Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Walaupun kopi telah dihubungkan dengan beberapa manfaat kesehatan seperti meningkatan metabolisme dan kesehatan jantung, beberapa orang juga dapat mengalami efek negatif. Kopi dapat menyebabkan mual dan
Banyak orang menggemari kopi karena minuman ini dianggap sebagai penambah energi dan membuat diri betah terjaga lebih lama karena kandungan kafeinnya [1].
Namun tak dapat dipungkiri, kopi sendiri sering memicu masalah kesehatan pada pengonsumsinya, salah satunya adalah mual setelah minum kopi [1].
Keluhan rasa mual bisa terjadi pada siapa saja, baik yang memiliki riwayat penyakit lambung maupun yang tidak memiliki riwayat ini.
Efek kopi sadar atau tidak sadar seringkali tidak baik bagi kesehatan, berikut ini adalah deretan kemungkinan penyebab dan cara mengatasinya untuk diketahui.
Daftar isi
Beberapa orang tidak menyadari bahwa tubuh mereka memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kafein bila dibandingkan dengan orang lain.
Tinggi rendahnya sensitivitas terhadap kafein sebenarnya berkaitan dengan faktor genetik [1,2].
ADORA2A dan CYP1A2 adalah dua gen yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya efek kafein pada tubuh [1,2].
Gen ADORA2A adalah gen yang diketahui mampu memicu timbulnya kecemasan setiap sehabis menikmati kafein, sedangkan gen CYP1A2 merupakan gen penentu proses penyerapan dan pemecahan kafein di dalam tubuh [1,2].
Metabolisme kafein di dalam tubuh paling mudah terpengaruh oleh gen CYP1A2 yang berada di organ hati [1].
Oleh sebab itu, efek kafein pada tubuh terutama usai minum kopi bisa sangat dirasakan, terutama jika perubahan terjadi pada gen ini [1,2].
Kafein memang baik bagi kesehatan saraf dan otak, namun perlu diketahui pula bahwa produksi asam lambung dan sistem pencernaan dapat bekerja secara ekstra karena efek kafein [3,4].
Sensitivitas tubuh terhadap kafein yang tinggi juga dapat terpengaruh oleh efek laksatif dari kafein sehingga sistem pencernaan “dipaksa” bekerja secara lebih cepat [3,4].
Hal ini tanpa disadari pengonsumsi minuman berkafein mampu memicu ketidaknyamanan pada lambung, terutama rasa mual [1].
Kondisi ini mampu menjadi pemicu naiknya asam lambung sehingga dinding lambung teriritasi [4].
Pada beberapa kasus bahkan asam lambung dapat naik hingga kerongkongan sehingga tak hanya rasa mual, ulu hati pun akan terasa nyeri (heartburn). Jika seseorang mengonsumsi kopi dalam kondisi perut kosong, kenaikan asam lambung akan terjadi begitu cepat dan salah satu gejalanya adalah rasa mual hingga muntah [4].
Karena lambung belum menerima makanan apapun, dinding lambung tidak ada yang melindungi sehingga ketika kafein membuat asam lambung naik dinding lambung dapat rusak [4].
Para penderita GERD (gastroesophageal reflux disease) memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala yang jauh lebih serius selain mual usai minum kopi [5].
Pada seseorang yang sempat memutuskan untuk tidak lagi mengonsumsi kopi secara tiba-tiba karena ingin mengatasi ketergantungan kopi, hal ini dapat menimbulkan beberapa keluhan [6].
Mulai dari tubuh terasa lebih lesu dari biasanya, sakit kepala sepanjang hari, hingga daya konsentrasi menurun [6].
Sayangnya, gejala putus kafein ini dapat juga menimbulkan efek mual di perut yang biasanya diikuti dengan tubuh gemetaran dan perubahan suasana hati yang begitu cepat [6].
Pembatasan kafein yang dilakukan mendadak dapat memberi efek demikian, namun hal ini kembali lagi tergantung dari kondisi kesehatan menyeluruh, kondisi genetik, usia dan berat badan pengonsumsi [6].
Mual usai minum kopi dapat terjadi ketika dalam kondisi hamil [7].
Hal ini berkaitan dengan sensitivitas kafein yang bertambah tinggi selama kehamilan di mana rasa mualnya cenderung dirasakan lebih lama jika sedang mengandung [7].
Mual setelah minum kopi sebenarnya bisa disiasati sebelum telanjur parah dan kondisi lambung tak lagi bisa kompromi saat menerima kafein.
Beberapa cara berikut dapat coba diterapkan sebagai solusi mencegah maupun mengatasi mual tersebut [4,5].
Jika mual setelah minum kopi terjadi berulang, segera periksakan diri agar kondisi dapat diatasi dengan cepat.
1. Simone Cappelletti, Piacentino Daria, Gabriele Sani, & Mariarosaria Aromatario. Caffeine: Cognitive and Physical Performance Enhancer or Psychoactive Drug?. Current Neuropharmacology; 2015.
2. R.A. Popat, Ph.D., S.K. Van Den Eeden, Ph.D., C.M. Tanner, M.D., Ph.D., F. Kamel, Ph.D., M.S., D. M. Umbach, Ph.D., K. Marder, M.D., M.P.H., R. Mayeux, M.D., M.Sc., B. Ritz, M.D., Ph.D., G. Webster Ross, M.D., H. Petrovitch, M.D., B. Topol, M.A., V. McGuire, Ph.D., Sadie Costello, M.P.H, Ph.D., Angelika.D. Manthripragada, Ph.D., A. Southwick, Ph.D. R.M. Myers, Ph.D. & L. M. Nelson, Ph.D.. Coffee, ADORA2A, and CYP1A2: the caffeine connection in Parkinson’s disease. HHS Public Access; 2013.
3. Planning Committee for a Workshop on Potential Health Hazards Associated with Consumption of Caffeine in Food and Dietary Supplements; Food and Nutrition Board; Board on Health Sciences Policy; & Institute of Medicine. Caffeine in Food and Dietary Supplements: Examining Safety: Workshop Summary. Washington (DC): National Academies Press (US); 2014.
4. Garrett Oden. 3 Reasons Coffee Upsets Your Stomach (And What To Do About It). Java Presse; 2021.
5. Tao-Yang Wei, Pang-Hsin Hsueh, Shu-Hui Wen,d Chien-Lin Chen, & Chia-Chi Wang. The role of tea and coffee in the development of gastroesophageal reflux disease. Tzu Chi Medical Journal; 2019.
6. Laura M Juliano & Roland R Griffiths. A critical review of caffeine withdrawal: empirical validation of symptoms and signs, incidence, severity, and associated features. Psychopharmacology; 2004.
7. Massimo Giannelli, Pat Doyle, Eve Roman, Margo Pelerin, & Carol Hermon. The effect of caffeine consumption and nausea on the risk of miscarriage. Paediatric Perinatal Epidemiology; 2003.