Penyakit & Kelainan

Ataxophobia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Ataxophobia?

Ataxophobia merupakan salah satu fobia spesifik di mana seseorang memiliki ketakutan berlebih terhadap hal-hal yang tak tertata rapi atau tidak teratur [1,2].

Ketika suatu kondisi atau situasi tak serapi atau seteratur yang diharapkan, maka seseorang dengan ataxophobia akan mengalami kecemasan dan ketakutan berlebih.

Bahkan hanya memikirkan atau membayangkan sesuatu yang tak teratur sesuai ideal dan harapannya, penderita ataxophobia akan mengalami kecemasan intens.

Penderita ataxophobia seperti penderita fobia pada umumnya, karena mereka akan menghindari hal-hal yang membuatnya cemas dan panik, terutama hal-hal yang tak rapi dan tak teratur.

Tinjauan
Ataxophobia merupakan jenis fobia spesifik di mana seseorang merasa tak nyaman, takut, panik atau cemas berlebih ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak teratur atau tidak rapi.

Penyebab Ataxophobia

Penyebab pasti kondisi fobia hingga kini belum diketahui secara pasti, termasuk pada kasus fobia spesifik seperti ataxophobia.

Namun, faktor seperti genetik dan lingkungan masih menjadi dugaan paling kuat yang mampu menyebabkan seseorang mengalami fobia tertentu.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mampu memiliki kondisi ataxophobia antara lain adalah [1,2,3,4,5] :

  • Mempunyai anggota keluarga yang menderita gangguan kecemasan atau fobia spesifik.
  • Mempunyai riwayat gangguan kecemasan atau gangguan mental tertentu.
  • Mempunyai pengalaman traumatis atau tak menyenangkan yang berhubungan dengan hal-hal tak teratur dan tak rapi.
  • Mempunyai pengalaman masa kecil dengan didikan dan edukasi keras dan kaku mengenai keteraturan dan kerapian.
  • Mengalami gangguan pada fungsi otak.
Tinjauan
Belum diketahui pasti hingga kini penyebab ataxophobia, namun beberapa faktor pemicunya dapat berupa riwayat gangguan mental tertentu, riwayat gangguan mental atau fobia spesifik pada anggota keluarga, pengalaman traumatis, pengalaman didikan semasa kecil, hingga gangguan atau kelainan fungsi otak.

Gejala Ataxophobia

Ataxophobia adalah kondisi yang tak dapat disepelekan sama seperti fobia spesifik lainnya.

Ketika penderita ataxophobia dihadapkan dengan ketidakteraturan, kecemasan dan ketakutan akan timbul yang jika dibiarkan dapat berakibat pada melukai atau membatasi diri sendiri secara berlebihan.

Terdapat dua jenis kondisi gejala yang perlu dikenali dari kasus ataxophobia, yaitu gejala psikologis dan gejala fisik seperti di bawah ini :

Gejala Psikologis

Pada kasus ataxophobia yang sangat berat, bukan lagi kecemasan biasa yang dialami oleh penderita.

Serangan panik yang cukup parah dapat terjadi bila dihadapkan pada pemicunya dan sejumlah gejala di bawah ini pun perlu dikenali [1,2] :

  • Merasa seperti akan kehilangan kesadaran
  • Merasa kehilangan kendali terhadap diri sendiri
  • Ketakutan dan kecemasan timbul secara intens
  • Perubahan suasana hati yang ekstrem
  • Mudah marah dan mudah tersinggung
  • Menurunnya daya konsentrasi
  • Mudah linglung
  • Menarik diri dari lingkungan pergaulan
  • Merasa malu, merasa bersalah, dan menyalahkan diri sendiri

Gejala Fisik

Sementara itu, beberapa gejala fisik yang kemungkinan dapat dialami pada kasus ataxophobia adalah [1,2] :

  • Tubuh gemetaran
  • Tubuh berkeringat lebih banyak
  • Tubuh menggigil
  • Otot tegang
  • Terasa sensasi seperti dicekik
  • Napas pendek atau sesak napas
  • Takikardia (detak jantung lebih cepat dari normalnya)
  • Peningkatan kadar tekanan darah
  • Nyeri pada dada
  • Dada terasa sesak
  • Hiperventilasi
  • Mengalami kebingungan atau linglung
  • Telinga berdengung
  • Keinginan untuk buang air kecil yang cukup sering
  • Mulut kering
  • Mati rasa pada beberapa bagian tubuh
  • Sakit kepala
  • Mual atau sakit perut

Gejala yang paling nampak dari penderita fobia spesifik seperti ataxophobia adalah kecenderungan dalam menghindari situasi yang penuh dengan ketidakrapian dan ketidakteraturan [2].

