Hematuria: Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Hematuria?

Hematuria adalah istilah medis untuk darah dalam urin. Darah dalam urin ini bisa terjadi karena penyakit atau kondisi lain, contohnya infeksi saluran kemih, penyakit ginjal, hingga kanker. [1]

Darah yang ada di dalam urin menjadi tanda masalah kesehatan yang serius, meskipun penderita hanya mengalami satu kali tanda saja. Hematuria tidak bisa diabaikan, karena apabila diabaikan akan memperburuk kondisi. [1]

Fakta Tentang Hematuria

Berikut ini beberapa fakta tentang hematuria: [1, 2, 3, 4]

  • Orang yang sering melakukan olahraga berat, seperti pelari jarak jauh bisa terkena hematuria.
  • Kebanyakan orang dengan microscopic hematuria tidak memiliki gejala apa pun.
  • Mengambil riwayat medis dapat membantu dokter mendiagnosis penyebab hematuria.

Penyebab Hematuria

Penyebab hematuria dalam beberapa kasus berbeda-beda, dan berikut ini di antaranya: [1, 2]

  • Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri yang masuk ke urin dan naik ke dalam kandung kemih. Lebih dari 8,1% pasien menderita infeksi saluran kemih di mana kebanyakan 60% wanita dan 12% pria.

  • Infeksi Ginjal (Pielonefritis)

Adanya bakteri yang memasuki ginjal dari aliran darah atau berpindah dari ureter ke ginjal. Tanda dan gejala infeksi ginjal ini sangat mirip dengan infeksi kandung kemih, dan terkadang disertai dengan demam dan nyeri pinggang.

Batu ginjal disebut juga dengan istilah nefrolitiasis yang merupakan hasil endapan dari zat-zat atau limbah yang mengalami pengkristalan atau pengerasan.

Seiring bertambahnya waktu, kristal tersebut akan menjadi batu kecil dan keras. Batu-batu kristal tersebut terkadang tidak menimbulkan rasa sakit, akan tetapi seseorang mungkin tidak tahu bahwa batu kristal tersebut yang menyebabkan penyumbatan.

  • Pembesaran Prostat

Letak kelenjar prostat yang berada di bawah kandung kemih dan mengelilingi bagian atas uretra akan mengalami pembesaran seiring bertambahnya usia.

Hal ini menyebabkan terjadinya penekanan pada uretra sehingga akan menghalangi urin, dan biasanya ditandai dengan kesulitan buang air kecil.

  • Penyakit Ginjal

Ginjal yang sakit dapat menyebabkan hematuria. Pada anak usia 6 sampai 10 tahun, penyakit ginjal dapat menyebabkan hematuria. Gangguan ini dapat berkembang satu hingga dua minggu setelah infeksi strep yang tidak diobati.

  • Kanker

Kanker kandung kemih , ginjal , atau prostat dapat menyebabkan darah pada urin. Ini merupakan gejala yang sering terjadi pada kasus kanker stadium lanjut.

  • Cedera Ginjal

Cedera akibat pukulan pada ginjal, kecelakaan, cedera yang didapati saat berolahraga dapat menyebabkan darah dalam urin.

  • Obat-obatan

Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan hematuria. Obat-obatan yang dimaksud adalah aspirin, heparin, warfarin, dan siklofosfamid.

Semua orang berpeluang mengalami hematuria, baik itu anak-anak maupun remaja. Namun, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami hematuria, di antaranya adalah: [2]

  • Usia. Khususnya 50 tahun ke atas, karena mengalami pembesaran kelenjar prostat.
  • Riwayat keluarga.
  • Obat-obatan tertentu, seperti aspirin.
  • Olahraga berat. Pelari jarak jauh sangat rentan mengalami hematuria, namun siapa saja yang berolahraga dengan keras dapat mengalami hematuria.

Gejala Hematuria

Perubahan warna urin merupakan gejala utama seseorang menderita hematuria di mana warna urin berubah ke warna merah, kemerahan, atau cokelat, karena adanya sel darah merah. Namun, seringnya hematuria terjadi tanpa adanya tanda. [2]

Kapan Harus ke Dokter?

Ketika terdapat darah dalam urin, maka Anda harus segera pergi ke dokter. Anda tidak boleh mengabaikannya meskipun darah hanya terlihat sedikit saja. Anda juga harus ke dokter ketika sering buang air kecil, sulit, atau bahkan sakit saat mengeluarkannya. [1, 2]

Jika Anda tidak bisa buang air kecil, atau melihat darah saat buang air kecil yang disertai mual, muntah, demam, nyeri pada bagian punggung atau perut, maka Anda juga harus segera bergegas ke dokter. [1]

Jenis Hematuria

Hematuria memiliki 2 jenis, yaitu: [4]

  • Gross Hematuria

Apabila urin terlihat dengan mata telanjang, di mana urin terlihat berwarna merah atau cokelat.

  • Microscopic Hematuria

Apabila urin hanya memiliki sedikit darah sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang, dan hanya bisa dilihat dengan tes laboratorium atau mikroskop.

Diagnosis Hematuria

Ketika pasien mengeluh karena ada darah dalam urinnya, maka dokter akan menanyakan tentang jumlah darah dan kapan hal tersebut terjadi. Pertanyaan tersebut disampaikan untuk mengetahui seberapa sering pasien buang air kecil, rasa sakit yang dialami, apakah pembekuan darah terlihat, serta obat apa yang sebelumnya diminum. [1]

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengumpulkan sampel urin untuk diuji. Analisis urin dilakukan untuk memastikan adanya darah dan mendeteksi bakteri jika penyebabnya adalah infeksi. [1]

Pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan, di antaranya dengan pemindaian, seperti CT scan atau sistoskopi, yaitu memasang selang sempit yang dilengkapi dengan kamera kecil ke dalam kandung kemih untuk memeriksa kandung kemih dan uretra untuk mencari tanda-tanda penyakit. [1, 2]

Pengobatan Hematuria

Pengobatan hematuria tergantung penyebabnya. Dengan melihat penyebab hematuria pada seorang pasien, dokter akan menentukan jenis perawatan yang akan diterima. [1]

Misalkan hematuria disebabkan karena infeksi saluran kemih, maka dokter akan memberikan resep antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. [1]

Pencegahan Hematuria

Hematuria dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal berikut: [1]

  • Mencegah Infeksi

Minum air yang banyak setiap harinya, dan bersegera buang air kecil setelah berhubungan seksual, serta menjaga kebersihan diri.

  • Mencegah Batu

Minum banyak air dan menghindari kelebihan garam, serta mengkonsumsi makanan tertentu, seperti bayam.

  • Mencegah Kanker Kandung Kemih

Menghentikan kebiasaan merokok, dan mulai memperbanyak minum air, serta jauhkan diri dari paparan bahan kimia.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment