induced by Selaginella Doederleinii
6. Ahmad Dwi Setyawan. Review: Natural products from Genus Selaginella (Selaginellaceae). Surakarta. Nusantra Bioscience; 2011.
7. R.C.Lin, J.Peyroux, E. Seguin & M.Koch. Hypertensive effect of glycosidic derivatives of hordenine isolated from Selaginella doederleinii hieron and structural analogues in rats. Wiley Online Library; 1991.
8. H. Tahir Ahmad, Hendra Stevani, Andjani Gita Fajarningrum. Efek antibakteri ekstrak etanol herba cakar ayam terhadap pertumbuhan staphylococcus aureus secara in vitro. Makassar. 2015.
9. Lin Rui Chao, Elisabeth Seguin, Francois Tillequin & Michel Koch. New Alkaloid Glycosides from Selaginella doederleinii. Journal of Natural Products; 2004.
10. Anthonio B. Lengkong. Gambaran Histopatologik Hati Tikus Wistar yang Diinduksi CCl4 dan Diberi Air Rebusan Tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii Hieron). Volume 1. Ejournal Unsrat; 2013.
11. Elisa Cendrawati Wijaya & Dra.Lucia E. Wuryaningsih M.Si Apt. Efek Herba Cakar Ayam (Selaginella doederleinii, Hieron) Dosis 12 g/kg BB pada Histopatologi Hepar Tikus Akibat Efek Hepatotoksik Pirazinamida. Digi-Lib Ubaya; 2004.
12. Yuxia Sui, Shaoguang Li, Peiying Shi, Youjia Wu, Yuxiang Li, Weiying Chen, Liying Huang, Hong Yao & XinHua Lin. Ethyl Acetate Extract From Selaginella
Doederleinii Hieron Inhibits the Growth of Human Lung Cancer Cells A549 via Caspase-Dependent Apoptosis Pathway. J Ethnopharmacol; 2016.
13. Xian-kui Ma, Xiao-fei Li Jian-young Zhang, Jie Lei, Wei-wei Li & Gang Wang. Analysis of the Volatile Components in Selaginella doederleinii by Headspace Solid Phase Microetraction-Gas Chromatography-Mass Spectrometry. China. Molecules; 2019.
14. Gagas Ulung. Sehat Alami dengan Herbal: 250 Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama; 2014.
15. Fhiola Afitri. Pembuatan Formulasi Serbuk Minuman Instan Herbal Simplisia Daun Paku Cakar Ayam Sebagai Minuman Anti Inflamasi pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Jantan yang Diinduksi Karagenan. Semantic Scholar; 2016.
16. Setyo Nurwaini, Yuntari R. Sofiana, Ismah R. Noor & Viesa Rahayu. Uji Aktivitas Antiradikal Ekstrak Herba Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron), Herba Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L) Decne) dan Daun Dewandaru (Eugenia uniflora Linn.) sebagai Sumber Alternatif Pencegahan Penyakit Degeneratif. Surakarta.
17. Alicia V D Usior & Tri Danang Kurniawan S.Si Apt. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Cakar Ayam (Selaginella deodeleinii Hieront) terhadap Bakteri Escherichia coli. Malang. 2017.
18. Institut Pertanian Bogor. Tinjauan Pustaka: Taksonomi Selaginella.
19. Pandu Salim Hanaf. Efek Anti Inflamasi dari Ekstrak Simplisia Daun Paku Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron) pada Tikus Putih (Rattus noervegicus) Jantan yang Diinduksi Karagenan. Malang. Repository UB; 2015.
20. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 tentang Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Jakarta. Sekretariat Negara; 2017.
21. Jia-zhi Wang, Juan Li, Ping Zhao, Wentao Ma, Xie-he Feng & Ke-li Chen. Antitumor Activities of Ethyl Acetate Extracts from Selaginella doederleinii Hieron In Vitro and In Vivo and Its Possible Mechanism. Hindawi; 2015.

Share