Penyakit & Kelainan

Ginofobia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Ginofobia?

Ginofobia merupakan sebuah jenis fobia spesifik di mana seseorang mengalami ketakutan berlebih, intens dan irasional terhadap wanita [1].

Hanya saja, ginofobia dan misogyny adalah dua hal yang berbeda di mana ginofobia lebih kepada rasa takut dan panik ketika berhadapan dengan wanita, sedangkan misogyny adalah kecenderungan membenci dan menghakimi wanita [2,3].

Jika ginofobia merupakan jenis fobia dengan dasar gangguan kecemasan sehingga menimbulkan reaksi panik dan takut, misogyny pada dasarnya merupakan sikap, budaya dan pandangan yang dipelajari seseorang dan hal ini berdampak bahaya [2,3].

Tinjauan
Ginofobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik di mana seseorang memiliki ketakutan ekstrem terhadap wanita.

Penyebab Ginofobia

Seperti halnya fobia spesifik pada umumnya, ginofobia pun dapat disebabkan oleh sejumlah faktor seperti berikut :

  • Faktor Genetik

Pengaruh anggota keluarga dengan riwayat fobia spesifik (terutama ginofobia) dan gangguan kecemasan maupun gangguan mental lain mampu meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama [1,4,5].

Kondisi kesehatan mental pun dapat diturunkan kepada sesama anggota keluarga, khususnya dari orang tua ke anak-anaknya.

  • Faktor Lingkungan

Seseorang yang berada di tengah-tengah lingkungan dengan orang-orang yang memiliki ketakutan irasional terhadap perempuan maka dapat banyak berpengaruh [1,4,5,6].

Perilaku yang dipelajari seseorang dari orang-orang terdekat mengenai pandangan dan respon terhadap wanita bisa menjadi pemicu ginofobia.

  • Pengalaman Traumatis

Seseorang yang memiliki pengalaman tak menyenangkan dengan perempuan dapat menjadi alasan kuat mengapa timbul rasa takut yang ekstrem [1,5].

Kekerasan fisik maupun mental, pelecehan seksual hingga penyerangan fisik oleh wanita adalah hal-hal menakutkan yang dapat membuat seseorang mengalami trauma.

Faktor Risiko Ginofobia

Beberapa orang memiliki kerentanan lebih tinggi menderita ginofobia karena beberapa hal di bawah ini [1,4,5,6] :

  • Memiliki anggota keluarga dengan gangguan kecemasan atau fobia.
  • Berusia muda, karena rata-rata fobia spesifik seperti ginofobia dapat terjadi pada masa kanak-kanak sekitar usia 10 tahun yang kemudian dapat berlanjut hingga telah tumbuh dewasa.
  • Membaca dan mendengarkan informasi atau pengalaman orang lain seputar hal-hal buruk tentang perempuan.
  • Memiliki pengalaman traumatis atau negatif dengan wanita.
  • Memiliki kepribadian yang lebih sensitif daripada orang lain.
Tinjauan
Ginofobia adalah fobia spesifik yang dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor genetik, faktor lingkungan, dan faktor pengalaman traumatis yang berkaitan dengan wanita.

Gejala Ginofobia

Seseorang dengan ginofobia dapat menunjukkan sejumlah tanda atau gejala seperti berikut [1,6,7] :

  • Menghindari berbagai aktivitas dan situasi yang melibatkan wanita di dalamnya; penderita ginofobia sangat enggan berinteraksi dengan wanita.
  • Mengalami rasa takut yang sangat hebat disertai rasa cemas dan panik ketika membayangkan, membicarakan, bertemu atau berada di sekitar wanita.
  • Sulit bernapas.
  • Mual atau sakit perut.
  • Nyeri pada bagian dada.
  • Berkeringat lebih banyak.
  • Detak jantung lebih cepat dari normalnya.
  • Pusing dan dapat mengalami kehilangan kesadaran/pingsan.
  • Ketidakmampuan mengendalikan rasa takut, panik dan cemas terhadap wanita.
  • Terhambatnya aktivitas sehari-hari karena menghindari keterlibatan dan interaksi dengan wanita hingga memilih untuk mengisolasi diri.

Pada anak-anak, gejala ginofobia yang paling umum adalah mereka akan menangis, rewel, dan menolak untuk ditinggal sendiri bersama seorang wanita.

Anak-anak dengan ginofobia akan lebih dekat dan merasa nyaman hanya dengan orang tua pria atau kerabat pria saja.

