Penyakit & Kelainan

Cacophobia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Cacophobia adalah ketakutan yang irasional terhadap kejelekan/keburukan. Karena definisi jelek/buruk setiap orang dapat berbeda (bersifat subyektif). maka fobia ini dialami atau diinterpretasikan secara

Apa Itu Cacophobia?

Cacophobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik berkaitan dengan gangguan kecemasan di mana seseorang mengalami ketakutan irasional terhadap orang yang menurutnya jelek secara fisik [1,6].

Penderita fobia ini akan sebisa mungkin menghindari orang-orang yang ia anggap tak memiliki paras yang “elok”.

Karena penghindaran yang dilakukan terus-menerus, hal ini dapat membuat penderita cacophobia sendiri membatasi kehidupannya, terutama dalam kehidupan sosial [2,4].

Tinjauan
Cacophobia adalah jenis fobia spesifik di mana seseorang memiliki ketakutan irasional terhadap orang yang jelek.

Penyebab Cacophobia

Seperti halnya fobia spesifik lain, cacophobia dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti faktor keturunan dan faktor pengalaman traumatis meski penyebab utamanya belum diketahui secara pasti.

  • Faktor Genetik

Fobia spesifik lebih rentan terjadi pada seseorang yang memiliki anggota keluarga (khususnya orang tua) dengan gangguan kecemasan, fobia spesifik, atau gangguan mental tertentu lainnya [1,2,3,6].

Riwayat kesehatan keluarga dengan gangguan panik dan kecemasan sangat dapat meningkatkan risiko fobia spesifik.

Cacophobia adalah salah satu bentuk gangguan kecemasan yang dapat berkembang di dalam diri seseorang karena faktor ini tanda disadari.

  • Faktor Pengalaman Traumatis

Pengalaman traumatis terhadap media atau visual dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan dapat menjadi awal seseorang mengalami cacophobia [1,2,3,4,6].

Tanpa disadari, beberapa orang mengalami trauma, kecemasan, dan ketakutan berlebih terhadap fisik seseorang yang menurutnya kurang rupawan.

  • Faktor Kognitif

Beberapa faktor kognitif yang menjadi alasan mengapa cacophobia dapat terjadi pada seseorang antara lain adalah persepsi efikasi diri yang rendah dan persepsi bahaya yang berlebihan [5,6].

Selain itu, faktor kognitif yang dimaksud di sini adalah keyakinan tak realistis mengenai kerugian yang tubuh terima saat terekspos ke stimulus takut.

  • Faktor Pola Didik

Fobia spesifik adalah sebuah kondisi mental yang umumnya dialami oleh anak yang kemudian berpotensi berlanjut hingga tumbuh dewasa [2,3,4,6].

Pola didik orang tua dapat menjadi salah satu faktor seseorang memiliki fobia spesifik, termasuk dalam hal ini adalah cacophobia.

Cacophobia adalah jenis fobia yang dapat berkembang ketika seorang anak melihat atau diajarkan untuk menolak maupun menghindari orang-orang dengan tampilan fisik kurang menarik (cenderung jelek).

Tanpa disadari sang anak, seiring bertambah usianya hal ini dapat membuat gangguan kecemasan semakin memburuk.

Tinjauan
Faktor genetik, faktor pengalaman traumatis, faktor pola didik, dan faktor kognitif dapat menjadi peningkat risiko cacophobia pada seseorang.

Gejala Cacophobia

Seperti pada jenis fobia spesifik lainnya, cacophobia menimbulkan sejumlah gejala fisik maupun psikologis.

Berikut ini adalah gejala yang umumnya dirasakan sekaligus ditunjukkan oleh penderita cacophobia.

Gejala Fisik Cacophobia

Beberapa gejala fisik yang dapat terjadi pada penderita cacophobia, terutama saat menghadapi sumber yang membuatnya takut antara lain adalah [1,4,6] :

  • Pelebaran pupil mata.
  • Detak jantung yang semakin cepat (lebih cepat dari normalnya).
  • Sensasi tercekik atau merasa terdapat ganjalan di bagian tenggorokan.
  • Pusing
  • Mual yang terkadang dapat disertai muntah.
  • Keringat berlebih pada seluruh tubuh.
  • Mulut kering.
  • Tekanan pada otot yang meningkat (ketegangan otot).
  • Sakit perut.
  • Sakit kepala.
  • Merasa seperti akan kehilangan kesadaran atau pingsan.

