Penyakit & Kelainan

Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil: Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Infeksi saluran kemih (ISK) seringkali dialami oleh ibu hamil, dengan morbiditas dan perawatan kesehatan yang signifikan [1].

Perubahan saluran kemih yang terjadi selama masa kehamilan, dapat mempengaruhi perempuan untuk mengalami infeksi saluran kemih [1, 2].

Infeksi saluran kemih pada wanita hamil ini terus menjadi masalah klinis dan tantangan besar bagi dokter [3].

Menurut data, kejadian bakteriuria pada perempuan hamil memang hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan pada wanita tidak hamil, namun konsekuensinya bagi ibu dan janin lebih parah [3].

Fakta ISK pada Ibu Hamil

Berikut ini merupakan beberapa fakta terkait infeksi saluran kemih pada ibu hamil yang perlu diketahui [1]:

  • Infeksi saluran kemih diketahui menyumbang sekitar 10% dari konsultasi perawatan yang dilakukan oleh wanita hamil
  • Sekitar 15% wanita akan mengalami infeksi saluran kemih pada suatu waktu selama hidup
  • Berdasarkan anatomi, infeksi saluran kemih dapat dibedakan menjadi dua yaitu infeksi saluran kemih bagian bawah dan infeksi saluran kemih bagian atas
  • Infeksi saluran kemih bagian bawah melibatkan kandung kemih dan uretra
  • Infeksi saluran kemih bagian atas melibatkan ginjal dan ureter pelvis
  • Mayoritas kasus infeksi saluran kemih diketahui terjadi karena infeksi asendens

Penyebab ISK pada Ibu Hamil

Pengambangan rahim yang menyesuaikan perkembangan janin selama masa kehamilan dapat memberikan tekanan pada kandung kemih dan ureter (saluran pembawa urine dari ginjal ke kandung kemih) [4].

Tekanan pada kandung kemih dan ureter ini dapat menjadi penyebab terjadinya infeksi saluran kemih pada perempuan hamil [4].

Selain itu keadaan lain berikut ini dapat  dapat menyebabkan infeksi saluran kemih jika saling berkombinasi [1] :

  • Perubahan fisiologis hidronefrosis kehamilan
  • Kadar progesterone dan estrogen yang meningkat
  • Penurunan tonus ureter dan kandung kemih
  • Terjadinya statis urin dan reflukss uretero-vesikal
  • Glikosuria (urine mengandung lebih banyak gula)

Adapun faktor risiko infeksi saluran kemih pada ibu hamil antara lain [3] :

  • Status sosial ekonomi yang lebih rendah
  • Aktivitas seksual
  • Usia yang lebih tua
  • Multiparitas (sudah pernah melahirkan lebih dari 2-4 kali)
  • Kelainan anatomi saluran kemih
  • Penyakit sel sabit dan diabetes

Gejala ISK pada Ibu Hamil

Berikut ini merupakan beberapa gejala infeksi saluran kemih pada ibu hamil [4] :

  • Mengalami buang air kecil yang lebih sering dari biasanya
  • Mengalami sensasi terbakar saat buang air kecil
  • Warna urin yang dikeluarkan keruh
  • Urin yang dikeluarkan memiliki bau menyengat
  • Terdapat darah dalam urin yang dikeluarkan
  • Mengalami nyeri di punggung bawah, perut, dan samping

Kapan Harus ke Dokter?

Jika ibu hamil mengalami beberapa gejala berikut ini maka sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter [4] :

  • Terdapat darah pada urin yang dikeluarkan
  • Sakit punggung yang tidak biasanya
  • Mengalami demam
  • Mengalami panas dingin
  • Mengalami mual dan muntah

Dalam kondisi munculnya gejala tersebut sangat butuh pemeriksaan dokter karena menandakan adanya penyebaran infeksi ke ginjal [4].

Bahaya ISK pada Ibu Hamil

Infeksi saluran kemih merupakan suatu hal yang umum, namun dapat menjadi berbahaya jika terjadi selama kehamilan [5].

Infeksi saluran kemih menjadi berbahaya selama masa kehamilan jika infeksi terjadi pada salah satu atau kedua ginjal atau disebut dengan pielonefritis [5].

Bagi perempuan hamil, risiko penyebaran infeksi bakteri ke ginjal dan pielonefritis akan mengalami peningkatan karena pelvis ginjal dan ureter melebar [5].

Selain itu, jika bakteri diamati dalam urin tanpa gejala infeksi saluran kemih maka pasien didiagnosis menderita bakteriuria asimtomatik yang dapat menjadi berbahaya bagi perempuan hamil [5].

Bakteriuria asimtomatik ini memang suatu hal yang umum namun dapat meningkatkan risiko infeksi ginjal karena perubahan fisiologis dan hormonal selama masa kehamilan [5].

