Penyakit & Kelainan

Gangguan Dismorfik Tubuh: Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Fithriani Salma
Kekhawatiran terhadap penampilan diri sendiri merupakan hal yang wajar dari perilaku manusia. Namun apabila kekhawatiran tersebut berlebih hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, maka orang tersebut dapat

Apa Itu Gangguan Dismorfik Tubuh?

Gangguan dismorfik tubuh atau Body Dysmorphic Disorder (BDD) merupakan kondisi mental yang terganggu di mana timbul kecemasan berlebih terhadap kekurangan penampilan fisik diri sendiri [1,2,3,4,5,6,7,8].

Kekurangan fisik yang membuat cemas pada beberapa orang nampak begitu kecil di mana bahkan orang lain tidak menyadarinya.

Namun bagi sejumlah orang, kekurangan fisik yang kecil tersebut dapat membuat orang tersebut merasa cemas berlebih, tidak percaya diri, dan malu sampai harus menghindari situasi sosial apapun.

Pada orang-orang dengan gangguan dismorfik tubuh ini, mereka akan mencoba “memperbaiki” kekurangan tersebut atau bahkan menutupinya.

Namun biasanya, mereka hanya akan merasa puas sesaat karena kecemasan akan timbul kembali dan begitu seterusnya walaupun telah mencoba berbagai cara lain untuk memperbaiki.

Tinjauan
Gangguan dismorfik tubuh adalah pikiran negatif dan kecemasan berlebihan terhadap diri sendiri, terutama menganggap penampilan fisik selalu kurang dan cenderung buruk sehingga merasa perlu mengubah atau memperbaikinya.

Fakta Tentang Gangguan Dismorfik Tubuh

  1. Gangguan dismorfik tubuh merupakan kondisi mental yang dijumpai hanya 1 dari 50 orang dengan persentase 1,7-2,4% dari populasi global [6]
  2. Di Amerika Serikat, gangguan dismorfik tubuh dialami oleh 2,2% wanita dan 2,5% pria di mana paling banyak terjadi pada usia remaja 12-13 tahun [6].
  3. Namun di Indonesia sendiri, prevalensi gangguan dismorfik tubuh belum diketahui jelas namun ketidakpuasan remaja terhadap penampilan fisik termasuk tinggi, hal ini dapat terlihat dari aktivitas berfoto selfie dan berlomba menunjukkan foto diri terbaik melalui media sosial [8].

Penyebab Gangguan Dismorfik Tubuh

Belum diketahui secara jelas faktor penyebab utama gangguan dismorfik tubuh, namun beberapa faktor berikut ditengarai mampu memicunya [1,4,5,6,7] :

  • Kelainan pada Struktur Otak

Gangguan dismorfik tubuh dapat dipicu oleh kelainan struktur otak.

Kelainan yang terjadi pada senyawa yang ada pada otak pun mampu meningkatkan risiko timbulnya gangguan dismorfik tubuh.

  • Faktor Genetik

Bila di dalam keluarga terdapat anggotanya yang mengalami gangguan dismorfik tubuh, maka seseorang akan jauh lebih berpotensi memiliki kondisi yang sama.

Hanya saja, belum terdapat penjelasan secara pasti mengenai apakah gangguan dismorfik tubuh benar-benar merupakan kondisi genetik yang diturunkan atau hanya efek lingkungan keluarga dan pola asuh orangtua.

  • Faktor Lingkungan

Penderita gangguan dismorfik tubuh memiliki citra diri yang negatif karena penilaian negatif yang sebelumnya ia pernah atau sering terima dari lingkungan sekitar.

Trauma saat masih kecil serta pengalaman buruk (termasuk perundungan) mampu memicu seseorang mengalami kecemasan berlebih pada kondisi fisiknya.

Selain beberapa faktor tersebut, terdapat hal lain yang mampu meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan dismorfik tubuh, yaitu :

  • Memiliki sifat perfeksionis
  • Sering merasa rendah diri atau minder
  • Memiliki gangguan kecemasan
  • Mengalami depresi
  • Memiliki orangtua atau anggota keluarga yang suka mengritik penampilan orang lain.
  • Memiliki orangtua atau anggota keluarga yang mengritik penampilan fisiknya.
Tinjauan
Mulai dari kelainan struktur otak, faktor riwayat kesehatan keluarga, pola asuh keluarga, hingga faktor lingkungan mampu meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan dismorfik tubuh.

