Penyakit & Kelainan

Obstruksi Saluran Napas Atas : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Obstruksi Saluran Napas Atas?

Obstruksi saluran napas atas adalah sebuah kondisi ketika saluran pernapasan bagian atas mengalami sumbatan sehingga proses pernapasan tidak dapat berjalan dengan normal dan semestinya [1,3,12].

Sistem pernapasan manusia meliputi trakea, laring dan kerongkongan/tenggorokan, di mana seluruh bagian tersebut terletak di bagian atas [3].

Bila obstruksi atau sumbatan atau hambatan terjadi, oksigen yang seharusnya diterima oleh tubuh menjadi semakin sedikit.

Jika obstruksi saluran napas atas ini terjadi begitu sering atau bahkan terus-menerus, maka sebagai risikonya tubuh kekurangan oksigen.

Kekurangan oksigen pada tubuh mampu menjadi penyebab utama kerusakan otak hingga gangguan pada jantung.

Tinjauan
Obstruksi saluran napas atas adalah kondisi ketika saluran napas atas (trakea, laring dan tenggorokan) mengalami sumbatan yang jika tak segera ditangani akan mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen.

Fakta Tentang Obstruksi Saluran Napas Atas

  1. Obstruksi saluran napas atas umumnya dialami oleh anak-anak dan mengakibatkan kematian pada anak dengan usia 4 tahun ke bawah [1].
  2. Obstruksi saluran napas atas pada orang dewasa umumnya terjadi karena cedera, infeksi atau peradangan [1].
  3. 24 jam pertama usai seseorang terkena stroke, obstruksi saluran napas atas sangat umum terjadi di mana hal ini lebih berisiko ketika selama perawatan pasien dalam kondisi berbaring telentang [2].
  4. Prevalensi gangguan tidur yang berhubungan dengan obstruksi saluran napas atas usai serangan stroke terjadi adalah 32-71% [2].
  5. Croup merupakan infeksi paling umum dengan insiden 18 per 1.000 orang anak (usia 6 bulan hingga 4 tahun) yang mampu menjadi penyebab utama obstruksi saluran napas atas akut di Amerika Serikat [4].
  6. Sementara itu, data khusus mengenai prevalensi obstruksi saluran napas atas di Indonesia belum tersedia.

Penyebab Obstruksi Saluran Napas Atas

Ketika saluran napas atas menyempit, tersumbat atau terhambat, ada berbagai macam faktor yang mampu mendasarinya.

  • Benda Asing

Tak sengaja menghirup benda asing berukuran sangat kecil dapat berbahaya bagi pernapasan bagian atas [1,3,5,12].

Benda asing yang berukuran kecil tersebut dapat tersangkut atau terjebak di saluran udara sehingga obstruksi terjadi.

Umumnya, obstruksi saluran napas atas karena kemasukan benda asing terjadi pada anak-anak (khususnya balita).

Tenggorokan atau trakea yang mengalami obstruksi seringkali disebabkan oleh reaksi alergi [3,6,12].

Reaksi alergi dapat disebabkan oleh makanan, obat (penicillin, yaitu sejenis antibiotik maupun obat hipertensi seperti ACE inhibitors), hingga sengatan serangga.

Epiglottitis adalah kondisi ketika epiglotis (katup penutup saluran napas sewaktu dalam aktivitas minum atau makan) mengalami radang [1,3,7,12].

Epiglottitis pada saat radang menyerang akan mengalami bengkak dan karena hal ini aliran udara yang seharusnya menuju paru terhambat.

Radang pada epiglottitis sendiri dapat terjadi misalnya karena menelan makanan atau minuman yang masih panas.

  • Croup

Croup merupakan kondisi ketika pernapasan mengalami infeksi sehingga proses pernapasan terhambat karena aliran udara tak bisa lancar [3,4,8,12].

Umumnya, pembengkakan akan terjadi dan risiko penyakit ini jauh lebih besar pada anak-anak.