Pada kasus ginofobia yang dialami anak, kondisi berisiko terus berlanjut bila tidak segera ditangani sampai usia anak semakin dewasa.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Seseorang perlu segera memeriksakan diri khususnya ke dokter ahli kesehatan mental saat kecemasan terasa begitu ekstrem setiap berada di dekat wanita.

Jika hal ini lama-kelamaan menghambat aktivitas sehari-hari, termasuk hubungan sosial dengan orang lain dan memengaruhi performa pekerjaan maupun sekolah, segera tangani.

Ketika gejala-gejala ginofobia tampak pada anak-anak, penting untuk segera memeriksakan dan mengobatinya.

Bila diabaikan, gejala dapat memburuk dan mampu mengganggu kemampuan anak dalam bersosialiasis dan menghambat fungsinya di dalam masyarakat.

Oleh karena itu, pemeriksaan dan penanganan perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan mental profesional.

Tinjauan
Ginofobia dapat menimbulkan sejumlah gejala di mana yang terutama adalah penghindaran dari wanita. Penderita akan merasa takut, panik serta cemas ketika berada di sekitar wanita atau bahkan saat membicarakan maupun memikirkannya saja.

Pemeriksaan Ginofobia

Pemeriksaan ginofobia dapat diawali dengan pemeriksaan fisik terlebih dulu [4,6].

Dokter perlu mengetahui apakah gejala-gejala gangguan panik dan kecemasan berkaitan dengan keberadaan luka fisik pada tubuh pasien.

Bila tidak terdapat hal-hal mencurigakan pada fisik pasien, dokter dapat merujukkan ke ahli kesehatan mental untuk evaluasi lebih lanjut dalam hal psikologis [4,6].

Terdapat kriteria diagnostik yang umumnya digunakan oleh dokter ahli kesehatan mental, yaitu panduan dari DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual 5th Edition) [8].

Kriteria fobia spesifik yang lebih rinci akan membantu penegakan diagnosa sebelum menentukan penanganan yang sesuai [8].

  • Mengalami rasa takut yang begitu hebat dan persisten ketika dihadapkan pada wanita, bahkan ketika hanya membicarakan atau memikirkan.
  • Merasa berada dalam bahaya ketika berada di dekat wanita atau saat berinteraksi dengan wanita walaupun hal tersebut biasa saja dan tidak bersifat mengancam.
  • Menghindari situasi yang mengharuskan interaksi atau berada dekat dengan wanita. Jikapun tak dapat menghindar, maka penderita akan mengalami stres yang ekstrem karena rasa takut dan panik yang ia berusaha tahan.
  • Setidaknya mengalami gejala-gejala ginofobia selaa 6 bulan, baik anak-anak maupun orang dewasa.
  • Memengaruhi aktivitas sehari-hari dan mampu menghambat performa belajar, bekerja dan kehidupan sosial.
  • Kondisi gejala ginofobia tidak disebabkan oleh gangguan kesehatan mental lain yang memiliki gejala serupa.
Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan evaluasi psikologis menjadi metode utama pemeriksaan ginofobia. Para ahli kesehatan mental biasanya menggunakan kriteria diagnostik DSM-V sebagai panduan dalam menegakkan diagnosa.

Penanganan Ginofobia

Fobia spesifik seperti ginofobia pun perlu ditangani dengan cepat melalui beberapa metode.

Psikoterapi, pemberian obat-obatan dan perubahan gaya hidup dapat membantu meredakan gejala yang pasien alami.

1. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah suatu metode penanganan fobia spesifik di mana terapis membantu pasien untuk melihat fobia yang dialami pada sudut pandang yang berbeda [9,10].

Jika rasa takut terhadap wanita timbul karena adanya sudut pandang atau cara berpikir negatif, maka terapis akan membantu mengubahnya menjadi positif [1].

Terapi ini diperlukan juga agar pasien dapat mengendalikan gejala-gejala yang timbul terkait gangguan panik dan gangguan cemas.

Ketika cara pandang tentang wanita telah berubah menjadi lebih baik, pasien dipastikan mampu mengatasi rasa takutnya di kehidupan sehari-hari.

Terapi ini bermanfaat dalam meningkatkan rasa percaya diri dan meredakan hal-hal negatif yang melingkupi perasaan serta pikiran pasien.

2. Terapi Eksposur

Terapi eksposur atau terapi pemaparan adalah suatu metode di mana pasien diekspos oleh terapis kepada sumber ketakutan [1,4,5,6,10].

