Penyakit & Kelainan

Giardiasis : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Giardiasis?

Giardiasis merupakan sebuah kondisi pencernaan yang terganggu sebagai akibat dari infeksi parasit pada usus halus [1,2,4,5,6].

Giardia lamblia adalah nama jenis parasit penyebab infeksi tersebut dan jika giardiasis terjadi, penularannya dapat terjadi melalui makanan atau air yang telah terkontaminasi parasit tersebut [1,4,6].

Wilayah yang ramai dan cenderung padat penduduk, ditambah dengan tingkat kebersihan yang rendah dapat meningkatkan kemungkinan giardiasis untuk terjadi.

Tinjauan
Giardiasis merpakan gangguan pencernaan akibat infeksi yang menyerang usus halus dan utamanya disebabkan oleh parasit Giardia lamblia.

Fakta Tentang Giardiasis

  1. Giardiasis adalah sebuah kondisi infeksi protozoa enterik paling umum di dunia yang paling kerap dijumpai di negara-negara berkembang dengan jumlah kasus mencapai 33% populasi [1].
  2. Sementara di negara-negara maju, giardiasis diperkirakan menyerang sekitar 8% anak-anak dan 2% orang dewasa [1].
  3. Di Amerika Serikat, diketahui terdapat kurang lebih 1,2 juta kasus giardiasis dengan lebih banyak penderita yang tak teridentifikasi karena tanpa gejala dan penderita hanya sebagai pembawa parasit [1].
  4. Pada tahun 2012, menurut laporan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) prevalensi giardiasis mencapai 15,223 kasus dengan rata-rata pasien usia balita (0-4 tahun) [1].
  5. Di Indonesia, prevalensi giardiasis menurut hasil penelitian Simadibrata tahun 2004 adalah 3,62 dan diketahui bahwa 1,2% dari anak-anak penderita diare di Malang rupanya menderita giardiasis sebagai penyebabnya [2].

Penyebab Giardiasis

Parasit Giardia (Giardia duodenalis / Giardia lamblia / Giardia intestinalis)  pada dasarnya terdapat pada usus manusia dan hewan di mana parasit ini mampu bertahan hidup di sana [1,3,4,5,6].

Parasit ini juga diketahui mampu bertahan hidup pada tinja hewan serta manusia sehingga memiliki risiko besar dalam mencemari tanah, air, dan makanan [3].

Giardiasis dapat terjadi apabila seseorang mengonsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi parasit ini.

Penularan akan semakin mudah terjadi ketika seseorang tak menjaga kebersihan diri dengan baik, seperti tak mencuci tangan sebelum makan.

Namun, penggunaan air yang sudah terkontaminasi parasit untuk mencuci alat makan juga berbahaya.

Penularan dan penyebaran infeksi parasit penyebab giardiasis dapat juga terjadi ketika seseorang kontak dengan orang lain.

Hubungan seks anal tanpa alat pengaman dan orang tua yang mengganti popok anak berpotensi besar untuk tertular.

Faktor Risiko Giardiasis

Parasit giardia penyebab giardiasis sebenarnya adalah jenis parasit usus yang tergolong sangat umum dan bukan hal baru.

Namun, ketahui bahwa terdapat sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko giardiasis, yaitu [1,2,3] :

  • Orang-orang yang melakukan seks anal tanpa pemakaian kondom.
  • Orang-orang yang tinggal di wilayah dengan tingkat sanitasi rendah, khususnya kurangnya air bersih.
  • Orang-orang yang berwisata atau mengunjungi wilayah dengan tingkat sanitasi rendah dan mengonsumsi air atau makanan di sana yang tak terjamin kebersihannya dan telah terkontaminasi parasit.
  • Anak-anak lebih berpotensi mengalami giardiasis daripada orang dewasa, khususnya balita yang masih mengenakan popok.
  • Orang dewasa yang memiliki anak balita atau orang dewasa yang bekerja dan terlibat dengan anak-anak, seperti pengasuh.
Tinjauan
Giardia duodenalis atau Giardia lamblia atau Giardia intestinalis adalah parasit penyebab infeksi giardiasis. Penularannya dapat melalui air, makanan, atau benda-benda yang telah terkontaminasi oleh feses penderita maupun hubungan seks oral maupun anal.

Gejala Giardiasis

Pada beberapa kasus, penderita giardiasis tak menunjukkan gejala sama sekali.

Meski demikian, parasit itu tetap ada di dalam tubuh penderita dan penderita sangat berpotensi menyebarkannya, terutama melalui feses saat buang air besar.