Gejala Gangguan Dismorfik Tubuh

Seseorang dengan gangguan dismorfik tubuh akan mengalami beberapa gejala seperti berikut [3,5,6,7]:

  • Sering membandingkan penampilan fisik diri sendiri dengan orang lain.
  • Terlalu memerhatikan dan fokus terhadap kekurangan yang dirasakan pada penampilan fisik diri sendiri padahal orang lain tidak melihatnya.
  • Memiliki kecenderungan bersikap perfeksionis
  • Sering bertanya kepada orang lain mengenai penampilan fisik serta mencari kepastian tentang penampilannya.
  • Sering menutupi kekurangan diri dengan riasan wajah atau pakaian.
  • Sering bercermin untuk memeriksa kondisi penampilan.
  • Sering menyentuh wajah.
  • Sering membenahi pakaian, rambut, riasan wajah atau lainnya.
  • Meyakini bahwa orang lain memerhatikan setiap detil penampilan fisiknya secara negatif.
  • Sering berpikir dan merasa bahwa orang-orang sedang melihat dan menghakimi penampilan fisiknya.
  • Meyakini bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam penampilannya yang membuatnya tampak buruk.
  • Menghindari situasi sosial atau menarik diri dari pergaulan.
  • Mencari prosedur kosmetik yang dapat menutupi kekurangannya namun hanya akan memberikan kepuasan sementara.

Memfokuskan diri terhadap penampilan fisik dengan pikiran-pikiran negatif berlebihan terhadap diri sendiri dalam jangka panjang akan lebih sulit untuk mengendalikannya.

Pada akhirnya, penderita gangguan dismorfik tubuh akan mengalami masalah pada kehidupan sehari-harinya karena pikiran-pikiran yang negatif.

Beberapa bagian tubuh yang paling kerap dikhawatirkan, paling ingin diperbaiki atau diubah karena membuat rasa percaya diri turun antara lain adalah :

  • Ukuran payudara (umumnya para wanita yang berfokus pada hal ini).
  • Wajah, meliputi jerawat, kerutan, pipi yang tembem, atau hidung.
  • Rambut (baik itu terlalu tipis atau yang mengalami kebotakan).
  • Alat kelamin
  • Otot tubuh (umumnya para pria yang berfokus pada hal ini)
  • Penampilan kulit serta pembuluh darah vena

Para wanita akan terlalu memerhatikan gemuk kurusnya tubuh mereka serta ukuran payudara yang terlalu besar atau terlalu kecil.

Sementara itu, pria rata-rata lebih mengkhawatirkan otot tubuh yang terlalu kecil dan tidak maskulin.

Beberapa orang dengan gangguan dismorfik tubuh dapat berpikir bahwa segala citra buruk terhadap diri sendiri yang dimilikinya tidaklah benar.

Namun pada sebagian yang lain, mereka akan sangat meyakini bahwa kekurangan fisiknya adalah benar-benar sesuatu yang harus diubah.

Ketika seseorang semakin percaya terhadap pikiran dan persepsi negatifnya, maka ia akan semakin mengalami kesulitan dalam hidup sehari-hari.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri dan berkonsultasi kepada ahlinya

Jika gejala gangguan dismorfik tubuh sudah terlampau mengganggu aktivitas harian, maka sebaiknya segera mendatangi ahli kesehatan mental yang terpercaya.

Pada beberapa orang, datang dan berkonsultasi dengan ahlinya mengenai gejala gangguan mental yang dirasakan cukup memalukan.

Hanya saja, perlu diketahui bahwa gejala gangguan dismorfik tubuh tak dapat hilang cukup cepat, bahkan ada kemungkinan untuk sulit mereda dan menjadi lebih baik.

