Tindakan Medis

Dexamethasone Suppression Test: Fungsi, Prosedur, dan Hasil

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Secara sederhana, dexamethasone suppression test (DST) adalah tes yang digunakan untuk membantu mendiagnosa Cushing syndrome. Sindrom ini menyebabkan kadar kortisol, hormon yang dihasilkan oleh tubuh saat mengalami stress, naik diatas batas normal.

Fungsi dan Pengertian DST

Dexamethasone suppression test digunakan untuk mengukur bagaimana pengaruh dexamethasone terhadap kadar kortisol dalam tubuh. Dexamethasone adalah kortikosteroid sintetis yang mirip dengan hormon yang secara alami dihasilkan oleh kelenjar adrenal. [1, 2, 3, 4]

Kelenjar adrenal, organ yang berbentuk segitiga di bagian atas ginjal, menghasilkan kortisol. Hormon ini bekerja sama dengan bagian-bagian tertentu pada otak untuk mengendalikan mood, motivasi, dan rasa takut.

Tetapi, kortisol juga berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh. Misalnya untuk: [6]

  • Mengatur bagaimana tubuh menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein
  • Meredakan radang
  • Mengatur tekanan darah
  • Meningkatkan kadar gula darah (glukosa)
  • Mengatur siklus tidur dan bangun
  • Meningkatkan energi sehingga tubuh bisa mengatasi stress dan mengembalikan keseimbangan setelahnya

DST mengukur respon kelenjar adrenal terhadap ACTH (adrenocorticotropic hormone) yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary otak. Terlalu banyak ACTH bisa menyebabkan Cushing syndrome. Pada orang yang sehat, ketika kelenjar pituitary menghasilkan lebih sedikit ACTH, kelenjar adrenal juga menghasilkan lebih sedikit kortisol. [1, 2, 3]

Normalnya, sekresi ACTH dari kelenjar pituitary diatur oleh kadar kortisol dalam plasma darah. ACTH merangsang adrenal cortex untuk menghasilkan kortisol. Ketika kadar plasma kortisol meningkat, sekresi ACTH akan turun. Ketika kadar kortisol turun, ACTH naik. [1, 3]

Saat pasien minum dexamethasone, yang sangat mirip dengan kortisol, maka seharusnya jumlah ACTH yang dilepaskan ke dalam darah akan berkurang. Jika kadar kortisol masih tinggi setelah minum dexamethasone, maka ini adalah tanda kondisi abnormal. [1, 2]

Siapa yang Membutuhkan DST?

Dokter biasanya merekomendasikan tes ini bagi pasien yang sedang mengonsumsi dexamethasone sebagai bagian dari terapi atau perawatan untuk melihat bagaimana pengaruhnya terhadap kadar kortisol dalam darah.

Tes ini juga sering digunakan bila tubuh pasien dicurigai menghasilkan terlalu banyak hormon adrenal yang disebabkan oleh kelainan seperti Cushing syndrome. Respon kadar kortisol dalam darah pasien terhadap tes ini bisa memberi informasi pada dokter apakah masalahnya disebabkan oleh tumor putuitary atau sebab lain. [4]

Jenis-Jenis DST

Ada dua jenis DST: tes dosis rendah dan dosis tinggi. Tiap jenis tes bisa dilakukan dalam satu malam (overnight) atau waktu standar (3 hari): [1, 2, 3, 4]

  • Untuk metode satu malam dengan dosis rendah, 1 mg dexamethasone akan diberikan pada jam 11 malam, kemudian contoh darah diambil jam 8 pagi keesokan harinya untuk mengukur kadar kortisol.
  • Pada metode standar dengan dosis rendah, contoh urin akan diambil selama 3 hari untuk mengukur kadar kortisol. Pada hari ke-2, dexamethasone dalam dosis rendah (0.5 mg) akan diberikan melalui mulut setiap 6 jam selama 48 jam.
  • Untuk metode satu malam dengan dosis tinggi, batas bawah kortisol akan diukur pada pagi hari pelaksanaan tes, kemudian 8 mg dexamethasone diberikan pada pukul 11 malam. Contoh darah akan diambil jam 8 lagi keesokan harinya untuk mengukur kadar kortisol.
  • Untuk metode standar dengan dosis tinggi, contoh urin akan diambil selama 3 hari untuk mengukur kadar kortisol. Pada hari ke-2, dexamethasone dalam dosis tinggi (2 mg) akan diberikan melalui mulut setiap 6 jam selama 48 jam.

