Makanan, Minuman dan Herbal

Cabai Jawa: Manfaat – Efek Samping dan Cara Konsumsi

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Cabai Jawa merupakan salah satu jenis cabai yang digunakan sebagai bumbu, tanaman ini dapat memberikan rasa pedas dan khas pada makanan dan minuman.

Meski namanya tidak terlalu populer dibandingkan dengan jenis cabai lain, Cabai Jawa ternyata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan di Indonesia. [1]

Fakta Tentang Cabai Jawa

Cabai Jawa termasuk dalam suku Piperaceae dan memiliki nama latin Piper retrofractum Vahl. Cabai Jawa merupakan tanaman asli Asia tenggara dan banyak dikultivasi di Indonesia dan Thailand.

Tanaman ini sering disebut juga sebagai Javaneese long pepper, Balinesse long pepper, cabai jamu, cabai puyeng atau lada panjang. Di Indonesia, tanaman ini biasanya ditemukan di pulau Jawa, Sumatera, Bali dan Kalimantan.

Buahnya yang dikeringkan menjadi simplisia dan digunakan dalam pembuatan berbagai macam jamu sehingga disebut sebagai cabai jamu [1].

Cabai Jawa merupakan salah satu dari 9 tanaman unggulan BPOM yang dikelompokkan sebagai tanaman berkhasiat afrodisiak [1].

Karakteristik Cabai Jawa

Cabai Jawa adalah tanaman tahunan, tumbuh memanjat pada dataran dengan ketinggian 1-600 m dari permukaan laut. Panjatan tanaman ini bisa berupa tiang atau pohon seperti pohon dadap, randu dan kelor.

Tanaman ini memiliki kemampuan beradaptasi yang baik pada berbagai macam lingkungan. [1,2]. Beberapa ciri dari Cabai Jawa adalah sebagai berikut:

  • Memiliki batang beruas-ruas, berkayu, bulat, besar, berdiameter ± 5-7 cm, panjang ± 5-15 m, bewarna hitam, coklat atau coklat kehitaman. Batang Cabai Jawa menyerupai tanaman lada;
  • Memiliki cabang panjat dan cabang buah (5-7 buah per cabang). Panjang ruas cabang buah sekitar 2,08-8,02 cm. Jumlah cabang buah banyak dengan bentuk bulat dan warna hijau, hijau gelap hingga hijau tua;
  • Daun tunggal bewarna hijau dengan bentuk daun lanset, lebar atau membulat;
  • Bentuk pertulangan daun menyirip dan ujung daun runcing. Hampir mirip dengan daun sirih namun daun pada Cabai Jawa lebih lebar;
  • Bentuk pangkal daun berlekuk dan tidak sejajar dengan permukaan daun halus;
  • Bentuk buah Cabai Jawa beragam mulai dari bulat panjang, bulat pendek, panjang kecil dan panjang pipih dengan ukuran yang beragam;
  • Warna buah Cabai Jawa berkembang dimulai dari warna hijau kemudian berubah menjadi putih kekuningan, hijau, dan kuning kemerahan. Panjang buah Cabai Jawa antara 2,20-8,24 cm. [2]

Karakteristik tanaman Cabai Jawa dapat bervariasi terutama pada daun dan buah bergantung dari daerah asal tanaman tersebut ditanam. [2]

Tanaman Cabai Jawa dapat diperbanyak menggunakan biji, stek cabang panjat, stek cabang tanah dan stek cabang buah. Cabai Jawa dapat ditanam sebagai tanaman obat keluarga di halaman rumah dengan cara dibudidayakan dalam pot menggunakan bahan tanam cabang buah. [2]

Kandungan Senyawa Cabai Jawa

Pada umumnya, bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman herbal dari Cabai Jawa adalah buah dan daunnya.

Senyawa aktif yang terkandung dalam Cabai Jawa adalah [3]:

  • Piperine,
  • Resin,
  • Minyak atsiri,
  • Piperidine,
  • Retrofractamide A,
  • Retrofractamide C,
  • Asam amino,
  • Monosakarida,
  • Piperatine,
  • Beta-sitosterol,
  • Alkaloid,
  • Metil piperate,
  • Aldehid,
  • Keton,
  • Steroid,
  • Sesamin dan 3,4,5-trimetoksi- asam dihidrosinamat,
  • Piperotadecalidine,
  • Pipereicosalidine,
  • N-isobyleicosa-2,
  • 4-dienamide,
  • Beta-sitosterol beta-D-glukopiranoside,
  • 3-metil-5-dekanoilpiridine dan
  • Ssam 28-methylnonacos-27-en-1-oat.