Bila tidak segera diatasi, ada kemungkinan berbagai komplikasi masalah mental hingga keputusan bunuh diri dapat terjadi.

Hal ini sebaiknya menjadi alasan bagi penderita gejala gangguan dismorfik tubuh untuk segera memeriksakan diri serta mendapatkan penanganan yang tepat.

Tinjauan
Terus-menerus memiliki gambar diri yang buruk, sering meminta kepastian kepada orang lain terkait penampilannya, menutupi kekurangan fisik dengan gaya berpakaian, riasan wajah hingga operasi plasti, dan menarik diri dari pergaulan adalah gejala-gejala gangguan dismorfik tubuh.

Pemeriksaan Gangguan Dismorfik Tubuh

Untuk mengetahui dan mengonfirmasi apakah gejala yang dialami seseorang adalah gangguan dismorfik tubuh, penting untuk menemui seorang psikolog atau psikiater terpercaya.

Beberapa metode diagnosa ini yang umumnya perlu ditempuh ketika seseorang mengalami citra diri yang negatif [3,5,6] :

  • Evaluasi Psikologis

Pemeriksaan psikologis dan evaluasinya dilakukan oleh ahli kesehatan mental dengan menilai perasaan, pikiran dan perilaku pasien terkait dengan citra diri yang ia miliki.

Bila pasien memiliki perasaan, pikiran, hingga perilaku negatif ditambah dnegan faktor risiko yang mendukung, hal ini dapat mengarah pada gangguan dismorfik tubuh.

  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan

Selain evaluasi psikologis, dokter juga perlu mengetahui riwayat medis pasien dan keluarga pasien.

Bahkan riwayat sosial pun menjadi hal yang turut dievaluasi untuk dapat menghasilkan diagnosa yang tepat.

Dokter akan mengajukan pertanyaan seputar hubungan sosial pasien dengan keluarga maupun teman-temannya.

Tinjauan
Evaluasi psikologis dan pemeriksaan riwayat kesehatan pasien sekaligus keluarga pasien adalah cara dokter mengonfirmasi gangguan dismorfik tubuh supaya dapat segera ditangani.

Penanganan Gangguan Dismorfik Tubuh

Dalam mengatasi gangguan dismorfik tubuh, tidak hanya obat-obatan yang diberikan tapi juga terapi perilaku kognitif.

Kombinasi kedua metode perawatan ini diharapkan dapat memulihkan dan memperbaiki kondisi mental pasien.

  • Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah jenis terapi yang akan membantu pasien dalam mempelajari reaksi emosional diri mereka sendiri [1,2,3,4,5,6].

Tak hanya itu, pasien juga akan memahami pikiran-pikiran serta perilaku negatifnya.

Namun tak sekadar mengenali, pasien akan dibimbing oleh terapis ahli terpercaya untuk berpikir dan memiliki citra diri yang lebih baik.

Terapis membantu pasien dalam berpikir secara lebih fleksibel mengenai penampilan fisik.

Bila pasien memiliki kebiasaan dan kecenderungan untuk selalu mengecek penampilannya melalui cermin serta sering meminta kepastian mengenai penampilan fisiknya kepada orang lain, terapis pun tahu bagaimana caranya membantu pasien mengatasinya.

Melalui terapi perilaku kognitif, terapis juga mengajari pasien dalam mengatasi penarikan diri dari kehidupan sosial serta meningkatkan kesehatan mental.

  • Pemberian Obat-obatan

Terapi perilaku kognitif biasanya dikombinasikan dengan pemberian beberapa jenis obat, tergantung dari kondisi pasien.

Pemberian obat bertujuan untuk mengatasi kondisi kesehatan mental lain yang dimiliki pasien, seperti misalnya gangguan obsesif kompulsif atau depresi.

Obat-obatan yang umumnya diresepkan adalah SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors), yaitu jenis antidepresan [1,2,3,4,5,6].

Obat ini berguna dalam meredakan pikiran negatif yang penderita miliki.

Selain SSRI, aripiprazole dan olanzapine yang tergolong antipsikotik dapat diberikan baik penggunaan tunggal atau bersama dengan SSRI.

