Penyakit & Kelainan

Nokturia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Jika seseorang sering bangun di malam hari, lebih dari dua kali, untuk buang air kecil, maka ia mungkin mengalami nokturia.

Selain mengganggu pola tidur, nokturia juga bisa menjadi tanda terjadinya masalah kesehatan yang perlu ditangani.

Apa itu Nokturia?

Nokturia atau poliuria nokturnal, adalah istilah medis untuk buang air kecil berlebih di malam hari.

Saat tidur, tubuh menghasilkan lebih sedikit urin yang sifatnya lebih pekat. Ini artinya, kebanyakan orang tidak perlu bangun di malam hari untuk buang air kecil dan bisa tidur nyenyak sepanjang malam (6 hingga 8 jam).

Nokturia adalah kebutuhan untuk bangun, lebih dari satu atau dua kali, di malam hari untuk buang air kecil. Kondisi ini sebenarnya adalah suatu gejala dari beberapa gangguan kesehatan, dan bukan merupakan penyakit. [1, 2]

Nokturia tidak sama dengan mengompol, yang istilah medisnya adalah nokturnal enuresis.

Tidak seperti nokturia, yang membuat penderitanya terbangun dan sadar harus buang air kecil, mengompol biasanya terjadi tanpa sadar dan tanpa perasaan bahwa kandung kemih sudah penuh.[3]

Penyebab Nokturia

Meskipun penyebab nokturia bisa berbeda pada tiap orang, namun faktor penyebabnya biasanya lebih dari satu. Faktor-faktor ini harus didiagnosa dengan tepat agar nokturia bisa diatasi hingga tuntas.

Nokturia bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari, misalnya minum terlalu banyak (terutama kafein atau alkohol) menjelang waktu tidur. Atau bisa juga akibat konsumsi obat-obatan tertentu, gangguan kesehatan, atau menurunnya kapasitas kandung kemih.

Kebiasaan-kebiasaan berikut ini telah diketahui bisa menyebabkan nokturia baik pada pria maupun wanita: [1, 2, 3, 4]

  • Minum terlalu banyak menjelang tidur
  • Pola tingkah laku (tubuh sudah terbiasa bangun di malam hari untuk buang air kecil, meskipun sebenarnya tidak perlu)
  • Waktu konsumsi atau dosis obat, misalnya: obat-obatan diuretik, cardiac glycoside, lithium, dan kelebihan suplemen vitamin D
  • Gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea

Gangguan kesehatan bisa menyebabkan nokturia, misalnya: [1, 2, 3, 4]

  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung, penyakit pembuluh darah atau gagal jantung kongestif
  • Gangguan kandung kemih (ada batu di dalamnya), inflamasi atau masalah lain yang mempengaruhi kapasitas kandung kemih (misalnya operasi kandung kemih atau fibrosis dari radiasi)
  • Gejala kandung kemih yang terlalu aktif
  • Gangguan prostat
  • Prolaps vagina
  • Menopause
  • Kehamilan (bisa terjadi di awal trimester pertama, dan ketika rahim mulai membesar dan menekan kandung kemih)
  • Persalinan
  • Prolaps panggul
  • Pembesaran prostat
  • Restless leg syndrome
  • Pembengkakan tungkai
  • Interstitial cyctitis (radang kandung kemih)
  • Menurunnya kapasitas kandung kemih
  • Nokturnal poliuria (kondisi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak urin di malam hari sehingga tidak bisa ditampung oleh kandung kemih)

Seringkali, beberapa masalah ini terjadi bersamaan dan menyebabkan nokturia.

Gejala Nokturia

Nokturia cukup umum terjadi pada baik pria maupun wanita. Survey dan penelitian menemukan bahwa 69% pria dan 76% wanita di atas usia 40 tahun melaporkan harus bangun untuk buang air kecil setidaknya sekali setiap malam. [3]

Nokturia bisa terjadi juga pada orang yang masih muda, tetapi akan semakin umum terjadi seiring pertambahan usia, terutama pada pria. Diperkirakan sekitar 50% pria berusia 70an harus bangun setidaknya dua kali tiap malam untuk buang air kecil.