Faktor Risiko Lainnya

Tak hanya beberapa kondisi di atas, sejumlah faktor risiko lain mampu memperbesar potensi seseorang untuk mengalami obstruksi saluran napas atas yaitu antara lain [1,2,3,12] :

  • Masalah pita suara.
  • Tracheomalacia atau kondisi lemah pada tulang rawan yang menjadi penopang trakea.
  • Serangan asma parah.
  • Keracunan strychnine.
  • Reaksi terbakar pada area pernapasan atas.
  • Kanker tenggorokan.
  • Abses retrofaring atau kondisi ketika area retrofaring mengalami radang dan timbul pus/nanah.
  • Abses peritonsil atau kondisi ketika amandel (tonsil) terserang infeksi bakteri lalu timbul nanah.
  • Cedera para area pernapasan atas.
  • Infeksi pada daerah saluran napas atas.
  • Menghirup asap yang kemudian menimbulkan sensasi terbakar pada saluran napas atas.
  • Faktor usia, yaitu anak-anak dan lansia jauh lebih rentan mengalami gangguan pernapasan ini.

Beberapa orang yang memiliki riwayat penyakit stroke sehingga kesulitan menelan setelahnya berpotensi lebih besar dalam mengalami obstruksi saluran napas atas [2].

Orang-orang yang telah kehilangan giginya pun memiliki risiko sama besarnya untuk mengalami sumbatan di saluran napas atas [12].

Tinjauan
Penyebab obstruksi saluran napas atas rata-rata adalah kondisi seperti kemasukan benda asing, croup, epiglottitis, dan reaksi alergi. Namun beberapa faktor lain seperti faktor usia (balita dan lansia), keracunan zat kimia tertentu, abses, cedera, infeksi, radang hingga kanker pada sistem saluran napas atas dapat pula menjadi pemicunya

Gejala Obstruksi Saluran Napas Atas

Gejala yang ditimbulkan obstruksi saluran napas atas berbeda-beda pada tiap individu yang mengalaminya.

Faktor penyebab sangat menentukan jenis keluhan yang terjadi, namun secara umum berikut ini adalah gejala obstruksi saluran napas atas yang perlu dikenali dan diwaspadai [3,12] :

  • Sianosis atau perubahan warna pada kulit menjadi kebiruan pada area bibir, kuku, maupun jari tangan sebagai efek tubuh tak mendapat cukup oksigen; kondisi ini juga menjadi tanda obstruksi saluran napas atas akut.
  • Agitasi atau kondisi kemarahan dan kegelisahan.
  • Sulit bernafas sehingga memicu kepanikan.
  • Tenggorokan terasa tercekat.
  • Kebingungan
  • Mengi atau timbul suara tak wajar saat bernafas menandakan bahwa penderita sedang sulit bernafas.
  • Pembengkakan di bagian lidah maupun wajah.
  • Ngiler atau dari mulut keluar air liur.
  • Kehilangan kesadaran.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Bila perubahan warna kulit terjadi, yaitu tampak warna kebiruan pada area bibir atau jari, segera ke dokter atau mencoba mendapatkan bantuan medis darurat [1,3].

Jika gejala tersebut yang timbul, hal ini menandakan bahwa tubuh sedang mengalami kekurangan oksigen yang jika terjadi lebih lama maka dapat berakibat pada kematian.

Tinjauan
Sesak nafas dan tenggorokan seperti tercekat adalah gejala utama yang sangat umum terjadi pada kondisi obstruksi saluran napas atas. Namun ketika sudah parah, kulit, jari dan bibir dapat berubah warna kebiruan karena tidak cukupnya oksigen yang diterima oleh tubuh karena saluran napas tidak lancar.

