Penyakit & Kelainan

Zuigerphobia : Penyebab, Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Zuigerphobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik di mana seseorang mengalami rasa takut berlebih terhadap alat penyedot debu atau vacuum cleaners [1].

Ketakutan semacam ini tidak sewajarnya karena cenderung berlebihan, persisten dan irasional sehingga penderita akan mengalami kecemasan dan gangguan panik setiap kali berada dalam situasi yang dekat dengan penyedot debu [1].

Zuigerphobia pun diketahui lebih rentan terjadi pada anak-anak penderita autisme daripada orang dewasa [1,10].

Ini karena terlah dibuktikan bahwa setengah dari anak yang terdiagnosa autisme memiliki ketakutan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mekanik [1,10].

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan remaja dan orang dewasa juga memiliki kondisi takut berlebih terhadap alat penyedot debu walau kasusnya lebih sedikit [1].

Penyebab Zuigerphobia

Tidak jauh berbeda dari fobia-fobia pada umumnya, walau tidak diketahui penyebab pasti dari fobia spesifik, terdapat sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko seseorang memiliki kondisi tersebut.

Berikut ini adalah sejumlah faktor dan kondisi fobia tertentu yang berkaitan dengan perkembangan zuigerphobia dalam diri seseorang.

  • Faktor Genetik

Seseorang memiliki risiko lebih tinggi mengidap fobia ketika memiliki anggota keluarga inti (khususnya orang tua) yang juga memiliki kondisi mental tertentu [2,3].

Orang tua dengan kondisi gangguan kecemasan, fobia spesifik atau bahkan zuigerphobia, maupun depresi berpeluang menurunkan kondisi serupa kepada sang anak nantinya [2,3].

  • Faktor Pengalaman Traumatis

Memiliki ketakutan berlebih biasanya disebabkan oleh pengalaman yang tak mengenakkan [2,3].

Pengalaman mengerikan atau menyakitkan dengan alat penyedot debu bisa menjadi faktor risiko utama zuigerphobia [2,3].

Pada beberapa anak, zuigerphobia berkembang karena terkejut dan takut dengan alat penyedot debu yang bersuara bising dan tampak mampu menyedot segala benda yang ada di depannya [1].

Oleh sebab itu, anak dengan daya pikir serta imajinasi yang tinggi seringkali takut karena merasa dalam bahaya dan berpikir bahwa dirinya pun bisa ikut “tersedot”.

Namun seiring anak-anak tumbuh lebih besar dan dewasa, rasa takut akan berkurang pada umumnya karena kemampuan kognitif otak mereka semakin meningkat [1].

  • Faktor Lingkungan

Anak yang menyaksikan orang tua maupun orang-orang di sekitarnya yang memiliki ketakutan terhadap alat penyedot debu lebih rentan mengalami rasa takut yang sama [2,3].

Mereka dapat bereaksi seperti orang lain yang memiliki ketakutan berlebih terhadap alat pembersih itu [2,3].

Zuigerphobia adalah sebuah kondisi yang berkaitan juga dengan fobia suara keras (ligyrophobia atau phonophobia) [1,4].

Penderita ligyrophobia atau phonophobia memiliki rasa takut dan cemas berlebih ketika berada di tempat atau situasi dengan suara-suara keras [4].

Ini dikarenakan suara keras kerap kali mengejutkan dan sejumlah hal mengejutkan umumnya menjadi sumber ketakutan sebagian orang [1,4,11].

Reaksi terkejut biasanya cukup spontan pada anak-anak maupun hewan peliharaan dan hal ini berlaku pula pada alat penyedot debu yang juga diketahui memiliki suara bising mengagetkan saat sedang digunakan [1].

Gejala Zuigerphobia

Seseorang baik anak-anak maupun orang dewasa ketika memiliki rasa takut berlebih terhadap alat penyedot debu akan mengeluarkan reaksi panik dan cemas yang persisten [1,2,3,5].

