Daftar isi
Orthosomnia adalah jenis gangguan tidur di mana seseorang yang mengalaminya ditandai dengan obsesi terhadap pola tidur terbaik dan sempurna menurut alat atau aplikasi pelacak tidur serta kebugaran tubuh berteknologi tinggi [1,2,3].
Aplikasi semacam itu umumnya dapat di pada smartphone (ponsel pintar) maupun smartwatches (jam tangan pintar) [1,2,3].
Orthosomnia adalah sebuah kondisi ketika seseorang menginginkan jam tidur sempurna sehingga mengandalkan teknologi pelacak tidur [1,2,3].
Hal ini tetap termasuk sebagai gangguan tidur karena pada akhirnya jika obsesi berlebihan hanya akan merugikan diri penderita.
Tinjauan Orthosomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan obsesi besar terhadap pola tidur sempurna karena penggunaan aplikasi atau alat pelacak tidur.
Berkembang semakin majunya teknologi memudahkan kehidupan sehari-hari hampir pada setiap manusia [1,2,3].
Bahkan kini terdapat alat khusus pelacak tidur yang kini semakin populer dan banyak digunakan [1,2,3].
Guna dari alat tersebut tentu utamanya adalah melacak pola tidur sehingga penggunanya dapat mengetahui seberapa baik kualitas tidur mereka sehari-hari [1,2,3].
Data dari alat tersebut akan menunjukkan hasil positif atau negatif di mana para pengguna pasti akan mengejar hasil positif atau kualitas tidur yang paling baik [1,2].
Ketika kualitas dan pola tidur terbukti baik, maka kesehatan dan kebugaran tubuh otomatis sudah terjaga dengan benar [1,2,3].
Namun, orthosomnia justru menjadi risiko dari penggunaan alat-alat tersebut, terutama akan berdampak secara negatif bagi orang-orang yang baik-baik saja [1,2].
Mereka yang tak memiliki riwayat gangguan tidur dan menggunakan alat pelacak tidur justru hanya akan meningkatkan obsesi dalam memperoleh kesempurnaan pada pola sekaligus kualitas tidur [1].
Pada dasarnya, alat-alat canggih pelacak tidur sebenarnya tidak selalu terpercaya dalam hal akurasi laporan tahapan proses tidur [2].
Informasi atau data yang ditunjukkan alat-alat ini tidak selalu detail, terutama hal-hal yang berkaitan dengan gerakan abnormal saat tidur, perilaku saat tidur, hingga kesulitan bernafas yang bisa saja terjadi selama tidur [1,2,3].
Namun, terlepas dari apakah alat maupun aplikasi pelacak tidur memiliki hasil akurat, perubahan negatif pada pola tidur serta obsesi yang berlebihan untuk tidur sempurna bisa disebabkan oleh sejumlah faktor ini [1].
Tinjauan Keinginan untuk memaksimalkan dan menyempurnakan waktu tidur demi kualitas tidur yang baik serta ketergantungan terhadap alat/aplikasi pelacak tidur menjadi faktor yang meningkatkan risiko orthosomnia, meski penderita orthosomnia tidak mengalami gangguan tidur apapun.
Penderita orthosomnia memiliki obsesi terlalu besar terhadap waktu tidur maksimal dan pola tidur terbaik yang sebenarnya bertujuan untuk menjaga kesehatan.
Namun hati-hati, alih-alih menjaga kebugaran dengan memerhatikan waktu tidur terlalu ekstrem, hal ini menyebabkan fokus hanya pada peningkatan kualitas tidur saja [1].
Beberapa gejala yang kemudian timbul karena obsesi ini antara lain sebagai berikut [1,2,3] :
Orang-orang dengan kondisi orthosomnia biasanya memiliki risiko depresi dan kecemasan lebih tinggi karena merasa harus memenuhi obsesi mereka [1,2].
Mereka hanya berfokus pada tipe dan jumlah waktu tidur dan berusaha seperfeksionis mungkin untuk mencapainya [1,2,4].
