Penyakit & Kelainan

5 Akibat Sering Menahan Emosi Wajib Diketahui

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Perasaan emosi adalah salah satu aktivitas neurobiologis yang lebih sering bersifat adaptif daripada maladaptif [1].

Emosi ini memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi kesadaran, di mana pengaruhnya akan lebih tinggi selama ontogeni dan sangat menentukan fokus kesadaran selama rentang kehidupan [1].

Perasaan emosi sendiri diketahui dapat diaktifkan dan dipengaruhi oleh proses perseptual, penilaian, konseptual, dan nonkognitif [1].

Perasaan emosi dapat berupa marah, frustasi, kesedihan, ketakutan atau juga dapat berupa kekecewaan [2].

Lalu, bagaimana jika emosi tersebut sering ditahan? Apakah akan menimbulkan dampak khususnya bagi kesehatan ? Jika iya, apa saja dampaknya. Simak penjelasannya berikut ini.

Akibat Sering Menahan Emosi

Berikut ini merupakan beberapa akibat yang dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering menahan emosi :

1. Meningkatkan Risiko Kematian Akibat Kanker

Menurut teori dan data psikosomatis, menahan emosi dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kanker melalui onset penyakit dan perjalanan penyakit [3].

Pasien yang menderita penyakit kanker, diabetes, gagal ginjal dan obesitas kronis, akan cenderung lebih meningkatkan risiko kematian karena sering menahan emosi, dibandingkan dengan pasien yang ekspresif [4].

Selain itu, diduga ada kemungkinan juga bahwa menahan emosi, terutama dalam bentuk yang ekstrim, mungkin mencerminkan psikopatologi yang mendasari yang merupakan sumber sebenarnya dari risiko kematian [3].

Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut masih membutuhkan penelitian tambahan untuk dapat membuktikan adanya asosisi kematian dasar dan menggambarkan lebih lanjut jalur biopsikososial melalui penghambatan ekspresi emosional yang menyebabkan kematian dini [3].

2. Menurunkan Sistem Kekebalan Tubuh

Seseorang yang sering menahan emosinya, pada waktu yang sama cenderung menekan sistem kekebalan tubuhnya [4].

Dengan kata lain, ketika seseorang sering menahan emosi, sama saja sedang menurunkan sistem kekebalan tubuhnya sehingga seseorang tersebut akan jadi jauh lebih rentan terhadap berbagai penyakit [4].

Adapun gangguan atau penyakit yang diduga terkait dengan menahan emosi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

KategoriGangguan atau Penyakit
KardiologiHipertensi, Nyeri dada, Palpitasi
PsoriasisDermatologi, Dermatitis, Gatal
KelelahanEndokrinologi, Obesitasm Disfungsii Tiroid
GastroenterologiIrritable Bowel Syndrome, Dispepsia, Sakit Perut
Penyakit DalamKelemahan, Nyeri, Kelelahan
Konversi NeurologiKelumpuhan, Sakit Kepala Pusing, Pseudo-Seizures
GinekonologiNyeri Panggul, Disfungsi Seksual, Infertilitas
OphthalmologyKeburaman Visual, Kebutaan
RespirologySesak Nafas, Mantra Tersedak, Nyeri Dada
ReumatologiFibromyalgia, Kelelahan, Nyeri Kronis
OperasiSakit Punggung, Sakit Leher, Sakit Perut
UrologyUrethral Syndrome, Disfungsi Seksual
Gangguan atau Penyakit yang Diduga Terkait dengan Menahan Emosi

3. Menimbulkan Reaksi Fisiologis Terkait Stres dan Depresi

Menyembunyikan atau menahan emosi diketahui dapat menimbulkan reaksi fisiologis yang terkait dengan stres [4].

Seseorang yang secara terus menerus menahan emosinya akan dapat menyebabkan timbulnya stres [4].

Stres yang ditimbulkan oleh menahan emosi ini kemudian dapat menjadi penyebab terjadinya peningkatan detak jantung, kecemasan dan hal lain yang menurunkan produtivitas harian [4].

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa menahan emosi dan gejala depresi memiliki hubungan timbal balik yang positif pada orang dewasa dan remaja [4].

Hubungan timbal balik menahan emosi dan gejala depresi ini diketahui juga dipengaruhi oleh dukungan orang tua [4].

Di mana, gejala depresi ini terjadi setelah penurunan persepsi dukungan orang tua setelah satu tahun [4].

4. Menimbulkan Mimpi Buruk

Seseorang yang secara terus menerus menahan emosinya maka akan cenderung mengalami mimpi mimpi buruk [5].

Mimpi mimpi buruk yang dialami ini adalah sebagai akibat dari emosi yang terus ditahan dan terpendam [5].

5. Membuat Orang Lebih Agresif

Emosi yang terus ditahan dan dipendam lama lama akan semakin menumpuk dan meningkat seiring dengan berjalannya waktu [5].