Selain perasaan-perasaan tersebut, berikut ini adalah gejala perilaku, psikologis dan fisik yang dapat timbul [1,2,3,5].

  • Reaksi terkejut
  • Menangis dan rewel pada anak
  • Tubuh berkeringat dan gemetaran
  • Sulit bernafas
  • Pusing dan mual
  • Detak jantung lebih cepat (takikardia)
  • Nafas lebih cepat
  • Merasa sedang dalam bahaya besar
  • Menghindari sumber ketakutan (dalam hal ini alat penyedot debu)
  • Takut kehilangan kesadaran
  • Hampir kehilangan kesadaran
  • Takut tidak dapat mengendalikan diri

Pemeriksaan Zuigerphobia

Untuk memastikan bahwa gejala-gejala yang dialami penderita merupakan zuigerphobia dan bukan jenis gangguan mental maupun fobia lainnya, pemeriksaan psikologis perlu dilakukan.

Dalam evaluasi psikologis untuk menentukan penyebab, kondisi dan penanganan fobia spesifik, panduan kriteria DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual 5th Edition) adalah yang paling umum digunakan [6].

  • Pasien memiliki rasa takut berlebihan yang cenderung persisten dan irasional ketika berhadapan dengan alat penyedot debu.
  • Pasien mengeluarkan reaksi seperti sedang dalam bahaya ketika berada dalam situasi yang melibatkan alat penyedot debu.
  • Pasien menghindari segala hal dan situasi yang berhubungan dengan penyedot debu. Jika pun harus menghadapinya, maka tingkat stres pasien bisa sangat tinggi karena menahan rasa takutnya.
  • Pasien mengalami hambatan dalam kehidupan sehari-hari karena rasa takut berlebihan terhadap zuigerphobia.
  • Pasien mengalami gejala yang mengarah pada zuigerphobia setidaknya 6 bulan atau lebih.
  • Gejala-gejala yang dialami pasien bukan disebabkan oleh kondisi mental lain yang memiliki gejala serupa.

Kondisi Lain yang Serupa dengan Zuigerphobia

Jika terjadi pada anak, para orang tua mungkin mempertanyakan apakah gejala-gejala yang dialami anak benar-benar merupakan kondisi fobia atau hanya ketakutan biasa [1].

Oleh sebab itu, para orang tua pun dapat menggunakan DSM-5 sebagai panduan untuk memastikan apakah gejala pada anak masuk dalam kriteria tersebut [1].

Anak yang mengalami rewel terus-menerus, takut berlebihan, tantrum, menangis hingga membeku atau bergeming sebagai reaksi terhadap alat penyedot debu, ada kemungkinan besar bahwa anak mengalami fobia [1].

Tidak mudah dalam hal ini untuk menentukan apakah anak memiliki fobia terhadap alat penyedot debu karena kondisi ini mirip dengan beberapa kondisi lain seperti berikut [1] :

  • Misophonia, yakni sebuah kondisi ketidaksukaan atau kebencian terhadap suara tertentu, seperti suara mulut mengecap atau suara kunyahan; kondisi ini memiliki kaitan erat dengan gangguan obsesif kompulsif pada anak.
  • Hyperacusis, yakni sebuah kondisi yang lebih rentan terjadi pada penderita tinnitus (telinga berdenging) di mana suara yang telinga tangkap terdengar sangat keras hingga membuat telinga sakit. Sekitar 30-40% penderita tinnitus memiliki kondisi tersebut sehingga pemeriksaan mendalam perlu dilakukan agar mampu membedakan dari zuigerphobia.
  • Recruitment, yakni merupakan penangkapan suara yang dianggap terlalu keras dan tidak nyaman bagi pendengaran di mana sesungguhnya suara yang terdengar tidak demikian. Kondisi ini berkaitan dengan kondisi hilangnya pendengaran.
  • Phonophobia, yakni rasa takut berlebihan terhadap suara-suara keras karena biasanya suara yang terdengar keras sangat mengagetkan.

Hal apa saja yang perlu pasien informasikan kepada terapis?

Sebelum terapis dapat memutuskan kondisi pasien dengan benar dan menentukan penanganan paling tepat bagi kondisi pasien, terapis perlu mengetahui beberapa hal mendetail mengenai kondisi pasien [7].

Berikut ini adalah hal-hal penting yang terapis perlu ketahui tersebut [7].

  • Gejala fisik dan psikologis apa saja yang selama ini terjadi.
  • Faktor apa saja yang memicu gejala fobia.
  • Faktor apa saja yang dapat memperburuk kondisi gejala maupun yang membuat lebih baik.
  • Bagaimana cara mengendalikan rasa takut tersebut.
  • Obat apa saja yang sedang digunakan oleh penderita gejala fobia, termasuk suplemen dan herbal.

Jika terjadi pada anak, orang tua dapat menginformasikan hal-hal tersebut kepada terapis.

Bahkan setelah menginformasikan hal-hal tersebut, orang tua juga dapat menanyakan kepada terapis mengenai opsi perawatan yang paling direkomendasikan.

Selain perawatan dari terapis, apa saja yang bisa dilakukan untuk membuat masa pemulihan jauh lebih maksimal juga dapat dikonsultasikan.

Jika ingin mengetahuinya, tanyakan juga seberapa besar kemajuan yang dapat dialami penderita melalui sejumlah terapi atau perawatan yang dianjurkan oleh terapis.

Penanganan Zuigerphobia

Penanganan zuigerphobia dibedakan menjadi dua, yakni penanganan bagi pasien anak dan penanganan bagi pasien orang dewasa [1].

Perawatan yang ditentukan oleh terapis tentunya akan disesuaikan dengan kebutuhan kondisi anak, dan perawatan tersebut adalah berupa desensitisasi [1,8].

Terapi ini masih berbasis prinsip terapi perilaku kognitif namun dengan cara mengekspos pasien kepada sumber ketakutannya, dalam hal ini adalah alat penyedot debu [1,8].

Pada metode desensitisasi, pasien anak zuigerphobia dapat menempuh beberapa langkah perawatan seperti berikut [1] :

  • Pada tahap awal, pasien dapat diminta dan dibiarkan bermain dengan alat penyedot debu (tentunya tanpa benar-benar menyalakannya agar aman).
  • Pada tahap selanjutnya, terapis akan membuat cerita anak-anak dengan menggunakan alat penyedot debu sebagai media karakter dalam cerita tersebut secara menyenangkan.
  • Pada tahap terakhir, orang tua dapat memberi tahu anak ketika hendak menggunakan alat penyedot debu setiap akan membersihkan rumah. Beri anak pilihan untuk tetap berada di sana selama orang tua membersihkan atau pindah ke ruangan lain agar anak merasa lebih nyaman.

Sementara itu, zuigerphobia memang sangat jarang dijumpai pada remaja maupun orang dewasa, namun ketika hal tersebut terjadi maka beberapa metode berikut umumnya menjadi penanganan utama.

  • Terapi Perilaku Kognitif

Terapi ini merupakan metode psikoterapi di mana terapis akan mengidentifikasi masalah yang memicu perkembangan zuigerphobia di dalam dirinya [1,9].

Ketika sudah teridentifikasi, terapis membantu pasien mengubah pikiran dan reaksi negatif terhadap alat penyedot debu menjadi lebih positif [1,9].

Sebab pola pikir yang negatif terhadap alat penyedot debu tentunya akan berpengaruh pada cara pasien bereaksi dan berperilaku setiap berada pada situasi yang mengharuskannya berdekatan dengan alat pembersih tersebut [1,9].  

Terapi eksposur adalah metode psikoterapi di mana terapis akan mengekspos pasien kepada sumber ketakutannya, dalam kasus ini adalah alat penyedot debu [1,2,3].

Terapis akan lebih dulu memberikan gambar maupun video berkaitan dengan penggunaan alat penyedot debu [1,2,3].

Pasien diharapkan secara perlahan dapat mengendalikan gejalanya karena pikiran dan reaksi negatif sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih positif terhadap alat pembersih tersebut [1,2,3].

  • Obat-obatan

Obat-obatan anticemas dan antidepresan akan dokter berikan untuk mengendalikan gejala zuigerphobia [2,3].

Pemberian obat-obatan biasanya bersamaan dengan masa psikoterapi apabila memang diperlukan [2,3].

  • Perubahan Pola Hidup

Untuk meredakan kecemasan dan meminimalisir gejala serangan panik setiap berhadapan dengan sumber ketakutan, maka mengubah pola hidup pun sama pentingnya selama menempuh psikoterapi.

Mengurangi kafein, berolahraga rutin setidaknya 3 kali seminggu, bermeditasi, latihan pernafasan dan/atau melakukan Yoga akan sangat bermanfaat selama masa pemulihan.

Komplikasi Zuigerphobia

Pada anak, zuigerphobia memiliki tingkat pemulihan lebih tinggi karena seiring bertambahnya usia, peningkatan fungsi kognitif otak juga terjadi sehingga rasa takut terhadap alat penyedot debu akan memudar.

Namun pada beberapa kasus, zuigerphobia berpotensi menjadi lebih buruk pada tingkat kecemasan dan ketakutannya.

Pencegahan Zuigerphobia

Belum tersedia cara untuk mencegah zuigerphobia, namun dengan memeriksakan gejala secara dini ke psikolog atau psikiater, penanganan pun dapat segera diperoleh.

Dengan menangani secara dini, pengendalian reaksi negatif terhadap alat penyedot debu dapat berkurang secara perlahan daripada tidak mengabaikan gejala terus-menerus.

1. Lisa Fritscher & Steven Gans, MD. Coping With Zuigerphobia, the Fear of Vacuum Cleaners. Verywell Mind; 2021.
2. William W Eaton, O Joseph Bienvenu, & Beyon Miloyan. Specific phobias. HHS Public Access; 2020.
3. René Garcia. Neurobiology of fear and specific phobias. Learning Memory; 2017.
4. By Lisa Fritscher & Daniel B. Block, MD. The Fear of Loud Noises or Ligyrophobia. Verywell Mind; 2021.
5. National Health Service. Symptoms - Phobias. National Health Service; 2018.
6. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th ed. American Psychiatric Association. Washington, DC; 2013
7. Lisa Fritscher & Daniel B. Block, MD. DSM-5 Diagnostic Criteria for a Specific Phobia. Verywell Mind; 2021.
8. Christabel E.W. Thng, Nikki S.J. Lim-Ashworth, & Brian Z.Q. Poh. Recent developments in the intervention of specific phobia among adults: a rapid review. F1000 Research; 2020.
9. Barry D Wright, Cindy Cooper, Alexander J Scott, Lucy Tindall, Shehzad Ali, Penny Bee, Katie Biggs, Trilby Breckman, Thompson E Davis III, Lina Gega, Rebecca Julie Hargate, Ellen Lee, Karina Lovell, David Marshall, Dean McMillan, M Dawn Teare, & Jonathan Wilson. Clinical and cost-effectiveness of one-session treatment (OST) versus multisession cognitive–behavioural therapy (CBT) for specific phobias in children: protocol for a non-inferiority randomised controlled trial. BMJ Open; 2018.
10. Susan Dickerson Mayes, Susan L. Calhoun, Richa Aggarwal, Courtney Baker, Santosh Mathapati, Sarah Molitoris, & Rebecca D. Mayes. Unusual fears in children with autism. Research in Autism Spectrum Disorders; 2013.
11. Eleonora Poli & Alessandro Angrilli. Greater general startle reflex is associated with greater anxiety levels: a correlational study on 111 young women. Frontiers in Behavioral Neuroscience; 2015.

Share