Gejala Psikologis dan Perilaku

Selain gejala fisik, fobia spesifik seperti cacophobia pun dapat menyebabkan timbulnya sejumlah gejala psikologis seperti berikut [1,2,3,4,6] :

  • Kecemasan dan kepanikan hebat ketika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki paras kurang menarik/jelek menurut penderita.
  • Merasa takut dan bahkan seperti kehilangan kendali atas diri sendiri saat memikirkan, membicarakan, atau bahkan bertemu dengan orang yang jelek.
  • Kecenderungan untuk menghindari orang-orang yang tidak rupawan menurut penderita.
  • Masalah perilaku penderita cacophobia dapat bersifat kompleks karena tak ada ketentuan mengenai aspek keburukan pada fisik seseorang; kondisi perilaku akan semakin serius dan bahkan menghambat perkembangan diri sendiri.
Tinjauan
Gejala cacophobia terdiri dari beberapa jenis kondisi, yaitu gejala fisik dan gejala psikologis maupun perilaku. Mual, pusing, berkeringat, detak jantung lebih cepat, serangan panik, ketakutan hebat, dan cenderung menghindari sumber penyebab rasa takut adalah gejala-gejala umum yang perlu diwaspadai.

Pemeriksaan Cacophobia

Pemeriksaan fisik dan evaluasi psikologis menjadi metode diagnosa utama yang perlu dilakukan oleh dokter [2,4,7].

Dokter perlu memastikan apakah terdapat penyakit lain yang membuat pasien mengalami gejala-gajal tersebut.

Jika telah dipastikan bahwa kondisi medis tertentu tidak dialami pasien, dokter perlu melanjutkan dengan sekali lagi melalui evaluasi psikologis.

Untuk memastikan bahwa seseorang mengalami cacophobia, maka kriteria diagnostik DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition) biasanya digunakan sebagai panduan [8].

  • Mengalami ketakutan dan kecemasan intens tentang situasi atau obyek spesifik (dalam kasus cacophobia adalah orang yang memiliki fisik kurang menarik/jelek).
  • Mengalami kepanikan irasional saat berada di sekitar orang-orang yang memiliki wajah jelek menurut penderita.
  • Menghindari terus-menerus orang-orang yang dianggap jelek oleh penderita, termasuk menghindari lingkungan atau wilayah yang diketahui tempat orang yang ingin dihindari.
  • Memiliki rasa takut yang luar biasa saat menjumpai penyebab fobia, padahal orang yang ditakuti penderita belum tentu menyebabkan bahaya.
  • Mengalami gejala-gejala yang mengarah pada cacophobia ini selama setidaknya 6 bulan.
  • Ketakutan, kepanikan, kecemasan dan penghindaran dari orang-orang yang dianggap jelek ini kemudian menghambat aktivitasnya sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Pekerjaan, sekolah, hingga hubungan sosial dengan orang lain menjadi terganggu karena ketakutan irasional penderita.
  • Gejala-gejala yang dialami tidak disebabkan oleh kondisi mental lain yang mempunyai gejala serupa.
Tinjauan
Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan psikologis menjadi langkah penting dalam mendiagnosa cacophobia. Dokter kesehatan jiwa dan mental biasanya menggunakan kriteria diagnostik DSM-V sebagai panduan dalam menegakkan diagnosa.

Penanganan Cacophobia

Seperti halnya rata-rata kasus fobia spesifik, penanganan cacophobia adalah melalui tiga metode.

Psikoterapi, penggunaan obat dan perubahan pola hidup diharapkan mampu memulihkan kondisi pasien cacophobia.

Terapi eksposur adalah jenis psikoterapi di mana terapis profesional akan membantu pasien memulihkan diri dengan mengekspos pasien ke sumber penyebab rasa takutnya [1,2,3,4,6].

Prosedur ini perlu diterapkan berulang untuk membuat pasien terbiasa dengan obyek yang membuatnya takut.

Dalam hal ini, terapis akan mengekspos pasien pada sejumlah gambar dan video berisikan visual orang-orang yang dianggap kurang menarik [1,3].

Jika dari beberapa kali pertemuan terapi eksposur pasien mengalami perkembangan di mana gejala yang tidak lagi terjadi, maka langkah besar perlu segera dilakukan oleh terapis.

Prosedur terapi eksposur belum berhenti di sini karena terapis masih akan mengekspos pasien pada orang yang berwajah jelek secara langsung.

Terapi eksposur diketahui efektif dalam mengatasi fobia spesifik, namun dengan penerapan yang cukup dan tidak berlebihan.

Penerapan terapi eksposur berlebihan dan terlalu dipaksakan hanya akan berimbas buruk bagi kondisi pasien [1].

Gejala kecemasan pasien dapat semakin serius bila terekspos berlebih pada sumber ketakutannya di waktu yang kurang tepat.

  • Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah metode penanganan fobia spesifik yang paling umum selain terapi eksposur [1,6,9].

Tujuan terapi ini utamanya adalah untuk membantu penderita cacophobia memahami penyebab dan rasa takutnya sendiri.

Terapis akan mendampingi dan membantu pasien dalam menganalisa ketakutan dan kepanikan yang selama ini dialami pasien secara lebih dalam.

Tidak hanya mempelajari rasa takut secara dalam, terapi perilaku kognitif dapat membantu mengubah persepsi negatif pasien menjadi lebih positif.

Perilaku pasien yang berhubungan dengan cacophobia pun diharapkan mengalami perubahan yang lebih baik sekaligus meningkatkan kembali kemampuan sosialnya.

  • Pemberian Obat

Fobia spesifik identik dengan gangguan panik dan kecemasan, maka seringkali dokter tidak hanya merekomendasikan psikoterapi, tapi juga pemberian resep obat antidepresan dan anticemas [1,3,6].

Obat antidepresan dan anticemas ini diberikan dengan tujuan untuk mengatasi gejala serangan panik.

Hanya saja, biasanya jenis obat anticemas dan antidepresan tidak sebaiknya digunakan sehari-hari dalam jangka panjang kecuali kondisi pasien cacophobia sudah sangat parah [1].

  • Meditasi

Meditasi adalah bagian dari perubahan pola hidup yang dapat diterapkan oleh pasien dengan tujuan merilekskan tubuh dan pikiran secara alami [1,10].

Meditasi secara rutin dapat membantu mengurangi gejala serangan panik dan gangguan cemas berlebih.

Dalam proses meditasi, latihan pernapasan adalah salah satu yang dapat dipraktekkan [1].

Tak hanya meredakan ketegangan otot serta pikiran, latihan meditasi juga akan meningkatkan konsentrasi pasien.

  • Latihan Yoga

Latihan Yoga adalah jenis aktivitas fisik yang dapat menyeimbangkan fisik, pikiran, dan emosional [1,10].

Menerapkan aktivitas ini secara rutin juga merupakan bagian dari meditasi yang akan meredakan kecemasan dan gejala gangguan panik.

Hatha yoga adalah salah satu gerakan Yoga bermanfaat bagi pasien fobia spesifik [11].

Latihan Yoga tidak harus terpaku pada gerakan tertentu saja untuk memiliki kondisi mental dan fisik yang lebih baik.

Gerakan-gerakan Yoga seluruhnya mampu mengurangi ketegangan otot dan mengurangi stres karena cacophobia.

Mempelajarinya dengan bantuan instruktur profesional akan jauh lebih aman daripada memraktekkannya sendiri di rumah namun tanpa pengalaman [1].

  • Berolahraga Rutin

Melakukan olahraga adalah salah satu cara mengelola stres yang efektif, maka pasien cacophobia pun dianjurkan menerapkannya teratur [1,12].

Tidak perlu memilih olahraga yang terlalu berat, olahraga-olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, dan bersepeda pun mampu membantu meredakan kecemasan [1].

Kegiatan olahraga seperti basket, bulutangkis, maupun futsal misalnya juga dapat dilakukan agar hormon endorfin dapat dilepaskan [1].

Gejala serangan panik dan gangguan kecemasan yang berhubungan dengan cacophobia dapat coba diredakan dengan melakukan olahraga aerobik.

Seminggu setidaknya tiga kali berolahraga adalah waktu yang paling dianjurkan, manfaatnya dapat lebih dirasakan ketika pasien melakukannya setiap minggu secara rutin [12].

  • Pembatasan Asupan Kafein

Kafein adalah salah satu asupan yang mampu meningkatkan risiko kecemasan untuk timbul [1,13].

Maka dari itu, penderita cacophobia yang termasuk gemar mengonsumsi kafein, sebaiknya mulai menguranginya [1].

Asupan kafein berlebih sebaiknya dibatasi agar tidak memicu ketegangan dan jantung berdebar pada diri pasien.