Dan seperti bom yang siap meledak kapan saja, suatu saat nanti akan tiba waktu di mana emosi emosi yang telah lama terpendam itu akan keluar bersamaan sehingga terjadi ledakan kemarahan atau agresi [5].

Selain iu, menahan emosi ini diketahui juga dapat membuat seseorang menjadi lebih agresif [5].

Tips Mengelola Emosi

Sebagaimana telah diketahui bahwa menahan emosi dapat menimbulkan akibat yang negatif baik bagi kesehatan.

Namun, mengekspresikan emosi juga dalam bentuk reaksi juga perlu dikelola dengan baik agar dapat memberikan manfaat khusunya dalam pengambilan keputusan, hubungan, interaksi sosial dan self care [6].

Berikut ini merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengelola emosi [6] :

  • Perhatikan Dampak Emosi

Hal pertama yang dapat dilakukan untuk mulai mengelola emosi yaitu dengan memperhatikan dampak emosi.

Dengan mengetahui dampak emosi, seseorang dapat mengatahui apakah selama ini emosinya terkendali atau tidak terkendali.

Ciri emosi yang tidak terkendali dapat terlihat dari dampak yang ditimbulkan yaitu berupa :

  1. Terjadi konflik hubungan atau pertemanan
  2. Mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain
  3. Adanya dorongan untuk menggunakan zat pengelola emosi
  4. Memiliki sifat emosional
  • Berusaha Memberikan Regulasi, Bukan Menahan Emosi

Emosi memang tidak harus selalu ditahan, melainkan butuh juga untuk diekspresikan namun dengan cara yang terkendali.

Jadi, mungkin dapat mulai belajar melatih diri untuk mengendalikan emosi, baik bahagia, sedih atau marah agar tidak berlebihan dalam mengekspresikannya.

Dengan kata lain, emosi tersebut tidak ditahan, tapi juga tidak diekspresikan secara berlebihan hingga tidak terkendali.

Jika sedang sangat ingin marah, coba untuk menarik napas dalam salam dan mengeluarkannya secara pelan pelan.

Hal ini dapat membantu menenangkan diri dan mengontrol kembali emosi agar tidak semakin tidak terkendali.

  • Identifikasi Apa yang Dirasakan

Dalam mengolala dan mengendalikan emosi, penting juga untuk mengidentifikasi suasana hati atau apa yang sedang dirasakan.

Hal ini dapat menjadi salah satu hal yang membantu mulai mendapatkan kembali kendali atas emosi tersebut.

Untuk mengidentifikasi perasaan ini, mungkin dapat dilakukan dengan mengajak bicara diri sendiri.

Misal, ketika akan marah kepada seseorang yang tiba tiba saja membatalkan janji yang telah dibuat tanpa penjelasan, cobalah untuk meluangkan waktu sejenak untuk berdiskusi dengan diri sendiri.

Ajak diri untuk dapat memikirkan alternaatif penjelasan yang mungkin masuk akal, seperti mungkin mereka memiliki alasan yang tidak nyaman untuk dijelaskan, mungkin ada hal penting yang tidak bisa ditinggalkan, atau mungkin mereka menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan.

Kemudian, daripada langsung marah marah, cobalah untuk menanyakan alternatif waktu lainnya.

Dengan mempertimbangkan kemungkinan alternatif, maka menyusun ulang pemikiranm akan dapat membantu mengubah reaksi ekstrem yang awalnya sangat ingin dilakukan seperti marah marah dan reaksi emosional lainnya.

  • Melakukan Meditasi

Meditasi diketahui dapat menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran dari semua perasaan dan pengalaman.

Dengan meditasi, seseorang diharapkan dapat lebih memperhatikan dan memahami perasaannya sendiri, menerimanya dengan tidak menghakimi diri sendiri.

Dengan demikian, akan memicu untuk mencoba mengubah atau membuatnya menjadi lebih baik dari telah terjadi.

Mengingat, belajar menerima semua emosi dapat mempermudah dalam pengaturan emosi dan meditasi meningkatkan kemampuan penerimaan emosi tersebut.

1. Izard, C. E. Emotion Theory and Research: Highlights, Unanswered Questions, and Emerging Issues. Annual Review of Psychology; 2009.
2. Crystal Raypole & Timothy J. Legg. Let It Out: Dealing With Repressed Emotions. Healthline; 2020.
3. Chapman, B. P., Fiscella, K., Kawachi, I., Duberstein, P., & Muennig, P. Emotion suppression and mortality risk over a 12-year follow-up. Journal of Psychosomatic Research; 2013.
4. Jainish Patel & Prittesh Patel. Consequences of Repression of Emotion: Physical Health, Mental Health and General Well Being. International Journal of Psychotherapy Practice and Research; 2019.
5. Hanan Parvez. Emotional suppression: Causes and consequences. PsychMechanics; 2014.
6. Crystal & Jennifer Litner. How to Become the Boss of Your Emotions. Healthline; 2020.

Share