Dalam hal ini, terapis secara berkala dan berulang akan mengekspos pasien kepada hal-hal yang berkaitan dengan wanita.

Sebelum akhirnya dihadapkan dengan wanita yang sesungguhnya, pasien biasanya akan diberi gambar, video maupun audio suara wanita lebih dulu untuk merasa terbiasa [1].

Terapi ini membantu pasien dalam mengatasi pikiran, perasaan dan hal-hal negatif lainnya yang timbul saat berada di sekitar wanita.

Jika melalui beberapa prosedur menggunakan gambar, video dan audio tersebut tidak terjadi masalah dan terdapat kemajuan dari kondisi pasien, terapis akan melanjutkannya [1].

Secara perlahan, terapis akan membantu pasien untuk berada di sekitar wanita sekaligus membantu berinteraksi dengan wanita terutama di luar ruangan.

3. Obat-obatan

Meski psikoterapi berupa terapi perilaku kognitif dan terapi eksposur tergolong sebagai penanganan efektif untuk fobia spesifik seperti ginofobia, terkadang pemberian obat-obatan juga tetap dapat membantu [1,5,6,11].

Pemberian resep obat oleh dokter bermanfaat sebagai pereda kecemasan dan pencegah serangan panik.

Psikoterapi yang dikombinasi dengan pemberian obat-obatan biasanya jauh lebih membantu dan mempercepat pemulihan pasien [1].

Pemberian obat-obatan tidak selalu dilakukan setelah psikoterapi karena terkadang pada beberapa kasus dilakukan justru sebagai penanganan awal.

Hal ini disebabkan pasien yang berpotensi merasa cemas dan takut terhadap situasi ketika harus berhadapan dengan petugas medis wanita.

Jika ginofobia turut menghambat proses pengobatan, maka biasanya beberapa jenis obat ini segera diberikan di awal :

  • Antidepresan

SSRI atau selective serotonin reuptake inhibitors umumnya diresepkan untuk mengatasi gangguan suasana hati [1,5].

Namun, antidepresan ini juga efektif dalam mencegah serangan panik sekaligus mengurangi gejala kecemasan yang timbul karena ginofobia.

  • Beta Blockers

Beta blockers merupakan salah satu golongan obat yang biasanya digunakan untuk menurunkan kadar tekanan darah [6].

Penderita fobia spesifik cenderung mudah mengalami peningkatan tekanan darah disertai detak jantung lebih cepat dan tremor sebagai bentuk gejala fisik dari gangguan kecemasan.

Untuk itu, beta blockers merupakan obat yang tepat untuk menormalkan kembali kadar tekanan darah dan membantu meredakan gangguan cemas pasien [11].

  • Sedatif

Benzodiazepine merupakan jenis obat sedatif yang menjadi alternatif dan dapat diresepkan oleh dokter apabila memang diperlukan [6].

Bila pun diresepkan, penggunaan obat ini biasanya dilakukan jangka pendek agar gejala kecemasan dapat berkurang.

Konsultasikan kembali dengan dokter mengenai efek samping dari obat ini; biasanya, pasien denga riwayat penyalahgunaan obat terlarang dan alkohol tidak dianjurkan menggunakan benzodiazepine.

4. Perubahan Gaya Hidup

Selama masa pemulihan dan juga untuk meminimalisir timbul kembalinya gejala-gejala ginofobia, penting untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat [12,13,14].

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Berolahraga seminggu setidaknya 3 kali.
  • Melakukan latihan Yoga.
  • Melakukan meditasi.
  • Membatasi asupan kafein agar tidak berlebihan (sebab kafein mampu memicu dan meningkatkan rasa cemas).
Tinjauan
Penanganan ginofobia umumnya seperti fobia spesifik lainnya, yaitu melalui psikoterapi (terapi perilaku kognitif dan terapi eksposur), pemberian obat (beta-blockers, antidepresan dan sedatif), serta perubahan gaya hidup.

Komplikasi Ginofobia

Ginofobia kerap dianggap bukan sebagai masalah yang serius, namun sebenarnya kondisi ini bila dibiarkan dapat menjadi hal yang berbahaya bagi penderitanya.

Kelangsungan hidup penderita akan terganggu dan aktivitas sehari-hari dapat mengalami hambatan [6].

Berikut adalah risiko komplikasi yang perlu diketahui dan diwaspadai [4,15] :

  • Performa pekerjaan, sekolah hingga kehidupan sosial yang menurun.
  • Isolasi sosial karena cenderung terus-menerus menghindari setiap situasi yang berkaitan dengan keberadaan wanita.
  • Depresi karena isolasi diri dan frustasi yang tak kunjung mereda.
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang sebagai cara mengendalikan rasa cemas dan panik berlebihan.
  • Keinginan dan aksi bunuh diri karena depresi yang semakin berat.