Sedangkan, menurut BPOM RI 2010, buah Cabai Jawa mengandung [1]:

  • Alkaloid,
  • Saponin,
  • Polifenol,
  • Minyak atsiri,
  • Asam palmitat,
  • Asam tetrahidropiperat,
  • 1-undeselinil-3,
  • 4-metilendioksi-benzena dan
  • Sesamin
SenyawaJumlah
β-caryophyllene17%
Pentadecane17,8%
β-bisabollene11,2%
Kandungan senyawa dalam minyak atsiri pada Buah Cabai Jawa
SenyawaJumlah
Germakren D24,20 %
Tetrametilsiklo [5.3.1.0(4.11)]-undek-8-ena17,73%
Ar-tumeron11,55%
Benzil Benzoat6,28%
Kandungan senyawa dalam minyak atsiri pada Daun Cabai Jawa

Piperin merupakan senyawa golongan alkaloid yang menjadi kandungan utama dalam Cabai Jawa dan paling banyak memiliki efek kesehatan. [12]

Manfaat Cabai Jawa

Beberapa manfaat cabai jawa untuk kesehatan adalah sebagai berikut:

  • Manfaat antioksidan

Cabai jawa memiliki kandungan piperin dan polifenol yang dapat berfungsi sebagai antioksidan. Piperine dapat melindungi sel dari kanker dengan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti superoksida dismutase, katalase dan glutation peroksidase. [4]

Polifenol yang ada dalam Cabai Jawa memiliki kemampuan untuk mendonorkan atom hidrogen dan menangkap radikal bebas. Radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh dapat menyebabkan stress oksidatif dan merusak sel. Sehingga konsumsi Cabai Jawa baik untuk mencegah terjadinya kerusakan sel akibat radikal bebas. [4,21]

  • Manfaat antikanker

Selain sebagai antioksidan, Cabai Jawa juga memiliki aktivitas antikanker. Berdasarkan uji antisitotoksik terhadap sel kanker payudara, Cabai Jawa diasumsikan memiliki potensi dalam mencegah perkembangan sel kanker payudara. [5]

Namun jika ingin mengkonsumsi Cabai Jawa untuk terapi pengobatan kanker, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.   

  • Memiliki efek stimulan

Buah cabai jawa memiliki efek stimulan pada sel saraf sehingga dapat digunakan untuk meingkatkan stamina tubuh. Senyawa aktif yang berkhasiat atas aktivitas ini adalah piperin. [6,20]

Pengujian ekstrak Cabai Jawa terhadap atlet olahraga membuktikan bahwa atlet yang meminum esktrak Cabai Jawa memiliki stamina yang lebih kuat dibandingkan dengan yang tidak meminum ekstrak Cabai Jawa. [6,20]

  • Memiliki efek afrodisiak (penambah syahwat)

Cabai Jawa memiliki efek sebagai afrodisiak (penambah syahwat). Berdasarkan penelitian klinis yang dilakukan pada tikus dan manusia, cabai jawa terbukti dapat meningkatkan libido dan kadar testosterone pada pria yang mengalami infertilitas (gangguan kesuburan). Senyawa yang bertanggungjawab terhadap aktivitas ini adalah betasitosterol. [7]

Peningkatan kadar testosterone juga dapat memperbaiki komposisi lemak tubuh dan profil lipid sehingga dapat mencegah terjadinya jantung koroner. [8]

BPOM RI 2010 telah memasukkan Cabai Jawa sebagai sumber sediaan afrodiasaka obat asli Indonesia. [1]

  • Memiliki efek analgesik dan antipiretik

Pengujian efek analgesik dan antipiretik dilakukan dengan menggunakan mencit galur. Piperin yang terdapat di dalam cabai jawa terbukti dapat memberikan efek analgesik dan antipiretik dengan cara menghambat aktivitas enzim penyebab nyeri dan demam yaitu siklooksigenase (COX) dan 5-lipooksigenase (5-LOX).  [11]

  • Memperbaiki pencernaan

Piperin dalam cabai jawai dapat membantu memperbaiki pencernaan dengan cara menstimulasi enzim pada usus dan pankreas. [12]

  • Sebagai antibakteri

Selain buah, bagian daun cabai jawa juga memiliki manfaat. Pengujian yang dilakukan terhadap ekstrak daun cabai jawa dapat membuktikan bahwa minyak atsiri, flavonoid dan saponin yang terkandung di dalam ekstrak daun Cabai Jawa mampu melawan bakteri patogen. Beberapa bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Micrococcus luteus. [13,22]