Penderita biasanya akan menghindari area yang mereka tahu akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan berlebih.

Membicarakan dan membayangkan sesuatu yang tak teratur dan tak rapi pun dapat membuat penderita ataxophobia langsung merasa tidak nyaman.

Ketidaknyamanan ini ditandai dengan timbulnya gejala fisik seperti berkeringat hebat, tubuh gemetaran dan ketegangan pada otot.

Selain itu, penderita ataxophobia dapat begitu jelas karena kemampuan organisirnya yang sangat ekstrem.

Penderita seperti memiliki obsesi untuk mengatur dan merapikan segala hal yang ada di sekitarnya sesuai harapannya walaupun posisi benda atau obyek tersebut sudah tergolong baik [1,2].

Sesuatu yang telah terorganisir pun masih mendapat perhatian khusus dari penderita ataxophobia dan kembali ditata ulang.

Walau kecemasan dan ketakutan ini tak cukup masuk akal, kondisi seperti ini memang tak dapat dijelaskan karena si penderita pun tak mengerti mengapa ia mengalaminya.

Tinjauan
Gejala ataxophobia terdiri dari dua jenis kondisi, yaitu psikologis dan fisik.
Secara psikologis, penderita dapat merasa panik dan cemas ketika mendapati suatu hal atau area tidak teratur dan merasa perlu mengatur ulang segala sesuatu dengan obsesif. Hal ini dapat disertai rasa sesak, berkeringat, tubuh gemetaran, sulit menelan, pusing dan otot tegang.
Atau, penderita akan lebih memilih menghindari area yang menurutnya tidak rapi atau tidak terorganisir dengan baik terlalu sering.

Pemeriksaan Ataxophobia

Tidak terdapat metode khusus untuk pemeriksaan fobia spesifik seperti ataxophobia.

Namun, beberapa kriteria di bawah ini umumnya digunakan untuk mendiagnosa pasien dengan gejala ataxophobia [1] :

  • Memiliki perasaan tidak nyaman dan merasa bahwa sebuah situasi harus teratur dan harus proporsional di mana reaksi penderita ataxophobia akan cenderung berlebihan ketika menemukan situasi yang jauh dari keteraturan.
  • Memiliki rasa takut yang irasional setiap kali berada di tempat atau sekitar hal-hal yang tak rapi tanpa mampu menjelaskan mengapa ketakutan itu timbul.
  • Mengeluarkan reaksi atau respon berupa serangan panik terhadap ketidakteraturan dan cenderung berlebihan.
  • Memiliki kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungannya karena kecenderungan menjumpai hal-hal yang tak teratur seperti yang diinginkannya. Fungsi seseorang dalam masyarakat dalam hal ini akan berkurang karena tak dapat berbaur dengan baik karena kecemasan berlebihnya.
  • Menghindari acara atau pertemuan sosial tanpa alasan yang jelas; hal ini dapat menjadi cara penderita untuk menghindari kepanikan saat menjumpai faktor pemicu ataxophobia-nya di acara-acara tersebut.
  • Mengalami gejala yang sama ketika setiap kali dengan sengaja dihadapkan pada faktor-faktor pemicu ataxophobia.

Untuk mendapatkan hasil diagnosa akurat dan terpercaya, seseorang dengan gejala ataxophobia sebaiknya berkonsultasi langsung dengan ahli kesehatan jiwa dan mental.

Psikolog atau psikiater akan membantu mendiagnosa dengan dasar kriteria DSM-5 dan menentukan penanganan yang paling sesuai [6].

Tinjauan
Ahli kesehatan mental biasanya akan memeriksa penderita gejala ataxophobia melalui metode observasi dan pengamatan mengenai cara pikir dan perilaku pasien. Diagnosa fobia spesifik umumnya didasarkan pada kriteria DSM-5.

Penanganan Ataxophobia

Penanganan ataxophobia sama dengan fobia spesifik lainnya, yaitu melalui psikoterapi, obat-obatan, hingga perubahan gaya hidup yang akan membantu memulihkan.

  • Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif dibutuhkan oleh setiap pasien dengan gangguan kesehatan mental, terutama penderita gangguan kecemasan dan gangguan obsesif kompulsif [1,2,3,5].

Namun pada kasus ataxophobia, terapi perilaku kognitif juga akan efektif dalam membantu meredakan rasa cemas dan panik berlebihan.

Terapis juga akan membantu mengubah pemikiran serta perilaku pasien yang cenderung negatif setiap dihadapkan dengan faktor pemicu kecemasannya.