Nokturia sering terjadi pada masa kehamilan, tetapi biasanya akan hilang sendiri dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan.

Nokturia terbagi menjadi dua kategori:

  • Disfungsi saluran kencing atas
  • Disfungsi saluran kencing bawah.

Tetapi nokturia telah lama dianggap sebagai suatu suatu rangkaian gejala-gejala yang berhubungan dengan gangguan saluran kencing bawah, seperti obstruksi prostat jinak dan kandung kemih yang terlalu aktif. [4]

Meskipun nokturia adalah seringnya buang air kecil yang terjadi saat tidur malam hari, tetapi tidak harus selalu disebabkan oleh disfungsi saluran kencing bawah yang melibatkan kandung kemih, prostat, atau uretra.

Nokturia bisa juga disebabkan oleh produksi urin berlebih (nokturnal poliuria) yang diakibatkan oleh faktor jantung, ginjal, atau paru-paru. [4]

Pengaruh Nokturia pada Kesehatan

Nokturia bisa menyebabkan beberapa konsekuensi yang signifikan terhadap kesehatan. Kondisi ini bisa mengganggu pola tidur dan mengakibatkan timbulnya penyakit.

Beberapa studi, termasuk yang dilakukan oleh National Sleep Foundation di Amerika, menemukan bahwa nokturia adalah salah satu penyebab gangguan tidur yang paling banyak dilaporkan.

Kondisi ini seringkali termasuk dalam daftar penyebab buruknya kualitas tidur dan insomnia, terutama pada orang berusia lanjut. [3]

Lebih dari 40% orang yang terbangun di malam hari untuk buang air kecil mengalami kesulitan untuk kembali tidur, yang artinya waktu tidur berkurang dan kualitasnya menurun.

Sehingga tidak mengagetkan bahwa nokturia adalah penyebab terjadinya rasa kantuk berlebih di siang hari yang bisa mengakibatkan menurunnya fungsi fisik dan mental, serta risiko mengalami kecelakaan yang lebih tinggi.

Konsekuensi dari seringnya buang air kecil di malam hari ternyata lebih dari sekedar buruknya kualitas tidur. Bagi orang usia lanjut, nokturia bisa menyebabkan risiko terjatuh, terutama bila mereka terburu-buru ke kamar mandi. [3]

Penelitian menunjukkan bahwa risiko jatuh dan mengalami retak tulang meningkat 50% atau lebih pada orang-orang tua yang harus ke kamar mandi dua kali atau lebih dalam semalam.

Diagnosa Nokturia

Dokter akan menanyakan gejala-gejala dan keluhan yang dialami pasien serta riwayat kesehatannya. Dokter juga mungkin akan meminta pasien untuk membuat catatan harian kandung kemih untuk membantu diagnosis.

Catatan harian ini digunakan untuk mencari tahu jenis minuman yang dikonsumsi, berapa kali buang air kecil, dsb. untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam waktu tertentu agar bisa membantu menemukan jenis pengobatan yang efektif. [1]

Berikut adalah hal-hal yang mungkin akan ditanyakan oleh dokter: [1, 2, 3, 4]

  • Kapan mulai mengalami gejala.
  • Berapa kali terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
  • Apakah jumlah urin yang dibuang banyak atau sedikit.
  • Apakah jumlah urin yang dibuang tidak seperti biasanya.
  • Berapa banyak dan kapan minuman kafein atau alkohol dikonsumsi tiap hari.
  • Apakah pasien cukup tidur.
  • Apakah ada perubahan pada pola makan akhir-akhir ini.
  • Obat apa yang sedang dikonsumsi.
  • Apakah ketika terbangun sudah ada urin yang keluar (mengompol).
  • Apakah ada anggota keluarga yang juga mengalami masalah dengan kandung kemih atau mengidap diabetes.