Pemeriksaan Obstruksi Saluran Napas Atas

Ketika beberapa gejala mulai dirasakan dan mengganggu kenyamanan beraktivitas, maka tidak perlu menunggu lama untuk memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa metode pemeriksaan yang digunakan dokter untuk mendiagnosa pasien dengan gejala obstruksi saluran napas atas antara lain adalah [1,3,12] :

  • Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan fisik selalu dilakukan di awal untuk mengetahui apakah pasien mengalami tanda-tanda perubahan warna pada kulit menjadi kebiruan, sulit bernapas, suara yang timbul saat bernapas, pola pernapasan, hingga ketidaksadaran pasien.
  • Sinar-X / Rontgen : Pemeriksaan dengan memanfaatkan sinar-X bertujuan untuk menemukan penyebab utama obstruksi pada saluran napas atas.
  • Bronkoskopi : Dokter akan memasukkan selang khusus yang fleksibel melalui mulut pasien menuju trakea dan tabung bronkial untuk mengetahui kondisi area sistem pernapasan tersebut.
  • Laringoskopi : Dokter akan memasukkan selang khusus yang fleksibel melalui mulut menuju bagian belakang tenggorokan dan kotak suara untuk mengetahui kondisi detil di area sistem pernapasan tersebut.
  • CT Scan : Tes pemindaian ini juga diperlukan untuk penegakan diagnosa; untuk itu, CT scan pada area dada, leher dan kepala perlu dilakukan supaya dapat diketahui penyebab obstruksi. Umumnya epiglottitis adalah kondisi yang dapat diketahui melalui pemeriksaan CT.
Tinjauan
Dokter mengawali diagnosa dengan pemeriksaan fisik, dan jika diperlukan dokter akan meminta pasien menempuh metode pemeriksaan penunjang seperti CT scan, rontgen, bronkoskopi, dan/atau laringoskopi.

Pengobatan Obstruksi Saluran Napas Atas

Pertolongan darurat atau cepat pada pasien dengan obstruksi saluran napas bagian atas biasanya bertujuan utama untuk menghilangkan obstruksi sehingga aliran udara dapat masuk dan keluar secara normal kembali.

Pada obstruksi saluran napas atas akut, pertolongan perlu diberikan dengan benar atau justru berakibat mengancam jiwa bagi pasien dalam beberapa menit saja.

Beberapa metode perawatan yang umumnya diberikan kepada pasien dengan obstruksi saluran napas bagian atas adalah :

  • Masker Tabung Oksigen

Pada kasus obstruksi saluran napas yang disebabkan oleh epiglottitis, dokter biasanya akan memberikan bantuan oksigen [1,3,12].

Dokter akan memasangkan masker tabung oksigen pada pasien agar pasien dapat bernapas kembali dengan baik.

Obat-obatan seperti antihistamin dan anti-inflamasi biasanya diresepkan oleh dokter bagi pasien yang mengalami obstruksi saluran napas atas karena reaksi alergi atau anafilaksis [3,14].

Kortikosteroid juga menjadi salah satu jenis obat yang diberikan untuk mengatasi obstruksi saluran pernapasan karena croup [10].

Selain itu, penggunaan masker tabung oksigen juga kemungkinan diberikan bila pasien sudah sangat sulit bernafas.

  • Heimlich Maneuver

Untuk anak yang sudah berusia 12 bulan ke atas, obstruksi saluran napas atas dapat coba ditangani dengan Heimlich maneuver [3,12,13].

Orang tua dapat melakukannya dengan berada di belakang anak dalam posisi berdiri, lalu peluk bagian pinggangnya.

  • Intubasi Endotrakeal dan Nasotrakeal

Memperlancar jalan napas dengan intubasi endotrakeal dan nasotrakeal yang penerapannya dapat dilakukan baik saat pasien dalam kondisi tidak sadar ataupun sedang sadar [1].

Untuk beberapa kasus obstruksi saluran napas atas, operasi kemungkinan perlu ditempuh oleh pasien.

Tujuan operasi seperti trakeostomi atau krikotirotomi adalah supaya membuka jalannya saluran udara dari sumber sumbatan [1,3,9,12].

Trakeostomi adalah prosedur bedah yang dilakukan dokter dengan membuka dinding anterior leher [9].

Setelah itu akan ada tabung khusus yang dimasukkan agar jalan pernapasan pasien dapat terbantu.

Penerapan tindakan bedah ini dapat dilakukan pada kondisi darurat maupun elektif.