Pengujian ini menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun cabai jawa dapat menyebabkan kerusakan pada dinding sel bakteri Bacillus subtilis. [22]

  • Memiliki efek antihiperlipidemia

Hasil pengujian kadar kolesterol pada tikus jantan menunjukkan bahwa ekstrak Cabai Jawa dapat mencegah kenaikan kadar kolesterol dalam darah. Kandungan beta-sitosterol dalam Cabai Jawa menyebabkan hambatan terhadap penyerapan kolesterol sehingga dapat menurunkan kadar kolestrol dalam darah. [8]

Karena kemampuannya dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah maka Cabai Merah juga dapat menurunkan berat badan. Piperin yang terkandung dalam Cabai Jawa dapat meningkatkan pembakaran kalori dengan cara meningkatkan metabolisme dalam tubuh. [23]

  • Sebagai insektisida nabati

Berdasarkan hasil pengujian, jika ekstrak Cabai Jawa dikombinasikan dengan Jahe Merah pada kosentrasi 50% maka dapat menurunkan serangan serangga pada tanaman sawi. [9]

Kandungan minyak atsiri pada kedua tanaman ini akan bekerja secara sinergis sebagai repelen atau anti serangga sehingga tingkat kerusakan pada tanaman sawi akan menurun. [9]

Alkaloid dalam Cabai Jawa juga memiliki efek sebagai racun perut, mengganggu sistem pernafasan dan sistem kerja saraf serangga. [9]

  • Efek antidepresan

Piperin dalam Cabai Jawa memiliki efek antidepresan dengan cara meningkatkan kadar serotonin di hipotalamus dan hippocampus sehingga dapat mengurangi gejala depresi. [15]

  • Sebagai antidiare

Dalam pengujian dengan menggunakan tikus, Piperin  dalam Cabai Jawa dapat mencegah diare. Sedangkan dalam pengujian menggunakan kelinci, Piperin dalam Cabai Jawa dapat bekerja seperti loperamide (obat antidiare) tanpa menimbulkan efek samping. [17]

Cabai Jawa juga memiliki aktivitas antispasmodik yang dapat menurunkan kejang otot pada sistem pencernaan. [17]

  • Mencegah ulcers (ulkus/luka)

Kandungan piperin dalam Cabai Jawa dapat mencegah pembentukan ulcers pada tikus dan mencit. Efektif digunakan untuk ulcers yang disebabkan karena stress, asam lambung atau akibat penggunaan obat NSAID seperti indomethacin dalam jangka waktu yang lama. [18]

Piperin juga dapat menghambat pertumbuhan Helicobacter Pylori yang merupakan bakteri penyebab terjadinya ulcers peptic (tukak lambung). [18]

  • Mengobati berbagai penyakit lainnya

Cabai Jawa telah digunakan secara turun-temurun sebagai pengobatan tradisional untuk diare, batuk, sakit gigi, iritasi ringan, disentri, antiseptik, anti malaria, karminatif, antelmitik (obat cacing), radang mulut, beri-beri, reumatik serta merangsang perkembangan dan aktivitas orang-orang reproduksi laki-laki (efek androgenik). [1,3,12]

Simplisia Cabai Jawa termasuk dalam 10 besar bahan baku yang banyak digunakan oleh industri herbal. [3]

Efek Samping Cabai Jawa

  • Iritasi kulit dan membran mukosa

Minyak atsiri yang terdapat di dalam Cabai Jawa dapat menyebabkan iritasi kulit dan membran mukosa jika digunakan secara berlebihan. [24]

  • Sesak Nafas

Serbuk Cabai Jawa bila tidak sengaja terhirup oleh hidung dalam jumlah yang banyak dapat menganggu pernafasan dan menyebabkan sesak nafas. [24]

  • Reaksi alergi dan efek samping lain

Hingga saat ini masih belum ditemukan efek samping yang cukup serius terkait dengan penggunaan Cabai Jawa. Penggunaan Cabai Jawa cukup aman karena termasuk dalam jenis simplisia yang tidak berbahaya.

