Penyakit & Kelainan

Gangguan Eksplosif Intermiten: Penyebab – Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Gangguan eksplosif intermiten adalah kondisi dimana tiba-tiba terjadi suatu episode perilaku atau ucapan ledakan kemarahan yang bersifat impulsif, agresif, dan kasar, yang terjadi berulang. Kekerasan dalam

Apa Itu Gangguan Eksplosif Intermiten?

Gangguan eksplosif intermiten atau intermittent explosive disorder (IED) adalah gangguan mental di mana penderitanya tidak mampu mengontrol amarahnya hingga menimbulkan perilaku meledak-ledak di luar kewajaran secara tiba-tiba [1, 2, 3, 4, 7].

Hal ini termasuk tantrum, aksi menghancurkan barang-barang, hingga tindakan kekerasan [1, 2].

Gangguan tersebut berakibat buruk terhadap penderitanya karena memengaruhi hubungan personal, pekerjaan, sekolah, serta bisa menyebabkan konsekuensi hukum [1].

Fakta Gangguan Eksplosif Intermiten

Di bawah ini merupakan fakta-fakta terkait gangguan eksplosif intermiten: [3, 7]

  • Walau ada banyak gangguan kesehatan yang menyebakan seseorang sulit menahan amarah, Gangguan Eksplosif Intermiten adalah satu-satunya yang berfokus pada masalah regulasi rasa marah.
  • Dalam sebuah studi, 3%-7% orang di dunia mengidap gangguan ini dalam hidupnya.
  • IED biasanya muncul di awal-awal hidup seseorang, khusunya ketika baru memasuki masa dewasa.
  • IED biasanya muncul bersamaan dengan gangguan kesehatan mental lainnya.
  • Ledakan amarah biasanya berlangsung kurang dari 30 menit.
  • Penderita yang baru saja meledakkan amarahnya mungkin akan merasakan kelegaan, diikuti rasa bersalah serta malu.

Gejala Gangguan Eksplosif Intermiten

Tindakan eksplosif ini muncul secara tiba-tiba, baik dengan peringatan maupun tidak, dan biasanya berlangsung kurang dari 30 menit [1].

Mereka yang memiliki gangguan eksplosif intermiten akan memperliatkan tingkah laku berikut secara berkelanjutan [1, 2].

  • Tantrum.
  • Mengomel.
  • Suka beradu mulut.
  • Berteriak.
  • Melakukan kekerasan fisik, seperti menampar atau mendorong.
  • Berkelahi.
  • Menghancurkan barang-barang.
  • Mengancam orang lain.
  • Menyerang orang lain atau hewan.
  • Mudah emosi ketika mengemudi di jalan raya.
  • Memukul tembok.
  • Melakukan kekerasan terhadap orang rumah.

Tindakan agresif itu bisa disertai dengan gejala-gejala fisik seperti: [1, 2, 3, 5]

Berikut adalah gejala kognitifnya [5]:

  • Mudah frustrasi.
  • Merasa kehilangan kontrol terhadap pemikiran orang lain.
  • Munculnya pikiran-pikiran yang mengganggu.

Hal-hal di atas juga dilengkapi oleh faktor psikologis berikut [5, 6]:

  • Perasaan marah.
  • Perasaan sebal yang tidak terkontrol.
  • Distansi emosional (ketidakmampuan seseorang untuk terkoneksi dengan perasaan orang lain) dalam waktu singkat.

Komplikasi Gangguan Eksplosif Intermiten

Gangguan eksplosif intermiten (IED) bisa memengaruhi hubungan personal dan kegiatan sehari-hari. Adu mulut dan segala perilaku agresif tersebut mambuat seseorang sulit menjaga hubungan yang stabil dan suportif [2].