  • Rawat Inap di Rumah Sakit

Pasien perlu memperoleh perawatan di rumah sakit ketika kasus gangguan dismorfik tubuh yang dialami tergolong parah [1,2,3,4].

Perawatan ini diperlukan bila pasien mulai terganggu dalam kesehariannya atau memiliki keinginan untuk bunuh diri.

  • Dukungan Keluarga

Terapi yang juga sangat dibutuhkan oleh para pasien gangguan dismorfik tubuh adalah dukungan keluarga [6].

Keluarga perlu memahami kondisi gangguan dismorfik tubuh serta mengenali gejala-gejala yang ditimbulkan untuk bisa membantu pemulihan anggota keluarganya yang mengalami gangguan mental ini.

Tinjauan
Terapi perilaku kognitif, terapi obat, rawat inap (pada kasus yang sudah sangat serius), serta terapi / dukungan keluarga sangat membantu dalam menangani penderita gangguan dismorfik tubuh untuk pulih lebih cepat.

Komplikasi Gangguan Dismorfik Tubuh

Gangguan dismorfik tubuh dapat menimbulkan berbagai jenis kondisi komplikasi apabila gejalanya semakin buruk dan tidak segera memperoleh penanganan yang tepat.

Bentuk komplikasi yang dapat terjadi pada penderita gangguan dismorfik tubuh adalah [1,2,4,5,6] :

  • Depresi dan Keinginan Bunuh Diri : Penderita dapat mengalami depresi berkepanjangan yang dapat diperburuk dengan timbulnya keinginan melukai diri sendiri atau bunuh diri.
  • Isolasi Diri : Menarik dan mengisolasi diri dari kehidupan sosial atau fobia sosial adalah salah satu komplikasi yang paling umum terjadi ketika seseorang memiliki citra diri negatif.
  • Penyalahgunaan Narkoba : Sebagai bentuk pelarian dari perasaan dan pikiran negatif yang dimiliki penderita, penyalahgunaan narkoba dapat menjadi pilihan beberapa orang.
  • Gangguan Makan : Makan terlalu sedikit atau makan terlalu banyak dapat terjadi sebagai dampak dari ketidakpuasan terhadap penampilan fisik.
  • Ketagihan Operasi Plastik : Keinginan yang sangat besar untuk mengubah atau memperbaiki bagian fisik tertentu dapat menjadikan seseorang ketagihan melakukan operasi plastik.

Pencegahan Gangguan Dismorfik Tubuh

Belum diketahui jelas cara mencegah gangguan dismorfik tubuh, namun identifikasi dini terhadap masalah ini adalah bentuk pencegahan terbaik [6].

Gangguan mental ini rentan terjadi pada usia remaja awal sehingga bila gejala mulai nampak pada usia-usia ini, alangkah baiknya keluarga dapat memberikan dukungan dengan segera mengatasinya.

Tinjauan
Pencegahan gangguan dismorfik tubuh belum diketahui caranya, namun identifikasi dini kesehatan mental pada remaja adalah cara meminimalisir gangguan dismorfik tubuh yang dapat diupayakan.

1) Andri S. Bjornsson, PhD; Elizabeth R. Didie, PhD; & Katharine A. Phillips, MD. 2010. Dialogues in Clinical Neuroscience. Body dysmorphic disorder.
2) Aoife Rajyaluxmi Singh & David Veale. 2019. Indian Journal of Psychiatry. Understanding and treating body dysmorphic disorder.
3) Katharine A. Phillips , MD & Dan J. Stein , MD, PhD. 2018. Merck Manual. Body Dysmorphic Disorder.
4) D Veale. 2004. Postgraduate Medical Journal. Body dysmorphic disorder.
5) Cleveland Clinic medical professional. 2017. Cleveland Clinic. Body Dysmorphic Disorder.
6) Anonim. Anxiety and Depression Association of America. Understand the Facts. Body Dysmorphic Disorder (BDD).
7) Denik Fila Afriliya & Ratna Syifa’a Rachmahana. 2018. Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya
Universitas Islam Indonesia. Berpikir Positif dan Kecenderungan Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri.

Share