Pencegahan Ginofobia

Fobia spesifik tidak memiliki cara yang jelas untuk mencegahnya supaya tidak terjadi sama sekali.

Namun dengan pemeriksaan dan penanganan dini, terutama melalui terapi eksposur dapat meredakan kecemasan dan membantu mengurangi gejala ginofobia.

Para orang tua dengan kondisi fobia spesifik atau gangguan kecemasan dapat mencegah agar tidak menurunkan kondisi kepada anak.

Orang tua perlu mempelajari teknik-teknik dalam mengatasi dan mengelola stres mereka dengan baik dan dengan cara yang positif.

Ketika mampu mengelola stres dengan baik, maka situasi-situasi yang mudah memicu gangguan panik dan cemas tidak akan mudah memprovokasi.

Tinjauan
Tidak terdapat cara khusus dalam menangani ginofobia, namun untuk meminimalisir risiko komplikasi, deteksi dan penanganan dini sangat dianjurkan ketika gejala awal ginofobia mulai tampak.

1. Psych Times Staff. Gynophobia (Fear of Women). Psych Times; 2020.
2. Kalpana Srivastava, Suprakash Chaudhury, P. S. Bhat, & Samiksha Sahu. Misogyny, feminism, and sexual harassment. Industrial Psychiatry Journal; 2017.
3. Paul J. Fleming, Thomas L. Patterson, Claudia V. Chavarin, Shirley J. Semple, Carlos Magis-Rodriguez, & Eileen V. Pitpitan. Are men’s misogynistic attitudes associated with poor mental health and substance use behaviors? An exploratory study of men in Tijuana, Mexico. HHS Public Access; 2019.
4. William W Eaton, O Joseph Bienvenu, & Beyon Miloyan. Specific phobias. HHS Public Access; 2020.
5. René Garcia. Neurobiology of fear and specific phobias. Learning Memory; 2017.
6. Chandan K. Samra & Sara Abdijadid. Specific Phobia. National Center for Biotechnology Information; 2020.
7. Berta Ausín, Manuel Muñoz, Miguel Ángel Castellanos, & Sara García. Prevalence and Characterization of Specific Phobia Disorder in People over 65 Years Old in a Madrid Community Sample (Spain) and its Relationship to Quality of Life. International Journal of Environmental Research and Public Health; 2020.
8. Anonim. Specific Phobias. Perelman School of Medicine University of Pennsylvania; 2020.
9. Thompson E Davis 3rd, Patricia F Kurtz, Andrew W Gardner, & Nicole B Carman. Cognitive-behavioral treatment for specific phobias with a child demonstrating severe problem behavior and developmental delays. Research in Developmental Disabilities; 2007.
10. Antonia N. Kaczkurkin, PhD & Edna B. Foa, PhD. Cognitive-behavioral therapy for anxiety disorders: an update on the empirical evidence. Dialogues in Clinical Neuroscience; 2015.
11. Serge A Steenen, Arjen J van Wijk, Geert JMG van der Heijden, Roos van Westrhenen, Jan de Lange, & Ad de Jongh. Propranolol for the treatment of anxiety disorders: Systematic review and meta-analysis. Journal of Psychopharmacology; 2016.
12. Elizabeth Aylett, Nicola Small, & Peter Bower. Exercise in the treatment of clinical anxiety in general practice – a systematic review and meta-analysis. BioMed Central Health Services Research; 2018.
13. Josefien J. F. Breedvelt, Yagmur Amanvermez, Mathias Harrer, Eirini Karyotaki, Simon Gilbody, Claudi L. H. Bockting, Pim Cuijpers, & David D. Ebert. The Effects of Meditation, Yoga, and Mindfulness on Depression, Anxiety, and Stress in Tertiary Education Students: A Meta-Analysis. Frontiers in Psychiatry; 2019.
14. Gareth Richards & Andrew Smith. Caffeine consumption and self-assessed stress, anxiety, and depression in secondary school children. Journal of Psychopharmacology; 2015.
15. Michelle Gallagher, Mitchell J. Prinstein, Valerie Simon, & Anthony Spirito. Social anxiety symptoms and suicidal ideation in a clinical sample of early adolescents: examining loneliness and social support as longitudinal mediators. HHS Public Access; 2017.

Share