Dalam hal ini, bukan hanya kopi, minuman berenergi pun sebaiknya dihindari [1].

Sebagai penggantinya, teh kamomil yang menenangkan dapat dikonsumsi agar gejala kecemasan tidak lagi mudah muncul.

Tinjauan
Penanganan cacophobia meliputi psikoterapi (terapi eksposur dan terapi perilaku kognitif), pemberian obat antidepresan, berolahraga, meditasi, latihan Yoga, hingga pembatasan asupan kafein.

Komplikasi Cacophobia

Risiko komplikasi fobia spesifik seperti cacophobia adalah isolasi sosial [2,4].

Penghindaran dari obyek atau orang-orang yang jelek dalam pandangannya berakibat pada isolasi diri [1,2,3,4].

Depresi berat, terhambatnya kelangsungan hidup normal (kehidupan sosial dan pekerjaan), serta keinginan mengakhiri hidup pun tergolong sebagai risiko komplikasi yang perlu diwaspadai [2,3,14].

Tinjauan
Isolasi diri dan terhambatnya kelangsungan hidup menjadi risiko komplikasi cacophobia, termasuk depresi yang semakin berat hingga timbulnya keinginan mengakhiri hidup.

Pencegahan Cacophobia

Tidak diketahui cara mencegah cacophobia agar tidak terjadi sama sekali.

Namun dengan menyadari gejala secara dini, memeriksakan dan menanganinya dari awal, hal ini mampu meminimalisir risiko komplikasi.

Memiliki pola hidup yang sehat, seperti makan makanan bergizi, olahraga teratur, tidur cukup, dan pengelolaan stres secara positif juga akan mengurangi risiko gangguan kecemasan serta depresi.

Tinjauan
Belum ada cara khusus pencegahan cacophobia, namun deteksi dan penanganan dini akan mengurangi risiko komplikasinya.

1. Psych Times Staff. Cacophobia (Fear of Ugliness). Psych Times; 2020.
2. William W Eaton, O Joseph Bienvenu, & Beyon Miloyan. Specific phobias. HHS Public Access; 2020.
3. René Garcia. Neurobiology of fear and specific phobias. Learning Memory; 2017.
4. Chandan K. Samra & Sara Abdijadid. Specific Phobia. National Center for Biotechnology Information; 2020.
5. S J Thorpe & P M Salkovskis. Phobic beliefs: do cognitive factors play a role in specific phobias? Behaviour Research and Therapy; 1995.
6. Anonim. Cacophobia: Symptoms, Causes and Treatments. Life Persona; 2020.
7. Cornelia Witthauer, Vladeta Ajdacic-Gross, Andrea Hans Meyer, Peter Vollenweider, Gerard Waeber, Martin Preisig, & Roselind Lieb. Associations of specific phobia and its subtypes with physical diseases: an adult community study. BioMed Central Psychiatry; 2016.
8. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders, fifth edition. Arlington, VA: American Psychiatric Association.
9. Thompson E Davis 3rd, Patricia F Kurtz, Andrew W Gardner, & Nicole B Carman. Cognitive-behavioral treatment for specific phobias with a child demonstrating severe problem behavior and developmental delays. Research in Developmental Disabilities; 2007.
10. Josefien J. F. Breedvelt, Yagmur Amanvermez, Mathias Harrer, Eirini Karyotaki, Simon Gilbody, Claudi L. H. Bockting, Pim Cuijpers, & David D. Ebert. The Effects of Meditation, Yoga, and Mindfulness on Depression, Anxiety, and Stress in Tertiary Education Students: A Meta-Analysis. Frontiers in Psychiatry; 2019.
11. Stefan G. Hofmann, Giovanbattista Andreoli, Joseph K. Carpenter, and Joshua Curtiss. HHS Public Access; 2017.
12. Elizabeth Aylett, Nicola Small, & Peter Bower. Exercise in the treatment of clinical anxiety in general practice – a systematic review and meta-analysis. BioMed Central Health Services Research; 2018.
13. Gareth Richards & Andrew Smith. Caffeine consumption and self-assessed stress, anxiety, and depression in secondary school children. Journal of Psychopharmacology; 2015.
14. Michelle Gallagher, Mitchell J. Prinstein, Valerie Simon, & Anthony Spirito. Social anxiety symptoms and suicidal ideation in a clinical sample of early adolescents: examining loneliness and social support as longitudinal mediators. HHS Public Access; 2017.

Share