Demam Tifoid: Penyebab – Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Demam Tifoid?

Demam tifoid atau tipes tejadi ketika seseorang terinfeksi oleh bakteri bernama Salmonella typhi melalui makanan dan air yang terkontaminasi atau kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi. [3]

Infeksi bakteri Salmonella typhi  dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak segera mendapatkan perawatan. [4]

Anak-anak hingga orang dewasa dapat menderita infeksi ini, namun anak-anak paling berisiko terserang demam tifoid. [4]

 Apa bedanya demam tifoid dan demam paratifoid?

Demam tifoid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Sedangkan, demam paratyphoid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Paratyphi. [2, 5]

Fakta Demam Tifoid

Berikut ini ialah fakta-fakta terkait demam tifoid: [1,2,6,7]

  • Ada dua bentuk vaksin yang tersedia, bentuk oral dan bentuk injeksi. Vaksin ini telah digunakan selama bertahun-tahun untuk mencegah demam tifoid.
  • Sekitar 3% hingga 5% pasien menjadi pembawa bakteri setelah penyakit akut.
  • Demam tifoid dapat diobati dengan antibiotik walaupun peningkatan resistensi terhadap berbagai jenis antibiotik membuat pengobatan menjadi lebih rumit.
  • Menurut Centers for Disease Control Prevention (CDC), kasus demam tifoid di seluruh dunia mencapai sekitar 11 hingga 21 juta orang dan demam paratifoid sekitar 5 juta orang setiap tahun.
  • Sementara itu di Amerika Serikat terdapat sekitar 350 orang didiagnosis menderita demam tifoid. Jumlah tersebut belum termasuk orang yang tidak mengambil pengobatan medis atau yang tidak dilaporkan ke CDC.
  • Menurut CDC ada sekitar 5.700 orang di Amerika Serikat setiap tahunnya yang menderita demam tifoid. Sebagian besar orang yang didiagnosis menderita demam tifoid di Amerika Serikat telah melakukan perjalanan ke tempat-tempat dimana demam tifoid biasa terjadi.
  • Data dari WHO (World Health Organization) menunjukkan, di Indonesia diperkirakan ada 800 hingga 100.000 kasus demam tifoid sepanjang tahun. Kasus demam tifoid di derita oleh anak-anak sebesar 91% berusia 3-19 tahun dengan angka kematian 20.000 pertahunnya.

Siapa yang paling berisiko?

Demam tifoid paling umum terjadi di tempat-tempat di seluruh dunia yang memiliki sanitasi buruk dan akses air bersih yang terbatas. [2, 4]

Tempat dengan kasus demam tifoid paling banyak adalah India, Afrika, Asia Selatan dan Tenggara, dan Amerika Selatan. Sementara di Inggris kasus demam tifoid jarang sekali terjadi. [4]

Kasus demam tifoid paling sering terjadi pada anak-anak. Meski gejalanya cenderung lebih ringan dibandingkan dengan orang dewasa. [4]

Penyebab Demam Tifoid

Demam tifoid disebabkan oleh jenis bakteri Salmonella typhi yang menyebar melalui makanan, air atau kotoran. [2, 3, 4, 5]

Jika penderita demam tifoid tidak mencuci tangan dengan benar setelah pergi ke kamar mandi, mereka dapat menyebarkan infeksi kepada orang lain yang memakan makanan yang terkontaminasi.

Di negara dengan dengan sanitasi buruk limbah manusia yang terinfeksi dapat mencemari pasokan air. [4]

Selain itu, melakukan hubungan seks dengan seseorang yang merupakan pembawa bakteri Salmonella typhi juga dapat membuat Anda tertular demam tifoid.

Sejumlah orang yang sembuh dari demam tifoid tanpa perawatan dapat menjadi pembawa infeksi. Itu artinya bakteri Salmonella typhi terus hidup di tubuh mereka dan dapat menyebarkan infeksi kepada orang lain meskipun mereka tidak lagi memiliki tanda atau gejala penyakit itu. [3, 4]

Gejala Demam Tifoid

Gejala demam tifoid  cenderung berkembang secara bertahap selama satu hingga tiga minggu setelah terpapar penyakit. Ketika muncul awalnya Anda akan mengalami: [3]

Kemudian apabila tidak segera diobati Anda akan mengalami: [3]

  • Mengigau.
  • Kelelahan dan berbaring dengan kondisi mata setengah tertutup.