Krikotirotomi adalah prosedur bedah di mana dokter akan menggunakan jarum khusus untuk membuka membran krikotiroid sehingga sumbatan di jalan napas pada laring dapat diatasi [9].

Proses krikotirotomi biasanya diterapkan secara cepat pada pasien dengan kondisi darurat.

Jika obstruksi tidak dapat ditangani dengan berbagai metode yang telah disebutkan sebelumnya, maka dokter merekomendasikan kedua prosedur pembedahan tersebut.

Tinjauan
Penggunaan masker tabung oksigen, pemberian obat-obatan, serta Heimlich Maneuver adalah cara-cara umum yang dapat membantu mengatasi obstruksi saluran napas atas pasien. Namun jika cukup serius, intubasi endotrakeal dan nasotrakeal serta opsi prosedur bedah seperti trakeostomi dan krikotirotomi akan direkomendasikan oleh dokter.

Komplikasi Obstruksi Saluran Napas Atas

Obstruksi saluran napas atas yang tidak segera diatasi dapat mengakibatkan komplikasi mengancam jiwa pada penderitanya.

Beberapa komplikasi yang patut diwaspadai dan dicegah antara lain adalah [1,11] :

  • Kerusakan otak, karena oksigen yang seharusnya dibawa mengalir sampai ke otak tidak memadai sehingga berpengaruh pada fungsi organ ini.
  • Gagal napas, yaitu ketika sistem pernapasan atas sudah teramat serius ditambah oksigen yang tidak memadai untuk tubuh berfungsi dengan optimal. Gagal napas adalah kondisi yang mampu menyebabkan organ tubuh mengalami kerusakan dan mengakibatkan kematian.
  • Henti jantung mendadak, yaitu suatu kondisi ketika jantung tak berfungsi maksimal karena kebutuhan oksigen tidak terpenuhi dengan baik.
  • Aritmia, yaitu kondisi ketika detak jantung tak bekerja secara teratur karena efek jantung yang tak memperoleh oksigen memadai.
  • SIDS (sudden infant death syndrome/sindrom kematian mendadak pada bayi). Hal ini dapat terjadi ketika bayi mengalami saluran napas atas yang tersumbat dan tidak segera diatasi.
  • Kematian, yaitu kemungkinan komplikasi terburuk apabila gejala obstruksi saluran napas atas tidak segera memperoleh penanganan yang tepat; hal ini biasanya ditandai dengan kebiruan pada kulit, jari dan bibir disertai kehilangan kesadaran.
Tinjauan
Kerusakan otak, henti jantung, gagal napas, aritmia, SIDS, hingga kematian menjadi komplikasi mengerikan yang patut diwaspadai pasien apabila obstruksi saluran napas atas tidak segera memperoleh penanganan.

Pencegahan Obstruksi Saluran Napas Atas

Obstruksi saluran napas atas lebih berpotensi terjadi pada anak-anak balita dan juga para lanjut usia meski tidak menutup kemungkinan orang dewasa muda pun dapat mengalaminya.

Namun agar obstruksi tidak terjadi pada saluran napas atas anak, para orang tua perlu lebih waspada dan melakukan pengawasan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan obstruksi saluran napas atas anak adalah [11] :

  • Orang tua memastikan bahwa mainan yang dimainkan anak sangat aman dan sesuai dengan usianya.
  • Orang tua mengawasi saat anak-anak balita makan sendiri.
  • Orang tua perlu memastikan anak saat makan duduk dengan baik.
  • Orang tua sebaiknya menyimpan dengan baik dan jauh dari jangkauan anak-anak segala sesuatu yang berpotensi dimasukkan ke mulut anak, apalagi benda-benda berukuran kecil. Contohnya adalah baterai jam tangan, koin, pulpen, tutup spidol, atau kancing.
  • Orang tua sebaiknya hindarkan anak yang masih berusia di bawah 4 tahun dari makanan-makanan seperti kacang dan biji-bijian, permen karet, popcorn, permen keras, anggur utuh, potongan keju atau daging, hingga potongan sayur mentah.
  • Orang tua wajib membuang plastik pembungkus mainan anak agar tidak masuk ke mulut anak dan tertelan.
  • Orang tua sebaiknya hindarkan anak balita dari mainan jenis tembak-tembakan.
  • Orang tua perlu hindarkan anak yang belum genap berusia 6 tahun dari tempat tidur yang terlalu tinggi.