Namun pada kasus giardiasis dengan gejala, berikut adalah tanda-tanda yang perlu dikenali dan diwaspadai [1,4,5,6] :

  • Lebih sering buang angin (kentut)
  • Diare dengan feses yang mengandung minyak
  • Perut terasa kembung
  • Mual yang kemungkinan dapat disertai muntah
  • Sakit kepala
  • Tubuh lemas
  • Tubuh lebih cepat lelah
  • Berat badan turun
  • Nafsu makan menurun
  • Perut terasa kram

Umumnya, gejala seperti ini akan terjadi selama 2-6 minggu, namun ada pula yang mengalami gejala jauh lebih lama.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Jika perut terasa kembung disertai diare dan mual yang dialami berhari-hari atau sampai satu minggu lamanya, segera ke dokter.

Atau, segera periksakan jika mengalami dehidrasi karena diare yang terus-menerus dan tak kunjung membaik.

Tanyakan pada dokter mengenai adanya kemungkinan risiko infeksi giardia, terutama jika gejala timbul tak lama usai bepergian ke wilayah endemik atau meminum air mentah dari sumber air tertentu.

Tinjauan
Gejala utama giardiasis meliputi sering buang angin, diare (feses berminyak), sakit kepala, perut kembung, mual, perut kram, nafsu makan turun, berat badan turun, tubuh cepat lelah, dan tubuh terasa lemas yang kadang juga dapat disertai dengan muntah-muntah.

Pemeriksaan Giardiasis

Untuk mengonfirmasi apakah gejala yang dialami oleh pasien benar-benar adalah kondisi giardiasis, dokter perlu melakukan beberapa metode diagnosa di bawah ini :

  • Tes Feses

Dokter perlu memeriksa sampel feses pasien untuk mengonfirmasi apakah pasien benar-benar mengalami infeksi giardia [1,3,4,5,6].

Dokter akan mengambil sampel feses pasien untuk kemudian diperiksa di laboratorium dan memeriksa jenis infeksi yang terjadi, berikut jenis parasit yang menyebabkan infeksi tersebut.

Pemeriksaan lainnya yang dokter perlu terapkan adalah endoskopi, yaitu metode pemeriksaan untuk mengecek kondisi saluran cerna pasien [4,6].

Pada prosedur endoskopi ini, dokter kemudian juga dapat menerapkan biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan saluran pencernaan pasien [1,5,6].

Sampel jaringan akan dibawa ke laboratorium agar dokter dapat menganalisanya secara detail.

Metode pemeriksaan ini membantu dokter untuk mengetahui apakah kiranya ada penyebab lain gejala selain giardiasis.

Tinjauan
Pemeriksaan giardiasis umumnya dilakukan dengan metode tes sampel feses pasien diikuti dengan endoskopi dan biopsi.

Pengobatan Giardiasis

Giardiasis pada anak-anak maupun orang dewasa tanpa adanya gejala tidak akan memerlukan penanganan dalam bentuk apapun.

Namun para penderita ini akan memerlukan penanganan jika parasit di dalam tubuh penderita tanpa gejala diketahui menyebar.

Pada kasus giardiasis dengan gejala, berikut ini merupakan sejumlah obat yang paling umum diresepkan oleh dokter :

Giardiasis dapat ditangani dengan tinidazole melalui pemberian dosis tunggal [1,4,6].

Obat ini sangat baik dan memiliki tingkat efektivitas tinggi dalam mengobati gejala giardiasis.

Jenis antibiotik satu ini memiliki tingkat efektivitas lebih tinggi daripada tinidazole [1,4,5,6].

Dokter biasanya meresepkan untuk penggunaan selama 5-7 hari, namun waspadai beberapa efek sampingnya.

Pasien dapat mengalami mual, nyeri perut, urine merah kecoklatan, sakit kepala, muntah dan merasakan logam pada mulut usai menggunakannya [4].

Untuk giardiasis anak, dokter akan meminta pasien mengonsumsi nitazoxanide [1,4,6].

Pemberian obat dilakukan dalam bentuk cair dan penggunaannya hanya selama 3 hari saja.

Obat ini juga kemungkinan dapat diresepkan oleh dokter dengan dosis untuk 5-10 hari penggunaan [1,4,5,6].

Untuk ibu hamil, paromomycin memiliki risiko efek samping cacat lahir pada janin yang cukup rendah.

Hanya saja, ibu hamil perlu menggunakan obat ini menunggu sampai pasca melahirkan supaya lebih aman [1].

  • Obat Lainnya

Obat lainnya yang kemungkinan diresepkan oleh dokter adalah mebendazole dan albendazole [1,4,6].

Mebendazole dan albendazole dapat menjadi alternatif dari metronidazole; tanyakan pada dokter mengenai efek sampingnya jika resep obat ini diberikan.

Tinjauan
Pemberian obat-obatan dilakukan oleh dokter untuk mengatasi gejala-gejala giardiasis, seperti metronidazole, paromomycin, nitazoxanide, tinidazole, mebendazole dan albendazole.

Komplikasi Giardiasis

Infeksi giardiasis walau merupakan kondisi yang umum, bila tak tertangani dengan benar dan cepat akan sangat berbahaya.