Penderita ataxophobia yang menempuh terapi perilaku kognitif diharapkan dapat memahami pemikirannya tentang ketakutan dalam diri mereka.

Memahami dan mendalami perasaan takut tersebut dapat digolongkan sebagai pendekatan pragmatis untuk melawan rasa takut itu sendiri.

Selain terapi perilaku kognitif, terapi eksposur termasuk psikoterapi yang juga pasien butuhkan [1,2,3,4,5].

Terapis akan mengekspos pasien terhadap sumber ketakutannya yang diharapkan dapat membantu diri pasien dalam melawan ketakutan itu.

Maka itu artinya, terapis mengekspos pasien pada gambar atau video ruangan yang tidak tertata rapi.

Dengan mengeksposnya berulang kali, secara teori perasaan tak nyaman yang pasien rasakan akan berkurang seiring waktu.

  • Talk Therapy / Terapi Bicara

Terapi bicara atau talk therapy adalah sebuah prosedur di mana pasien dapat berbicara dengan terapis profesional [1,2].

Terapis akan mencoba memahami pasien lebih dalam, baik apa yang dipikirkan maupun apa yang dirasakan oleh pasien.

Terapis akan membantu mengidentifikasi pola destruktif pada cara berpikir dan berperilaku pasien agar segera dapat diperbaiki.

Seringkali pasien juga memiliki perasaan yang belum terselesaikan, maka terapis juga akan membantu menyelesaikan dan memperbaikinya.

Dari metode ini, pasien juga dapat memahami apa yang tengah terjadi pada dirinya, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya, terutama saat berada di tempat umum yang selama ini selalu dihindari.

Terapis juga biasanya akan memberikan pemahaman pada pasien bahwa bukan hanya pasien seorang yang mengalami kondisi ataxophobia.

Terapis bertugas memastikan pasien bahwa dirinya tidak sendiri dalam mengalami fobia spesifik karena terdapat banyak orang lain di dunia ini yang juga memiliki masalah serupa.

  • Obat-obatan

Pemberian obat antidepresan dan anticemas juga akan dilakukan oleh dokter dengan tujuan mengurangi rasa cemas dan panik [1,2].

Klonopin, Valium, dan Xanax adalah jenis obat anticemas yang kemungkinan besar diresepkan oleh dokter [2].

Antidepresan seperti Lexapro, Zoloft, dan Paxil juga dapat diresepkan oleh dokter untuk mengurangi gejala-gejala ataxophobia.

Konsultasikan secara detail mengenai penggunaan obat-obatan tersebut, berikut juga kemungkinan efek samping pemakaian obat tersebut.

Ketahui juga apakah penggunaan obat anticemas serta antidepresan jangka panjang tergolong aman.

  • Meditasi

Ataxophobia juga berhubungan dengan kondisi gangguan kecemasan, maka teknik pengobatan melalui meditasi juga dapat dipraktekkan oleh pasien [2].

Meditasi adalah suatu cara agar diri dan pikiran pasien dapat terdistraksi dari rasa takut.

Melalui meditasi, pasien akan memfokuskan ulang perhatian mereka pada hal lain yang menenangkan, seperti misalnya fokus pada nafas.

Hal ini juga diyakini efektif dalam mengatasi rasa panik berlebih ketika pasien dihadapkan pada pemicu ataxophobia.

  • Olahraga dan Latihan Yoga

Olahraga adalah salah satu cara mengelola stres yang baik di mana cara ini juga akan efektif untuk pasien ataxophobia selama melakukannya tidak secara berlebihan [7].

Latihan fisik untuk sistem kardiovaskular juga sangat mampu meredakan stres, begitu juga dengan latihan aerobik.

Hormon endorfin akan dilepaskan oleh otak yang otomatis mengurangi tekanan dalam diri.

Pilihan olahraga sebagai cara pengelolaan stres juga beragam, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau sekedar jogging dapat dilakukan secara rutin.

Bahkan olahraga yang lebih berat seperti bakset, futsal, sepak bola, tenis, hingga bulutangkis dapat dipraktekkan untuk melepas stres.

Latihan Yoga juga merupakan latihan fisik yang dianjurkan karena bermanfaat baik bagi fisik maupun mental dan emosional seseorang [8].

Fokus diri pasien dapat dialihkan ke suatu hal yang lebih positif dan produktif ketika melakukan Yoga.

Kecemasan dan ketakutan berlebih yang dialami oleh penderita ataxophobia pun akan berkurang, bahkan ketika dihadapkan dengan pemicu kondisi.

