Penyakit & Kelainan

11 Gejala Penyakit Tifus dan Pengobatannya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Penyakit Demam Tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Salmonella typhi dan menyerang organ pencernaan maupun sistem kekebalan tubuh.[3] Secara umum, penyebaran penyakit ini biasa terjadi di wilayah tropis, meski tidak menutup kemungkinan juga menular di wilayah iklim lainnya[1].

Transmisi terjadi sebagian besar dikarenakan tingkat sanitasi yang buruk serta pencemaran pada makanan dan minuman yang dikonsumsi.[1][2][3] Atas dasar itulah, penyakit ini tergolong sebagai penyakit dengan kasus infeksi paling banyak di dunia yaitu sejumlah 22 juta kasus (data hingga tahun 2000-an).[1]

Seringnya terjadi keterlambatan dalam penanganan dari Demam Tifus sendiri, dikarenakan kelengahan dalam menyadari gejala penyakit ini yang memang tampak seperti gejala-gejala penyakit ringan pada umumnya. Diagnosa akurat sendiri baru dapat dilakukan apabila tes laborat telah dilakukan pada pasien yang menunjukkan berbagai gejala awal tersebut. Karena itu, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila telah dirasakan gejala-gejala. Berikut ini beberepa gejala yang biasa dialami oleh orang yang terinfeksi Demam Tifus:[1][2][3][4][5]

1. Demam

Lebih dari 90 persen orang yang terinfeksi mengalami demam dengan suhu di atas 36 derajat celsius, serta mengalami peningkatan pada minggu pertama infeksi. Karakteristik demam yang terjadi disebut dengan hipertermia atau kenaikan suhu tubuh secara menyeluruh (tidak dibagian tubuh tertentu saja).

2. Sakit kepala

Selain demam, data menunjukkan 80 persen orang yang terinfeksi juga akan mengalami sakit kepala. Gejala seperti ini biasa terjadi pada pasien usia dewasa dan memerlukan perawatan secara spesifik pada keluhan yang dirasakan. Sakit kepala biasa disebabkan oleh terganggunya sistem sirkulasi darah, kurangnya oksigen yang disalurkan ke otak, ataupun gangguan pada sistem metabolisme tubuh yang sedang terinfeksi. [5]

3. Nyeri otot dan sendi

Dalam istilah medis, nyeri otot dan sendi memiliki istilah myalgia dan arthralgia. Meski dengan persentase kemungkinan yang lebih kecil untuk terjadi pada orang yang terinfeksi, namun pada beberapa kasus, gejala ini dapat muncul khususnya pada pasien yang berusia lanjut.

4. Badan lemas

Seperti pada umumnya, Penyakit Demam Tifus juga dapat menyebabkan badan terasa lemas. Hal ini biasa di sebabkan oleh sistem pencernaan yang terganggu, sehingga asupan yang dibutuhkan tubuh menjadi berkurang. Dikarenakan mikroorganisme yang menyebabkan Demam Tifus sendiri pada umumnya menyerang organ pencernaan, sistem dari organ tersebut tentu akan mengalami gangguan-gangguan. Gejala pada kategori inilah yang biasanya digunakan untuk membedakan Penyakit Demam Tifus dengan penyakit lainnya. Beberapa gejala pencernaan yang biasa dialami di antaranya:

5. Menurunnya nafsu makan

Umum terjadi pada orang yang terinfeksi Demam Tifus yaitu terjadinya penurunan nafsu makan. Perasaan mual, kehilangan kemampuan mengecap, serta rasa pahit di lidah, merupakan beberapa penyebab yang biasa dikeluhkan. Selain itu, refluks yang terjadi dari aktivitas asam lambung berlebih, ataupun mual dan muntah hasil regurgitasi/kontraksi lambung yang terjadi karena kondisi dari penyakit, juga dapat menjadi penyebab menurunnya nafsu makan.

6. Diare atau konstipasi

Infeksi pada pencernaan juga dapat mengakibatkan pola defekasi (buang air besar) yang terganggu, baik menjadi berlebihan (diare) ataupun terhambat (konstipasi). Tekstur feses yang diproduksi juga bergantung pada kondisi gangguan yang dialami, dimana akan menjadi lebih encer saat kondisi diare, dan cenderung lebih alot ketika terjadi konstipasi.

7. Dehidrasi

Kekurangan cairan pada umumnya merupakan komplikasi dari gejala refluks (muntah) yang terlalu ekstrim sehingga cairan tubuh banyak berkurang secara drastis. Apabila terjadi seperti pada kasus tersebut, asupan cairan bisa diganti dengan akses cairan IV (intravenous fluid) melalui pembuluh darah secara langsung.

8. Perut membuncit

Pada kasus-kasus yang parah, organ-organ di sekitar dan berhubungan dengan sistem saluran pencernaan sendiri juga dapat terganggu. Beberapa di antaranya seperti pembengkakan organ limpa dan hati, yang dalam istilah medis disebut dengan Splenomegaly dan Hepatomegaly. Pembengkakan ini dapat menyebabkan perut yang membuncit.

.

9. Ruam

Meski terbilang jarang, beberapa kasus Demam Tifus juga diiringi dengan berbagai gejala yang muncul pada kulit, seperti ruam, timbul bercak, rasa gatal berlebihan, dll. Dalam istilah medis, kondisi ini biasa disebut dengan Hives atau Urticaria. Pemberian vaksin tifus, juga terkadang dapat memberikan gejala yang sama sebagai bentuk reaksi tubuh terhadap tindakan yang diberikan.[4]

10. Keringat Berlebih

Selain beberapa gangguan kulit diatas, orang yang terinfeksi juga pada umumnya dapat mengalami gejala keringat berlebih. Hal ini tidak selalu dikarenakan atas infeksi Penyakit Demam Tifus sendiri, namun juga dapat dikarenakan reaksi dari obat-obatan yang dikonsumsi dalam masa perawatan.

11. Batuk Bronkitis

Pada beberapa kasus, Batuk Bronkitis dapat menjadi gejala dan indikasi awal Demam Tifus. Namun apabila tidak langsung ditangani dengan seksama, batuk tersebut dapat berubah menjadi penyakit komplikasi akut yang menyerang sistem pernapasan.

Pengobatan Demam Tifus

Dilihat dari kacamata medis, cara pengobatan terbaik dari penyakit ini adalah dengan dilakukannya perawatan yang ditangani oleh tenaga ahli (dokter). Namun sebagai tindakan preventif, dapat dilakukan upaya seperti vaksinasi Demam Tifus.

Meski efikasi yang dimiliki tidaklah 100%, namun keterjangkitan nantinya hanya akan memberikan gejala-gejala ringan. Selain itu, perawatan klinis dan pemberian antibiotik serta analgesik juga merupakan pilihan terbaik yang biasa dilakukan dalam menangani Penyakit Demam Tifus ini.

Beberapa nama seperti Ceftriaxone, Chloramphenicol, Amoxicillin,[1][2][3][4] Trimethoprim-sulfamethoxazole, serta Azithromycin,[1][2][3] dapat menjadi pilihan antibiotik dan antimikrobial yang disarankan. Namun penggunaannya harus selalu diiringi dengan resep dan takaran yang diberikan melalui konsultasi dokter.

By: Sir Lord Artaz Gang

1) Harris, J. B., and Brooks, W. A. 2020. sciencedirect. Typhoid and paratyphoid (enteric) fever.
2) Laura Saporito, Claudia Colomba, and Lucina Titone. 2017. sciencedirect. Typhoid Fever.
3) Levine, M. M. 2018. sciencedirect. Typhoid fever vaccines.
4) Robert A. Kingsley, Gordon Dougan, Barrett, A. D., and Stanberry, L. R. 2009. sciencedirect. Vaccines for biodefense and emerging and neglected diseases.
5) Turner, R. B. 2015. sciencedirect. The common cold.

Share