Seseorang yang menderita gangguan eksplosif intermiten beresiko tinggi memeroleh gangguan lain, seperti [2]:

Penyebab Gangguan Eksplosif Intermiten

Gangguan eksplosif intermiten biasanya bermula sejak masa kanak-kanak atau remaja. Gangguan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan atau biologis. [1]

Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya:

1. Lingkungan

  • Hidup dengan Orang yang Memiliki Gangguan Serupa

Seseorang yang mengidap gangguan ini mungkin pernah atau sedang tinggal bersama orang lain dengan gangguan yang sama. Jika seseorang senantiasa diperlihatkan tindakan kekerasan oleh figur panutan sejak kecil, maka dia punya kemungkinan besar memproyeksikan karakter yang sama ketika ia dewasa [1].

  • Trauma Masa Kecil

Masa kecil adalah waktu yang krusial untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi. Jika hal ini terganggu oleh kejadian traumatis, maka proses belajar mereka terhadap regulasi emosi pun ikut terganggu. Misalnya sang anak mengalami kekerasan verbal, fisik, atau mungkin seksual. Hal ini nantinya akan berdampak di masa depan [7].

Ketika amarah datang, mereka tidak tahu cara yang efektif untuk mengendalikannya. Keadaan ini akhirnya akan mengarah kepada tindakan agresif dan destruktif sebagai pelampiasan rasa amarah [7].

2. Genetik

Gangguan eksplosif intermiten juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Bila silsilah terdekatmu punya riwayat gangguan ini, maka bukan tidak mungkin Anda juga menderitanya [4].

3. Riwayat Kesehatan Mental

Orang yang memiliki masalah kesehatan mental lainnya juga beresiko memiliki gangguan eksplosif intermiten. Misalnya gangguan kepribadian antisosial, BPD (Boderline Personality Disorder), dan ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder). [1]

4. Biologis

Ada kemungkinan bahwa struktur, fungsi, dan zat kimiawi yang terkandung di dalam otak penderita memiliki perbedaan dengan orang biasa. Misalnya variasi kadar serotonin yang bisa memicu gangguan ini. [1, 3]

Dalam beberapa penelitian, tindakan agresif dan impulsif yang berulang-ulang dihubungkan dengan rendahnya kadar serotonin di dalam otak [2].

Faktor Peningkat Resiko

Ada beberapa keadaan yang membuat Anda punya resiko lebih besar mengidap gangguan eksplosif intermiten, di antaranya adalah sebagai berikut [2, 5].

  • Laki-laki.
  • Usia di bawah 40 tahun.
  • Tumbuh di dalam rumah tangga yang penuh dengan kekerasan verbal dan fisik.
  • Mengalami kejadian traumatis berkali-kali.
  • Memiliki penyakit mental tertentu yang bisa memantik tindakan impulsif.
  • Memiliki trauma emosional.
  • Kondisi medis tertentu.

Diagnosis Gangguan Eksplosif Intermiten

Sebelum didiagnosis menderita gangguan eksplosif intermiten, seseorang mungkin memperlihatkan tindakan berupa gagalnya mengontrol emosi diri [3].

Hal tersebut bisa seperti [3]:

  • Melakukan serangan verbal (misalnya tantrum, percecokan, adu mulut) atau serangan fisik terhadap orang, hewan, atau properti. Keadaan ini muncul kira-kira dua kali seminggu dalam periode tiga bulan; atau
  • Orang tersebut mengalami tiga kali ledakan amarah yang hebat di mana dia menghancurkan properti atau melakukan serangan fisik terhadap hewan atau manusia dalam kurun waktu 12 bulan.

Perlu diingat bahwa serangan yang diperlihatkan sudah melampaui batas. Tidak direncanakan dan bersumber dari rasa marah dan tidak bisa dijelaskan menggunakan gejala gangguan mental lainnya. [3]

Untuk memastikan adanya gangguan eksplosif intermiten serta mengeliminasi kemungkinan masalah mental lainnya, dokter akan melakukan hal berikut [1]:

  • Tes Fisik. Dokter akan mengidentifiksi masalah fisik atau penggunaan substansi tertentu yang berkontribusi terhadap munculnya gangguan ini.
  • Evaluasi Psikologis. Dokter akan berbicara dengan Anda mengenai gejala, pemikiran, perasaan, dan pola tingkah laku Anda.
  • Menggunakan kriteria dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM–5). DSM-5 adalah sebuah buku yang dipublikasikan oleh Asosiasi Psikiater Amerika dan sering digunakan oleh para ahli kesehatan mental untuk mendiagnosa kondisi-kondisi mental.