Demam tifoid yang tidak segera diobati ini akan memerlukan waktu lama untuk sembuh yakni berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya dan gejalanya pun sewaktu-waktu dapat kembali. Untuk itu segeralah lakukan pengobatan ketika gejala-gejala di atas mulai muncul. [4]

Kapan harus ke dokter?

Temui dokter sesegera mungkin jika Anda memiliki tanda-tanda dan gejala demam tifoid terutama ika Anda baru saja bepergian ke luar negeri. Ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit menular karena mereka mungkin dapat mengenali dan mengobati penyakit Anda lebih cepat. [3, 4]

Komplikasi Demam tifoid

Pendarahan atau Usus Berlubang

Komplikasi ini adalah komplikasi yang paling serius dari demam tifoid. Tanda-tanda dan gejala komplikasi ini seperti sakit perut yang parah, mual, muntah dan infeksi aliran darah (sepsis). Kondisi ini bisa berakibat fatal apabila tidak segera mendapat pertolongan medis. [3, 4]

Komplikasi Lainnya

Komplikasi lainnya yang jarang terjadi yaitu: [3]

  • Peradangan otot jantung (miokarditis).
  • Peradangan pada selaput jantung dan katup (endokarditis).
  • Radang paru-paru.
  • Peradangan pankreas (pankreatitis).
  • Infeksi ginjal atau kandung kemih.
  • Infeksi dan peradangan selaput dan cairan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meningitis).
  • Masalah kejiwaan, seperti delirium, halusinasi dan psikosis paranoid.

Diagnosa Demam Tifoid

  • Riwayat Medis dan Perjalanan

Petama dokter biasanya akan menanyakan mengenai gejala yang Anda alami, riwayat kesehatan dan perjalanan Anda. [3]

  • Cairan Tubuh atau Kultur Jaringan

Setelah itu dokter dapat melakukan identifikasi Salmonella typhi dengan meminta sampel darah Anda, cairan tubuh seperti urin, feses atau jaringan tubuh lainnya.

Dokter akan membiakkan sampel tersebut pada media khusus yang mendorong pertumbuhan bakteri. Kemudian kultur diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui adanya bakteri tifoid.

Selain tes telah disebutkan dalam beberapa kasus dapat pula dilakukan tes lainnya seperti tes untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri tifoid dalam darah Anda atau tes yang memeriksa DNA tifoid dalam darah Anda. [3, 5]

Pengobatan Demam Tifoid

Antibiotik

Terapi antibiotik adalah satu-satunya pengobatan yang efektif untuk demam tifoid. Beberapa Antibiotik yang efektif untuk pengobatan demam tifoid meliputi: [2, 3, 4]

1. Ciprofloxacin (Cipro)

Ciprofloxacin diresepkan bagi orang dewasa yang tidak hamil. Obat lain yang juga dapat digunakan yaitu ofloxacin. Sayangnya, banyak bakteri Salmonella typhi tidak lagi rentan terhadap antibiotik jenis ini, terutama jenis yang didapat di Asia Tenggara. [2, 3]

2. Azitromisin (Zithromax)

Antibiotik ini dapat digunakan jika seseorang tidak dapat menggunakan ciprofloxacin. [3]

3. Ceftriaxone

Untuk orang yang tidak dapat menggunakan ciprofloxacin, seperti anak-anak dapat menggunakan obat ini. Antibiotik yang dapat disuntikkan ini adalah alternatif untuk infeksi yang lebih rumit atau serius. [3]

Obat-obatan di atas dapat menyebabkan efek samping, dan penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan perkembangan bakteri yang resisten terhadap antibiotik. [3, 4]

Pengobatan Lainnya

1. Minum Air

Minum air dapat membantu mencegah dehidrasi akibat demam dan diare yang berkepanjangan. Jika Anda mengalami dehidrasi parah, Anda mungkin perlu menerima cairan melalui vena (intravena).