Jika, bakteriuria asimtomatik ini berkembang menjadi pielonefritis selama kehamilan maka akan memberikan efek negatif pada kondisi ibu dan janin [5].

Efek negatif yang mungkin dapat terjadi ketika bacteriuria asimtomatik berkembang menjadi pielonefritis antara lain [5] :

  • Sepsis
  • Anemia ibu
  • Kelahiran prematur
  • Berat badan lahir rendah
  • Kematian perinatal

Sejauh ini, hanya sebagian kecil perempuan hamil yang mengembangkan infeksi saluran kemih atau bacteriuria menjadi pielonefritis [5].

Meskipun demikian, perlu diketahui juga bahwa infeksi saluran kemih ini bahkan dapat menjadi berbahaya bagi ibu dan janin tanpa perlu menjadi pielonefritis [5].

Mengingat, infeksi saluran kemih selama kehamilan dikaitkan dengan berbagai efek peningkatan risiko [5] :

Pengobatan ISK pada Ibu Hamil

Pengobatan infeksi saluran kemih pada perempuan hamil sangat diperlukan karena jika tidak segera ditangani dengan tepat dapat menyebabkan komplikasi serius [4].

Dalam pengobatan infeksi saluran kemih, penggunaan antibiotik selama 3 hari mungkin diperlukan [5].

Adapun antibiotik yang umumnya akan diresepkan oleh dokter antara lain [4] :

Dalam pengobatan infeksi saluran kemih dengan antibiotik, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) perempuand hamil disarankan untuk menghindari penggunaan nitrofurantoin dan trimethoprim-sulfamethoxazole selama trimester pertama kehamilan [4].

Mengingat, antibiotik ini dapat menyebabkan kelainan kelahiran jika perempuan hamil  meminumnya pada tahap trimester pertama kehamilan [4].

Penggunaan nitrofurantoin dan trimethoprim-sulfamethoxazole umumnya aman selama trimester kedua dan ketiga [4].

Namun, perlu diketahui juga bahwa mengonsumsi antibiotik pada minggu terakhir sebelum melahirkan dapat meningkatkan risiko penyakit kuning pada bayi baru lahir [4].

Selain antibiotik, pengobatan infeksi saluran kemih pada ibu hamil juga mungkin membutuhkan cairan infus dan pengobatan rumahan[4].

Adapun pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk membantu kesembuhan infeksi saluran kemih antara lain [4] :

  • Minum Banyak Air

Air yang diminum diketahui dapat mengencerkan urin dan membantu mengeluarkan bakteri dari saluran kemih.

Senyawa yang terkandung dalam buah cranberry diketahui dapat membantu menghentikan bakteri menempel pada lapisan saluran kemih.

  • Menyegerakan Buang Air Kecil

Dengan buang air yang segera dan teratur dapat membantu bakteri keluar dari saluran kemih lebih cepat.

  • Mengonsumsi Suplemen Tertentu

Konsumsi vitamin vitamin C, cranberry, dan probiotik dapat membantu mengobati infeksi saluran kemih berulang pada perempuan.

Pencegahan ISK pada Ibu Hamil

Untuk pencegahan infeksi saluran kemih pada ibu hamil, maka dapat dilakukan upaya sebagai berikut [4] :

  • Minum banyak air
  • Minum jus cranberry tanpa pemanis atau minum pil cranberry
  • Bersihkan alat kelamin, anus dan area sekitarnya dengan bersih dan hati hati
  • Tidak menunda buang air kecil atau setidaknya usahakan buang air kceil setiap 2–3 jam sekali
  • Buang air kecil sebelum dan sesudah berhubungan seks
  • Melakukan pemeriksaan infeksi saluran kemih di awal masa kehamilan

1. KY Lohcorresponding & N Sivalingam. Urinary Tract Infections In Pregnancy. Malays Fam Physician; 2007.
2. Patricia J. Habak & Robert P. Griggs, Jr. Urinary Tract Infection In Pregnancy. National Center for Biotechnology Information, US. National Library of Medicine, National Institutes of Health; 2020.
3. Matuszkiewicz-Rowińska, J., Małyszko, J., & Wieliczko, M. State of the art paper Urinary tract infections in pregnancy: old and new unresolved diagnostic and therapeutic problems. Archives of Medical Sciencel 2015.
4. Beth Sissons & Carolyn Kay. UTI in pregnancy: Everything you need to know. Healthline; 2019.
5. Gilbert, N. M., O’brien, V. P., Hultgren, S., Macones, G., Lewis, W. G., & Lewis, A. L. Urinary Tract Infection as a Preventable Cause of Pregnancy Complications: Opportunities, Challenges, and a Global Call to Action. Global Advances in Health and Medicine; 2013.

Share