  • Membatasi Asupan Kafein

Selain mengelola stres dengan baik, penting untuk memerhatikan asupan makanan maupun minuman sehari-hari [9].

Para penggemar kafein, sebaiknya mulai mengurangi asupannya, baik itu teh ataupun kopi.

Pembatasan asupan kafein sebenarnya mampu mengurangi rasa cemas yang timbul karena asupan tinggi kafein dapat memicu kecemasan dan kegelisahan.

Bagi beberapa orang, asupan kafein mungkin menjadi pereda stres, namun tanpa disadari kafein yang terlalu banyak dapat menjadi hal negatif bagi diri sendiri.

Selama pemulihan, pastikan untuk mengurangi kafein agar gejala-gejala serangan panik dan gangguan kecemasan dapat berkurang.

Tinjauan
Psikoterapi (terapi perilaku kognitif dan terapi eksposur) merupakan cara utama dalam menangani ataxophobia, begitu juga dengan terapi bicara (talk therapy), teknik meditasi, pemberian obat-obatan antidepresan, latihan fisik (olahraga dan latihan Yoga), hingga pembatasan asupan kafein.

Komplikasi Ataxophobia

Risiko komplikasi ataxophobia kemungkinan sama seperti fobia spesifik lainnya, yaitu depresi berat ketika tak segera mendapatkan penanganan.

Fobia yang berkembang semakin berat dapat berakibat pada perilaku dan kebiasaan penderita yang semakin buruk.

Tak hanya penyalahgunaan alkohol atau narkoba, kemungkinan mengakhiri hidup pun sangat besar pada penderita fobia spesifik yang sudah parah [10,11].

Pencegahan Ataxophobia

Pencegahan ataxophobia bukan dengan menghindari masalah, terutama ketika penderita justru memilih menghindar dari segala hal yang menurutnya tak teratur dan membuatnya tak nyaman.

Menghindari pemicu ataxophobia terus-menerus hanya akan memperburuk kondisi mental.

Oleh sebab itu, sebelum gejala menjadi lebih buruk, baik kondisi mental, emosional dan perilaku penderita, penanganan perlu didapat segera.

Tinjauan
Tidak terdapat cara khusus dan pasti dalam mencegah ataxophobia, namun untuk mencegah perburukan gejala, deteksi dan penanganan dini sangat dianjurkan.

1. Deborah Akinola. Ataxophobia – Fear of Disorderliness and Untidiness. Know Your Phobia; 2020.
2. Psych Times Staff. Ataxophobia (Fear of Disorder or Untidiness). Psych Times; 2020.
3. William W Eaton, O Joseph Bienvenu, & Beyon Miloyan. Specific phobias. HHS Public Access; 2020.
4. René Garcia. Neurobiology of fear and specific phobias. Learning Memory; 2017.
5. Chandan K. Samra & Sara Abdijadid. Specific Phobia. National Center for Biotechnology Information; 2020.
6. Berta Ausín, Manuel Muñoz, Miguel Ángel Castellanos, & Sara García. Prevalence and Characterization of Specific Phobia Disorder in People over 65 Years Old in a Madrid Community Sample (Spain) and its Relationship to Quality of Life. International Journal of Environmental Research of Public Health; 2020.
7. Meghan K. Edwards & Paul D. Loprinzi. Experimental effects of brief, single bouts of walking and meditation on mood profile in young adults. Health Promotion Perspectives; 2018.
8. Masoumeh Shohani, Gholamreza Badfar, Marzieh Parizad Nasirkandy, Sattar Kaikhavani, Shoboo Rahmati, Yaghoob Modmeli, Ali Soleymani, & Milad Azami. The Effect of Yoga on Stress, Anxiety, and Depression in Women. International Journal of Preventive Medicine; 2018.
9. Gareth Richards & Andrew Smith. Caffeine consumption and self-assessed stress, anxiety, and depression in secondary school children. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England); 2015.
10. Ryan MacDonald, PhD, Rosa M. Crum, MD, MHS, Carla L. Storr, ScD, Alyson Schuster, MPH, & O. Joseph Bienvenu, MD, PhD. Sub-Clinical Anxiety and the Onset of Alcohol Use Disorders: Longitudinal Associations from the Baltimore ECA Follow-Up, 1981–2004. HHS Public Access; 2014.
11. Josh Nepon, MD, Shay-Lee Belik, Msc, James Bolton, MD FRCPC, & Jitender Sareen, MD FRCPC. The Relationship Between Anxiety Disorders and Suicide Attempts: Findings from the National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions. HHS Public Access; 2011.

Share