2. Operasi

Jikademam tifoid sudah parah dan menyebabkan usus Anda berlubang, Anda perlu operasi untuk memperbaiki lubangnya. [3]

Cara Mencegah Menulari Orang Lain

Jika Anda telah pulih dari demam tifoid, langkah-langkah ini dapat membantu menjaga orang lain tetap aman: [3]

  • Minumlah antibiotik Anda

Ikuti saran yang dokter berikan dengan meminum atibiotik dan pastikan Anda menghabiskan antibiotik yang diresepkan.

  • Cuci tangan Anda sesering mungkin

 Hal ini adalah yang paling penting Anda lakukan untuk mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain. Gunakan sabun yang telah diberi air panas dan gosok tangan Anda setidaknya selama 30 detik, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.

  • Hindari menyentuh makanan

Mintalah orang lain untuk menggantikan Anda menyiapkan makanan. Hal ini agar Anda tidak menyentuh makanan yang dapat membuat orang lain ikut tertular. Jika Anda bekerja di industri makanan atau fasilitas kesehatan, Anda tidak akan diperbolehkan untuk kembali bekerja sampai tes menunjukkan bahwa Anda tidak lagi terinfeksi. [3]

Pencegahan Demam Tifoid

Selain memastikan air minum yang aman dan menjaga sanitasi yang baik, kita juga dapat mencegah dan mengendalikan demam tifoid dengan cara melakukan vaksinasi.

Vaksin demam tifoid dianjurkan jika Anda tinggal di atau bepergian ke daerah-daerah di mana risiko terkena demam tifoid tinggi. [3, 4]

Ada dua vaksin yang tersedia:

  • Vaksin yang disuntikkan dalam dosis tunggal setidaknya satu minggu sebelum bepergian.
  • Vaksin yang diberikan secara oral dalam empat kapsul, dengan satu kapsul harus diminum setiap hari.

Vaksin tidak 100% efektif, dan keduanya membutuhkan imunisasi ulang, karena efektivitas vaksin berkurang dari waktu ke waktu. Sama seperti obat-obatan lainnya vaksin ini juga dapat memberikan efek samping seperti sakit perut, sakit kepala, dan diare.

Selain itu anda juga bisa melakukan langkah-langkah ini untuk mencegah demam tifoid ketika bepergian ke daerah yang berisiko tinggi: [3]

1. Cuci Tangan Anda

Sering mencuci tangan dengan air sabun yang panas adalah cara terbaik untuk mengendalikan infeksi. Cucilah tangan sebelum makan atau menyiapkan makanan dan setelah menggunakan toilet. 

Bawalah hand sanitizer atau pembersih tangan mengandung alkohol untuk alternatif ketika air tidak tersedia. [3]

2. Hindari Minum Air Putih yang Tidak Diolah

Untuk menghindari agar Anda tidak meminum air yang terkontaminasi ada baiknya minumlah hanya air botolan atau minuman kaleng, anggur dan bir berkarbonasi. Air botolan berkarbonasi lebih aman daripada air kemasan tidak berkarbonasi.

Minumlah minuman tanpa es. Gunakan air kemasan untuk menggosok gigi dan cobalah untuk tidak menelan air di kamar mandi. [3]

3. Hindari Buah dan Sayuran Mentah

Hindari produk mentah seperti buah-buahan dan sayuran yang tidak dapat dikupas karena produk tersebut bisa saja dicuci dengan air yang tidak aman.

4. Pilih Makanan Panas

Hindari makanan yang disimpan atau disajikan pada suhu kamar. Makan-makanan yang dikukus lebih baik untuk Anda konsumsi. Hindari makanan yang disajikan dari pedagang kaki lima karena lebih mungkin terkontaminasi meskipun belum tentu makanan yang disajikan di restoran sudah pasti aman.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment