Penyakit & Kelainan

Abses Bartholin: Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Abses Bartholin?

Abses Bartholin atau yang juga dikenal dengan istilah Bartholin abscess adalah kumpulan nanah yang terdapat pada salah satu kelenjar Bartholin [1,2,3,4,5,7].

Nanah ini terakumulasi di kelenjar tersebut ketika kista terbentuk di kelenjar Bartholin atau pada waktu infeksi menyerang saluran kelenjar.

Apa itu kelenjar Bartholin?

Kelenjar Bartholin atau kelenjar Bartholin merupakan kelenjar yang letaknya ada pada kedua sisi bibir vagina, yang artinya hanya ada pada tubuh wanita [1].

Ukuran kelenjar termasuk kecil dan bahkan sulit untuk dikenali oleh mata. Bahkan tangan pun belum tentu dapat mendeteksi keberadaan kelenjar ini.

Saat berhubungan seksual, terdapat cairan yang keluar dari organ vital wanita yang disebut sebagai pelumas.

Fungsi utama dari kelenjar Bartholin adalah sebagai penghasil cairan tersebut.

Ketika sedang meraba atau menyentuh area vagina, para wanita sebaiknya jangan panik atau takut karena menemukan adanya benjolan di bagian bibir vagina.

Benjolan lunak kelenjar Bartholin umumnya tidak berbahaya dan tidak menghambat rutinitas sehari-hari.

Walau dikenal pula sebagai kista, kista Bartholin ini dapat hilang dengan sendirinya bahkan tanpa penanganan medis.

Tinjauan
Abses Bartholin adalah kondisi nanah yang terakumulasi pada kelenjar Bartholin dan membentuk benjolan yang juga seringkali diistilahkan dengan kista Bartholin.

Fakta Tentang Abses Bartholin

  1. Abses atau kista Bartholin umumnya diderita oleh wanita pada usia subur dan produktif, dari masa pubertas hingga usia menopause [2,7].
  2. Hanya 2% kasus abses dan kista Bartholin simtomatik dari seluruh kunjungan ginekologis setiap tahun sehingga penderita kasus ini tergolong jarang [2].
  3. Data epidemiologi abses dan kista Bartholin di Indonesia belum ada, namun menurut hasil penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya 2012-2014 menunjukkan bahwa terdapat 25 pasien abses Bartholin dan 46 pasien kista Bartholin dengan rentang usia 25-44 tahun [6].

Penyebab Abses Bartholin

Abses Bartholin dapat terjadi ketika infeksi menyerang salah satu kelenjar Bartholin.

Infeksi oleh bakteri mampu menjadi penyebab utama abses terjadi, seperti bakteri yang umumnya menjadi penyebab penyakit menular seksual gonore dan klamidia.

Jenis-jenis bakteri yang diketahui mampu membuat risiko abses Bartholin makin besar antara lain adalah [1,3,4,5,7] :

  • Bakteri Streptococcus
  • Staphylococcus aureus
  • Hypermucoviscous
  • Brucella melitensis
  • Salmonella panama
  • Pseudomonas aeruginosa
  • Neisseria sicca
  • Klebsiella varicola
  • Pasteurella bettii

Benjolan atau kista Bartholin dapat berubah menjadi lebih besar ukurannya usai melakukan hubungan seksual.

Hal tersebut dapat terjadi saat cairan yang diproduksi oleh kelenjar lebih banyak dari normalnya ketika hubungan intim sedang dilakukan.

Tinjauan
Infeksi bakteri adalah penyebab utama abses Bartholin di mana bakteri menginfeksi kelenjar Bartholin lebih dulu dan abses pun berpotensi timbul.

Gejala Abses Bartholin

Ketika abses terjadi, maka gejala utama yang dialami oleh penderitanya adalah rasa nyeri yang luar biasa pada area lokasi abses timbul.

Penderita abses Bartholin umumnya akan merasakan ketidaknyamanan pada sisi vaginanya, dan rasa nyeri akan turut menyertai.

Tepatnya, di bagian samping kelenjar yang telah terinfeksi akan terasa sakit.

Namun selain rasa nyeri tersebut, beberapa tanda yang perlu dikenali dan segera ditangani adalah [1,2,4,5,7] :

  • Benjolan timbul di sisi bibir vagina.
  • Sensasi panas timbul pada area terjadinya abses.
  • Kemerahan dan pembengkakan pada area terjadinya abses.
  • Demam
  • Saat duduk, berjalan, maupun melakukan hubungan seksual rasanya akan sangat sakit di bagian terjadinya abses.
  • Terdapat cairan yang keluar dari benjolan.
  • Umumnya hanya salah satu sisi bibir vagina yang mengalami timbulnya benjolan atau abses.

Pada beberapa kasus, abses dapat terus berkembang dan ukurannya menjadi lebih besar.

Bahkan kemungkinan abses dapat pecah sehingga keluarlah cairan dari sana.

Pecahnya abses dapat terjadi secara tiba-tiba yang penderita anggap sebagai cairan keputihan berasal dari vagina.

Atau, beberapa penderita dapat merasakan bahwa rasa sakit di area kewanitaannya hilang ketika cairan abses telah keluar.

Meski demikian, abses Bartholin sebaiknya tidak disepelekan apalagi diabaikan.

Risiko penyebaran infeksi tetap besar dan bagian tubuh lain berpotensi terkena dampaknya, seperti pembuluh darah.

Waspadai penyebaran infeksi yang bisa mencapai pembuluh darah lalu akhirnya memicu septikemia.

Septikemia sendiri merupakan keracunan darah akibat terlalu banyaknya bakeri yang menginvasi peredaran darah.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Bila merasakan adanya benjolan pada bibir vagina saat menyentuh area tersebut, ditambah adanya rasa sakit selama 2-3 hari, segeralah ke dokter.

Rasa nyeri yang tidak juga hilang bahkan setelah mendapatkan pengobatan juga perlu dicurigai sebagai kondisi yang berbahaya.

Pada wanita dengan usia di atas 40 tahun, sebaiknya selalu memeriksa secara mandiri pada area vagina.

Saat terasa adanya benjolan di bagian vagina, selalu ada kemungkinan benjolan ini mengarah pada kanker sehingga sangat perlu diwaspadai.

Terlebih ketika rasa nyeri yang dirasakan begitu hebat dan tak kunjung reda, menemui dokter dan memeriksakannya adalah keputusan terbaik.

Tinjauan
Gejala utama abses Bartholin adalah ketidaknyamanan pada area vagina (khususnya bibir vagina), timbul benjolan di sana (terdapat cairan yang keluar dari benjolan), begitu juga sensasi panas, bengkak dan kemerahan. Demam dapat terjadi dan nyeri ketika melakukan aktivitas turut menyertai.

Pemeriksaan Abses Bartholin

Gejala yang tidak nyaman dan mencurigakan pada area vagina perlu segera diperiksakan.

Untuk mendiagnosa abses Bartholin, biasanya beberapa metode berikut ini yang digunakan oleh dokter supaya mampu mengonfirmasi gejala [1,2,4,5,7].

  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan

Dokter umumnya mendiagnosa gejala pasien dengan mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai riwayat medisnya.

Sudah berapa lama gejala terjadi, gejala apa saja yang dialami, apakah pasien memiliki kondisi medis lainnya, serta seperti apa riwayat kesehatan keluarga pasien.

  • Pemeriksaan Panggul

Pemeriksaan panggul dalam bentuk USG kemungkinan dokter terapkan karena diperlukan dalam menegakkan diagnosa.

Pemeriksaan ini bersifat non-invasif dengan tujuan mendeteksi kondisi panggul melalui gambar yang dihasilkan.

Tes ini pun memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk dapat menghasilkan gambar yang detil mengenai keadaan panggul dan area sekitarnya.

Pemeriksaan biopsi atau pengambilan sampel jaringan adalah metode yang juga perlu dilakukan dokter.

Dalam hal ini, sampel jaringan vagina atau leher rahim pasien akan diambil untuk kemudian dianalisa di laboratorium.

Dokter menerapkan metode pemeriksaan ini dengan tujuan mengetahui keberadaan infeksi maupun kanker.

Pada pasien wanita dengan gejala abses Bartholin, dokter perlu melakukan biopsi untuk mendeteksi keberadaan sel-sel bersifat kanker.

Ini karena usia di atas 40 tahun, terutama yang sudah memasuki masa menopause sangat rentan terhadap kondisi infeksi dan kanker pada organ reproduksi.

Bila ditemukan oleh dokter adanya potensi kanker, maka untuk lebih memastikan lagi dokter biasanya akan merujukkan pasien ke ginekolog atau dokter ahli penyakit wanita.

Ginekolog akan lebih memahami dan mampu menangani gangguan sistem reproduksi wanita.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan menjadi metode utama yang dokter lakukan, setelah itu jika diperlukan dokter akan menerapkan biopsi atau pemeriksaan panggul sebagai tes lanjutan.

Pengobatan Abses Bartholin

Pada kasus kista Bartholin, biasanya kista atau benjolan apalagi yang tidak bersifat kanker akan baik-baik saja tanpa penanganan medis apapun.

Benjolan dapat hilang dengan sendirinya pada sebagian kasus, apalagi bila tidak menimbulkan gejala tak normal.

Namun bila benjolan kemudian menimbulkan rasa nyeri serta keluhan lain yang membuat tidak nyaman, risiko abses menjadi lebih besar.

Untuk hal itu, penanganan yang umumnya direkomendasikan atau diberikan kepada pasien antara lain adalah :

1. Sitz Bath

Sitz bath sebenarnya merupakan terapi air hangat yang umumnya digunakan sebagai cara meningkatkan peredaran darah.

Bagi beberapa orang yang menderita iritasi dan nyeri di bagian perineum, sitz bath sangat membantu meredakan [1,2,4,5].

Untuk kasus abses Bartholin, sitz bath dapat membantu merawat area vulva (bagian luar/bibir vagina) sekaligus ruang antara rektum dan meredakan gejala-gejalanya.

Prosedur sitz bath dapat dilakukan dengan mengisi bak atau bathtub dengan air hangat beberapa inci saja.

Lalu, lakukan sitz bath sehari beberapa kali selama 4 hari.

Dengan cara ini, umumnya infeksi pada kelenjar Bartholin dapat pecah dan kemudian mengering dengan sendirinya secara lebih aman.

2. Obat Pereda Nyeri

Karena abses Bartholin menyebabkan rasa nyeri yang tidak tertahankan, khususnya saat penderita harus duduk atau berjalan, maka penggunaan obat pereda nyeri sangat dibutuhkan [7].

Penderita dapat menggunakan naproxen, ibuprofen, atau aspirin untuk mengatasi rasa nyeri tersebut.

3. Pereda Demam

Sebagai penurun demam bila penderita mengalaminya, memperbanyak konsumsi air putih dan mengompres kening adalah cara terbaik [7].

Selain itu, mengonsumsi ibuprofen sambil juga tetap menjaga suhu ruangan tetap nyaman akan membantu memulihkan penderita dengan cukup cepat.

Hanya saja, jika demam tinggi tidak juga reda dalam 3 hari, segera ke dokter dan periksakan diri.

4. Antibiotik

Pemberian resep antibiotik umumnya dilakukan juga oleh dokter untuk menangani infeksi [1,4].

Pada pasien abses Bartholin yang juga memiliki riwayat gonore atau klamidia (jenis penyakit menular seksual), antibiotik pun merupakan pengobatan yang diterapkan.

Namun ketika abses dapat dibuang melalui prosedur operasi sampai benar-benar tak bersisa, antibiotik tidak lagi diperlukan oleh pasien.

5. Operasi Pembuangan Abses

Jika abses cukup besar dan mengkhawatirkan, maka langkah operasi adalah yang paling dokter rekomendasikan kepada pasien [1,2,4,7].

Dokter akan lebih dulu memberikan anestesi atau obat bius kepada pasien sebelum akhirnya prosedur pembuangan abses dilakukan.

Melalui sayatan kecil yang dokter ciptakan pada benjolan, dokter kemudian melanjutkan dengan pemasangan kateter (tabung elastis kecil) di bagian tersebut.

Setelahnya, pengangkatan abses atau nanah dapat dilangsungkan. Hanya saja, kateter harus terpasang pada bagian tersebut selama kurang lebih 6 minggu.

Hal ini memungkinkan pembuangan abses secara maksimal sehingga tidak tersisa.

6. Marsupialisasi

Dokter dalam menerapkan prosedur ini akan membentuk sayatan pada kista/benjolan di kelenjar Bartholin [4].

Selanjutnya di sisi-sisi sayatan yang telah dibuat akan dokter jahit supya cairan bisa dikeluarkan.

Di akhir, dokter memasangkan kateter khusus usai cairan berhasil dibuang bersama dengan keluarnya darah.

Pemberian kateter ini biasanya demi memaksimalkan pembuangan cairan selama beberapa hari supaya abses tidak mudah kembali terbentuk.

7. Operasi Pengangkatan Kelenjar Bartholin

Metode penanganan ini sangat jarang terjadi, dan hanya ketika dokter menjumpai bahwa kondisi abses Bartholin pasien sudah sangat parah sehingga kelenjar Bartholin harus diangkat [1,2,4,5].

Operasi pengangkatan kelenjar Bartholin hanya akan direkomendasikan kepada pasien jika metode penanganan lainnya tidak membuahkan hasil.

8. Pengobatan Alami

Selain dengan tindakan medis serta obat-obatan antibiotik, penggunaan bahan alami sebagai obat layak dicoba, seperti :

  • Cuka Apel : Campuran cuka apel yang telah dilarutkan ke dalam air biasa dapat kemudian dioles ke area abses Bartholin menggunakan bola kapas. Terapkan pelan-pelan dan dengan lembut untuk mengatasi infeksi tersebut.
  • Minyak Pohon Teh : Larutan minyak pohon teh yang dicampur bersama dengan minyak kastor dapat membantu agar abses bisa diatasi secara alami. Ini karena ada kandungan antibakteri di dalam minyak pohon teh, maka larutan ini dapat dituang pada kain/handuk bersih untuk kemudian dikompreskan ke area abses, tahan selama 15 menit.
Tinjauan
- Pengobatan abses Bartholin dapat berupa obat-obatan, cara mandiri yang alami, hingga langkah operasi.
- Sitz bath, minyak pohon teh, cuka apel, obat antibiotik resep, obat pereda nyeri, penurun demam, operasi pembuangan abses, hingga pengangkatan kelenjar Bartholin dapat menjadi pilihan penanganan abses Bartholin.

Komplikasi Abses Bartholin

Komplikasi yang paling dapat terjadi adalah kekambuhan abses Bartholin [1,2,3].

Kista atau benjolan pada kelenjar Bartholin dapat timbul kembali sehingga memerlukan penanganan yang sama lagi.

Walau tidak berbahaya, hal ini perlu diwaspadai dan upayakan agar abses Bartholin tidak kembali terulang.

Pencegahan Abses Bartholin

Tidak ada cara khusus dalam mencegah kista dan abses Bartholin karena benjolan dan infeksi dapat terjadi kapan saja tanpa disadari [7].

Namun sebagai upaya meminimalisir risiko penyakit ini, menjaga kebersihan area genital adalah yang terbaik agar dapat mencegah infeksi dan pembentukan abses.

Melakukan hubungan seksual dengan pasangan secara aman dan menggunakan kondom juga dianjurkan.

Tinjauan
Menjaga kebersihan area kewanitaan serta melakukan hubungan seksual secara aman (dengan kondom) sangat dianjurkan sebagai upaya pencegahan kista, infeksi, maupun abses Bartholin.

1) Min Y. Lee,a Amanda Dalpiaz, Richard Schwamb, Yimei Miao, Wayne Waltzer, & Ali Khan. 2015. PubMed Central US National Library of Medicine National Institutes of Health. Clinical Pathology of Bartholin's Glands: A Review of the Literature.
2) William A. Lee & Micah Wittler. 2019. National Center for Biotechnology Information. Bartholin Gland Cyst.
3) Anu Mattila, Ari Miettinen, & Pentti K. Heinonen. 1994. Obstetrics and Gynecology. Microbiology of Bartholin's Duct Abscess.
4) Charlie C. Kilpatrick , MD, MEd. 2019. MSD Manuals. Bartholin Gland Cysts.
5) Folashade Omole, M.D., Barbara J. Simmons, M.D., and Yolanda Hacker, M.D. 2003. American Family Physician. Management of Bartholin's Duct Cyst and Gland Abscess.
6) Tjokorde Istri Nindya Vaniary & Sunarko Martodihardjo. 2017. E-Journal Universitas Airlangga. Studi Retrospektif: Kista dan Abses Bartholin.
7) Anonim. 2018. National Health Service. Overview-Bartholin's cyst.

Share