Meski begitu, diharapkan untuk tetap mengkonsumsi Cabai Jawa secara hati-hati dan tidak berlebihan. Reaksi alergi kemungkinan bisa terjadi namun tidak menimbulkan efek yang parah. [14,19]

Cara Konsumsi Cabai Jawa

Beberapa cara penggunaan dari Cabai Jawa adalah sebagai berikut:

  • Membuat sari buah Cabai Jawa

Mencuci Cabai Jawa dengan air bersih, dikeringkan kemudian dihancurkan dengan cara diblender selama 2-3 menit, disaring dan dimasukkan ke dalam lemari es 4-5 jam. Setelahnya disaring kembali, hasil saringan ditambahkan dengan madu, diaduk sampai rata, dikemas, dipasturasi pada suhu 65°C selama 30 menit dan didinginkan. Sari buah Cabai Jawa siap dikonsumsi. [10]

  • Membuat campuran dengan minuman lain

Membubuhkan serbuk Cabai Jawa ke dalam minuman seperti teh, kopi, susu atau minuman lainnya. [1]

  • Menggunakan langsung sebagai obat luar

Dapat digunakan secara langsung sebagai obat luar pada pengobatan penyakit beri-beri dan reumatik dengan cara dioleskan pada bagian tubuh yang mengalami rasa sakit.

Daunnya dapat digunakan sebagai obat kumur untuk radang mulut. [2]

  • Membuat minuman herbal untuk demam

Cabai Jawa dihaluskan menjadi serbuk, diseduh dengan 1 cangkir air mendidih, didiamkan dan diminum selagi hangat. [24]

Dosis yang digunakan: 2 kali sebanyak 3-4 g buah Cabai Jawa dalam sehari. [24]

  • Membuat minuman herbal untuk penderita lemah syahwat

Buah Cabai Jawa ditumbuk halus dan diseduh dengan air panas kemudian diminum selagi hangat. [24]

Dosis yang digunakan: 1 kali sehari sebanyak 2,5-5 g buah kering dan diminum sebelum beraktivitas. [24]

  • Menjadikan Cabai Jawa sebagai rempah dalam makanan

Buah Cabai Jawa dapat digunakan sebagai rempah pengganti cabe rawit. Buah dari tanaman dicuci bersih dan digerus atau diulek dengan bahan bumbu lain.

Selain itu, buah Cabai Jawa bisa dimasukkan secara langsung ke dalam rebusan kuah makanan. Makanan yang menggunakan tanaman ini akan memiliki rasa pedas yang khas. [1]

Cara penyimpanan

  • Minyak atsiri dari Cabai Jawa

Minyak atsiri memiliki sifat mudah menguap sehingga sebaiknya disimpan dalam wadah yang tertutup dan gelap, diletakkan pada tempat yang memiliki suhu rendah seperti lemari es dan terhindar dari cahaya. [25]

  • Serbuk Cabai Jawa dan Cabai Jawa kering

Untuk serbuk cabai jawa dan cabai jawa kering dapat disimpan dalam wadah yang kering dan tertutup rapat, diletakkan pada suhu ruang dan terhindar dari cahaya matahari.

Cabai Jawa merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat dengan efek samping yang rendah. Memiliki berbagai senyawa fitokimia yang bermanfaat seperti alkaloid, saponin, tannin, flavonoid, steroid, terpenoid dan glikosida. [3]