Tinjauan Gejala orthosomnia meliputi sulit tertidur, tidak enak badan, cepat lelah, penurunan konsentrai, tidur tidak nyaman, hingga gangguan kecemasan dan depresi akibat obsesi terhadap kualitas tidur sempurna.
Seseorang yang memiliki kondisi orthosomnia lebih mudah terdiagnosa atau dikenali apabile menggunakan teknologi pelacak data biometrik atau aplikasi pelacak tidur [1,2].
Para pengguna alat atau aplikasi ini umumnya tak memiliki masalah pada pola tidurnya, namun karena terobsesi menciptakan sebuah perubahan pada pola tidur, hal ini justru mampu menimbulkan masalah tidur yang semula tidak ada [1,2].
Umumnya, pemeriksaan akan dokter atau psikolog lakukan dengan pelatihan khusus dalam tidur [1].
Tujuan pemeriksaan seperti ini adalah agar pasien yang memeriksakan diri bisa mengenali apa saja upaya yang dilakukannya untuk memanipulasi pola tidur dan justru memperburuknya [1].
Selain itu bila diperlukan, dokter akan memeriksa pasien terkait dengan gangguan tidur.
Dalam proses diagnosa gangguan tidur, maka biasanya beberapa metode berikut akan dokter gunakan [5].
Untuk mengetahui apakah pasien benar-benar mengalami gangguan tidur, maka dokter perlu menerapkan pemeriksaan fisik [5].
Jika pasien mengalami perlambatan reaksi, rasa kantuk terus-menerus, konsentrasi berkurang, penyempitan saluran nafas, pembesaran amandel, hingga hipertensi, hasil diagnosa dapat mengarah pada gangguan tidur [5].
Sleep study atau dikenal dengan istilah polisomnografi merupakan proses perekaman gelombang otak, pergerakan kaki serta mata pasien saat tidur, pernafasan, detak jantung, hingga kadar oksigen dalam darah [5].
Tujuan sleep study adalah untuk mengetahui pasien memerlukan waktu berapa lama sampai akhirnya bisa terlelap [5].
Jika sudah berhasil tertidur, maka sleep study juga akan merekam berapa lama waktu pasien tidur [5].
Dari pemeriksaan ini akan diketahui seberapa baik kualitas tidur pasien [5].
Sleep diary merupakan sebuah metode rekaman tidur dan terjaganya pasien pada beberapa minggu hingga satu bulan penuh [5].
Dokter akan mengetahui riwayat detail pola tidur pasien, seperti waktu tidur, durasi tidur, berapa kali pasien terjaga, berapa lama pasien terbangun, dan jumlah tidur singkat yang pasien alami [5].
Metode pemeriksaan ini adalah tes khusus yang dokter pakai dalam mengetahui apakah pasien memiliki gangguan pada ritme sirkadian [5].
Alat berupa actigraph akan dipakaikan ke pergelangan tangan pasien seperti jam tangan [5].
Ketika terdapat gerakan dari pasien saat sedang tidur, maka sinyal akan terdeteksi [5].
Dengan kata lain, alat ini tidak menghasilkan sinyal apapun atau sangat sedikit sinyal ketika pengguna tidak bergerak dan sudah terlelap [5].
Terdapat alat khusus yang pasien perlu kenakan di bagian jari tangan untuk pengukuran detak jantung maupun kadar oksigen dalam darah [5].
Alat ini juga terkadang bisa dipasang pada lubang telinga; tentu dengan tujuan dan fungsi yang sama [5].
Biasanya melalui pemeriksaan ini, pasien dengan sleep apnea akan terdiagnosa [5].
Tes laboratorium perlu ditempuh oleh pasien untuk mengetahui kadar gas darah arteri, hemoglobin, dan hematokrit [5].
Selain itu dokter pun perlu mengetahi kondisi fungsi tiroid pasien melalui tes fungsi tiroid [5].