Agar bayi tidak mengalami SIDS, orang tua perlu memberikan tempat tidur atau boks bayi yang aman dan memenuhi standar keamanan nasional.

Permukaan tempat tidur bayi yang tepat adalah datar dan keras.

Demi keamanan si kecil, orang tua justru sebaiknya hindarkan tempat tidur yang empuk, mainan dan barang-barang lain di area tempat tidur bayi.

Sementara itu, upaya pencegahan bagi anak yang lebih besar dan juga orang dewasa serta lansia agar tidak mengalami obstruksi saluran napas atas adalah [12] :

  • Memasang gigi palsu yang sesuai.
  • Makan dengan pelan-pelan dan hindari makan terburu-buru.
  • Mengunyah makanan dengan perlahan dan lama.
  • Menghindari minum minuman beralkohol baik sebelum maupun saat sedang makan.
Tinjauan
- Pencegahan obstruksi saluran napas pada anak dapat dilakukan dengan menjauhkannya dari segala macam benda yang berukuran kecil dan mudah tertelan. Para orangtua juga wajib mengawasi anak-anaknya saat makan maupun bermain.
- Sementara untuk para orang dewasa dan lansia, pemasangan gigi palsu dengan ukuran pas, tidak minum alkohol, dan makan perlahan dapat menjadi upaya pencegahan obstruksi saluran napas atas.

1. Mark F. Brady; Bracken Burns. Airway Obstruction. National Center for Biotechnology Information. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
2. P M Turkington, J Bamford, P Wanklyn & M W Elliott. Prevalence and Predictors of Upper Airway Obstruction in the First 24 Hours After Acute Stroke. Stroke; 2002.
3. Sidney Braman & Franklin McCool. Upper airway obstruction. Cancer Therapy Advisor; 2017.
4. Kshama Daphtary, MBBS, MD, FAAP. Chapter 30: Acute Upper Airway Obstruction. The Color Atlas of Pediatrics. Second Edition. United States: McGraw Hill Professional; 2014.
5. Haley Dodson & Jeffrey Cook. Foreign Body Airway Obstruction (FBAO). National Center for Biotechnology Information. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020.
6. Anh Dai K Nguyen & James E Gern. Food Allergy Masquerading as Foreign Body Obstruction. Annals of Allergy, Asthma and Immunology; 2003.
7. Charles R Woods, MD, MS, Morven S Edwards, MD, Glenn C Isaacson, MD, FAAP, Gary R Fleisher, MD, & James F Wiley, II, MD, MPH. Epiglottitis (supraglottitis): Clinical features and diagnosis. UpToDate; 2019.
8. David Wyatt Johnson. Croup. British Medical Journal; 2009.
9. Jacob L. Heller, MD, MHA, David Zieve, MD, MHA, & Brenda Conaway. Blockage of upper airway. MedlinePlus; 2019.
10. Jerry Tobing. Penatalaksanaan Sumbatan Jalan Nafas Atas (Jackson IV) dengan Krikotirotomi dan Trakeostomi. Jurnal IKRA-ITH Humaniora Vol 4; 2020.
11. D L Lerner & J J Pérez Fontán. Prevention and Treatment of Upper Airway Obstruction in Infants and Children. Current Opinion in Pediatrics; 1998.
12. Freeborn, Donna, PhD, CNM, FNP & Hurd, Robert, MD. Airway Obstruction: Prevention. University of Rochester Medical Center; 2020.
13. Jerome R. Hoffman, MD. Treatment of Foreign Body Obstruction of the Upper Airway. Western Journal of Medicine; 1982.
14. Donald C. Bolser. Older-Generation Antihistamines and Cough Due to Upper Airway Cough Syndrome (UACS): Efficacy and Mechanism. PubMed Central; 2011.

Share