Jika dokter masih membutuhkan informasi tambahan, maka mungkin akan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan berikut: [1, 2, 3, 4]

  • Kultur urin dan urinalisis: untuk memeriksa ada tidaknya infeksi, darah yang tidak diinginkan, dan elemen lain dalam urin
  • Tes darah: untuk memeriksa ginjal dan tiroid, kadar kolesterol serta ada tidaknya anemia, diabetes atau masalah-masalah lain.
  • Pemindaian kandung kemih: untuk mencari tahu berapa banyak urin yang masih ada di kandung kemih setelah buang air kecil.
  • Sistoskopi: untuk memeriksa apakah ada tumor atau penyebab lain dari keluhan-keluhan yang dialami dengan memasukkan sebuah selang kecil yang dilengkapi kamera ke dalam kandung kemih.
  • Tes urodinamis: untuk memeriksa seberapa baik saluran kemih bawah menyimpan dan mengeluarkan urin.

Pengobatan dan Pencegahan Nokturia

Jika nokturia disebabkan oleh gangguan kesehatan, maka penyakit tersebut lah yang harus diobati agar nokturia bisa diatasi.

Banyak pasien yang mengalami nokturia dirawat dengan obat-obatan atau melakukan penyesuaian pada obat yang sedang diminum (misalnya diuretik).

Mengubah Gaya Hidup

Beberapa perubahan gaya hidup juga bisa membantu mengatasi masalah nokturia. Perubahan-perubahan ini dilakukan untuk mengurangi produksi urin di malam hari:

  • Mengurangi asupan cairan di malam hari, terutama menjelang waktu tidur.
  • Mengurangi konsumsi alkohol dan kafein, terutama di sore dan malam hari.
  • Menaikkan posisi kaki satu jam sebelum waktu tidur untuk mengurangi konversi pembengkakan pada tungkai menjadi urin saat tidur.

Melakukan Pola Tidur yang Sehat

Memperhatikan kebiasaan tidur yang baik, termasuk kondisi kamar tidur, bisa mengurangi frekuensi bangun di malam hari yang memicu keinginan untuk buang air kecil.

Contoh-contoh kebiasaan tidur yang sehat, termasuk:

  • Pergi tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari
  • Melakukan rutinitas yang membuat tubuh siap untuk istirahat di malam hari
  • Belajar teknik-teknik relaksasi untuk menenangkan pikiran saat akan bersiap tidur dan supaya bisa segera tertidur lagi setelah buang air kecil di tengah malam
  • Berolahraga teratur untuk supaya bisa tidur lebih nyenyak
  • Menyiapkan tempat tidur yang nyaman
  • Mengatur kondisi kamar agar cahayanya tidak terlalu terang, tidak berisik, sejuk, dan wangi
  • Membatasi penggunaan perangkat elektronik, termasuk ponsel, yang bisa mengaktivasi otak dan mengurangi produksi hormon melatonin yang berfungsi mengkondisikan tubuh untuk tidur

Terapi Obat

Jika perubahan gaya hidup dan rutinitas tidur masih tidak membantu, maka dokter mungkin akan meresepkan obat untuk meringankan gejala. Misalnya: [1, 3, 4]

  • Obat untuk membantu ginjal mengurangi produksi urin.
  • Obat antikolinergik untuk mengatasi masalah otot kandung kemih. Obat ini bisa membantu menenangkan kandung kemih jika mengalami kejang.antikolinergik juga bisa memperbaiki kondisi kandung kemih yang terlalu aktif.

Jika penyebab nokturia adalah suatu jenis penyakit, maka penyakit tersebut yang perlu diobati untuk mengatasi nokturia.

Beberapa penyakit penyebab nokturia yang harus segera dirawat termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, gagal jantung kongestif, sleep apnea, dan/atau pembesaran prostat. [1, 2, 3, 4]

Menyesuaikan waktu konsumsi dan dosis obat yang diresepkan juga bisa membantu mengatasi nokturia. Tetapi hal ini harus dikonsultasikan lebih dulu dengan dokter.

1. American Urological Association. Nocturia. Urology Health.
2. Judith Marcin, M.D. Excessive Urination at Night (Nocturia). Healthline; 2018.
3. Eric Suni, Dr. Abhinav Singh. Nocturia or Frequent Urination at Night. Sleep Foundation; 2020.
4. Jeffrey P Weiss, MD, FACS. Nocturia: Focus on Etiology and Consequences. Reviews in Urology; 2012.

Share