1. Rusdi Evizal. Status Fitofarmaka dan Perkembangan Agroteknologi Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl.). Lampung. Jurnal Agrotropika; 2013.
2. Wawan Haryudin & Otih Rostiana. Karakteristik Morfologi Tanaman Cabe Jawa (Piper retrofractum. Vahl.) di Beberapa Sentra Produksi. Bul Litro; 2009.
3. M F F Mu'tamar, M ulya & K Hidayat. Product development of black Piper retrofractum Vahl tea (black PrV tea). Indonesia. IOP Publishing; 2019.
4. Hendri Wasito, Heny Ekowati & Fitri Fauziah Hayati. In Vitro Antioxidant Activity of Zingiber officinale, Piper retrofractum, and Their Combinations. Purwokerto. Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention; 2011.
5. Kristina Mulia, Akhmad Endang Zainal Hasan & Suryani. Total Phenolic, Anticancer and Antioxidant Activity of ethanol Extract of Piper retrofractum Vahl from Pamekasan and Karang Asem. Current Biochemistry; 2016.
6. Tubagus Herlambang & Galih Dwi Pradipta. Javanese Long Pepper's Extract as Alternative Energy on Sport for Gymnastic in Central Java. Indonesia. ASSEHR; 2018.
7. Nukman Moeloek, Silvia W. Lestari, Yurnadi & Bambang Wahjoedi. Klinik Ekstrak Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl) sebagai Fitofarmaka Androgenik pada Laki-laki Hipogonad. Jakarta. Researchgate; 2010
8. Syazili Mustofa, Ahmad A Anindito, Agustia Pratiwi, Aisyah A Putri & Muhammad Maulana. The Influence of Piper retrofractum Vahl (Java's Chili) Extract Towards Lipid Profile and Histology of Rats Coronary Artery with High Fat Diet. JUKE; 2014
9. Sonja Verra Tinneke Lumowa & Nurbaya. Kombinasi Ekstrak Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.) dan Jahe Merah (Zingiber officinale var. amarum) sebagai Insektisida Nabati pada Tanaman Sawi (Brassia Juncea L.). Indonesia. Bioedukasi; 2016.
10. Weli Yuliatmoko & Whika Febria. Pembuatan Minuman Fungsional dari Buah Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.). Yogyakarta. Seminar Nasional; 2018.
11. Endang Evacusiany, Slamet Santosa & Maike Irwan. Analgesic Effect of Ethanol Extract of Long Pepper (Piper retrofractum Vahl) on Mice Swiss-Webster Strain. Indonesia Research Article; 2010
12. Bahare Salehi, Zainul Amruddin Zakaria, Rabin Gyawali, Salam A Ibrahim, Jovana Rajkovic, Zabta Khan Shinwari, Tariq Khan, Javad Sharifi-Rad, Adem Ozleyen, Elif Turkdonmez, Marco Valussi, Tugba Boyunegmez Tumer, Lianet Monzote Fidalgo, Miquel Martorell & William N Setzer. Piper Species: A Comprehensive Review on Their Phytochemistry, Biological Activities and Applications. Molecules; 2019.
13. I Putu Gede Krisnawan, Putu Ari Sandhi W & Agus Selamet Duniaji. Daya Hambat Ekstrak Daun Cabe Jawa (Piper retrofractrum Vahl.) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus. Indonesia. Jurnal ITEPA; 2017.
14. Jonathan Ritter PharmD PhD (Pharmacology), Puya Yazdi MD, Carlos Tello PhD (Molecular Biology) & Biljana Novkovic PhD. Black Pepper and Piperine: Health Benefits + Side Effects. Selfhacked; 2020.
15. A Pal, S Nayak, P K Sahu & T Swain. Piperine Protects Epilepsy Associated Depression: A Study on Role of Monoamines. Eur Rev Med Pharmacol Sci; 2011.
16. Song Li, Che Wang, Wei Li, Kazuo Koike, Tamatsu Nikaido & Min-Wei Wang. Antidepressant-like effects of piperine and its derivative, antiepilepsirine. Journal of Asian Natural Products Research; 2010.
17. S Bajad, K L Bedi, A K Singla & R K Johri. Antidiarrhoeal Activity of Piperine in Mice. Planta Med; 2001.
18. Y F Bai & H Xu. Protective Action of Piperine Against Experimental Gastric Ulcer. Acta Pharmacol Sin; 2000.
19. G Shoba, D Joy, T Joseph, M Majeed, R Rajendran & P S Srinivas. Influence of Piperine on the Pharmacokinetics of Curcumin in Animals and Human Volunteers. Planta Med; 1998.
20. Galih Dwi Pradipta SPd MOr, Buyung Kusumawardhana SPd MKes & Tubagus Herlambang SPd MPd. Kandungan Esktrak Cabe Jawa untuk Alternatif Energi dalam Aktivitas Olahraga. Semarang. Jurnal Ilmiah Penjas; 2018.
21. Nurul Jadid, Dewi Hidayati, Sylviana Rosyda Hartanti, Byan Arasyi Arraniry, Rizka Yuanita Rachman & Wiwi Wikanta. Antioxidant Activities of Diffeterent Solvent Extracts of Piper reftrofreactum Vahl. using DPPH Assay. Indonesia. AIP Publishing; 2017.
22. Andria Agusta, Ahmad Fathoni, Pipit Irawati & Yuliasri Jamal. Chemical Constituent and Antibacterial Effect of Essential Oil of Javaneese Pepper Leaves (Piper retrofractum Vahl.). Indonesia. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2013.
23. Leonardo Nogara, Nariman Naber, Edward Pate, Marcella Canton, Carlo reggiani & Roger Cooke. Piperine's Mitigation of Obesity and Diabetes can be Explained by Its Up-Regulation of the Metabolic Rate of Resting Muscle. USA. Proc Natl Acad Sci USA; 2016.
24. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 tentang Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Jakarta. Sekretariat Negara; 2017.
25. Vahid Rowshan, Atefeh Bahmanzadegan & Mohammad Jamal Saharkhiz. Influence of Storage Conditions on the Essential Oil Composition of Thymus daenensis Celak. Iran. Elsevier; 2013.

Share