Pengobatan Gangguan Eksplosif Intermiten

Psikoterapi

Belum ada pengobatan spesial untuk menangani gangguan tersebut. Walau demikian, terdapat perawatan yang berfokus kepada peningkatan kemampuan mengontrol emosi diri [7].

Salah satu cara yang dianggap efektif untuk melatih kemampuan menajemen emosi serta mengurangi perilaku destruktif adalah dengan melakukan Terapi Perilaku Dialektika atau Dialectic Behaviour Therapy (DBT) [7].

DBT berfokus pada pengubahan cara berpikir, tingkah laku, serta kepercayaan yang berpengaruh buruk terhadap keadaan mental pasien. Terapi ini menekankan sikap penerimaan terhadap emosi dan pemikiran diri sendiri [8].

Dokter akan mengaplikasikan terapi yang nantinya akan meningkatkan beberapa kemampuan, seperti: meditasi mindfulness, efektivitas interpersonal, toleransi penderitaan, dan regulasi [8].

Obat-obatan

Beberapa jenis obat-obatan bisa membantu menangani gangguan eksplosif intermiten; termasuk antidepresan–khususnya Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs), obat penstabil mood, obat antipsikotik, obat penghilang kecemasan, dan lain sebagainya [1, 2]

Tindakan Alternatif Lainnya

Beberapa penelitian menemukan cara-cara efektif menangani gangguan ini, yaitu dengan mengubah gaya hidup. Hal tersebut antara lain [1, 2]:

  • Pola makan yang seimbang;
  • Cukup tidur;
  • Rutin beraktivitas fisik;
  • Menghindari konsumsi alkohol, narkoba, dan rokok;
  • Mengurangi atau mengontrol sumber stres;
  • Sediakan waktu untuk relaks, seperti mendengarkan lagu kesukaan;
  • Berlatih meditasi dan semacamnya;
  • Mencoba terapi alternatif, seperti akupuntur dan pijat.
  • Meningkatkan kepedulian diri.

Pencegahan Gangguan Eksplosif Intermiten

Jika Anda merasa keadaan si penderita kian memburuk atau Anda menyadari bahwa mereka akan meledakkan amarahnya, usahakan agar mengindarkan diri serta anak-anak dari tempat kejadian [1].

Pertimbangkan cara-cara ini sebelum keadaan makin darurat [1].

  • Beritahu tetangga yang Anda percaya atau teman mengenai kekerasan sehingga suatu saat Anda bisa dengan mudah meminta bantuan mereka.
  • Pastikan kemana Anda akan pergi. Ledakan amarah bisa terjadi kapan saja, sehingga akan sangat melegakan bila Anda mengetahui kemana Anda akan pergi untuk menyelamatkan diri. Bahkan walau tengah malam sekalipun.
  • Hubungi pihak berwajib untuk dimintai tolong.

1. Anonim. Intermittent explosive disorder. Mayo Clinic; 2018.
2. Carly Vandergriendt & Timothy J. Legg. Intermittent Explosive Disorder. Healthline; 2018.
3. Anonim. Intermittent Explosive Disorder. Cleveland; 2018.
4. Anonim. Intermittent Explosive Disorder Basics. Child Mind Institute.
5. Anonim. Signs & Symptoms of Intermittent Explosive Disorder. Valley Behavioral Health System.
6. Danielle Dresden & Timothy J. Legg. What to know about emotional detachment. Medical News Today; 2020.
7. Matthew Tull & Steven Gans. Childhood Trauma and Intermittent Explosive Disorder: Understanding the Connection and Causes of IED. Verywell Mind; 2020.
8. Matthew Tull & Steven Gans. Dialectical Behavior Therapy (DBT) for PTSD. Verywell Mind; 2020.

Share