Tes dosis rendah bisa membantu membedakan orang yang sehat dari orang yang tubuhnya menghasilkan terlalu banyak kortisol. Sementara tes dosis tinggi bisa membantu menentukan apakah ketidaknormalan terletak pada kelenjar pituitary atau bukan (Cushing syndrome). [1]

Pasien dengan kelenjar pituitary yang memproduksi terlalu banyak ACTH akan menunjukkan respon abnormal pada tes dosis rendah, namun responnya normal pada tes dosis tinggi. [1, 3]

Persiapan Dexamethasone Supression Test

Sebelum pelaksanaan tes, dokter akan meminta pasien untuk menghentikan konsumsi beberapa jenis obat yang bisa mempengaruhi hasil tes. Obat-obatan ini termasuk: [1, 2]

Prosedur DST

Seperti yang sudah disebutkan pada bagian jenis-jenis DST, tes ini membutuhkan sampel darah pada metode overnight. Darah akan diambil dari pembuluh darah di bagian dalam lengan bawah atau punggung tangan.

Bagian yang akan ditusuk jarum akan di-swab dengan antiseptik lebih dulu. Kemudian, pengikat elastis akan diikat di bagian lengan atas agar pembuluh darah membesar dan mudah dilihat. Setelah itu, jarum akan dimasukkan ke pembuluh darah untuk mengambil contoh darah sebanyak yang dibutuhkan. [1, 2, 3]

Setelah selesai, ikatan akan dilepas dan perban akan diletakkan di bekas tusukan jarum untuk mencegah perdarahan.

Pasien bisa beraktivitas seperti biasa setelah tes. Bahkan pada tes standar yang membutuhkan waktu 3 hari, pasien bisa tetap melakukan kegiatan hariannya selama tes berlangsung. [4]

Hasil DST

Berikut adalah hasil yang bisa didapat setelah melakukan dexamethasone suppression tes:

Hasil normal: [1, 3]

Dosis rendah:

  • Satu malam (overnight): kadar plasma kortisol jam 8 pagi < 5 mcg/dl
  • Standar (3 hari): kortisol dalam urin pada hari ke-3 < 10 mcg/hari

Dosis tinggi:

  • Overnight: plasma kortisol berkurang >50%
  • Standar: kortisol dalam urin berkurang >90%

Nilai normal ini bisa sedikit berbeda di tiap laboratorium

Hasil abnormal:

Jika tidak ada respon normal pada tes dosis rendah, maka sekresi kortiso yang tidak normal kemungkinan besar disebabkan oleh Cushing syndrome. Ini bisa disebabkan oleh tumor adrenal yang menghasilkan kortisol, tumor pituitary yang menghasilkan CTH, atau tumor di tubuh yang menghasilkan ACTH secara tidak tepat. [1, 2, 3]

Tes dosis tinggi bisa membantu membedakan kelainan yang disebabkan oleh kelenjar pituitary dari sebab lainnya.

Cushing syndrome yang disebabkan oleh tumor adrenal dan tumor yang memprodusi ACTH ektopik:

  • Dosis rendah: tidak ada perubahan
  • Dosis tinggi: tidak ada perubahan

Cushing syndrome yang disebabkan oleh tumor pituitary:

  • Dosis rendah: tidak ada perubahan
  • Dosis tinggi: supresi normal

DST harus dilakukan berdasarkan kemungkinan yang ditunjukkan oleh tes-tes sebelumnya, berdasarkan riwayat kesehatan pasien dan pemeriksaan fisik. Selain itu, tenaga kesehatan juga harus berhati-hati agar hasil tes benar-benar akurat dan bebas dari faktor yang bisa membuat penyimpangan.

Bila dugaan klinis atas Cushing syndrome tinggi tetapi hasil tesnya ternyata negatif, maka tes harus diulang dalam 3 hingga 6 bulan kemudian, karena kondisi hypercortisolemia yang tidak diobati bisa merusak tubuh. [3]

Pasien yang hasil tes-nya abnormal akan dirujuk ke endocrinologist untuk perawatan lebih lanjut. [3]

Risiko yang Mungkin Terjadi

Seperti tes-tes lain yang membutuhkan contoh darah, ada risiko minimal terjadinya memar di bagian masuknya jarum. Pada kasus yang jarang, pembuluh darah mungkin akan membengkak setelah pengambilan darah. Kondisi yang dikenal dengan phlebitis ini bisa diatasi dengan menggunakan kompres hangat beberapa kali sehari.

Pendarahan yang berlanjut bisa terjadi jika pasien memang memiliki kelainan darah atau minum oba pengencer darah seperti warfarin atau aspirin.

Risiko lain termasuk:

  • Pingsan atau berkunang-kunang
  • Infeksi
  • Tusukan berulang bila pembuluh darah sulit ditemukan

1. UCLA Endocrine Center. Dexamethasone Suppression Test. University of California Los Angeles Health; 2019.
2. Corinna Underwood, Alan Carter, PharmD. Understanding the Dexamethasone Suppression Test. Healthline; 2019.
3. Prerna Dogra, Narasimha P. Vijayashankar. Dexamethasone Suppression Test. StatPearls Publishing; 2019.
4. DH Team. Dexamethasone Suppression Test. Dartmouth-Hitchcock; 2019.
5. SNP Team. Dexamethasone suppression test. Sullivan Nicolaides Pathology; 2019.
6. Louise Chang, MD. What Is Cortisol? WebMD; 2018.

Share