Beberapa komplikasi serius dan berpotensi fatal pada anak dan bayi yang patut diwaspadai adalah :

  • Dehidrasi, yang jika tak segera ditangani maka dapat berakibat pada kondisi diare parah dan berakibat fatal pada pasien dengan usia anak [1,4].
  • Intoleransi laktosa, yaitu sebuah kondisi di mana penderita tak mampu mencerna gula susu dan kondisi ini dapat berlanjut jangka panjang walau infeksi sudah berhasil terobati [1,3,4,6].
  • Perkembangan fisik dan mental yang terhambat, di mana hal ini dapat terjadi pada pasien giardiasis usia anak yang masih dalam usia tumbuh kembang. Kondisi ini berkaitan dengan diare kronis yang akan memicu malnutrisi lalu berdampak pada perkembangan mental serta fisik anak [4,6].
  • Arthritis reaktif, yaitu sebuah kondisi dengan nama lain sindrom Reiter; yaitu sendi yang mengalami radang karena infeksi seperti halnya giardiasis [1,4].
  • Alergi makanan, di mana reaksi alergi ini terjadi ketika penderita mengonsumsi makanan tertentu [1,4].
  • Sindrom kelelahan kronis, yaitu kondisi ketika tubuh merasa lelah sepanjang waktu bahkan ketika waktu istirahat dirasa selalu cukup [1,4].
  • Sindrom iritasi usus besar, atau sebuah kondisi gangguan pencernaan atau iritasi yang terjadi pada usus besar yang dapat dipicu oleh kondisi infeksi pada pencernaan seperti giardiasis [1,4,5].

Pencegahan Giardiasis

Giardiasis adalah jenis infeksi yang tak dapat dicegah melalui vaksin atau obat-obatan tertentu.

Untuk meminimalisir risiko giardiasis, hal-hal di bawah ini dapat dilakukan [3] :

  • Menghindari minum air mentah, terutama minum air langsung dari danau, sumur, air kolam, air terjun, atau sungai jika belum disaring atau dimasak hingga matang.
  • Selalu mencuci tangan baik setelah menggunakan toilet, mengganti popok anak, sebelum memasak atau mengolah makanan, maupun sebelum makan.
  • Mencuci tanganlah menggunakan sabun dan air mengalir bersih.
  • Menggunakan cairan pembersih tangan dengan kadar alkohol tinggi sebagai pengganti air dan sabun tidak efektif untuk kasus infeksi giardiasis, maka pastikan mencuci tangan tetap menggunakan air bersih dan sabun.
  • Melakukan hubungan seksual dengan benar dan aman; penggunaan kondom sangat dianjurkan untuk seks anal.
  • Menghindari aktivitas seks anal dan oral kecuali jika telah mempersiapkannya dengan pengaman.
  • Membawa air botol kemasan jika sedang berjalan-jalan atau berwisata sehingga dapat menghindari minum air mentah di sekitar tempat yang dikunjungi.
  • Menghindari konsumsi sayur dan tumbuhan mentah serta buah yang baru dipetik dari pohonnya tanpa dibersihkan lebih dulu.
  • Jika berenang di danau, kolam, atau sumber air di tempat yang sedang dikunjungi, jangan buka mulut dan jaga agar air tidak masuk ke dalam tubuh.
Tinjauan
Pencegahan terbaik untuk kasus giardiasis adalah dengan menjaga kebersihan diri dengan baik dan benar. Menghindari minum di sumber air yang tak terjamin kebersihannya, menghindari seks anal maupun oral tanpa pengaman, serta menghindari makanan-makanan yang tak diolah secara matang dapat dilakukan juga.

1. Noel Dunn & Andrew L. Juergens. Giardiasis. National Center for Biotechnology Information; 2020.
2. Haerani Harun, Nurhayana Sennang, & Benny Rusli. Giardiasis. Jurnal Kesehatan Tadulako; 2019.
3. Seow Huey Choy, Hesham M. Al-Mekhlafi, Mohammed A. K. Mahdy, Nabil N. Nasr, Maria Sulaiman, Yvonne A. L. Lim, & Johari Surin. Prevalence and Associated Risk Factors of Giardia Infection among Indigenous Communities in Rural Malaysia. Scientific Reports; 2014.
4. Paige Rumsey & Muhammad Waseem. Giardia Lamblia Enteritis. National Center for Biotechnology Information; 2020.
5. Kristine Mørch, Kurt Hanevik, Guri Rortveit, Knut-Arne Wensaas, Geir Egil Eide, Trygve Hausken, & Nina Langeland. Severity of Giardia infection associated with post-infectious fatigue and abdominal symptoms two years after. BioMed Central Infectious Diseases; 2009.
6. Timothy B. Gardner & David R. Hill. Treatment of Giardiasis. Clinical Microbiology Reviews; 2001.

Share