Tes laboratorium ini juga meliputi pemeriksaan zat besi serta skrining keracunan alkohol dan obat terlarang [5].
Tes ini sebagai penentu tahap kantuk pasien yang juga diistilahkan sebagai studi tidur singkat yang akan memeriksa pasien secara obyektif [5].
Biasanya, dalam waktu 8-10 jam, pasien diminta untuk tidur selama 4-5 kali masing-masing hanya boleh tidur sekitar 20 menit dalam semalam [5].
Beberapa kondisi gangguan tidur seperti narkolepsi, hipersomnia, sleep apnea dan bahkan rasa ngantuk berlebihan di siang hari pada pasien akan terdeteksi [5].
Jika pasien memiliki riwayat insomnia dan hal ini kemungkinan disebabkan oleh depresi, maka untuk memastikannya diperlukan metode pemeriksaan ini [5].
Sebuah wawancara klinis terstruktur seperti Beck Depression Inventory akan diterapkan kepada pasien [5].
Wawancara ini akan dilakukan dengan sebuah alat dengan proses yang singkat untuk memastikan kondisi gangguan tidur dan psikologis pasien [5].
Tinjauan Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan untuk gangguan tidur pada umumnya dapat membantu proses diagnosa untuk penderita gejala orthosomnia.
Karena orthosomnia pada dasarnya merupakan sebuah obsesi yang dipicu oleh penggunaan teknologi pelacak tidur, ada baiknya penanganan dimulai dari menyingkirkan alat ini.
Namun sebelum tak lagi menggunakan alat ini, pasien dianjurkan untuk mencoba menggunakan data biometrik secara lebih baik dan bijak [1,2].
Tinjauan Agar tidak terlalu terfokus pada penggunaan alat pelacak tidur, alat ini bisa coba disingkirkan. Atau, gunakan data biometrik untuk memperoleh tidur cukup yang ideal dengan mengatur serta memenuhi jadwal tidur dan bangun tidur secara konsisten.
Orthosomnia tidak sebaiknya dibiarkan karena pengabaian akan meningkatkan sejumlah risiko komplikasi seperti [1,2,6] :
Upaya mencegah orthosomnia adalah dengan penanganan langsung oleh tim medis profesional terhadap gangguan tidur yang dimiliki.
Jika pun ingin membenahi pola tidur, batasi penggunaan alat atau aplikasi pelacak tidur agar tidak berlebihan dan menimbulkan sebuah obsesi.
Konsultasikan mengenai gangguan tidur yang sedang dialami dengan dokter, bahkan termasuk juga gejala-gejala orthosomnia yang timbul sejak penggunaan aplikasi pelacak tidur.
Tinjauan Agar orthosomnia dapat dicegah, hal ini perlu dikonsultasikan dengan dokter agar obsesi terhadap kualitas dan pola tidur sempurna tidak semakin meningkat.
1. Brandon Peters, MD & Jason DelCollo. Orthosomnia: Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment. Verywell Health; 2020.
2. Amanda MacMillan. What Is Orthosomnia? All About the New Sleep Disorder You've Never Heard Of. Health; 2018.
3. Kahfi Dirga Cahya & Glori K. Wadrianto. Yuk, Pahami Gangguan Tidur "Baru" Bernama Orthosomnia. Kompas; 2018.
4. Kelly Glazer Baron, Sabra Abbott, Nancy Jao, Natalie Manalo & Rebecca Mullen. Orthosomnia: Are Some Patients Taking the Quantified Self Too Far?. Journal of Clinical Sleep Medicine; 2017.
5. Bibek Karna & Vikas Gupta. Sleep Disorder. National Center for Biotechnology Information; 2021.
6. Samuel Aupetit, Gäetan Dubroca, Sara Escaich & Philippe Cabon. A qualitative study of sleep trackers usage: evidence of orthosomnia. Contemporary Ergonomics and Human Factors; 2019.